
22 November 2007
Pukul 22.45
"OBJEK penelitian: Seorang remaja. Jenis kelamin: Laki-laki. Usia: 15 tahun. Jenis kepribadian: introvert, imajinatif, kreatif. Riwayat gangguan psikologis: pernah mengalami shock berat akibat kematian ayahnya yang berujung pada amnesia disosiatif, disinyalir pernah mengalami disfungsi sosial di usia dini."
Dengan cermat, saya berusaha mendengarkan rekaman suara saya sendiri yang terdengar dari perangkat pemutar musik di kamar hotel. Selain karena kualitas rekamannya yang buruk, suara hujan deras yang sedang turun di luar hotel membuat saya harus memasang telinga baik-baik. Walaupun terdengar pelan, setidaknya suara saya yang berubah sengau di pemutar musik itu masih dapat saya pahami secara keseluruhan. Sambil mendengar rekaman itu, saya terus memikirkan penelitian ilmiah yang sedang saya kerjakan. Penelitian itu sejauh ini belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Keberhasilan sebuah penelitian ilmiah yang melibatkan objek makhluk hidup selalu tergantung pada tingkat ketahanan Objek itu sendiri. Dalam bidang neurologi dan psikologi, tingkat ketahanan Objek tentu saja erat kaitannya dengan daya tahan otak dan syaraf si Objek. Bicara soal objek penelitian kali ini, sebenarnya saya tidak mempermasalahkan ketahanan fisik pemuda 15 tahun yang sepenuhnya dalam kondisi prima itu. Yang menjadi kekhawatiran saya justru adalah sejauh mana kemampuan psikologisnya bisa berkembang selama 15 tahun ia menjalani kehidupannya yang baru.
Beberapa jam lagi, usia penelitian ini akan menginjak hari ke-34. Proyek penanaman identitas baru ke alam bawah sadar Objek ini memang cukup rumit. Sayangnya, sampai detik ini saya belum bisa merumuskan perencanaan yang matang. Saya belum berani menentukan langkah-langkah apa yang harus dilakukan terhadap Objek. Satu-satunya hal yang menjadi masalah terbesar penelitian ini adalah minimnya informasi yang saya terima tentang riwayat psikologis Objek, terutama yang berhubungan dengan masa kanak-kanaknya di kisaran usia 6-10 tahun. Saya membutuhkan data-data yang lengkap dan valid terkait hal itu sebelum memaparkan diagnosa awal terhadap kondisi psikologis Objek.
Sejauh ini, dari hasil pengamatan dan wawancara implisit yang diajukan terhadap Objek, saya menemukan indikasi gangguan disfungsi sosial yang masif. Namun, beberapa staf ahli di tim penelitian yang melakukan kontak langsung dengan Objek belum bisa memastikan apakah gangguan yang pernah dialami Objek di usia dini itu dapat berpengaruh besar terhadap kondisi psikologisnya saat ini.
Salah satu faktor yang menyulitkan mereka mengorek informasi adalah ketidakmampuan Objek untuk mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi saat usianya masih kanak-kanak. Berdasarkan fakta tersebut, saya menaruh kecurigaan besar terhadap pihak intelijen yang mengajukannya sebagai objek penelitian. Saya menduga Objek yang sedang saya teliti ini sudah pernah menjadi kelinci percobaan sebelumnya.
Baru-baru ini, saya mencoba untuk kesekian kalinya mengutus beberapa staf saya untuk mengadakan wawancara implisit terhadap Objek. Mungkin wawancara itu adalah wawancara terakhir yang bisa kami lakukan. Apapun hasil wawancara tersebut, pihak intelijen telah meminta proyek ini tetap dieksekusi sesegera mungkin, bagaimanapun tingkat kesulitannya. Itu berarti mereka tidak akan memberikan perpanjangan waktu buat saya untuk menyelesaikan penelitian ini. Mereka lebih memilih mengabaikan keselamatan Objek daripada menunda proyek dan mencari objek lain yang jauh lebih potensial.
Telepon di kamar hotel tiba-tiba berdering dan memecah konsentrasi yang sudah susah payah saya bangun. Walaupun agak kesal, saya terpaksa mematikan pemutar suara dan menghampiri perangkat telepon di samping tempat tidur.
"Mr. Edward Schumm. There's a phone call for you. Would you mind?" kata seorang petugas lobby hotel di seberang telepon.
"Yes, please."
"Please, hold the line, Sir."
__ADS_1
Setelah beberapa detik, terdengar bunyi beep di sambungan telepon dan ...
"Ini Mona, Dok. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda malam-malam begini." Di sambungan telepon, seorang perempuan berbicara dengan bahasa Jermanbahasa yang sebenarnya merupakan mother tongue bagi saya. Dr. Mona, dokter muda asal Bonn, Jerman, itu memang sengaja saya bawa serta ke negara ini untuk membantu saya di tim penelitian ini.
"Ada perkembangan apa, Dr. Mona?" Saya bertanya dengan suara lirih.
"Ada info terbaru mengenai anak itu, Dok."
"Laporkan."
Sayup-sayup, terdengar suara napas Dr. Mona yang sepertinya cukup bersemangat. "Saya baru saja mendapatkan data-data lengkap dan informasi terbaru seputar masa lalu Objek penelitian kita ini, Dok. Nama lengkapnya Angga Panorama, putra tunggal seorang pebisnis terkenal, Hendra Panorama yang tewas terbunuh di kabin pesawat tujuh tahun yang lalu."
"Hendra Panorama?" Saya berusaha mengingat sesuatu, "Panorama Cellular? Perusahaan provider yang bangkrut tujuh tahun yang lalu itu?"
"Traumatic disorder syndrome?"
"Lebih tepatnya, ini kasus yang cukup langka, Dok. Ada indikasi kuat Objek penelitian kita ini mengalami gangguan amnesia disosiatif pasca kejadian."
"Bagaimana kamu bisa tahu? Kamu punya data dan fakta lain untuk mendukung kesimpulan itu?"
"Saya baru saja menerima hasil MRI dan CT Scan terbaru, Dok. Memang ada situasi tak lazim yang terjadi pada bagian hippocampus, tepat di bawah bagian cerebral cortex otaknya."
Saya tertegun mendengar penjelasan dari Dr. Mona. Seperti yang dikatakannya, kasus semacam ini memang sangat langka. Umumnya, efek trauma yang disebabkan oleh peristiwa tragis hanya menimbulkan gejala-gejala seperti shock berat yang sifatnya temporer. Proses pemulihannya juga dapat dilakukan melalui metode-metode psikoterapis secara berkala.
Mengetahui fenomena yang dialami oleh Objek, sepertinya saya harus memutar otak lebih keras untuk menemukan solusi. Untuk melakukan proses penanaman identitas baru dalam kesadaran objek penelitian, eksistensi identitas asli Objek sangat dibutuhkan sebagai fasilitator atau, sebut saja, sebagai tumpuan untuk identitasnya yang baru nanti. Sementara itu, pasca mengalami kejadian yang memicu gangguan amnesia, Objek praktis hanya punya waktu tujuh tahun untuk membangun kesadaran baru. Identitas yang terbentuk dari kesadaran baru tersebut masih sangat rentan untuk dijadikan tumpuan. Resiko terbesar apabila proyek ini dipaksakan, Objek bisa berpotensi mengalami disfungsi otak dan syaraf.
__ADS_1
"Ada usulan rencana lain, Dr. Mona?"
"Tidak ada cara lain, Dok. Untuk menjalankan proyek ini, kita harus menunggu beberapa tahun lagi sambil berharap memorinya segera pulih dalam waktu dekat."
"Kau tahu, bukan? Pihak intelijen tidak bisa menunggu lama. Awal bulan ini proyek harus segera dilaksanakan. Bagaimanapun kondisinya."
"Tapi, Anda sendiri tentu tahu risiko yang akan terjadi, Dok."
"Kalau saya punya solusi lain, tentunya saya tidak akan bertanya padamu, bukan?"
Tidak ada respons. Yang ada hanya suara napas Dr. Mona yang tidak lagi bersemangat. Namun, tidak sampai satu menit, suara lembut mantan mahasiswi saya itu kembali terdengar.
"Dok, saya ingin menceritakan satu hal yang ganjil. Saya tidak tahu apakah ini bisa membantu penelitian kita, tetapi saya rasa Anda perlu mengetahui hal ini."
"Apapun itu, ceritakan saja."
Diawali dengan tarikan napas yang halus, Dr. Mona bercerita, "Sebenarnya informasi yang baru saja saya sampaikan tadi itu bukan bersumber dari pihak intelijen. Ada seseorang di luar tubuh intelijen yang menceritakannya kepada saya. Seorang pria berkebangsaan Jerman yang lahir dan tumbuh besar di negara ini. Belasan tahun yang lalu, dia memutuskan untuk pindah ke Bonn. Tidak lama setelah itu, dia berhasil memperoleh suaka untuk beralih kewarganegaraan. Asumsi saya, besar kemungkinan orang itu mengetahui lebih banyak hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu objek penelitian kita, Dok."
Lagi, saya tertegun sejenak. "Apa kamu bisa mempertemukan saya dengan dia?"
"Saya akan mencoba menghubunginya lagi."
"Tapi jangan sampai pihak intelijen tahu tentang ini."
"Tentu saja, Dok. Saya mengerti."
__ADS_1