Legiun

Legiun
Rama Lazuardi


__ADS_3

24 Oktober 2018


Pukul 23.28


AKU mencoba mengerdipkan mata berkali-kali. Terutama saat menyadari aku sedang berada di tempat yang sangat asing. Aku tidak pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya. Lagipula, sepertinya baru semenit yang lalu aku memejamkan mata untuk beristirahat di kamarku. Kenapa tiba-tiba aku sudah berpindah tempat? Apa ini mimpi? Entahlah, yang jelas tempat ini terlihat sangat nyata.


Sekilas, ruangan ini menyerupai perpustakaan pribadi. Di ujung kanan ruangan, berdiri beberapa buah rak besar yang sarat akan buku-buku berukuran tebal. Dari sampul dan judul bukunya, sepintas aku menyimpulkan buku-buku itu berhubungan dengan bidang kriminologi. Di ujung kiri ruangan, sebuah meja kerja dipenuhi sejumlah dokumen.


"Ttt... Toloongg! TOLOONGG!!" Tiba-tiba, pendengaranku dikejutkan oleh suara teriakan seorang wanita.


Aku terkejut bukan main. Dengan mata kepalaku sendiri, aku menyaksikan pemandangan yang membuat bergidik. Entah dari mana asalnya, cairan berwarna merah darah sudah berceceran di permukaan lantai ruangan ini. Dan, yang lebih membuatku terhenyak, tepat di hadapanku, aku mendapati sesosok wanita bergaun putih tengah tergeletak tidak berdaya. Wajah perempuan itu tampak ketakutan melihat keberadaanku. Wajahnya meringis menahan sakit. Aku baru sadar saat mencermati lebih detil, bahwa gaun putih yang dikenakannya sudah berubah warna di beberapa bagian. Tidak lagi berwarna putih, melainkan kemerahan karena telah ternoda oleh bercak darah.


Melihat wanita itu dalam kondisi terluka parah, aku mencoba mendekatinya untuk memberikan pertolongan, namun ...


"Jangan mendekat!" sergah wanita itu, lantang meskipun dengan suara yang serak. "Tolong jangan sakiti saya!"

__ADS_1


Spontan, langkahku terhenti. Aku pun menunda niatku untuk menolongnya. Menyadari bahwa wanita yang usianya sudah tidak muda lagi itu tengah dilanda shock, aku berusaha maklum.


"Tenang, Bu. Saya ingin menolong..."


Aku belum menyelesaikan sepotong kalimatku ketika tiba-tiba terdengar bunyi pintu ruangan digedor-gedor. Aku sempat terkejap, namun sejujurnya aku masih belum memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Bu Murthi! Ibu baik-baik saja di dalam?!" Suara teriakan lain tiba-tiba muncul dari luar luar pintu. Selang beberapa detik, bunyi gedor pintu berikutnya menyusul dan kali lebih kencang.


"Tolooongg, Pak Sakir. Ada rampok! TOLOOONGG!!"


(Apa yang sedang kau lakukan, Rama? Cepat lari! Persetan dengan wanita itu!)


Terdesak oleh waktu yang semakin sempit, aku berusaha berpikir keras. Jika aku memutuskan untuk melarikan diri, aku harus lewat mana?


BRAKK!! Orang yang berada di luar pintu sepertinya sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk memaksa masuk ke dalam ruangan ini. Jika aku tetap bertahan, apakah ada jaminan aku akan baik-baik saja?

__ADS_1


(Jangan bodoh, Rama! Kau mau mati konyol di tempat ini? Cepat lari!)


Di saat-saat genting, pandanganku terhenti pada jendela ruangan yang terbuka lebar. Hujan deras terus menderu di luar. (Ayo, cepat! Melompatlah keluar lewati jendela itu!) Sabar! Aku harus sabar. Aku bergerak mendekati jendela itu dan melihat apa yang bisa kulakukan, selain melompat. Ruangan ini ternyata berada di tempat yang cukup tinggi, entah lantai keberapa dari bangunan ini. Yang jelas, ketinggian itu membuatku ngeri juga. (Cepat lompat, Bodoh!)


Sementara bunyi yang terdengar dari pintu ruangan semakin nyaring, aku mencoba memanjat jendela untuk keluar dari ruangan ini. Melihat selongsong pipa air yang berada tidak jauh dari posisi jendela, aku mencoba mencari pijakan pada pipa tersebut. Pelan-pelan, aku mencoba menuruni selongsongnya yang memanjang di dinding luar jendela. Mukaku pucat setelah kembali menoleh ke bawah. Aku benar-benar baru sadar bahwa tempat ini memang berada pada ketinggian yang jauh di atas tanah. Aku merasa seluruh permukaan kulitku kesemutan. Kakiku mendadak gemetar hebat sehingga membuatku kesulitan mencari pijakan untuk menuruni pipa air yang licin oleh air hujan.


KRAKK!


Pengait yang mengikat salah satu bagian pipa patah dan terjatuh ke bawah karena tidak kuat menopang berat badanku. Beruntung, tanganku cepat menggapai pengait pipa lainnya. Sementara itu, debar jantungku semakin terlecut mengetahui seorang petugas keamanan muncul dari dalam jendela ruangan. Wajahnya yang beringas membuatku panik setengah mati.


"Hey, Rampok! Jangan lari kau!"


Terkejut mendengar suara teriakan itu, tubuhku tersentak. Dalam sekejap, aku hilang keseimbangan. Pegangan tanganku pada pipa air pun terlepas. Tubuhku seketika melayang ringan di udara. Tanganku berusaha menggapai-gapai sesuatu, tetapi hasilnya nihil.


BRUKK!

__ADS_1


__ADS_2