
24 Oktober 2018
Pukul 23.25
SEJUJURNYA aku bukan penggemar Karl Marx. Apalagi, aku memang bukan tipe orang yang mengagung-agungkan ideologi Marxisme. Justru, sebaliknya. Sebagai pengamat, sudah semestinya aku tidak boleh tergoda dengan rayuan-rayuan gombal ideologi yang konon menempatkan kaum proletar sebagai primadona itu. Faktanya? Lihat apa yang telah kaum komunis-marxis lakukan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan ekonomi dunia. Dewasa ini, negara-negara yang mengklaim setia dengan ideologi komunis justru lebih banyak melanggengkan kebijakan dan cara-cara ala kapitalisme.
Jika melirik sejarah lebih jauh ke belakang, semuanya akan menjadi masuk akal. Temanku, Karl adalah pengidola ahli filsafat Jerman, George Wilhelm Friedrich Hegel, utamanya yang berhubungan dengan filsafat Hegelianisme. Menurut Hegel, realitas adalah sebuah proses sejarah yang berkelanjutan. Oleh sebab itu, realitas hanya dapat dipahami dengan memahami perubahan sejarah. Jika demikian yang terjadi, maka ideologi Marxisme, Leninisme, Komunisme, atau bahkan Kapitalisme sekalipun akan senantiasa berubah-ubah secara dinamis mengikuti perkembangan sejarah. Menurutku, ini adalah celah yang sangat fatal karena kemurnian ide-ide yang dianggap seradikal apapun pada zamannya, termasuk Marxisme, akhirnya harus tetap berkompromi dengan perubahan sejarah.
Atas dasar ketidakpercayaanku pada ideologi itu, akhir-akhir ini aku menjadi sering berpikir skeptis terhadap Juragan. Aku adalah salah satu dari sedikit anak didik Juragan yang mengetahui bahwa ia adalah penganut nasionalis-sosialis. Hal itu pula yang membuatku tertarik pada ilmu politik dan sempat memutuskan untuk mendalaminya di bangku kuliah meskipun tidak sampai tamat. Namun, paham nasionalis-sosialis yang dipercayai Juragan ternyata juga sama cacatnya dengan perkembangan Marxisme di alam modern. Lihatlah bagaimana caranya memperlakukan anak-anak didiknya. Kami justru dipaksa untuk melakukan kegiatan yang jauh dari prinsip nasionalis dan sosialis. Apalagi, belakangan ini, permintaan Juragan semakin aneh-aneh saja. Dari yang awalnya hanya menugaskan misi-misi eksekusi biasa, akhir-akhir ini ia sering memberiku tugas-tugas tambahan yang sangat merepotkan, termasuk menguntit Rama.
Apa yang istimewa dari Rama sampai-sampai harus mendapatkan perhatian intens begini rupa? Selama beberapa tahun aku mengenal Rama, menurutku dia bukan sosok yang patut diwaspadai. Lihatlah badannya yang kurus. Apa yang orang harus takutkan dari dirinya? Aku menduga sepertinya memang ada rahasia yang sengaja disembunyikan oleh Juragan tentang tetangga sebelahku itu. Dan, itu pasti perkara yang sangat serius.
Sementara itu, dari posisiku di antara daun-daun pepohonan ini, aku merasakan angin malam membentuk pusaran dan menggulung permukaan tanah. Dinamis. Ya, di dunia ini, apa sih yang tidak dinamis? Termasuk hawa yang tadi sempat menghangat, sekarang berganti dengan udara dingin. Termasuk cuaca yang selama berbulan-bulan dikuasai kekeringan yang sebentar lagi berganti dengan titik-titik air hujan. Ya, hujan yang selalu menyebalkan itu datang mala mini juga.
"Sial! Kenapa harus turun hujan? Kenapa mesti malam ini juga kita mengalami pergantian musim?" keluhku sembari menaikkan jaket parasit untuk menudungi kepala dan mukaku dari air hujan.
"Berhentilah mengeluh, Mas. Kadang-kadang hujan bisa jadi anugerah buat kita," timpal Teja yang sejak tadi bersembunyi di atas pepohonan bersamaku.
Malam ini Juragan kembali memintaku untuk melakukan misi pengintaian terhadap Rama. Seperti biasa, Juragan selalu menyampaikan perintahnya lewat sepucuk pesan rahasia yang diletakkannya di atas kusen pintu kamar. Dan rupanya aku bukan satu-satunya 'prajurit' yang menerima perintah itu. Teja juga menerima pesan yang sama. Hal ini sungguh di luar kebiasaan lantaran selama ini aku selalu bertugas bersama pasangan sejatiku, Rana.
Tanpa bermaksud membandingkan antara Rana dan Teja, aku sejujurnya tidak terbiasa bekerjasama dengan orang lain, selain Rana. Sebagai salah seorang kaki tangan andalan Juragan, Teja memang memiliki keistimewaan tersendiri dibanding Rana. Selain mahir dalam hal menyamar dan berkamuflase, pemuda 21 tahun ini dijuluki 'Si Angin Timur' oleh Juragan lantaran kelincahan dan kecepatannya dalam menjalankan misi-misi pembebasan. Apabila Anda penasaran bagaimana seorang terpidana kasus korupsi bisa bebas keluar masuk rutan untuk berwisata ria, sesungguhnya ada andil Teja yang berperan besar meloloskan mereka dari penjagaan sipir penjara dan mata-mata Kementrian Dalam Negeri.
Aku tidak punya pilihan lain. Aku hanyalah seorang prajurit di garda depan. Apapun yang menjadi perintah komandan, aku tidak berhak menggugat. Di rumah susun yang menjadi markas besar kami, Juragan adalah seorang diktator yang punya kuasa paling absolut. Lagipula, Juragan pastinya lebih memahami situasi dan kebutuhan yang ada. Bagaimanapun, kami semua, para prajurit garda depan ini adalah orang-orang terbaik pilihan Juragan yang siap bertugas manakala diperlukan.
__ADS_1
"Menurutku, hujan tetap hujan, Ja. Dari dulu sampai sekarang, dia selalu merepotkan." Aku mencoba menyangkal ucapan Teja yang memintaku untuk berhenti mengeluh.
"Bukan apa-apa ya, Mas. Tapi, bukannya dalam pekerjaan kita, situasi hujan kadang-kadang menguntungkan untuk kita melarikan diri dari TKP?"
"Menguntungkan untuk melarikan diri? Maksudnya, menguntungkan untukmu?"
"Bukannya hujan kadang-kadang bisa membuat barikade pengamanan melonggar?"
Aku tertegun mencermati jawaban Teja yang ada benarnya. Ia ternyata mahir juga dalam membantah opini seseorang. Sayangnya, aku tipe orang yang tidak ingin mengalah begitu saja. "Oke. Soal pengamanan yang melonggar, aku setuju. Tapi, situasi hujan tidak selamanya menguntungkan. Aku sendiri malah tidak pernah merasa diuntungkan. Faktanya, hujan bisa berpotensi mengganggu pandangan dan mengurangi level kebugaran."
Tiba-tiba, Teja mendengus sinis. "Apa jangan-jangan yang kudengar selama ini tentang kalian berdua itu benar ya?"
Aku menoleh ke arah lawan bicaraku itu. "Maksudmu?"
"Kalian tidak sadar? Mas Topan dan pasangan Mas itu? Akhir-akhir ini kalian sering jadi bahan gunjingan hampir semua orang di markas besar, Mas. Mereka bilang, sejak Rana itu bergabung dengan kita, kinerjamu banyak menurun, Mas."
"Lho, Mas Topan tidak perlu kebakaran jenggot begitu dong. Lagipula, bukan aku yang bilang begitu. Mereka yang bilang, Mas."
"Tapi kamu mengiyakan, bukan?"
Dugaanku salah. Teja bukan lawan debat yang sepadan untukku. Baru begini saja, dia sudah gelagapan bicara. "Aku tidak bilang begitu, Mas. Ya, maaf kalau begitu. Aku kan cuma berusaha menyimpulkan."
"Menyimpulkan apa? Bahwa Rana bukan orang yang tepat untuk pekerjaan kita ini? Kalau memang benar begitu, buktinya beberapa bulan terakhir permintaan klien yang ingin menggunakan jasa kami berdua justru semakin meningkat."
__ADS_1
Teja diam menatapku. Aku yakin kali ini dia tidak akan mampu lagi merespons argumenku yang sangat beralasan. Dia telah salah memilih lawan perdebatan.
"Lalu, apa tanggapanmu mengenai pendapat orang-orang bahwa kalian terlalu gegabah, Mas?"
"Gegabah? Maksudmu?"
"Kebiasan kalian yang bekerja sambil bermain-main dengan korban itu, Mas. Apa kalian tidak sadar bahwa itu berisiko tinggi? Gimana kalau sampai ketahuan?"
"Itu urusan kami berdua! Ada urusan apa kamu ikut campur?"
Teja tak lagi membantah, tetapi dari napasnya yang terdengar lebih kencang, aku menduga ia berusaha menahan emosi. Pandangannya kembali tertuju ke depan, ke arah bangunan yang menjadi fokus pengintaian kami. Mendadak, aku merasa tidak enak hati padanya. Selama ini, ia adalah junior yang baik. Ia selalu mau mendengar saran-saran dariku, termasuk saran yang berhubungan dengan masa depan.
"Sudahlah, Ja. Tidak perlu dipikirkan. Mungkin apa yang kau dengar dari mereka tentang aku dan Rana ada benarnya. Mungkin memang sudah waktunya kami untuk pensiun dari pekerjaan ini dan menjalani hidup seperti manusia normal."
Mendengar ucapanku, Teja kembali menatapku. Tapi, tidak secepat ini juga, Mas.”
Kalau buat kamu, mungkin ya. Kau masih perlu mengumpulkan tabungan. Tapi, mungkin kau perlu juga mempertimbangkan untuk mengikuti rencanaku. Lagipula, kau masih muda, Ja. Masih banyak hal yang bisa kau lakukan di luar sana.
"Pssstttt!" Tiba-tiba Teja menyela bicaraku dengan mengatupkan jari telunjuknya ke mulut. Pandangan kembali tertuju ke depan dan kali ini wajahnya lebih serius. "Lihat itu, Mas!"
Belum sempat aku melihat ke arah yang ditunjuk Teja, tiba-tiba aku langsung dikejutkan dengan bunyi debum yang terdengar dari balik semak-semak. Saat aku melirik kembali ke arah juniorku itu, matanya tengah menyorot semak-semak tempat bunyi debum itu berasal.
"Itu Rama," ujarnya, yakin.
__ADS_1
Secepat kilat, Teja langsung melesat menuju semak-semak itu. Kontan, aku yang belum begitu siap, bergerak kewalahan untuk mengikutinya. Dengan satu pijakan kaki yang tertumpu persis di halaman bangunan itu, tubuh Teja yang kurus ramping itu masuk mulus menembus dedaunan. Dan, tak sampai satu detik, ia muncul kembali dengan tangan merengkuh pinggang seorang laki-laki yang tak sadarkan diri. Melihatnya berubah arah secara mendadak, aku langsung memutar engkelku dan KLEK!
Sial! Kakiku keseleo.