
27 Oktober 2018
Pukul 00.04
"APA rencana selanjutnya, Pap?"
Setelah membantu Teja merebahkan tubuh Rama di kamarnya, aku langsung menemui Papa di lantai paling atas untuk membicarakan langkah-langkah selanjutnya.
Tubuh orang tua laki-lakiku itu tampak semakin renta. Meski lengannya masih padat berisi, gerakannya sudah jauh melambat. Tangan dan jari-jarinya bergetar saat menggenggam cangkir berisi kopi yang baru saja diseduhnya. Sudah sebelas tahun aku meninggalkannya menua sendirian di tempat ini. Diam-diam, batinku menangis ditimpa perasaan bersalah.
"Setelah mendengar kabar kedatanganmu ke negara ini, Papa langsung ingat rencana lama."
"Rencana lama?"
Seulas senyum tiba-tiba mengembang di sudut bibir Papa. "Kau selalu bertanya seperti itu. Seolah-olah, kau tidak pernah mengenal Papa."
"Pap, ini bukan waktu yang tepat untuk menyimpan rahasia. Mungkin aku bisa mempercayai Papa. Tapi, bagaimana dengan Dr. Edward dan Raymond?"
"Raymond?" Nada bicara Papa seperti penuh tanda tanya, tetapi wajah beliau sama sekali tidak terlihat terkejut mendengar nama itu kusebot-sebut. "Berarti benar dugaanku selama ini tentang keterlibatannya. Kalian berdua memang anak nakal. Sudah berani coba-coba mengelabui Papa."
"Selama ini aku hanya ingin memastikan anak itu berada di tangan yang tepat, Pap."
"Jadi kau sudah mau mengakuinya sebagai kakak angkatmu? Jadi kalian sudah bersedia mengakhiri perselisihan masa kecil itu?" Nada bicara Papa lagi-lagi seperti penasaran, tetapi senyum tenang tetap menghiasi wajah beliau. Papa memang luar biasa. Memang sangat sulit untuk mengelabuinya.
"Kami bukan anak kecil lagi, Pap."
__ADS_1
Papa mendengus sinis. "Papa justru merindukan masa-masa itu."
Ucapan itu sejujurnya membuatku tersentuh. Ingatanku langsung terbawa ke masa lalu. Perselisihan antara aku dan Raymond kala itu memang seolah akan berlangsung abadi. Saat itu Papa menginginkan figur seorang anak yang kuat dan tangguh secara fisik. Dan, kehadiran Raymond sebagai anak adopsi di tengah-tengah keluarga kami telah memenuhi harapan beliau. Sementara itu, aku, yang merupakan anak kandung Papa sendiri, justru lebih menggemari buku dan bangku sekolah. Aku tidak tertarik sama sekali dengan pertarungan fisik.
Sikap Papa yang sering membanding-bandingkan antara aku dengan Raymond telah membuat hubungan persaudaraan tiri di antara kami berdua memanas. Namun, kebanggaan Papa terhadap Raymond akhirnya harus berujung kekecewaan setelah kakak tiriku itu menolak permintaan Papa. Laki-laki berkulit gelap itu menolak mengikuti keinginan Papa untuk masuk Angkatan Darat.
Pilihan Raymond untuk menekuni bidang jurnalistik telah mematahkan harapan besar Papa terhadapnya. Sebelumnya, hanya dialah satu-satunya yang digadang-gadang untuk menjadi penerus Papa di kancah militer. Kekecewaan itu membuat Papa akhirnya memutuskan untuk mengakhiri karir kemiliteran. Alih-alih mengikuti jejak pamanku Rico yang seorang Jendral Besar, Papa memilih menggantung topi baretnya untuk selama-lamanya.
"Bagaimana kabar putramu di Jerman?" lanjut Papa, setelah memintaku duduk di depan kursi malas yang selama bertahun-tahun masih setia beliau kendalikan. "Apa ada rencanamu untuk memasukkan cucuku itu ke Sekolah Militer?"
"Dia belum menyelesaikan sekolah formal, Pap. Lagipula aku berencana menyerahkan keputusan sepenuhnya padanya. Zaman sudah berubah, Pap. Sebagai orang tua, kita harus menghilangkan pola pikir yang konservatif."
Sembari mengayunkan kursi malas kesayangan beliau, Papa lagi-lagi mendengus sinis. "Konservatif? Kuno, maksudmu?"
"Tidak mengikuti perkembangan zaman, lebih tepatnya."
"Sudah terlalu lama Papa terbenam di tempat ini. Itu yang membuat Papa sukar mengikuti pola pikir manusia modern. Aku tidak pernah bosan mengajak Papa untuk ikut tinggal bersamaku di Jerman."
"Kau tidak mengerti sejarah tempat ini. Kalau bukan karena bersembunyi di bangunan panti asuhan ini, mungkin keluarga kita akan bernasib sama dengan para pebisnis Tionghoa di sekitar kita waktu itu."
"Lalu sekarang apa fungsi panti asuhan ini, Pap? Apakah masih sama seperti dulu saat Papa pertama kali membangunnya dengan dana bantuan dari orang-orang Jerman itu? Justru Papa telah menyia-nyiakan bantuan itu dengan menyulapnya menjadi tempat penampungan bagi sekumpulan pembunuh berdarah dingin."
"Kau harus tahu bahwa negara ini terlalu banyak mengalami perubahan iklim politik. Setelah semua yang terjadi akhir-akhir ini, terlalu riskan mengembangkan paham Sosialis Nasionalis di negara ini. Masih untung Papa punya teman lama di militer yang karirnya sedang bersinar di intelijen. Papa butuh perannya untuk menjamin keamanan tempat ini dari sorotan publik."
"Tapi, apakah harus dengan cara ikut mengotori tangan Papa?" Giliran aku yang mendengus tajam.
__ADS_1
"Cuma itu satu-satunya cara agar tempat ini bisa bertahan."
Mendadak, ada perasaan yang tidak biasa melihat wajah Papa. Wajah beliau yang telah banyak berkerut itu tampak menunjukkan ekspresi keputusasaan. Seolah-olah, beliau sudah benar-benar letih memperjuangkan cita-cita mendiang Kakek yang seorang mantan tentara Jepang.
Delapan puluh tahun silam, seorang tentara Jepang bernama Shinji Nakano turut menjadi bagian dari pasukan kekaisaran imperialis yang mendarat di Semenanjung Melayu. Setelah perang usai, Shinji memilih menetap di negara ini dan memutuskan untuk menukar namanya dengan nama pribumi, yaitu Priyambodo. Sejak saat itulah trah Priyambodo bermula.
"Baiklah. Lalu sekarang apa yang Papa harapkan dari tempat ini?"
Papa menatapku nanar. "Kau salah menilai Papa, Nak. Bukan tempat ini tujuan utama Papa." Pandangan beliau tiba-tiba menerawang ke udara. "Kau tahu, sejak pamanmu memutuskan untuk setia sepenuhnya pada negeri ini, praktis cuma Papa satu-satunya harapan kakekmu untuk melanjutkan perjuangan keluarga. Karena itulah, Papa menyiapkan kalian, anak-anak Papa, untuk melanjutkan perjuangan ini."
"Seperti yang kubilang, Pap. Zaman sudah berubah. Militer bukan lagi satu-satunya jalur untuk memperjuangkan ideologi. Papa tahu sendiri saat ini aku masih memegang teguh prinsip ajaran itu. Aku masih tetap memperjuangkan ideologi ini. Aku masih aktif berkomunikasi dengan sejumlah keturunan Nazi Jerman dan Fasis Italia di kawasan Eropa. Sampai saat ini, mereka masih memegang teguh pakta Tripartite."
Mendengar penjelasanku, Papa bangkit perlahan dari kursi malas beliau dan menaruh cangkir kopi yang beliau genggam di atas meja. Dengan wajah penuh haru, telapak tangan beliau menyentuh pipiku. Baru kali ini, aku melihat secercah kebanggaan di raut muka beliau. Sembari memandangku penuh harapan, beliau lalu berujar, "Lanjutkan! Papa percaya kau akan membuat bangga keluarga besar."
Sambil tersenyum lega melihat ekspresi Papa yang berbinar, aku menganggukkan kepalaku. Namun, sesaat usai Papa melepaskan telapak tangannya dari wajahku, aku kembali teringat akan kekacauan yang saat ini sedang terjadi.
"Lalu apa rencana selanjutnya, Pap? Situasi sudah semakin kacau. Apa tidak sebaiknya kita tinggalkan saja negara ini? Lupakan Jendral itu, Pap."
Aku menoleh ke arah Papa yang tahu-tahu sudah berdiri di belakangku. Kali ini, beliau memandangi sebingkai foto seorang pria. Foto mendiang kakek, Shinji 'Priyambodo' Nakano, memang masih setia menghiasi ruangan pribadi beliau.
"Ada satu urusan yang belum Papa selesaikan dengan Jendral itu," kilah Papa, seraya menerawang wajah kakek yang sekilas menyerupai seorang Tionghoa. "Kakekmu pernah berpesan, apapun yang terjadi, persaudaraan tetaplah persaudaraan. Walaupun Pamanmu telah memilih jalannya sendiri, dia tetaplah Pamanmu."
Keningku berkerut, mencoba menelaah ucapan Papa. "Maksud Papa?"
Dengan gerak perlahan, Papa kembali melirikku. "Sudahlah. Lain waktu, Papa akan menceritakan semuanya. Sekarang kembalilah ke kamar anak itu. Pagi ini Jendral itu akan datang berkunjung. Jangan sampai dia tahu keberadaan kalian di tempat ini."
__ADS_1
Sembari beranjak dari tempat dudukku, aku memohon izin. Meskipun aku gagal memahami rencana rahasia Papa untuk Jendral Edi, aku memilih untuk memercayai orang tua kandungku itu. Bagaimanapun juga, beliau adalah masterplanner ulung. Seraya bergegas meninggalkan ruangan, sekali lagi aku menatap beliau.
"Senang bisa bertemu dengan Papa lagi."