
25 Oktober 2018
Pukul 05.02
BLINK! Speaker komputer jinjing milik saya berbunyi. Dari nadanya yang khas, bunyi itu tampaknya berasal dari aplikasi e-mail. Saya pun langsung bangkit menghampiri meja kerja. Tadi malam, komputer itu memang sengaja saya tinggalkan dalam kondisi yang masih aktif.
Sebuah pesan e-mail ternyata baru saja masuk. Karena penasaran, saya segera membuka folder kotak masuk untuk memeriksanya. Di dalam folder itu, tampaklah sebuah pesan yang belum terbaca. Pesan dari Mr. Hinkel!
"It's the time. Within a month, the boy must be ready for the trip."
Tiba-tiba seluruh badan saya lesu. Kali ini, Mr. Hinkel benar-benar keterlaluan. Saya tidak mungkin mempersiapkan semuanya dalam waktu yang singkat. Sebulan bukan waktu yang sebentar. Selama ini saya sudah berusaha mengirimkan update tentang situasi yang sedang terjadi di negara ini. Saya pikir hal itu akan membuat dia dan rekan-rekannya di parlemen mengerti kondisi saat ini. Saya pikir mereka akan memberikan jangka waktu yang lebih lama kepada saya untuk menyelesaikan proyek ini walaupun faktanya sekarang proyek ini sudah tidak lagi berjalan sesuai fungsinya.
Proyek yang digagas sendiri oleh Mr. Hinkel ini sudah melenceng jauh dari tujuan utamanya sejak pertama kali dimulai belasan tahun yang lalu. Kondisi Objek saat ini sudah mengalami eksploitasi secara besar-besaran. Orientasi para petinggi yang terlibat dalam proyek saat ini sudah bergeser kea rah bisnis semata. Sudah beberapa tahun lamanya, Jendral Edi Harsono dan koleganya memanfaatkan Objek untuk mengeruk penghasilan. Sejujurnya saya takjub terhadap apa yang terjadi pada Objek. Saya kira dulu dia tidak akan bertahan lama. Ternyata anak itu justru punya mental pejuang yang sangat kuat. Sekarang bahkan dia sudah bertransformasi menjadi mesin pembunuh yang berbahaya. Celakanya, hal inilah yang dimanfaatkan oleh Jendral Edi dan koleganya.
Saya berada di posisi yang sangat sulit. Saya bukan siapa-siapa di negara ini. Saya tidak punya wewenang untuk menghalangi para oknum intelijen itu berbuat macam-macam terhadap Objek. Kekuasaan mereka terlalu absolut. Jangankan saya, aparat hukum saja seolah tidak berani menghentikan praktik bisnis terselubung yang mereka jalankan. Dan, ketika banyak korban berjatuhan, rakyat sipil negeri ini justru asyik dengan cerita-cerita bohong yang memang sengaja direkayasa oleh media-media bayaran untuk menutupi fakta yang sesungguhnya.
Bisnis pembunuh bayaran yang digagas oknum intelijen telah membuat situasi kota menjadi kacau. Bisnis itu telah memicu peperangan yang tidak kasat mata. Peperangan yang tidak melibatkan senjata, namun tetap mengakibatkan banyak korban berjatuhan. Para korban yang berasal dari golongan politisi dan pebisnis saling membalas dendam. Sedangkan, para oknum di badan intelijen tidak mau berpihak pada satu sisi. Mereka adalah pebisnis yang sesungguhnya.
Sekarang situasinya semakin kacau. Pesan dari Mr. Hinkel sudah jelas. Oleh karena itu, saya harus melakukan sesuatu untuk memecahkan masalah ini. Setelah memilih sebuah nomor kontak, saya mengangkat telepon seluler dan mendekatkannya pada telinga saya. Sebenarnya sudah sejak sebulan yang lalu saya mencoba menghubungi nomor itu, tetapi pemiliknya tidak pernah menjawab panggilan saya. Jendral itu sungguh tidak tahu berterima kasih. Bertahun-tahun, saya meminjamkan hasil karya penelitian saya secara sukarela dan tanpa pungutan biaya, tetapi ketika saya minta dia untuk mengembalikan apa yang menjadi milik saya, dia tidak pernah menanggapi.
__ADS_1
"Halo...," Panggilan saya akhirnya tersambung. Bahkan, saya harus menggunakan nomor ponsel yang berbeda-beda agar Jendral Edi menjawab panggilan saya.
"Jenderal Edi? Saya Edward. Susah sekali menghubungi Anda belakangan ini."
"Ooh, Dr. Edward. Maaf, Dok. Akhir-akhir ini saya banyak pekerjaan. Waktu saya banyak tersita untuk mengurusi kepentingan negara," Jenderal Edi beralasan. "Bagaimana, Dok? Ada yang bisa saya bantu?"
"Jenderal, saya masih ingin berbicara tentang objek penelitian saya. Sekarang situasinya sangat mendesak."
"Maaf, Dok. Kita sudah pernah bahas soal itu sebelumnya, bukan? Saya hanya bekerjasama dengan Mr. Hinkel, bukan dengan Anda. Jadi, ,"
"Mr. Hinkel sudah memintanya untuk pulang." Sebelum Jendral Edi mengutarakan alasan yang sering diucapkannya kepada saya, saya langsung menyela ucapannya. Seketika, Jendral bintang lima itu terdiam.
"Benar, Jenderal. Dalam kurun waktu sebulan ini, Mr. Hinkel sudah tiga kali menghubungi saya. Mereka memerintahkan saya untuk segera mempersiapkan Objek. Ada sebuah misi rahasia yang membutuhkan kemampuan dia. Lagi-lagi Jenderal Edi terdiam selama beberapa detik. "Halo? Jendral? Anda masih bisa mendengar suara saya?"
Tidak ada jawaban. Mulut perwira militer itu masih tertutup rapat. Tiba-tiba, saya merasa cemas. Saya khawatir Jendral Edi tidak mengabulkan permintaan Mr. Hinkel. Saya mengerti tabiatnya. Dia adalah orang yang keras kepala. Sama dengan Mr. Hinkel juga. Jika Objek harus berangkat ke Jerman segera, dia akan berpotensi kehilangan banyak penghasilan.
"Dokter, Akhirnya suara yang saya tunggu muncul juga. "Sebenarnya ada hal yang ingin saya konsultasikan juga pada Anda mengenai anak itu."
"Memangnya ada apa dengannya, Jenderal? Apa ada sesuatu yang menimpanya?"
__ADS_1
"Begini, Dok," Sang jenderal menghela napas panjang. "Tadi malam, untuk pertama kalinya, anak itu gagal menjalankan misi dari saya. Seorang informan menyaksikan sendiri dia bertingkah kebingungan sebelum akhirnya meninggalkan korban yang masih dalam keadaan bernyawa."
Sekarang giliran saya yang terdiam. Kasus inilah yang sebenarnya saya takutkan sejak lama. "Quick split phase."
"Maksud Anda, Dok?"
"Sepertinya dia mengalami pergantian identitas dalam waktu yang singkat. Saya sudah menjelaskan hal ini pada Anda berkali-kali sejak dulu, tetapi Anda tidak pernah mau mendengarkan saya. Pada situasi tertentu, Objek bisa saja mengalami kondisi seperti itu."
"Sudahlah, Dok. Semuanya sudah terjadi. Anda punya solusinya?"
"Untuk memastikan solusinya, saya harus menemuinya secara langsung."
"Maaf sebelumnya, Dok. Tapi untuk saat ini saya masih membutuhkan dia. Ada tugas yang belum dia selesaikan. Saya mengerti dia adalah aset besar Mr. Hinkel dan jaringannya. Tapi tidak bisa dimungkiri, dia juga aset berharga kami saat ini. Jadi, untuk saat ini, saya belum bisa mengijinkan Anda membawanya." Perkiraan saya tepat. Jendral Edi pasti akan melakukan segala cara untuk menghalangi niat saya menemui Objek secara langsung.
"Lalu, Anda juga tidak mengijinkan saya untuk menemuinya?"
Jendral Edi Harsono berhenti sebentar, lalu dia melanjutkan. "Saya butuh komitmen dari Anda, Dok. Setelah Anda menyelesaikan permasalahan ini, saya harap Anda tidak langsung membawanya pergi ke negara Anda. Paling tidak, sampai dia bisa menuntaskan tugas terakhirnya."
Saya butuh waktu beberapa detik untuk menimbang usulan dari Jenderal Edi. Saya sangat memahami bagaimana perangainya karena saya telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Berbekal pengalaman yang sudah-sudah, saat ini saya tidak bisa lagi percaya pada sembarang orang, termasuk pada Jendral Edi.
__ADS_1
"Baik, Jendral. Saya setuju. Di mana dia sekarang?"