Legiun

Legiun
Andika


__ADS_3

27 Oktober 2018


Pukul 09.02


AWAN SEMESTA. Nama itu masih menjadi misteri hingga saat ini. Sudah seminggu ini aku mencoba mengorek informasi dari sejumlah staf personalia yang bertugas mengelola data-data karyawan kantor harian Suara Massa, tetapi hasilnya nihil. Nama laki-laki misterius itu tak pernah ada dalam daftar karyawan.


Sementara itu, Rama yang memintaku mencarikan informasi seputar Awan, juga tak bisa dihubungi akhir-akhir ini. Sudah beberapa hari ini ponselnya selalu tidak aktif. Pagi ini aku menghubungi kantor Metropolis untuk menanyakan keberadaannya. Kata Tuty, salah seorang sekretaris Bos Raymond, sudah sejak tiga hari yang lalu mantan rekan kerjaku itu tidak menampakkan diri di kantor.


Tuty yang gemar menggosip itu juga sempat menceritakan situasi Metropolis yang mulai tak kondusif. Bos Raymond yang biasanya selalu siap sedia di ruangan redaktur juga tiba-tiba menghilang dalam beberapa hari terakhir. Tak ayal, kondisi keseimbangan kantor Metropolis menjadi terganggu berat. Terhitung sudah dua hari ini surat kabar Metropolis absen terbit lantaran ditinggal tanpa kabar oleh figur redaktur sekaligus editor andalannya.

__ADS_1


Kondisi kantor lamaku itu rupanya turut berpengaruh terhadap kestabilan konsentrasiku. Sudah sejam lamanya aku belum juga beranjak dari kedai kopi franchise Amerika Serikat yang berlokasi di sebelah gedung kantor Suara Massa. Kondisi kantor Metropolis yang mengkhawatirkan telah menjadi beban tersendiri di kepalaku. Bagaimanapun juga, aku pernah bekerja di kantor itu selama dua tahun dan sempat menjalani rutinitas bersama dengan mantan teman-teman seperjuangan di sana.


"Ini struknya, Mas," ujar seorang pramusaji yang menghampiri mejaku. Beberapa saat yang lalu aku memang sudah meminta bill pesananku untuk segera membayarnya.


Segera aku merogoh dompet kulit yang tertanam di saku celanaku. Senyumku menguntai setelah menyaksikan bagian dalam dompet yang menggembung sejak aku memutuskan untuk bergabung dengan kantor Suara Massa. Dengan cergas, jemariku menarik selembar uang lima puluh ribuan dan mengangsurkannya ke tangan sang pramusaji.


Baru saja aku hendak beranjak dari kursi, mendadak perhatianku tercuri oleh tayangan berita di layar televisi kedai. Sebuah tajuk utama berita membuat mataku terbelalak.


Bukan headline itu yang membuatku terkejut. Bukan pula kemolekan tubuh Tina Saraswati, sang penyiar berita. Melainkan latar belakangnya. Sebuah bangunan yang lumayan tinggi tampak berada di belakang tubuh sang reporter. Bangunan lima lantai itu sepertinya tidak begitu asing di mataku. Rumah susun! Itu tempat tinggal Rama!

__ADS_1


LETKOL VITO KARIMATA: ADA DUGAAN KETERLIBATAN INTELIJEN


Mendadak aku kembali teringat kisah Tuty yang menyebutkan bahwa tiga hari terakhir ini Rama tak terlihat di kantor Metropolis. Mungkinkah Rama, teman baikku selama ini, terlibat jaringan *******? Pikiranku mulai kelasah-kelusuh. Segala macam bayangan mengerikan langsung berpendar liar di dalam benakku. Rama tidak mungkin terlibat jaringan terorisme. Tapi bagaimana kalau dia memang benar-benar terlibat?


Aku buru-buru menghentikan beragam spekulasi yang melintas di kepalaku. Dalam hening lamunan singkatku, aku memantapkan diri untuk mengambil keputusan. Aku harus segera bergegas menuju tempat kejadian perkara untuk memastikan sahabatku itu dalam keadaan baik-baik saja.


BAKU TEMBAK ANTAR APARAT TERJADI DI TKP


Dalam sekejap tajuk berita telah berganti. Kelihatannya situasi di rumah susun tempat tinggal Rama itu sudah semakin genting. Sembari mulai melangkahkan kaki, aku mencoba mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi di tempat itu. Keterlibatan polisi dan militer justru semakin membuat dahiku berkernyit. Sepertinya insiden ini telah memasuki ranah politis.

__ADS_1


Tiba-tiba aku teringat dengan Awan Semesta yang misterius itu. Menurut cerita Rama, dia bertemu dengan Awan secara tiba-tiba di sebuah kedai kopi. Jangan-jangan Awan Semesta itu adalah seorang intel! Atau justru seorang *******!


__ADS_2