Legiun

Legiun
Teja


__ADS_3

27 Oktober 2018


Pukul 09.04


JURAGAN mengarahkan moncong senapannya ke luar jendela. Tubuhnya yang renta membungkuk di sudut ruangan. Sorot mata yang menebar ancaman itu terbenam di ujung teropong senapan. Salah satu keinginan terbesarku akhirnya terkabul juga. Akhirnya aku berkesempatan menyaksikan Juragan beraksi dengan kemampuannya yang sesungguhnya.


Selama ini aku hanya memuji kemampuannya dalam beradu mata. Sudah lama sekali aku ingin menyaksikan kepiawaiannya sebagai mantan penembak jitu. Aku tidak mengira, keinginanku itu terwujud justru di saat-saat terakhir perjumpaanku dengannnya. Bagaimanapun juga, Juragan adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam kehidupanku.


"Teja! Ayo!" Suara Raymond yang kencang mengganggu keasyikanku.


Situasi saat ini memang tidak menguntungkan. Padahal, kalaupun diminta membayar untuk menyaksikan pertunjukan itu, aku pasti mau-mau saja. Aku cuma ingin menonton kehebatan Juragan bermain senapan. Itu saja.


"TEJA! KAU TIDAK TULI, KAN?!" Raymond menggonggong lagi. Ah, mengganggu saja.


Suara Raymond itu memang terlalu lantang. Sampai-sampai, konsentrasi Juragan di depan senapan juga ikut terganggu. Melihat aku terpaku memperhatikannya, Juragan langsung menatapku. Lagi-lagi dengan sorot matanya yang khas. "Teja, pergilah, Nak. Mereka membutuhkanmu." Nak? Seperti itukah Juragan memanggilku barusan?

__ADS_1


Dengan kepala bertanya-tanya, aku membalas sorot mata Juragan yang masih tetap setajam biasanya. Tapi, panggilan 'Nak' itu membuatku terbang melayang-layang.


"Pergilah, Teja. Bagaimanapun situasinya nanti, anak itu akan membutuhkan pertolonganmu." pungkas Juragan yang langsung kembali mengarahkan konsentrasinya pada corong lensa senapan miliknya.


Refleks, aku mengangguk. Bagaimanapun, kalimat itu adalah pesan terakhir Juragan untukku. Permintaan terakhir dari orangtua angkat kepada anak angkatnya yang harus dipenuhi. Aku pun segera meninggalkan ruangan untuk menyusul Raymond.


"Kita harus bergerak cepat menuju lorong pembuangan sampah. Sebelum polisi benar-benar mengepung tempat ini," ujar Raymond yang membopong tubuh Rama. Bukan hal yang sulit baginya untuk bergerak cepat sambil membawa beban manusia di pundaknya. Biarpun usianya tidak muda lagi, mantan pelatih fisik anak-anak didik Juragan di masa lalu itu masih cukup bisa mengatasi berat badan Rama.


Suara muntahan peluru dan mortir yang terdengar sangat membisingkan dari arah luar gedung tidak menyurutkan langkah kami berempat. Kami bergegas secepat mungkin menuruni tangga utama untuk sesegera mungkin mencapai dasar bangunan. Namun, langkah Raymond tiba-tiba terhenti sebelum melewati anak tangga di koridor lantai dua.


"Ada apa, Mond?" tanyaku.


Kami berempat diam sambil mengerahkan kemampuan telinga masing-masing. Saat tiba-tiba terdengar bunyi telapak kaki beradu dengan permukaan lantai, kami serentak menoleh ke atas. Karena tidak menemukan apa-apa di tas, lalu saling melirik satu sama lain. Suara itu terdengar dari arah atas tangga utama, yang mana itu adalah di belakang kami.


Raymond yang penasaran mulai berinisiatif untuk bertindak. Dengan hati-hati, dia menyandarkan tubuh Rama di sudut dinding tangga utama. Lalu, dengan gerak perlahan, dia kembali menaiki anak tangga untuk memeriksa koridor lantai tiga. Ibu jarinya yang berwarna gelap mulai menarik pemicu pistolnya untuk berjaga-jaga. Sementara itu, telunjuk kirinya mengirim isyarat pada aku dan Markus untuk membentuk formasi mengepung.

__ADS_1


Raymond mengambil alih sayap kiri anak tangga dan memintaku mengawasi sektor kanan. Sementara Markus menempatkan dirinya untuk mengamati bagian tengah tangga utama. Dari anak tangga, aku menjulurkan kepala untuk mengintip situasi di koridor lantai tiga. Sunyi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Kami sama-sama tahu bahwa seluruh kamar yang berjajar di sepanjang koridor memang sudah beberapa hari ini sengaja dikosongkan oleh Juragan.


"Dok, Anda tunggu di bawah. Jaga anak itu," bisikku pada Dr. Edward yang sejak tadi selalu membuntutiku. Dokter itu mengangguk dan segera menuruni anak tangga agar lebih dekat dengan posisi tubuh Rama yang tersandar pada dinding tangga utama yang mengarah ke lantai dua. Sementara itu, aku, Raymond, dan Markus telah sempurna menginjakkan kaki di koridor lantai tiga. Bola mata kami bertiga masih tetap waspada dengan pembagian tugas masing-masing.


"AAKKHH!" Tiba-tiba, terdengar suara yang mengejutkan dari tangga utama, tepat di bagian bawah koridor lantai tiga. Suara Dr. Edward! "AAAKKHHH!" Jeritan kedua terdengar. Seperti menandakan sang pemilik suara benar-benar kesakitan.


Aku, Markus, dan Raymond serentak panik dan langsung kembali turun menuju tangga utama. Di bawah sana, Dr. Edward ambruk dengan mata melotot nyaris keluar. Sebuah senjata tajam berbentuk trisula tahu-tahu sudah hinggap pada tengkuknya. Sang dokter tak mampu bertahan lama. Tubuhnya yang bersimbah darah lantas terguling-guling hingga ke lantai dasar. Sedangkan Rama? Tubuh pria itu tidak terlihat lagi.


"Rana?" dugaku, setengah berbisik, setelah melihat sekelebat bayangan merah menuruni tangga utama, kemudian menghilang di koridor lantai dua. Jelas terlihat mataku, bayangan itu berlari sambil menggendong tubuh seseorang.


Tanpa ragu, aku melompat menuju koridor lantai dua. Sebagai yang tercepat di antara yang lain, aku tidak boleh membuang-buang waktu. Ini situasi darurat. Aku juga harus segera berpikir cepat. Jika bayangan itu mencoba mencari jalan lain untuk turun ke lantai satu, maka satu-satunya jalan untuk keluar dari rumah susun ini adalah lorong sumur pembuangan! Tidak ada jalan keluar lain! Rana pasti akan melalui jalur itu!


Rana? Apakah sosok byangan itu benar-benar Rana? Siapa lagi? Senjata trisula yang menancap pada tubuh Dr. Edward dan gaun merah yang biasa dikenakannya adalah petunjuk yang kuat. Sementara aku tetap berlari kencang mengejar bayangan merah itu, pikiranku dipenuhi banyak pertanyaan.


Jika bayangan itu benar-benar Rana, apa sebenarnya yang sedang dia lakukan? Setelah kematian Topan beberapa waktu yang lalu, dia sempat menghilang dari peredaran. Lalu, apa yang sedang direncanakannya? Berada di pihak mana Rana saat ini? Apakah kematian Topan telah membuatnya memutuskan untuk berubah haluan? Lalu di mana dia saat Topan terbunuh pada peristiwa penyergapan di gedung K.A.K? Ah, sepertinya pergulatan batin yang terjadi dalam diri masing-masing anak buah Juragan sudah tidak bisa dihindari lagi.

__ADS_1


Aku memang tidak terlalu mengenal Rana karena dia bukan termasuk salah satu anak didikan Juragan sejak kecil. Dia datang ke mari atas rekomendasi dari Topan. Ya, kadang-kadang beberapa orang memang terlalu rumit untuk dipahami. Barangkali Rana termasuk satu di antaranya. Menjadi bagian dari kelompok pembunuh bayaran memang bukan pilihan hidup yang biasa. Bagiku pribadi, meski pernah terbersit keinginan untuk berhenti, nyatanya aku masih berada di sini. Aku masih setia memperjuangkan haluanku sebagai anak buah Juragan.


Tiba-tiba, terbersit pemikiran aneh di dalam benakku. Selama ini aku banyak melarikan para koruptor dan kriminal untuk keluar dari dalam jeruji besi. Seandainya tempat ini masih bisa bertahan, atau jika kelak Juragan menemukan tempat baru untuk menggantikannya, apakah suatu saat ada orang yang bersedia melarikanku dari pekerjaan terkutuk ini? Aku mulai memikirkan saran dari Topan akhir-akhir ini untuk menentukan jalan hidupku sendiri. Ah, entahlah. Aku terlalu bimbang untuk memikirkannya saat ini.


__ADS_2