
26 Oktober 2018
Pukul 23.01
AKAL sehatku benar-benar tidak mampu mencerna semua keanehan yang menimpaku belakangan ini. Semuanya terjadi di luar kesadaranku. Entah berhubungan atau tidak, yang pasti hidupku semakin kacau sejak kemunculan Awan. Pria yang mengaku sebagai wartawan itu seperti menularkan kesialannya padaku. Mendadak, segepok permasalahan datang berduyun-duyun. Puncaknya adalah peristiwa yang terjadi kemarin malam.
Masih segar di ingatanku sebuah peristiwa janggal yang terjadi tepat sehari yang lalu. Beberapa jam sebelum kejadian, aku jelas-jelas sedang berada di kamarku. Bahkan, setelahnya aku sempat tertidur pulas. Aku tidak pernah mengira tiba-tiba bisa berpindah tempat di sebuah rumah mewah yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Gara-gara itu, aku dikira berniat jahat ingin merampok rumah itu. Aku tidak punya pilihan lain, selain melarikan diri melalui jendela. Malangnya, aku terjatuh dari ketinggian. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.
Sebenarnya, aku lumayan sadar saat aku diselamatkan oleh seseorang. Mungkin orang itu pula yang mengantarkanku ke rumah sakit ini. Tentu saja, aku tidak tahu identitas orang yang menyelamatkanku itu, atau bagaimana cara dia membawaku ke rumah sakit ini. Saat kutanyakan pada seorang perawat tentang ciri-cirinya, perawat itu mencoba menggambarkan dengan deskripsi yang tidak asing.
"Laki-laki itu berperawakan kurus, berambut gimbal. Setelah mengantarkan Mas ke unit gawat darurat, kata teman saya yang kemarin bertugas di bagian resepsionis, laki-laki itu langsung memesan kamar kelas satu atas nama Anda. Anehnya, setelah itu dia menghilang. Jelas saja, kami kelimpungan. Pihak rumah sakit sempat bertanya siapa yang akan menanggung biaya perawatan Anda. Untungnya, tidak lama, kami menerima telepon. Katanya, si penelpon itu yang akan menanggung biaya rumah sakit Anda," kisah perawat itu. Maklum, dia seorang perawat, bukan seorang tukang dongeng.
Aku sungguh penasaran. Sebenarnya siapa si kurus berambut gimbal itu? Seingatku, aku tidak mempunyai teman berambut gimbal, selain . Teja? Tentu saja, bukan. Perawat yang bercerita padaku tidak pernah bilang bahwa orang misterius itu punya kesulitan berjalan normal. Lagipula, mana mungkin Teja sanggup menolongku dengan keterbatasan fisik yang dideritanya?
Awalnya, aku sempat mengira kejadian kemarin malam itu cuma mimpi belaka, tetapi luka di sekujur tubuhku, juga nyeri di tulang selangkaku, membuktikan hal yang sebaliknya. Sejumlah luka itu telah membuktikan bahwa aku benar-benar terjatuh dari ketinggian, bukan dari atas tempat tidur. Namun, seandainya peristiwa itu sungguh nyata, bagaimana mungkin si pemilik rumah akan melepaskanku begitu saja tanpa melapor pada pihak yang berwajib? Bukannya dia mengira aku adalah seorang perampok?
Tiba-tiba, lamunanku terganggu oleh suara pintu yang berkeriut. Seketika, aku menegakkan tulang punggungku yang tertidur beberapa saat yang lalu.
"Diand...," Tanpa permisi, tiba-tiba seorang pria langsung memasuki kamar pasien tempat aku dirawat. Tubuh pria itu tinggi semampai. Wajahnya yang putih kemerahan mengingatkanku pada seorang aktor kenamaan asal Hollywood, Brad Pitt. Sepintas pria itu seperti hendak memanggil sebuah nama, namun buru-buru dia menghentikannya setelah melihat wajahku. Positif saja, mungkin dia salah masuk kamar.
"Ooh, kamu sudah siuman?" Dialek bicara pria itu menegaskan bahwa dia memang seorang berkewarganegaraan asing. Dan, yang paling penting, dia tidak menunjukkan gelagat kalau dia salah masuk kamar.
"Maaf. Anda siapa?" tanyaku.
Pria itu tampak kebingungan. Berkali-kali pandangannya memeriksa sekeliling ruangan. "Saya Dr. Eddie yang menangani kamu."
Aku memicingkan mata mencermati busana pria itu. Dia tidak sedang mengenakan jas putih seperti dokter kebanyakan. Namun, aku tidak boleh terlalu naif. Memang tidak semua dokter mengenakan jas kebesaran profesi mereka saat bertugas. Mungkin pria ini adalah jenis dokter yang tidak narsis seperti kebanyakan rekan-rekan seprofesinya. "Anda warga negara asing, bukan?"
"Saya tenaga medis dari Jerman," ungkapnya, sambil menaruh pantatnya di atas kasur tempat tidurku. "Bagaimana keadaan Anda sekarang? Sudah baikan?"
"Lumayan, Dok," ujarku, pelan. Ngomong-ngomong, bahasa pribumi Anda lancar sekali ya. Anda sudah lama tinggal di sini?
“Begitulah. Saya suka dengan negara ini. Ya, semua bule yang tinggal di sini juga bilang begitu.
Kepalaku tertunduk ketika dokter itu mendekati wajahku. Diam-diam aku menyimpan kecurigaan. Sedikitnya ada tiga alasan yang melatarbelakangi kecurigaanku. Pertama, dari awal gerak-gerik pria itu agak mencurigakan. Kedua, selama ini aku belum pernah dengar ada pihak rumah sakit lokal yang mempekerjakan tenaga ekspatriat. Dan, yang terakhir adalah cara matanya menatapku.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sorot mata dokter itu. Dia menatapku dengan cara yang biasa. Tidak setajam sorot mata Pak Petrus yang legendaris itu. Justru sebaliknya, aku bisa menemukan keteduhan di kelopak matanya. Meski dia warga negara asing, senyum ramah yang menghiasi sudut bibirnya sepertinya tidak asing bagi ingatanku. Mungkin aku pernah bertemu atau sekadar berpapasan dengannya pada suatu waktu. Entahlah.
"Rama. Begitu kamu biasa dipanggil, bukan?" Dokter yang mengaku bernama Eddie itu kembali menanyaiku. Ekspresi mukanya mendadak berubah menjadi sangat serius.
"Iya, Dok.
Lagi-lagi, pandangan dokter itu memeriksa sekeliling ruangan, seperti mengisyaratkan kewaspadaan. "Kamu harus segera dipindahkan, Rama."
"Maksud Dokter?"
"Ruangan ini tidak aman untukmu."
"Tidak aman? Memangnya ada apa, Dok?"
"Panjang ceritanya," pungkas Dr. Eddie, sembari bergerak mengambil kursi roda di sudut ruangan.
__ADS_1
"Saya tetap berhak untuk tahu, Dok. Kalau memang benar nyawa saya dalam bahaya, maka saya juga tidak bisa mempercayai siapapun. Termasuk Anda."
"Polisi," Jawaban singkat Dr. Eddie membuatku menoleh tajam ke arahnya. "Para polisi itu datang mencarimu, setelah peristiwa pembobolan rumah beberapa hari yang lalu. Ada orang-orang yang sengaja mengincarmu, Rama."
Sempat keheranan, tiba-tiba aku seperti tersihir dengan isyarat tangan Dr. Eddie yang memintaku untuk segera menaiki kursi roda. Dengan sedikit tergesa-gesa, dokter itu memapah tubuhku dan membantuku mengambil posisi duduk sempurna di atas kursi roda itu.
"Kita mau ke mana, Dok?"
Setelah memastikan posisi dudukku sempurna, Dr. Eddie mulai mendorong kursi roda menuju pintu ruanganku yang tertutup secara otomatis. Tepat sebelum sampai di ambang pintu, dia memutar kursi roda 180 derajat dan menariknya dengan gerakan mundur. Dia tampak menghela napas beberapa kali sebelum memutar gagang pintu. KLEK! Dengan hati-hati, dia menyempatkan diri memeriksa keadaan di luar. Setelah yakin situasinya aman, barulah dia menarik kursi rodaku ke luar ruangan dan kembali mendorongnya pada posisi maju.
"Saya belum ada gambaran mau ke mana. Kamu punya ide?" Dr. Eddie berbisik.
"Kalau yang mengincar saya adalah polisi, kita tidak mungkin bersembunyi di areal rumah sakit. Mereka akan dengan mudah menemukan kita."
"Jadi, menurutmu, kita harus keluar dari gedung ini?"
"Anda keberatan, Dok?"
"Tidak sama sekali." Dr. Eddie menyahut mantap.
Kursi roda kembali melaju menuju pintu darurat. Suasana rumah sakit yang telah senyap memudahkan kami melalui setiap koridor yang ada. Dr. Eddie tetap memperhatikan langkahnya dengan seksama. Saat aku melirik mukanya, dia terlihat serius. Dan, entah mengapa, tiba-tiba kecurigaanku muncul kembali.
"Dok, boleh saya bertanya?" tanyaku, pelan.
"Asal tidak mengganggu pergerakan saya, silakan saja."
"Apa motivasi Anda menolong saya?"
"Dok, kenapa diam?"
"Psssttt..."
Dr. Eddie tiba-tiba memintaku berhenti bersuara. Bola matanya semakin tajam menonjolkan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi. Sepasang bola mata itu kini mengarah ke depan dan merangsang bola mataku untuk mengikuti arah tatapannya. Aku terhenyak mengetahui apa yang ada di hadapan kami berdua. Tiga orang pria, entah dari mana datangnya, tahu-tahu sudah menghadang di ujung koridor.
"Anda buru-buru, Dokter? Butuh tumpangan?" ujar salah seorang pria, yang tampaknya paling tua dari yang lainnya.
Mataku memicing, mencoba mencermati wajah pria yang baru saja berbicara itu. Dari bentuk wajah dan tubuhnya, pria yang separuh rambutnya telah ditumbuhi uban itu mengingatkanku pada seseorang. Dia benar-benar sangat mirip dengan pria yang kukenal gemar memotong kuku. Pak Sairan?
Jantungku mulai berdebar ketika pandangan pria beruban itu mengarah padaku. "Rama," Rupanya dia mengenaliku. "Terima kasih ya roti isinya."
Roti isi? Tidak salah lagi! Orang itu memang Pak Sairan!
(Memangnya kau pikir dia itu siapa?)
"Rupanya benar dugaan Jendral Edi. Anda sengaja ingin melarikan anak itu, kan?"
Salah satu dari kedua rekan Pak Sairan melibatkan diri dalam percakapan. Aku kebingungan mencerna pembicaraan ketiga pria itu. Anehnya lagi, Dr. Eddie sepertinya juga mengenal mereka.
"Kalian tidak mengerti apa-apa. Perjanjian kami dengan Jendral itu sudah selesai. Kami berhak meminta anak ini kembali."
"Dan, atas perintah Jendral Edi, kami tidak akan membiarkan Anda pergi!"
__ADS_1
Hingga saat ini, aku masih belum menangkap maksud pembicaraan mereka. Jendral Edi katanya? Apakah dia salah sebut? Seharusnya Dokter Eddie, bukan? Aku masih belum mengerti. Mengapa ada banyak orang bernama Edi? Sebenarnya pria yang memegangi kursi rodaku ini seorang dokter atau jendral?
"Dokter, sebenarnya apa yang terjadi? Saya benar-benar tidak mengerti," tanyaku pada Dr. Eddie, atau Jendral Eddie atau apalah profesinya.
Pria yang mengaku berpaspor Jerman itu tidak buru-buru menjawab pertanyaanku. Alih-alih menjawab, dia justru membisikkan sesuatu ke telingaku. "Apapun yang terjadi, kamu harus meninggalkan tempat ini. Tunggu aba-aba dari saya. Kalau saya bilang 'Lari', larilah secepat mungkin. Mengerti?"
"Tapi saya butuh penjelasan, Dok." Mau tidak mau, aku pun juga berbisik untuk menanggapi ucapan Dr. Eddie.
"Lakukan saja yang saya minta."
Kemudian, Dr. Eddie melepaskan pegangan tangannya dari gagang kursi rodaku. Dengan langkah yang berat karena mungkin factor usia, dia menghampiri tiga orang penghadang yang masih setia berdiri di ujung koridor.
"Baiklah, Saudara-Saudara sekalian. Kelihatannya kita memang perlu bicara baik-baik. Seperti yang kalian tahu, semua ini hanya persoalan bisnis. Bukankah dalam setiap urusan bisnis, segalanya bisa didiskusikan?"
"Perintah Jenderal Edi sudah jelas. Kalau Anda berusaha melarikan anak itu, maka kami harus bertindak. Bahkan, kami juga diberi keleluasaan untuk menghabisi Anda jika Anda tetap bersikeras," terang pria yang mirip Pak Sairan, lugas.
"Baik. Apakah kedengarannya saya bersikeras?" Langkah demi langkah Dr. Eddie perlahan mulai mendekati Pak Sairan. "Mungkin lebih tepatnya belum. Saya justru ingin mengajak kalian untuk... mmm... bermusyawarah."
"Maaf, Dok. Kami bukan para petinggi yang bisa diajak berbasa-basi. Kami hanya sekumpulan prajurit yang menerima perintah."
"Justru itu," Dr. Eddie menghentikan langkahnya tepat di tengah koridor. "Justru itu, saya ingin memberikan tawaran yang lebih baik. Saya ingin lebih memanusiakan kalian."
Alis kiri kembaran Pak Sairan naik. "Memanusiakan?"
"Saya yakin orang-orang seperti kalian pasti tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk beraspirasi. Pernahkah kalian berpikir bahwa selama ini kalian cuma dianggap pesuruh oleh majikan-majikan kalian?" Sepertinya ucapan persuasif Dr. Eddie berhasil menggoyahkan niat ketiga penghadang. Meski terlihat malu-malu, mereka saling memandang satu sama lain. "Saya bisa menawarkan kehidupan yang lebih baik. Seperti yang kalian tahu, saya punya koneksi di pemerintah Jerman. Kalian belum pernah berlibur ke luar negeri, kan?"
"Cukup, Dok! Hentikan omong kosong Anda!" Orang yang menyerupai Pak Sairan lalu merogoh bagian dalam jaket kulitnya. Aku sempat terkejut saat melihat sepucuk senjata api kaliber 9 mm keluar dari balik jaketnya.
"Sairan, hati-hati dengan pistol itu. Saya mengenalmu sejak lama. Saya juga tahu betul bahwa kemampuanmu bukanlah di bidang senjata. Kamu eksekutor jalanan, Sairan. Kamu sopir yang handal. Kamu tidak perlu memaksakan diri."
Sairan? Jadi, pria itu benar-benar Pak Sairan?
"Anda meremehkan saya? Anda pikir seorang sopir tidak bisa menggunakan senjata api? Saya tinggal mengarahkan ujung pistol ini ke kepala Anda sebelum menarik pelatuknya. Apa susahnya?"
"Kamu punya pilihan lain untuk tidak melakukan itu. Kamu kenal saya. Saya bukan Jendral Edi yang selalu ingkar janji."
Pak Sairan kembali menatap kedua rekannya. Terlihat jelas keragu-raguan di pelupuk matanya. Kemampuan Dr. Eddie dalam bersilat lidah rupanya telah menggoyahkan pendiriannya. Sementara itu, Dr. Eddie ternyata mencoba memanfaatkan situasi. Diam-diam, dia melangkah mendekati Pak Sairan dan kawan-kawan. Dan, pada langkah ketiga, dia langsung melompat menerjang tubuh Pak Sairan. Tubuh keduanya ambruk dan bergumul di atas lantai koridor.
"LARI!" seru Dr. Eddie di tengah pergumulannya.
Mengandalkan tolakan kaki, aku mencoba bangkit dari kursi roda. Tidak mau hilang kesempatan, aku segera menggeber lariku meski dengan terpincang-pincang.
"KEJAR DIA!" Suara Pak Sairan terdengar tidak kalah lantang. Saat aku menoleh ke belakang, aku melihat dua rekannya mulai berlari memburuku.
Dibayangi kepanikan yang luar biasa, aku berusaha memacu ayunan kakiku. Namun, baru mencapai beberapa meter, napasku sudah terengah-engah. Kedua kakiku belum pulih benar, sehingga masih kesulitan untuk diajak berlari kencang. Lagipula, aku bukan pelari maraton. Aku cuma seorang wartawan yang biasa berlari mengejar deadline. Kalaupun harus berlari, paling mentok, aku cuma pernah mengejar seorang politikus yang menolak dimintai keterangan setelah keluar dari gedung Komite Anti Korupsi.
Sementara sebelah kakiku mulai sempoyongan, aku hanya berharap, barangkali ada petugas atau pengunjung rumah sakit yang kebetulan lewat untuk kumintai pertolongan. Sayup-sayup, aku mendengar derap langkah lari dua orang yang mengejarku mulai semakin dekat. Aku mulai pesimis. Aku tidak akan sanggup mengimbangi kecepatan lari mereka.
Di tengah situasi kritis, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti terhempas ke depan. Mendadak, laju lariku menjadi kencang sekencang-kencangnya. Bahkan, dalam kondisi fisik normal, aku belum pernah berlari sekencang ini. Penasaran, aku melihat ke bawah. Aneh, kedua kakiku justru diam tidak bergerak.
Aku mulai kelabakan saat mendapati sebuah tikungan koridor yang membentuk letter T di ujung koridor. Untuk berbelok, aku harus mengurangi kecepatanku, tetapi saat ini bukan aku yang memegang kendali. Aku mulai pasrah ketika tubuhku semakin dekat dengan dinding. Mataku terpejam, menyadari bahwa jarak antara tubuhku dengan dinding itu hanya tinggal beberapa sentimeter lagi. Namun, tiba-tiba aku merasakan kehadiran angin kencang yang mengempaskan tubuhku untuk berbelok arah. Tidak sampai di situ, dorongan angin itu kembali membawaku melaju kencang.
__ADS_1
(Terima kasih, Teja.)