
---------------
---------------
TIDAK seperti biasanya, belakangan anjing ini jadi susah diatur. Kalau biasanya aku hanya perlu melepaskannya dari kurungan dan jerat belenggunya, kali ini makhluk ini seperti enggan menuruti kemauanku. Ketika aku menarik rantai yang membelit lehernya, ia malah memberontak dengan gerakan tubuhnya yang menggeliat liar. Berulang kali aku mencoba menenangkannya dengan mengelus kepalanya, tetapi ia justru mencoba menggigit tanganku.
"Biarkan makhluk itu bebas!" Tiba-tiba seorang pria berseru di belakangku. Posturnya tinggi dan lumayan berotot. Sorot matanya yang tajam mencecarku dengan seringai yang mencekam, mengingatkanku pada sorot mata Juragan. Aku menduga seandainya ia berhadapan dengan pria pemilik rumah susun ini, mungkin Juragan akan menemukan lawan yang sepadan.
"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di kamarku?" Pria itu tak menjawab. Ia justru berjalan menghampiriku.
Sebelum ini, aku benar-benar belum pernah bertemu dengan pria ini. Apakah mungkin ia salah satu anak buah Juragan? Kurasa bukan. Aku mengenal hampir semua orang yang bekerja untuk Juragan. Orang-orang itu adalah teman-temanku sesama anak didik Juragan. Lalu, siapa orang ini?
__ADS_1
"Mungkin kau tidak tahu, tetapi aku selalu membantumu selama ini."
"Maksudmu?"
"Lepaskan saja makhluk itu. Tugasmu untuk menjaganya sudah selesai."
Sungguh aku tidak mampu memahami ucapan pria ini. Setahuku Juragan lah yang menitipkan anjing ini kepadaku. Anjing ini adalah amanat yang benar-benar harus kujaga. Juragan akan marah jika aku melepaskannya begitu saja. Aku paham benar apa yang akan terjadi padaku jika Juragan benar-benar marah.
"Justru, kau yang tidak tahu apa-apa. Lepaskan rantainya!" Tiba-tiba pria itu kembali berseru.
"Sudah kubilang aku tidak biasa. Lagipula, tahu apa kau soal anjing ini?"
__ADS_1
"Percayalah, Diandra. Lepaskan." Kali ini pria itu mengendurkan suaranya.
Aku tidak mampu lagi memikirkan solusi lain. Ada tugas yang harus segera dituntaskan oleh anjing ini. Sementara yang ada saat ini, ia terus berontak. Gerakannya semakin liar sepeti sedang terimbas musim kawin.
Tiba-tiba, aku baru sadar. Pria itu mengenalku. "Kamu baru saja menyebut namaku?" Pria itu baru ingin menanggapi keherananku, namun aku buru-buru menyergapnya dengan pertanyaan baru. Tolong jawab pertanyaanku. Siapa kamu sebenarnya?
"Kau benar-benar ingin tahu?"
Aku mengambil jeda beberapa detik untuk mengamati sekujur tubuh pria misterius itu. Sesaat kemudian, aku melepaskan anggukan meski masih dengan wajah yang dipenuhi kewaspadaan.
"Namaku Awan Semesta. Terima kasih sudah merawat dan menjagaku selama ini, Diandra. Sekarang waktunya kau melepaskanku. Lepaskan, Diandra. Lepaskan!
__ADS_1