Legiun

Legiun
Budiman Rudiantoro


__ADS_3

25 Oktober 2018


Pukul 10.12


"PEMIRSA, petinggi Komite Anti Korupsi atau K.A.K, Tri Murthi Ganetri berhasil selamat dari upaya percobaan pembunuhan yang ditujukan atas dirinya. Menurut saksi mata yang tidak lain adalah seorang petugas keamanan di rumah kediaman Tri Murthi, pelaku diduga masuk ke rumah kediaman Tri Murthi melalui pintu jendela kamar. Saksi berhasil memergokinya, namun pelaku langsung melompat kabur melalui jendela. Saksi mata saat ini tengah dimintai keterangan oleh pihak berwajib terkait kronologi peristiwa yang menimpa majikannya itu. Adapun, korban percobaan pembunuhan, yaitu Tri Murthi sendiri, saat ini dikabarkan tengah mendapatkan perawatan medis akibat luka yang dideritanya. Saya, Tina Saraswati, melaporkan dari tempat kejadian perkara."


Aku terperangah menyaksikan siaran berita yang muncul di layar televisi. Darahku mendidih dibakar amarah, menggelegak hingga nyaris tumpah. Pipa cangklong yang berada dalam genggamanku bergetar seirama dengan gemetar di pergelangan tanganku. Aku tak menduga situasi saat ini justru semakin rumit. Semuanya kacau balau.


Selama ini orang-orang suruhan Bang Edi yang kukenal tangkas dan cermat itu tak pernah mengalami kegagalan seperti ini. Mereka selalu bisa diandalkan. Satu hal lagi, mereka orang-orang yang sudah sangat terlatih. Aku sendiri pernah menyaksikan dengan mata kepalaku bagaimana mereka beraksi. Mereka tak pernah takut pada siapapun, apalagi hanya pada seorang sekuriti gedung K.A.K. Atau, jangan-jangan justru aku yang salah pilih orang?


Ini memang kali pertamaku menggunakan jasa 'makhluk' itu, eksekutor yang kusewa untuk menyingkirkan petinggi K.A.K. Itu pun atas rekomendasi dari Bang Edi. Sebagai orang yang lebih mengetahui kiprah 'anak-anak asuhnya', dia pasti tidak sembarangan memilih orang suruhan untuk menjalankan misi yang kuminta. Aku juga tak seharusnya meragukan kematangan berpikirnya sebagai kepala bidang intelijen. Kecuali...


Kecuali apabila dia memang sengaja berniat untuk menyingkirkanku atas pesanan rival bisnisku.


Tidak. Itu tidak mungkin terjadi. Hubunganku dengan Bang Edi sudah seperti saudara kandung. Kami tidak mungkin saling menyakiti. Namun, aku perlu memastikan segalanya. Aku harus segera menghubunginya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan apa langkah selanjutnya yang akan diambil untuk membersihkan sisa-sisa sampah yang tercecer itu.


"Bang Edi?" ucapku usai mendengar bunyi 'Beep' dari speaker ponselku. "Apa-apaan ini, Bang?"


"Tenang...," bisiknya melalui sambungan telepon.

__ADS_1


"Nggak bisa, Bang. Aku nggak akan tenang sebelum semuanya selesai."


"Ada sedikit permasalahan yang harus kubenahi. Jadi aku minta kau untuk bersabar sebentar."


Dikuasai kepanikan, aku meninggikan suaraku. "Aku yang akan dijemput polisi gara-gara kasus suap itu, Bang! Bukan kamu! Jadi pantas saja kalau aku tidak bisa tenang!"


"Budi!" Tiba-tiba suara Bang Edi menggertak. "Kalau kau tidak mau menghargaiku lagi, tidak jadi masalah. Aku tidak akan keberatan mengembalikan secara penuh uang muka yang sudah kau berikan! Silakan cari perantara lain di luar sana yang lebih baik daripada aku!"


Mendengar nada bicaranya yang tinggi, tak pelak amarahku ikut terpancing juga. "Bukan itu persoalannya sekarang!" Usai menanggapi gertakan Bang Edi, aku agak kerepotan mengatur napasku yang memacu deras. "Kabar kegagalan kalian yang tersiar di media cepat atau lambat akan mengarahkan kecurigaan publik terhadapku. Orang-orang di luar sana tidak bodoh, Komandan! Mereka tahu satu-satunya orang yang sedang terlibat perkara dengan Murthi, si petinggi K.A.K itu, cuma aku!"


"Kau sudah keterlaluan!"


"Memangnya yang kau lakukan ini tidak keterlaluan, Bang? Selama ini aku selalu menaruh hormat setinggi-tingginya padamu. Aku tidak pernah menyangka ternyata orang yang selama ini sudah kuanggap seperti kakak kandungku sendiri, justru tega menusukku dari belakang demi kepentingan pribadi."


"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada Albert Riyadi dan Djanus Riyadi, dua kakak beradik yang saling berebut kursi utama di jajaran direksi Riyadi Group itu? Dua tahun yang lalu kau membantu Djanus menyingkirkan kakaknya lewat jasa orang-orangmu. Tapi beberapa bulan yang lalu kau justru menawarkan orang-orang suruhanmu pada putra sulung Albert, Ferry Riyadi, sebagai sarana untuk menuntaskan dendam kesumat atas kematian ayahnya."


"Apanya yang salah? Aku sedang menjalankan roda bisnis. Kau tentu mengerti, bukan? Dalam dunia bisnis segala cara bisa dilakukan demi meraih keuntungan."


"Tapi aku tidak mengira kau akan melakukan hal yang sama terhadapku!"

__ADS_1


Jenderal Edi Harsono terdiam. Seolah-olah ia terhenyak mendengar tuduhan yang kutujukan padanya. "Jadi kau berpikir bahwa aku hendak menjebakmu?" Suaranya kali ini berbisik lirih.


"Semua sudah jelas! Siapa? Siapa klien yang menyuruhmu melakukan ini? Huh?!" Suara lirih Jenderal Edi yang pelan tidak berhasil mempengaruhi resonansi suaraku yang justru semakin lantang menghardiknya.


"Kau benar-benar sudah berpikir terlalu jauh." Lagi-lagi ia berbisik. "Aku tidak serendah itu, Bud."


"Sudahlah, Edi! Aku sudah muak mendengar suaramu!"


"Lalu apa rencanamu selanjutnya? Hah? Mau coba membunuhku?"


"Dalam hitungan hari, polisi dan penegak hukum K.A.K akan menjemputku. Tidak diragukan lagi. Aku bisa saja berkicau pada mereka tentang kau dan bisnis kesayanganmu itu."


"Coba saja kalau kau berani melakukan itu."


"Apa yang membuatmu berpikir aku tidak akan berani melakukan itu? Cepat atau lambat, karir politik yang sedang kubangun akan hancur. Tak lama kemudian, karir bisnisku akan mengalami hal yang sama. Apa lagi yang kutakutkan?"


"Sebelum kicauanmu menggema di khalayak ramai, kupastikan kau akan kehilangan suaramu."


"Kita lihat siapa yang lebih cepat. Aku, atau monstermu yang tidak becus itu."

__ADS_1


"Baiklah kalau itu yang kau mau." Samar-samar terdengar suara hembusan napas panjang yang memekakan telingaku. "Dengan berat hati aku harus mengucapkan kalimat ini. Welcome to the game."


Sang jenderal bintang lima akhirnya memutus sambungan telepon. Diam-diam rasa takut mulai mengepungku. Aku sadar dengan siapa aku sedang berseberangan. Cepat atau lambat, nyawaku bisa melayang. Namun saat ini situasinya sudah terlanjur kepalang. Setidaknya aku masih memiliki peluang untuk menjatuhkan karirnya. Aku harus segera bergerak menyusun strategi untuk mengalahkan jenderal sialan itu. Kali ini dia tidak akan berpikir dua kali untuk bermanuver frontal demi menyingkirkanku.


__ADS_2