
26 Oktober 2018
Pukul 23.16
"SAYA yakin orang-orang seperti kalian pasti tidak pernah mendapat kesempatan untuk beraspirasi. Pernahkah kalian berpikir bahwa selama ini kalian cuma dianggap pesuruh oleh para majikan kalian?"
Suara yang sangat familier itu terdengar dari arah koridor ruangan Dahlia. Tidak salah lagi, itu suara si bule, Edward. Beberapa saat yang lalu, aku nyaris putus asa setelah menemukan kamar Rama dalam keadaan kosong melompong. Rupanya, mereka berdua bersembunyi di sekitar sini.
"Saya bisa menawarkan kehidupan yang lebih baik untuk kalian. Seperti yang kalian tahu, saya punya koneksi kuat dengan pemerintah Jerman. Kalian belum pernah berlibur ke luar negeri, kan?"
"Cukup, Dok. Hentikan omong kosong Anda."
Aku baru saja hendak melewati tikungan yang mengarah ke koridor ruangan Dahlia, namun tiba-tiba aku mendengar suara seseorang yang lain. Itu jelas bukan suara Rama. Bertahun-tahun menjadi atasannya di Metropolis telah membuatku hafal betul bagaimana nada dan gaya bicara pemuda itu.
"Sairan, hati-hati dengan pistol itu. Saya telah mengenalmu sejak lama. Saya juga tahu betul kecakapanmu di bidang transportasi, bukan di bidang senjata. Kamu tidak perlu memaksakan diri."
Sairan?
"Anda jangan meremehkan saya, Dok. Anda pikir seorang supir tidak bisa menggunakan senjata api? Saya cuma perlu menarik pelatuk dan mengarahkan mulut pistol ini ke kepala Anda."
Perlahan aku mengintip melalui celah di tikungan yang menuju koridor ruangan Dahlia. Sairan, mantan supir truk yang dipekerjakan Papa, tampak menodongkan pistol ke arah Edward. Sepertinya memang ada kesalahpahaman yang terjadi di antara anak-anak didik Papa.
Aku cukup maklum dengan situasi saat ini. Perubahan rencana yang sangat mendadak memang memungkinkan terjadinya kesalahpahaman di lapangan. Sepertinya Sairan belum mendengar perubahan rencana itu dan masih berkonsentrasi pada tugas yang diinstruksikan oleh Papa sejak awal, yaitu mengawasi gerak-gerik Edward.
Bukan suatu hal yang mengherankan apabila menengok latar belakang mantan supir truk tronton itu. Di antara para prajurit Papa yang lainnya, Sairan adalah salah satu dari sedikit yang ber-IQ di bawah rata-rata. Ia memang tidak sebodoh peran yang biasa dilakoninya sebagai penderita autis di rumah susun, tetapi, dengan latar belakang pendidikan yang tidak terlalu tinggi, sangat sulit baginya untuk memahami situasi rumit yang terjadi saat ini.
Pola pikir kolot pria berusia 40 tahun itu memang kerap menjadi kendala. Tidak heran Juragan lebih sering menugaskannya sebagai eksekutor di jalanan. Sebagai seorang supir, ia lebih piawai berada di depan setir untuk merekayasa peristiwa kecelakaan ketimbang menggenggam senjata.
"Kamu punya pilihan lain untuk tidak melakukan itu. Kamu mengenal saya, bukan? Saya bukan tipe orang yang ingkar janji."
Moncong pistol yang berada dalam genggaman Sairan mulai bergetar. Serangan psikologis yang tengah dilancarkan Edward, sang ahli hipnoterapi, bukan merupakan tandingannya. Edward yang mulai membaca ketegangan di raut muka Sairan tidak menyia-nyiakan situasi itu. Pakar medis asal Jerman itu langsung memeluk lengan Sairan yang tengah menodongkan pistol ke arahnya. Keduanya ambruk dan terlibat pergumulan di atas lantai koridor Dahlia.
__ADS_1
"LARI!!" teriak Edward sembari menoleh ke arah belakang. Rama yang berada agak jauh di belakangnya langsung bergegas melarikan diri kea rah berlawanan meski dengan langkah terpincang-pincang.
"Kejar dia!" perintah Sairan pada dua anak buahnya yang tidak kalah bodohnya.
Dengan tergopoh-gopoh, kedua anak buah Sairan itu berlari di belakang Rama, namun sesaat kemudian tubuh mereka tiba-tiba terlempar secara bersamaan. Sesosok bayangan yang bergerak sangat cepat telah melumpuhkan mereka dalam waktu yang sangat singkat.
Teja, Si Angin Timur, rupanya sedang beraksi.
Melihat Rama telah berada di tangan yang aman, aku bergerak menghampiri dua orang yang tengah bergumul memperebutkan senjata di tengah-tengah koridor ruangan Dahlia.
"Sairan!" seruku untuk menghentikan kekonyolan yang terjadi.
Sairan menoleh dan menghentikan pergumulannya dengan Edward. Perlahan, keduanya bangkit berdiri dan menatapku keheranan. Terutama Sairan, sang supir truk yang hanya berijasah setara SMP itu.
"Mond? Ngapain kamu di sini?" ujar Sairan, polos.
"Kalian sudah selesai?" tanyaku setelang sempat geleng-geleng kepala.
"Sudah selesai? Maksudnya apa?" Sairan berkata lagi.
"Tidak. Mungkin kau salah dengar. Justru Juragan memerintahkanku untuk mencegah mereka keluar dari gedung ini."
"Ah, sudahlah. Ceritanya panjang. Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya. Lagipula, kau tidak akan pernah mengerti."
Edward yang memahami maksudku mulai ikut bersuara. "Bagaimana dengan Diandra?"
Dahiku mengernyit sejenak. "Diandra?"
"Bukan. Mmmmm.... Maksudku anak itu. Rama. Kita harus mengejarnya sebelum tertangkap orang-orang suruhan Edi Harsono."
"Dia sudah aman. Biar Teja yang mengurusnya."
__ADS_1
"Teja? Ah, aku jadi bingung dengan kalian berdua," ujar Sairan lagi, kali ini sembari menggaruk kulit kepalanya.
Lama-lama, aku naik pitam juga dengan tingkah orang ini. Kesal, aku segera menggerakkan tanganku secepat kilat untuk merebut pistol dari genggaman tangannya.
"Hey, Mond. Jangan. Itu milik Jenderal. Jangan main-main."
"Banyak omong!"
Dengan gerakan mendadak, aku memutar arah moncong pistol itu dan mendaratkan gagangnya kuat-kuat ke arah tengkuk si supir truk.
Setelah terdengar bunyi benturan yang cukup kencang, dalam sekejap tubuh supir truk yang gemar berlagak menjadi orang autis di rumah susun itu rubuh dan tergeletak dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Apa itu tidak terlalu sadis, Raymond?" tanya Edward sambil tersenyum.
"Siapa yang peduli? Daripada dia memperlambat langkah kita?" Edward hanya tersenyum mendengar tanggapanku soal Sairan. "Kita langsung menuju rumah susun. Teja dan yang lainnya pasti sedang menuju ke sana."
Sembari mulai melangkah, Edward mencoba mempertanyakan situasi terakhir. "Jadi, Markus berhasil meyakinkan bapaknya?"
"Sepertinya begitu. Sekarang ayah dan anak itu sedang menyusun rencana baru untuk menyingkirkan Jendral Edi."
"Lalu akan kita apakan Jendral itu?"
"Mana aku tahu? Kita percayakan saja pada Markus. Lebih baik kita tetap waspada terhadap Papa.
Papa? Mendadak wajah Edward yang kemerahan itu bertanya-tanya.
Maksudku, Juragan Petrus. Kau tahu sejak dulu dia orang yang sulit ditebak," terangngku.
"Jadi, kau dan Markus itu saudara?"
Agaknya aku mulai kesal dengan mulut comel si Jerman ini.
__ADS_1
"Kau pilih tutup mulut atau tinggal di sini menemani supir itu?" ancamku, seraya mengarahkan gagang pistol untuk menunjuk tubuh Sairan yang tergolek pingsan di tengah koridor.
"Tidak. Terima kasih," pungkas Edward sembari menutup mulut.