
Wu Linyan yang tau jika Yang Xuelin telah bersikap sangat sombong sebagai Murid baru meskipun dirinya adalah Putri pun menarik nafas panjang.
Wu Linyan yang sebenarnya tak ingin terlibat ataupun mendapatkan musuh di minggu awal menjadi Murid langsung meminta maaf kepada Tetua Choi.
"Tetua memiliki hati yang baik dan pemikiran yang sangat bijak. Mohon untuk memaafkan ketidaktahuan Putri Yang Xuelin." ucap Wu Linyan sambil membungkukkan tubuhnya dengan hormat mewakili Yang Xuelin yang membeku di lantai.
Tetua Choi yang melihat kemiripan antara Wu Linyan dan Wu Sheng sudah dapat menebak identitas Wu Linyan tanpa harus mengetahui namanya dari kabar yang beredar.
Tetua Choi yang ingij hidup nyaman tanpa ada gangguan pun kembali ke tempat duduknya dalam posisi yang sama kemudian pura-pura tak melihat keduanya.
Wu Linyan yang senang karena Tetua Choi tidak memperpanjang masalah itu langsung mengalihkan perhatiannya pada Yang Xuelin.
"Berdirilah. Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja sekarang." ucap Wu Linyan menenangkan.
Wu Linyan yang tak bisa bersikap manis di hadapan wanita hanya mengulurkan tangan membantu dan diterima dengan patuh oleh Yang Xuelin.
Wu Linyan yang tak ingin menunda lagi rencananya pun mengeluarkan token miliknya lalu bicara dengan sopan pada Tetua Choi.
"Kau diterima di Sekte Langit sebagai Murid Inti jadi kau boleh pergi ke lantai satu sampai tiga dan sisanya terlarang untuk kau masuki!" ucap Tetua Choi memberikan petunjuk.
“Terima kasih, Tetua!” jawab Wu Linyan singkat sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Wu Linyan yang melihat Yang Xuelin masih berdiri di tempatnya tanpa bergerak sama sekali menarik nafas panjang.
“Xuelin? Wajahmu sangat pucat. Apakah kau ingin ikut denganku masuk mengambil senjata atau kembali untuk beristirahat?” tanya Wu Linyan dengan wajah datar.
Yang Xuelin yang akhirnya sadar setelah mendengar pertanyaan Wu Linyan terdiam sebentar sambil menundukkan kepala seolah sedang berpikir.
“Hmmm, aku akan kembali saja. Aku tak ingin menjadi pengganggu bagimu!” ucap Yang Xuelin sambil menatap mata Wu Linyan.
Wu Linyan yang sebenarnya tidak terlalu cuek menyadari bahwa arti dari tatapan Yang Xuelin untuk Wu Linyan menunda rencananya dan mengantarnya kembali.
Namun Wu Linyan yang tak memiliki keharusan untuk mengikuti permintaan tak tersirat dari Yang Xuelin memutuskan untuk menjadi pria yang berhati dingin.
“Aku mengerti. Aku harus pergi sekarang. Aku harap kau segera sehat kembali.” Ucap Wu Linyan dengan senyum yang lembut lalu berjalan meninggalkan Yang Xuelin yang terdiam di tempatnya.
__ADS_1
Rong Yanxue yang melihat Wu Linyan memperlakukan Yang Xuelin begitu dingin mencoba menyindirnya.
“Kenapa kau memperlakukan Seorang Putri dingin? Apakah kau tidak ingin memiliki Mertua Kaisar?” tanya Rong Yanxue sambil tersenyum kecil di balik kipasnya.
“Aku tak ingin dikenal karena orang lain. Aku ingin semua orang mengenalku karena diriku.” Jawab Wu Linyan datar.
“Percintaan dan Pernikahan bukanlah tujuanku saat ini. Aku ingin menjadi kuat untuk bisa menyembuhkan Ibuku dan menemukan Ayah serta Pamanku. Itu adalah tujuan utamaku saat ini!” tegas Wu Linyan dengan sorot mata tajam.
Rong Yanxue yang merasa sangat puas dengan jawaban dari Wu Linyan pun menutup kipasnya dan tersenyum lebar.
“Aku sangat senang dengan pria yang memiliki pendirian dalam hidupnya. Oleh karena itu, sebagai gurumu aku akan memberitaumu sesuatu.” Ucap Rong Yanxue dengan ekspresi serius.
“Pergilah ke lantai satu. Aku merasakan Pedang milik Ayahmu tersembunyi disana!” ucap Rong Yanxue dengan senyum lembut.
Wu Linyan yang tak pernah menganggap perkataan Rong Yanxue adalah kebohongan pun mengikuti perkataannya tanpa perdebatan.
Wu Linyan yang memasuki ruang persenjataan di lantai satu langsung mengaktifkan Keahlian Matanya untuk mencari Pedang yang ditinggalkan Ayahnya.
Wu Linyan yang telah mencari di berbagai tempat selama tiga jam tapi tak mendapatkan yang diinginkannya menjadi sangat frustasi.
Rong Yanxue yang tak menjawab sama sekali pertanyaannya membuat Wu Linyan terdiam lalu menatap jendela yang ada di ruangan tersebut.
“Matahari sudah mulai terbenam. Apakah aku harus melanjutkan pencarian ini esok hari?” gumam Wu Linyan sambil menarik nafas panjang.
Wu Linyan yang memutuskan untuk kembali lagi besok hari tiba-tiba terjatuh karena tersandung sebuah pedang dan tak sengaja menemukan sesuatu.
“Aduh! Senjata di lantai satu sungguh tidak tertolong. Tidak hanya berdebu dan usang tapi juga sangat berantakan dan tersebar dimana-mana.” Ucap Wu Linyan dengan wajah kesal.
“Tunggu! Apa itu dibawah sana?” tanya Wu Linyan dengan mata terbuka lebar lalu mengulurkan tangannya mengambil sebuah benda yang bersinar di bawah rak yang sangat sempit.
Wu Linyan yang berhasil menarik keluar senjata yang tersembunyi sangat dalam itu pun mengkerutkan alisnya.
“I-Ini... Apakah ini belati? Auww... Tidak disangka belati ini sangat tajam!” gumam Wu Linyan yang tidak sengaja menggores jarinya pada belati hingga berdarah.
Darah yang mengalir dari ujung belati hingga menuju gagangannya terus mengalir hingga ke simbol naga yang terukir.
__ADS_1
Wulong yang tertidur merupakan Roh pada Pedang yang dipegang Wu Linyan tiba-tiba terbangun saat darah Wu Linyan menyentuh intinya.
“Anak Keluarga Wu? Siapa namamu?” tanya Wulong yang muncul di depan Wu Linyan dalam wujud anak kecil.
“Namaku Wu Linyan. Siapa kau? Bagaimana kau tau jika aku adalah Keturunan Keluarga Wu?” tanya Wu Linyan dengan sorot mata yang tajam.
Wulong yang menyadari bahwa dirinya berada di tempat yang sangat buruk memegang kepalanya seolah merasakan pusing secara tiba-tiba.
“Aku adalah Wulong. Aku adalah Pedang Pusaka Keluarga Wu dan hanya Anak Keluarga Wu dengan garis Keturunan Murni yang bisa memanggilku keluar dari dalam Pedang!” ucap Wulong dengan ekspresi serius.
“Kau bisa tanya pada Roh yang mengikutimu itu jika kau tidak percaya apakah ucapanku benar atau salah!” ucap Wulong dengan sorot mata tajam.
“Semua yang dikatakannya benar. Dia adalah Wulong. Pedang milik Ayahmu!” jawab Rong Yanxue dengan ekspresi dingin.
Wu Linyan yang sudah pasrah tidak menyangka akan menemukan Senjata yang dimaksud Rong Yanxue menjadi sangat terkejut dan senang di saat bersamaan.
Namun Wu Linyan yang melihat sikap Rong Yanxue yang sangat membenci Wulong tapi Wulong yang cuek dengan sikap Rong Yanxue menjadi sangat bingung.
“Agh, begitu rupanya. Aku percaya tapi apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bersikap sangat dingin seperti itu, Rong Yanxue? Seolah kau tidak senang aku menemukan Wulong padahal kau yang menyarankanku untuk menemukannya?” tanya Wu Linyan penasaran.
Rong Yanxue yang tak ingin menjawab apapun pertanyaan langsung kembali ke dalam kalung dan menyisahka Wu Linyan dan Wulong di tempat itu.
“Kau tak perlu menanyakannya padanya. Aku akan memberitaumu alasannya!” ucap Wulong cuek.
“Itu semua karena aku yang telah membuatnya terikat dengan Kalung Giok yang ada di lehermu itu!” ucap Wulong dengan ekspresi datar.
Wu Linyan yang akhirnya memahami kebenarannya pun menarik nafas panjang sambil memasang wajah lelah.
Wu Linyan yang tidak menyadari waktu telah berlalu sangat cepat tiba-tiba mendengar pengumuman.
“Paviliun Senjata akan segera ditutup. Semua Murid harap segera kembali dan tidak melanggar peraturan yang telah dibuat!”
#Bersambung#
Mengapa Pedang Wu ada di Sekte Langit dan tidak bersama Wu Sheng? Kisah apa yang menanti Wu Linyan nantinya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...
__ADS_1