
27 Oktober 2018
Pukul 07.28
DARI masa ke masa, bentuk fisik pria itu memang telah banyak berubah, namun ada satu hal yang tak pernah berubah. Semenjak usia belia, Petrus nyaris tak pernah melewatkan rutinitas berjemurnya yang menggelikan itu. Hingga usianya sudah memasuki kepala enam pun, dia masih saja setia dengan hobinya berburu sinar matahari pagi.
Bicara tentang kebiasaan klasiknya ini, sesungguhnya pria yang menggemari potongan rambut plontos itu mempunyai alasan tersendiri, yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya. Orang-orang yang tidak terlalu mengenalnya boleh-boleh saja menganggap hal itu sebagai kebiasaan yang normal mengingat pria seusia dirinya perlu banyak memproduksi vitamin D guna mencegah gejala osteoporosis. Namun, bagi diriku, yang sudah mengakrabinya sejak lama, rutinitas itu memiliki sejarah panjang yang sama sekali tak berhubungan dengan urusan kesehatan.
Semuanya berawal di tahun 1965 saat Petrus remaja masih berusia 15 tahun. Kala itu, paham komunis sedang gencar-gencarnya mewabah di tanah air. Memasuki bulan-bulan terakhir tahun itu, terjadi pergeseran politik yang sangat ekstrim. Sebuah peristiwa pemberontakan yang dilakukan oleh sejumlah petinggi partai komunis telah mengubah hidup pria yang sebenarnya beretnis Tionghoa itu.
Seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kaum intelektual hingga golongan arus bawah, menggalakkan upaya pembersihan besar-besaran terhadap paham komunisme. Malang bagi Petrus, peristiwa itu juga berimbas kepada orang-orang beretnis Tionghoa lantaran masyarakat awam kala itu dengan salah kaprah telah menuduh orang-orang Tionghoa sebagai penyebar virus komunisme. Akibatnya, orang-orang ras Tiongkok itu diburu habis-habisan.
Petrus yang merasa tidak aman dengan keadaan fisiknya yang kentara sebagai seorang Tionghoa lantas berusaha menyamarkan bentuk tubuh dan warna kulitnya. Dan, akhirnya terciptalah ide konyol itu. Rutinitas berjemurnya itu dimaksudkan untuk mengubah warna kulitnya menjadi gelap. Kendati tak mampu menghilangkan sipit di matanya, uniknya, ide yang tak lumrah itu terbukti berhasil.
Tidak tanggung-tanggung, warna gelap kulitnya telah sukses mengelabui institusi militer negeri ini. Tahun 1972, pria beralis oriental itu berhasil menembus seleksi masuk Angkatan Darat. Bahkan kepiawaiannya menggunakan senjata api jarak jauh pernah mengantarkannya menjadi salah satu penembak jitu terbaik di kalangan prajurit Angkatan Darat saat itu. Sayangnya, pergolakan kemimpinan di kancah militer telah membuatnya terpental.
Sejumlah kepentingan politik transaksional di tubuh Angkatan Darat membuatnya harus rela diasingkan dari kancah militer. Akhirnya, di penghujung tahun 1991, dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari Angkatan Darat dan memilih banting setir menjadi pengusaha toko retail. Bermodal tabungan dari hasil berkecimpung di bidang militer, ia juga mencoba memfasilitasi rasa kepedulian sosialnya dengan membuka yayasan panti asuhan untuk menampung anak-anak jalanan.
Kini, Si Tua Bangka itu masih saja belum berubah. Sebenarnya aku sudah jengah melihat tingkahnya yang tengil. Bahkan, ketika aku sudah berada di lantai teratas rumah susun ini pun, dia masih berlagak angkuh, enggan menyambutku dengan sapaan akrab layaknya teman lama. Padahal, aku tahu dia sudah mengetahui kedatanganku sejak aku mulai menapaki tangga rumah susun ini. Posisi duduknya di kursi malas kesayangannya itu membuatnya leluasa memantau keadaan di seluruh lantai rumah susun.
Aku mencoba mengetuk-ngetukkan jari telunjukku di pegangan tangga yang berbahan dasar kayu. Suara itu biasanya lumayan ampuh untuk menarik perhatiannya, namun kali ini ia sama sekali tak merespons. Rupanya makin bertambah usia, lelaki uzur ini justru semakin tak tahu diri. Dia pikir aku lupa pada telinganya yang sensitif itu.
Aku mulai menekankan kuku-kuku jari kananku ke permukaan pegangan tangga dan menggores-goreskannya sehingga menimbulkan suara decit yang menggelitik indera pendengaran. Hal itu rupanya berhasil. Kepala bulus pria lansia itu mulai bergerak-gerak. Sembari terus menggores pegangan tangga, aku kembali menaiki anak tangga tersisa untuk segera mencapai lantai teratas.
"Jenderal Edi Harsono, kau sedang coba bermain-main dengan kesabaranku?" Suaranya yang lantang mulai terdengar memecah kesunyian.
"Sampai kapan kau mau bertahan dengan sikapmu yang menjengkelkan itu? Zaman sudah berubah, tapi kau masih belum mengerti juga pentingnya alat komunikasi."
"Apa maksudmu, Jenderal? Bukankah kau sudah lama mengenalku?"
"Jangan konyol, Petrus. Apa gunanya aku membelikanmu banyak-banyak telepon genggam kalau kau masih malas-malasan menjawab teleponku atau sekadar membalas pesan singkatku?"
__ADS_1
"Bukankah selama ini semuanya berjalan baik-baik saja tanpa aku perlu menjawab teleponmu?"
"Ya, kecuali semua kekacauan yang terjadi baru-baru ini," sergahku, menyela sebelum teman lamaku itu sempat menyelesaikan kilahnya. "Aku tidak perlu memberitahumu soal peristiwa semalam, bukan? Apa jangan-jangan kau sudah mempersiapkan jawaban atas kegagalan anak buahmu?"
Petrus tidak buru-buru menjawab pertanyaanku. Bola matanya perlahan melirik ke arahku. Sekilas gerakan menoleh kepalanya itu menyerupai gerakan burung hantu.
"Kalau aku sudah berani memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, maka itulah yang terjadi."
Sejenak aku mengernyitkan dahi. "Jadi kegagalan anak buahmu mengeksekusi Budiman Rudiantoro itu juga bagian dari rencanamu?"
Petrus menghentikan lirikannya ke arahku. Bola matanya yang setajam mata pedang itu lalu menerawang ke arah titik tertentu. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan teman-teman seangkatan militer kami, bahwa pria berkepala licin itu memang gemar melakukan gerakan-gerakan yang misterius. Kepribadiannya yang sangat tertutup membuat teman-teman sesama prajurit waktu itu selalu kesulitan menebak-nebak suasana hatinya.
"Tentu kau masih ingat bagaimana tempat ini dibangun, bukan?" ujarnya. Bukannya menjawab pertanyaanku, Petrus malah berbicara melantur. "Bangunan ini sudah berumur puluhan tahun. Bangunan ini pula yang menyelamatkanku dari krisis kemanusiaan yang terjadi 20 tahun silam."
"Petrus, aku benar-benar tidak punya banyak waktu untuk mengenang masa lalu."
Mendadak, secepat kilat ia menoleh ke arahku dengan seringai tajam. "Kau ada di mana waktu itu?"
"Kau ada di mana saat bisnis farmasiku gulung tikar?"
"Petrus, kenapa tiba-tiba kau jadi membahas persoalan itu?"
Seringai Petrus perlahan mengendur. Meski begitu, tatapan matanya masih tetap mengarah padaku. "Baik betul nasibmu ini. Seperti halnya rumah susun ini menyelamatkanku, badan intelijen juga telah menyelamatkan karir militermu ketika banyak perwira militer diganyang habis oleh rezim reformasi waktu itu."
"Aku serius, Trus. Kita harus segera menyusun ulang rencana eksekusi terhadap Budiman sebelum dia buka mulut. Alvito Karimata, mantan ajudan pribadi Rico Priyambodo itu, telah kembali dari masa pengasingan. Kalau sampai dia menemui Budiman lebih dulu, dia akan berusaha mencari celah untuk memanfaatkannya."
Petrus sama sekali tak bereaksi. Pria yang usianya sepantaran denganku itu justru sibuk melayangkan pandangannya ke arah lantai bawah yang dihinggapi kesunyian. Tidak terlihat tanda-tanda kehidupan di sepanjang lantai rumah susun lantaran ditinggal bertugas oleh para penghuninya, yang mayoritas adalah anak-anak asuh Petrus semasa mereka kecil. Sang 'Ayah' rupanya telah mengerahkan mereka ke seluruh penjuru kota untuk mengatasi situasi yang saat ini sudah semakin kacau balau.
"Jadi itu alasannya kau membawa pasukan dorengmu itu ke mana-mana? Tidak biasanya kau datang kemari dengan pengawalan ketat pasukan bersenjata lengkap."
"Cuma standar protokoler pengamanan. Sebagai pejabat militer, aku berhak memanfaatkan fasilitas itu. Lagipula, akhir-akhir ini manuver Vito makin sulit diterka. Aku butuh jaminan keamanan ekstra."
__ADS_1
"Lalu bagaimana denganku? Menurutmu aku tidak butuh jaminan keamanan? Satu orang terbaikku telah menjadi korban dalam insiden di gedung K.A.K semalam. Sedangkan, satu yang lainnya melarikan diri gara-gara gedung itu tiba-tiba disergap oleh sekelompok aparat."
"Kau tidak perlu berlagak ketakutan. Sampai saat ini, namamu masih aman. Sepertinya Vito telah bersekongkol dengan institusi kepolisian untuk menjatuhkanku."
"Berarti kamu yang menjadi targetnya, bukan aku."
Darahku langsung mendidih mendengar tanggapan Petrus yang tidak mengenakkan itu. Beruntung aku masih sanggup mengendalikan emosiku. "Baiklah, Trus. Kalau kau butuh jaminan keamanan, aku akan memberikan garansi. Asalkan kau juga bersedia membantuku. Bereskan semua kekacauan ini!" Aku meninggikan suaraku untuk memberikan kesan penekanan.
Lagi-lagi, Petrus tidak mengutarakan sepatah katapun. Justru tatapannya semakin liar menyasar kedua bola mataku. Kali ini air mukanya tampak serius. Seperti halnya aku, Petrus tentu juga mengenal baik sosok Vito karena prajurit militer berpangkat Letnan Kolonel itu juga pernah menjadi juniornya di Angkatan Darat.
Saat ini, Vito sendiri baru saja kembali dari pengembaraannya di wilayah Timur. Meski peristiwa kematian Rico Priyambodo, mantan atasannya, sudah lama berlalu, rupanya ia masih enggan menanggalkan kecurigaannya atas keterlibatanku dalam insiden itu. Sebelas tahun yang lalu, kecurigaannya itulah yang membuatku turut serta mengatur pemindahan tugasnya ke daerah terpencil di wilayah negara bagian Timur. Petrus pun juga ikut andil dalam menekan sejumlah pimpinan institusi militer ketika itu untuk memperlancar prosedur pemindahan Vito.
"Bukankah aku sudah bilang padamu? Semuanya sudah berjalan sesuai rencana." Dengan wajah yang mulai menajam, Petrus akhirnya membalas ucapanku.
Sejujurnya aku mulai naik pitam dengan orang tua yang satu ini. Di saat-saat kritis seperti ini, dia justru tetap keukeuh mempertahankan sikapnya yang tengil itu. Tampaknya aku tidak sanggup lagi mengalah. Sekali-sekali, aku memang perlu menghardiknya.
"Persetan dengan rencanamu!"
"Hahahaha..." Mendadak, suara tawa Petrus menggelegar. Kontan, dahiku langsung berkerumuk. "Wajahmu lucu sekali kalau sedang merajuk. Ha ha ha..."
"Bercandamu tidak lucu, Trus!" ujarku, kesal.
"Sudahlah, Ed. Kalau aku sudah bilang semuanya masih berjalan sesuai rencana, maka itulah yang terjadi," ujar Petrus, mengulangi pernyataannya beberapa saat yang lalu. "Masuklah ke ruanganku. Kau pasti terlalu lelah memikirkan kekacauan ini. Sambil menunggu perkembangan selanjutnya, tidak ada salahnya menikmati secangkir kopi untuk meredakan stress."
Aku terdiam sejenak. Jantungku benar-benar mau copot dipermainkan si Tua Bangka ini. Dia memang benar, selama ini rencana yang disusunnya tidak pernah menemui kegagalan. Sampai saat inipun, aku masih mempercayainya. Kendati demikian, cara bercandanya yang tak tepat waktu itu selalu berhasil memancing perasaan was-wasku. Aku sendiri heran mengapa sampai setua ini, aku masih saja bisa terkena tipu dayanya.
"Kau masih punya stok kopi cap Burung Cenderawasih kesukaanmu itu?"
"Kenapa? Kau sudah bosan dengan kopi impor di rumahmu?"
Seraya mengerutkan wajah, aku menepis seloroh Petrus yang tidak lucu itu.
__ADS_1
"Tidak usah banyak bicara. Buatkan saja secangkir untukku."