
24 Oktober 2018
Pukul 23.23
Malam Purnama
MUSIM hujan akhirnya datang lagi setelah enam purnama. Walaupun cuaca dingin mulai merayap, aku sengaja membiarkannya memasuki ruangan kamarku yang sudah sarat akan udara panas sejak berbulan-bulan lamanya. Angin semilir yang kurindukan pelan-pelan mulai hadir sebagai awalan yang akan mengantar rintik-rintik hujan turun mengobati kekeringan.
Sementara itu, malam mulai merambat. Namun, aktivitasku justru semakin padat. Lambat laun, aku jenuh juga setelah berbulan-bulan lamanya berkutat dengan tumpukan dokumen yang memuakkan itu. Bagaimana tidak? Mencermati setiap inchi kalimat yang tersusun dalam dokumen-dokumen itu ibarat membuka aib bangsa sendiri. Lembaran-lembaran itu adalah bukti eksistensi segala bentuk kecurangan dan kejahatan yang dilakukan oleh sejumlah oknum aparatur negara. Penyuapan, pemerasan, penyelewengan, bahkan skandal asmara terlarang, tergurat nyata bagaikan lembar-lembar pengakuan dosa.
Mau bagaimana lagi? Rutinitasku sebagai Kabid Humas di tubuh Komite Anti Korupsi memaksaku untuk, mau tidak mau, harus bergelut dengan hal-hal semacam itu. Pengabdianku selama lima tahun terakhir di komite independen yang sudah menapaki usia belasan tahun ini telah membuka mataku, bahwa sesungguhnya masih banyak tikus-tikus pengerat yang berkembang biak dari hasil menggerogoti kekayaan negeri ini. Dan, meskipun usaha pemberantasan hama tikus itu sudah dijalankan belasan tahun, nyatanya masih banyak di antara mereka yang merasa cukup bebas mengangkangi kewibawaan hukum.
Salah satu dari sekian banyak hama tikus yang masih bebas itu adalah Budiman Rudiantoro. Sebenarnya aku sudah muak mendengar nama politikus sekaligus pengusaha yang satu ini disebut berkali-kali di media. Sudah banyak kasus yang muncul menjeratnya, tetapi sampai saat ini orang itu masih saja leluasa menghirup udara bebas. Dan, akhirnya kemuakanku itu mengantarkanku pada sebuah penyidikan kasus suap proyek Sport Centre yang menjerat sejumlah tokoh penting di tubuh lembaga legislatif. Sebagaimana yang telah diberitakan oleh beberapa media belakangan ini, nama Budiman kembali terseret dalam skandal suap milyaran dollar tersebut. Uniknya, begitu mengetahui adanya indikasi keterlibatan pengusaha multinasional itu, tiba-tiba aku menjadi sangat bersemangat untuk mengumpulkan bukti-bukti konkret yang berkaitan dengan kasus itu.
Rupanya aku sudah benar-benar jengah menyaksikan sepak terjang konglomerat yang gemar mengadali aparatur negara itu. Sayangnya, kali ini dia berhadapan dengan aku. Aku telah menyiapkan sejumlah amunisi, berupa dokumen-dokumen yang akan membuktikan keterlibatannya. Dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan, beberapa dokumen itu akan segera berbicara di meja hijau. Kita lihat saja, Budiman. Kali ini kau tidak akan bisa lolos.
"Hooaahhhmmm..."
Tanpa kusadari, rasa kantuk telah berhasil menyelinap. Tahu-tahu, kelopak mataku sudah berair. Sepertinya aku juga tidak sanggup lagi melawan godaan untuk merebahkan diri ke tempat peristirahatan. Di situasi ini, sepertinya aku memang harus melupakan semua tugasku barang sebentar. Lagipula, fokus dan konsentrasiku sudah mulai mendekati titik nol. Aku tidak akan bisa bekerja maksimal dalam kondisi seperti ini.
Dengan pandangan yang tak lagi sempurna, aku melirik jendela kamarku yang masih terbuka. Sebelum merebahkan diri di atas tempat peristirahatan, aku harus menutup celah ventilasi itu demi menjaga kerahasiaan dan keamanan sejumlah dokumen penting. Baru saja aku hendak menghampiri jendela berkaca rayban itu, namun....
__ADS_1
PRANK!
Dengan kecepatan tinggi, sebuah benda misterius melesat menembus permukaan kaca jendela itu dan membuatnya hancur berkeping-keping. Seketika itu pula, rasa kantukku memudar. Mataku terbelalak melihat keberadaan benda asing tersebut di dalam kamarku. Dengan penuh kehati-hatian, aku menghampiri lokasi jatuhnya benda kecil itu. Kuberanikan diriku memungutnya dari permukaan ubin keramik.
Ternyata benda itu adalah sejenis batu coral yang bertekstur kasar. Secarik kertas terselip di sebuah lubang kecil yang menganga di permukaan batu. Seseorang misterius telah mengirimkan sepucuk pesan untukku dan isi pesan yang cukup singkat itu membuatku mukaku berkerut.
SELAMAT! MALAM INI ADALAH MALAM KEBERUNTUNGAN ANDA!
-THE BLACK MAIL-
The Black Mail, gumamku.
Belum sempat aku menemukan jawaban dari teka-teki pesan itu, mendadak secarik kertas itu berubah warna menjadi lebih gelap. Semakin gelap. Sesosok bayangan hitam yang muncul dari arah belakang tubuhku membuatku terperanjat. Sontak, aku berusaha membalikkan badan secepat mungkin untuk mengetahui sang pemilik bayangan.
"Siapa ya?" teriakku dengan suara parau.
Suasana senyap. Tidak ada suara yang terdengar, namun sejurus kemudian...
GRRRRR
Sayup-sayup terdengar suara geraman yang menyerupai binatang buas. Seketika itu pula, bulu kudukku meremang. Darahku berdesir. Udara malam yang membeku turut andil mengedarkan suasana mencekam. Di luar kamar, bunyi petir yang berdegam menebarkan ribuan ancaman.
__ADS_1
Tiba-tiba bayangan hitam itu kembali berkelebat secepat kilat di depan mataku. Jantungku tersentak ketika merasakan sesuatu yang tajam menggores punggungku. Aku terhempas. Perlahan, rasa perih menyerang. Melalui tanganku yang meraba bagian belakang tubuh, aku jelas bisa merasakan luka sayatan yang menganga di punggungku. Darah segar mengalir pelan melewati sela-sela gaun tidurku yang terkoyak. Dalam sekejap, gaun putih itu mulai berubah warna menjadi kemerahan. Sebagai bentuk reaksi singkat, aku berteriak kepanikan.
"Tttt.... Tolong! Rampok! Pak Sakir! Ada rampok! TOLOOOONGGG!!"
Dengan segala harapan yang tersisa, aku berteriak sekuat tenaga, mencoba memanggil nama petugas sekuritiku yang bertugas di pos penjagaan depan rumah. "PAK SAKIR!! TOLOOONGGG!!"
Malang tak dapat dinyana. Suaraku tiba-tiba melemah. Tenggorokanku rupanya tak mampu bertahan lama menampung resonansi suara yang berlebihan. Dalam tempo singkat, aku sudah kehabisan suara akibat terlalu memaksakan diri berteriak sekencang-kencangnya.
Sementara itu, suara langkah kaki yang entah dari mana asalnya tiba-tiba terdengar. Saat menoleh ke arah jendela, sesosok makhluk hitam menyeramkan tiba-tiba saja sudah berdiri di sana. Sorot matanya merah menyala. Mulutnya menyerupai moncong anjing. Dari balik bibirnya, tampak sepasang gigi taring yang melengkung. Perlahan makhluk itu menegakkan kepalanya dan menampakkan seringai wajahnya.
GRRRRR GRRRRR
Selintas terdengar kembali suara geraman binatang buas. Seketika itu pula, wajahnya menyeringai tajam ke arahku.
"Jangan mendekat! Jangan sakiti saya!" Suaraku makin hilang ditelan curah hujan yang semakin deras. Ajaib, makhluk itu benar-benar berhenti mendekat. Jari-jarinya yang dihiasi kuku-kuku tajam justru berusaha menyentuh permukaan wajahnya sendiri.
Bukan! Itu bukan wajah! Topeng! Ternyata dia mengenakan selembar topeng. Tiba-tiba makhluk itu membuka topeng itu dan menampakkan bentuk wajah aslinya. Tampaklah wajah seorang laki-laki muda yang sangat jauh dari kesan menyeramkan.
Di luar dugaanku, wajah laki-laki itu tiba-tiba terlihat kebingungan. Matanya mengedar pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Saat kedua matanya itu mengarah padaku, mendadak mukanya pucat. Kelopak matanya seolah-olah terpana menatap cipratan darah yang membasahi bagian belakang gaun tidurku. Belum hilang keterkejutannya, laki-laki itu kembali terperanjat hingga mundur beberapa langkah usai menyadari keberadaan kuku-kuku panjang yang melekat di jari-jari tangannya.
"Bu Murthi! Ibu baik-baik saja di dalam?!"
__ADS_1
Suara teriakan Pak Sakir dari luar kamar semakin menambah aura kepanikan di wajah laki-laki itu. Dengan tergopoh-gopoh, dia menghampiri jendela kamarku yang masih dalam posisi terbuka dan segera memanjat tembok bagian luarnya.
"Pak Sakir! Rampoknya kabur lewat jendela!"