
26 Juni 2002
Pukul 04.01
"KALI INI, kau sudah benar-benar kehilangan akal sehatmu!"
Papa tampak tidak terlalu senang dengan keputusanku. Terlihat jelas raut kekecewaan yang membayang terang di mimik muka beliau. Aku bukan tidak memperhitungkan hal itu. Keputusan yang telah kuambil secara sepihak ini memang mengandung potensi bahaya. Utamanya bagi kelangsungan bisnis rahasia Papa yang sudah berjalan empat tahun belakangan.
"Maafkan aku, Pap. Aku tahu ini sebuah kesalahan. Seharusnya aku tidak membawa anak itu ke mari."
"Seharusnya kau menaruh racunmu ke minuman anak itu juga! Sama seperti yang kau lakukan terhadap bapaknya!" hardik Papa, lantang.
"Psssttt..." Aku melekatkan jari telunjuk pada bibirku. "Tolong jangan bicara keras-keras, Pap. Anak itu masih tertidur pulas. Bagaimana kalau dia bangun dan mendengar percakapan kita?"
"Kalau dia bangun saat ini juga, aku akan menyelesaikan tugas yang belum kau selesaikan. Yaitu, mengakhiri hidupnya."
"Pap," Dengan percaya diri, aku mencecar kedua bola mata orangtuaku yang menyeringai tajam. Aku sendiri mewarisi seringai itu dari beliau, dan hari ini aku mencoba menjadikan kelebihan itu sebagai senjata yang ampuh untuk melawan beliau. "Dia masih anak-anak, Pap. Dia tidak tahu-menahu soal bisnis kita."
"Siapa yang bisa menjamin dia tidak melihatmu memasukkan racun itu ke dalam minuman bapaknya?"
"Aku jamin anak itu tidak akan buka suara. Karena dia sudah tidak lagi punya suara." Mulut Papa tertutup rapat, tetapi mata beliau menatapku dalam-dalam. "Aku memang belum memastikannya, tapi sepertinya anak itu menderita gangguan ingatan. Dia mengalami shock berat sejak insiden kemarin."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
__ADS_1
"Aku sempat bicara dengannya ketika dia tersadar dalam perjalanan menuju ke mari. Dia tidak bisa mengingat apa-apa. Bahkan, dia tidak mengenal dirinya sendiri."
Papa yang masih tampak geram kini merapatkan jarak. "Pastikan itu! Aku tidak mau kita salah langkah gara-gara sikap empatimu yang terlalu berlebihan itu!"
"Itu pengaruh genetik, Pap. Aku mendapatkan sifat itu dari mendiang Mama."
"Dan, karena perangainya yang lemah itulah, ibumu akhirnya tewas saat kerusuhan. Kalau saja dia tidak sok pahlawan, dan berusaha menolong seorang anak saat pabrik kita terbakar, mungkin dia masih hidup sampai sekarang. Papa juga tidak perlu repot-repot melakukan semua ini."
Dahiku berkerut. "Maksud Papa?"
"Bisnis ini...," Suara Papa tiba-tiba bergetar. "Papa menjalankannya hanya dengan bermodalkan kemarahan. Papa marah pada mereka yang di atas sana. Para pejabat dan cukong-cukong yang saat ini masih berkuasa. Mereka harus bertanggung jawab atas kekacauan itu. Mereka harus bertanggung jawab atas kematian ibumu."
Sebelumnya, aku tidak pernah menemukan kesedihan di pelupuk mata Papa. Namun, hari ini seolah-olah ada awan mendung yang menutupi kegarangan sorot mata beliau. Bola mata yang curam itu memerah karena berupaya membendung aliran air yang menggenang.
"Kau mengingatkanku pada ibumu," tutur Papa, dengan nada yang jauh lebih damai. "Karena itu, melibatkanmu dalam bisnis ini adalah kesalahan besar."
"Jangan berpikir seperti itu, Pap. Aku senang bisa membantu Papa. Aku menikmati pekerjaan ini."
"Ini terlalu riskan untukmu, Nak. Sifat penyayang yang diwariskan oleh mendiang ibumu itu akan menjadi masalah besar bagimu suatu saat nanti."
Aku tertegun sejenak merenungi nasihat Papa. Perkataan beliau tidak sepenuhnya salah. Aku memang sama sekali tidak pernah merasa tertarik untuk menjalani bisnis ini. Kecakapan di bidang anestesi dan obat-obatan yang kudapatkan dari bangku kuliah kedokteran itu mungkin bisa memberiku hal yang lebih dari sekadar menjadi peracik racun.
"Kau ingat saat kau masih kecil? Apa yang menjadi cita-citamu saat itu?"
__ADS_1
Senyumku langsung tersungging sesaat setelah ingatanku terngiang tentang masa kecilku yang tanpa beban. "Waktu itu aku cuma asal sebut, Pap. Aku ingin menjadi seorang mantri suntik. Padahal, waktu itu aku belum tahu pekerjaan seorang mantri suntik itu apa."
"Apapun itu, kejar mimpimu, Nak. Kalau perlu kembalilah ke bangku kuliah. Papa dengar negara Jerman adalah pusatnya ilmu medis. Pergilah ke sana. Tempatmu bukan di sini. Ini bukan tempat yang nyaman untuk kaum cendekiawan sepertimu."
"Lantas bagaimana dengan Papa? Siapa yang akan menjaga Papa nantinya?"
"Kamu lupa? Papa ini seorang mantan prajurit. Papa bisa menjaga diri sendiri."
Semburat senyumku langsung memancar seketika. Tiba-tiba saja, muncul hasrat untuk memeluk Papa, namun niat itu buru-buru kuurungkan. Aku paham benar bagaimana kebiasaan beliau dalam bertindak dan bersikap. Sebagai seorang mantan prajurit khusus, beliau sangat membenci adegan dramatis. Asam garam kehidupan yang telah beliau alami semasa muda telah menempa beliau menjadi pribadi yang tangguh dan tidak cengeng. Itulah sebabnya semasa kecil, aku tidak berani terang-terangan menangis di hadapan beliau. Karena, jika itu terjadi, beliau tidak akan segan memukulku.
"Oh, ya. Bagaimana dengan anak itu? Apa aku harus membawanya juga?"
Tidak langsung menanggapi, Papa mencoba berpikir dan menimbang sejenak. Tidak kurang lima detik kemudian, beliau pun mulai bersuara. "Tinggalkan dia di sini."
Saran Papa membuat kecurigaanku kembali mencuat. Spontan, mataku kembali melotot ke arah beliau pertanda tidak setuju.
"Kau tidak perlu khawatir. Papa bukan seorang monster yang menyantap daging anak-anak."
"Pap," ujarku, sembari menaikkan sebelah alisku. "Aku merasa sangat berdosa terhadap anak itu. Aku sudah membuat anak itu tumbuh tanpa orangtua. Tolong bantu aku menebus dosa itu, Pap."
Meskipun sempat ragu-ragu, pada akhirnya Papa mengangguk setuju. Anggukan beliau yang perlahan itu sudah cukup melegakanku. Selama ini Papa tidak pernah mengingkari janji. Terlepas dari kepribadian beliau yang bengis, Papa adalah tipe orang yang sangat bertanggung jawab terhadap setiap perkataan lisan yang beliau ucapkan.
Sementara sang surya masih belum nampak di ufuk timur, kumandang azan Subuh mulai menggema di seantero ibukota. Sekumpulan manusia tampak berbondong menggiring langkah mereka menuju rumah peribadatan. Lalu, dalam sekejap kegelapan akan sirna dibakar sengatan matahari.
__ADS_1
Sementara itu, aku sendiri tidak banyak bergerak. Waktu telah melumpuhkanku, merantai kakiku dengan belenggu. Aku terlampau lemah untuk menemani Papa di sini. Tapi aku bukan Raymond Samiri yang berani membebaskan jiwanya setelah bertahun-tahun terkungkum oleh ambisi Papa. Aku adalah Markus Priyambodo. Markus Priyambodo Nakano.