Legiun

Legiun
Angga Panorama


__ADS_3

25 Juni 2002


Pukul 09.17


LIBURAN sekolah telah tiba. Ujian akhir di kelas III sudah selesai. Aku bangga bisa meraih rangking pertama. Ayah juga bangga. Beliau tidak bosan membicarakannya pada tetangga. Pada teman-temannya di kantor juga. Tapi, aku tidak mengira beliau sampai berjanji mengajak aku pergi. Pergi liburan ke pulau Dewa.


Aku senang sekali mendengarnya. Tapi, aku takut juga kalau ingat kejadian-kejadian sebelumnya. Ayah orang yang pelupa. Beliau sering lupa pada janjinya. Padahal, beliau tidak pernah lupa dengan teman-temannya di kantor. Padahal, Ayah punya banyak teman, tapi dia cuma punya satu anak. Mengapa Ayah lebih takut kalau teman kantornya marah? Mengapa beliau tidak takut kalau aku yang marah?


Setiap aku protes, Ayah selalu bilang kalau itu sudah tugas beliau. Katanya, beliau rela bekerja siang dan malam agar aku bisa bahagia. Memang benar juga sih. Tapi jujur aku butuh teman di rumah. Setelah Ibu pergi, aku sering kesepian. Dulu sih sempat ada teman yang selalu main ke rumah. Tapi sekarang dia sudah tidak pernah main lagi. Aku butuh Ayah, dan sepertinya sekarang Ayah mulai sadar.


Hari ini Ayah sudah berubah. Di ruang tunggu bandara tadi, Ayah menelepon ibu sekretaris yang suka tinggal di kantor. Beliau minta ibu sekretaris untuk mengurus kantor selama satu minggu. Itu karena beliau ingin menemaniku liburan di pulau Dewa. Aku senang sekali. Aku sayang Ayah. Hari ini Ayah menepati janji. Hari ini Ayah sudah berubah.


Aku tidak sabar menunggu pesawatku berangkat. Aku gelisah. Aku ingin cepat-cepat sampai di pulau Dewa. Aku ingin main air di pantai. Aku ingin naik kapal. Aku ingin naik pisang-pisangan. Aku ingin naik bebek air. Aku ingin ini. Aku ingin itu. Banyak sekali.


"Selamat pagi, Bapak. Ada yang mau dipesan?" Seorang perempuan berbadan tinggi dan kurus datang ke tempat duduk kami. Dia memakai seragam batik dan rok panjang. Kata ibu guru di sekolah, perempuan yang bekerja di pesawat itu namanya pramugari. Mungkin dia pramugari. Pramugari itu bertanya pada Ayah.


"Kamu mau minum apa?" Ayah bertanya pada aku.


Aku menjawab. "Orange juice."


Lalu, Ayah mengusap rambutku. Lalu, beliau bilang pada pramugari. "Orang juice sama kopi krimer saja, Mbak."


"Ada lagi, Bapak?" Pramugari itu bertanya lagi. Ayah menggeleng. "Ditunggu pesanannya, Bapak." Pramugari itu pergi membawa buku kecil.


"Bagaimana? Kamu sudah siap berpetualang?" Ayah kelihatan senang sekali. Aku juga senang sekali. Aku mengangguk. "Kalau sudah sampai, langsung check-in saja ya? Jalan-jalannya besok saja."


"Aku mau berenang, Yah."


"Kalau cuma berenang, di hotel juga bisa."


"Aku mau berenang di pantai."


"Nggak hari ini, Angga. Besok saja ya?" Aku tidak senang, tapi Ayah berkata lagi. "Ngomong-ngomong, nanti malam Ayah ada hadiah kejutan lho buat kamu."


"Hadiah? Apa hadiahnya?"

__ADS_1


"Namanya juga kejutan. Nggak bisa dikasih tahu sekarang dong."


Aku senang lagi. Hari ini Ayah kelihatan berbeda. Hari ini Ayah sudah berubah. Semoga Ayah tetap seperti ini. Selamanya.


"Bapak Hendra Panorama?" Ayah terkejut. Aku juga. Ada seorang laki-laki di seberang tempat duduk kami. Dia masih muda. Matanya agak sipit, tapi dia ramah.


"Anda mengenal saya?" Ayah balik bertanya pada laki-laki itu.


"Saya Priyambodo, Pak. Panggil saja Pri." Lalu, laki-laki muda itu menjabat tangan Ayah. "Saya mengidolakan Anda setelah membaca profil Anda di majalah Forbes."


Ayah tersenyum. Membalas senyum laki-laki itu. "Oh, ya? Saya merasa tersanjung. Tapi bukannya majalah edisi itu sudah lama terbit?"


"Benar. Tapi saya masih ingat dan terinspirasi dengan kisah Anda. Sejak membaca artikel itu, saya jadi termotivasi membangun kembali bisnis keluarga saya yang sempat kolaps."


"Oh, Anda pebisnis juga rupanya? Bergerak di bidang apa?"


"Farmasi. Itu bisnis keluarga. Tadinya Papi saya yang mengelola, tapi pasca kerusuhan '98, kami gulung tikar. Anda pasti tahu sebabnya apabila mencermati ciri fisik saya."


Ayah manggut-manggut. Sedangkan aku tidak paham sama sekali.


"Sebagai pengusaha, Anda tentu mengerti bagaimana hebatnya badai krisis yang menghantam perekonomian negara kita saat itu. Perusahaan kami termasuk salah satu yang terkena imbas kerusuhan '98, dijarah dan dibakar massa. Begitu pula dengan rumah pribadi dan fasilitas milik keluarga kami. Hampir tidak ada yang tersisa." Laki-laki muda bercerita panjang.


"Saya beruntung bisa memperbaiki semuanya, meski belum sesempurna dulu."


"Syukurlah, Pak."


Pramugari datang kembali. Ayah dan laki-laki bermata sipit berhenti bicara.


"Minumannya sudah siap, Bapak." Pramugari berkata.


Ayah mengambil kopi dan orange juice yang diberikan pramugari. Beliau meletakkan orange juice di meja kecilku. Lalu, beliau mencium cangkir kopinya. Cara minum kopi Ayah memang aneh. Beliau minum sedikit demi sedikit.


"Pak Pri," Sambil menaruh cangkir kopi, Ayah memanggil laki-laki muda di seberang. "Kopi?" kata Ayah pada laki-laki itu.


"Oh, nggak, Pak. Makasih." Laki-laki muda itu sedikit tersenyum. "Pak Hendra pencinta kopi ya?"

__ADS_1


"Dulu sih iya. Kalau sekarang, sudah nggak terlalu sering ngopi. Biasa. Kesehatan."


"Pasti Anda suka bicara soal politik ya?"


"Wah… Anda tahu dari mana?"


"Saya pernah dengar. Katanya, orang yang gemar ngopi biasanya suka politik."


"Ah, masak sih, Pak? Waduh. Anda cenayang ya, bisa tahu hal-hal begituan?"


"Enggak juga, Pak. Soal politik itu, sebenarnya saya cuma baca dari majalah sih." Ayah lalu tertawa. Laki-laki itu juga.


Aku mulai pusing mendengar pembicaraan mereka. Pembicaraan orang dewasa memang susah dipahami. Daripada menguping mereka, lebih baik aku bermain sendiri. Lebih baik aku kembali ke duniaku sendiri.


Aku balik badan. Lalu melihat pemandangan di luar kaca pesawat. Aku baru sadar aku sudah ada di atas awan. Biasanya aku cuma bisa melihat awan dari atas loteng. Oh ya, aku baru ingat satu permainan tentang awan. Permainan menebak bentuk awan. Dulu aku sering memainkannya. Tidak sendiri. Permainan ini tidak bisa dimainkan sendiri. Harus dimainkan dua orang. Ya, dua orang. Aku dan Awan. Awan adalah temanku. Dulu dia sering main ke rumah. Sekarang dia tidak pernah main lagi. Ya, namanya Awan.


Aku rindu pada Awan. Kami sudah lama tidak bertemu. Ayah tidak mengijinkanku bertemu dengan Awan. Ayah selalu marah jika aku berbicara dengan Awan. Beliau juga pernah membawaku ke dokter. Dokter itu bilang Awan sudah meninggal. Tapi aku yakin Awan masih hidup.


Dari dalam pesawat, aku masih terus melihat awan-awan di langit. Lalu, aku menunjuk satu awan. Jika Awan ada di sini, aku yakin dia pasti akan menunjuk awan yang sama. Bentuk awan itu memang bagus. Dia punya mulut. Dia punya taring. Dia mirip sekali dengan hewan kesukaan Awan. Serigala.


"Ting tong!" Bunyi itu membuatku kaget. "Para penumpang yang kami hormati, kami informasikan bahwa pesawat Rajawali Airlines RJ-1025 akan segera mendarat di Dewa Airport lima menit lagi."


Aku mendengar suara perempuan dari speaker pesawat. Aku senang sekali. Sebentar lagi, kami akan sampai di pulau Dewa. Aku langsung melihat Ayah. Kelihatannya beliau tertidur. Mungkin beliau kecapekan. Kalau beliau sedang kecapekan, beliau bisa tidur di mana saja. Tapi, baru sekarang aku melihat beliau tidur miring. Beliau pasti kecapekan sekali. Tapi, sebentar lagi, pesawat akan mendarat. Mau tidak mau, aku harus membangunkan beliau.


"Yah? Ayah? Bangun, Yah. Sebentar lagi kita sampai."


Ayah belum bangun. Beliau pasti kecapekan sekali.


"Yah?” Aku memegang bahu Ayah. Tapi Ayah belum juga bangun. “Yah? Ayah? Bangun, Yah. Udah mau sampai nih."


Ayah tetap tidak bergerak. Perasaanku tidak enak. Tapi aku harus cepat membangunkan Ayah. Jika tidak, nanti kami ketinggalan di pesawat. “Yah?” Aku coba menarik baju Ayah. Tapi Ayah masih diam. “Ayah, bangun.” Lama-lama, aku kesal juga. Aku menarik baju Ayah lebih kencang. “Ayaahh!” Tapi, Ayah masih tidak mau bangun juga.


Sekarang aku jadi khawatir. Aku gelisah. Aku bingung. Aku ketakutan. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku mulai berkeringat. Aku mulai berpikir macam-macam.


Tidak, aku harus tetap membangunkan Ayah. Aku berusaha memegang tangan Ayah. Tapi aku takut. Tapi aku tidak boleh takut. Kata Ayah, aku anak yang pemberani. Kata Awan juga.

__ADS_1


Tiba-tiba, pesawat berguncang. Badan Ayah berputar menghadapku. Wajah kami saling berhadapan. Tapi wajah Ayah kelihatan berbeda. Beliau jadi lebih putih dari biasanya. Matanya melotot. Mulutnya berbusa seperti sabun cair. Sebenarnya aku agak takut melihatnya. Tapi Ayah tetap harus bangun.


“Ayah? Bangun, Yah? Kita sudah sampai.” Aku berkata. Sambil menangis. “Kenapa Ayah tidak mau bangun?”


__ADS_2