Legiun

Legiun
Diandra


__ADS_3

25 Oktober 2018


Pukul 22.12


INDRA penciumanku mendadak terusik oleh aroma khas obat-obatan yang mengingatkanku pada suatu tempat: Rumah Sakit. Bahkan, aroma yang terasa pahit di tenggorokan itu sudah lebih dahulu menghadangku sebelum kesadaranku benar-benar pulih sepenuhnya.


Pelan-pelan, aku membuka kelopak mataku, namun penglihatanku langsung terganggu dengan kilau lampu yang terlalu bercahaya. Cahaya yang terpancar dari bola lampu itu menusuk pandanganku dan membuat kelopak mataku terpejam rapat-rapat. Bahkan, saat mataku terpejam, cahaya yang menyilaukan itu menghasilkan reaksi spektrum warna yang berpendar. Namun, aku tidak menyerah. Aku mencoba membuka kembali kelopak mataku perlahan-lahan. Beruntunglah, kali ini pancaran cahaya itu berangsur melemah karena terhalang oleh sesosok bayangan yang tiba-tiba muncul menutupinya. Lambat laun, bayangan itu mulai menampakkan wujudnya aslinya. Seorang pria dengan kulit putih kemerahan menampakkan diri di hadapanku.


"Kamu sudah sadar?"


Aku mencoba mengenali suara itu. Suara yang lembut itu sepertinya tidak terlalu asing di telingaku.


"Uncle Eddie?"


"Diandra?"


Sontak bibirku melebar. Seketika itu pula, dadaku membusung dijejali perasaan haru. Tidak salah lagi. Itu Uncle Eddie. Uncle Eddie yang menyelamatkan masa-masa remajaku, salah satunya dengan mengajariku bagaimana caranya tersenyum dalam situasi apapun. Uncle Eddie yang lama tidak pernah berkunjung lagi ke rumah susun sejak bertahun-tahun yang lalu.


Sumringah melihat kehadiran Uncle Eddie, aku berusaha bangkit untuk memeluknya, namun seketika rasa nyeri langsung menyerang sekujur badanku. Sejumlah luka goresan dan lebam tahu-tahu sudah menghiasi beberapa bagian tubuhku yang saat ini hanya berbalut kaus putih dan celana tiga perempat. Aku juga merasakan lengan kananku mati rasa. Selembar kain kasa putih membelit seluruh bagian lengan itu dan mengikatnya dalam posisi menggantung.


"Apa yang terjadi, Uncle? Mengapa Uncle tiba-tiba ada di sini?"


"Panjang ceritanya, Diandra," Uncle Eddie seperti enggan bercerita. "Yang jelas, kamu baru saja mengalami kecelakaan."


"Kecelakaan? Kapan? Dimana?"


"Dua hari yang lalu. Kamu terjatuh dari lantai empat rumah susun."


"Terjatuh?"


"Seorang tetanggamu yang melihat langsung kejadiannya bercerita, kamu terjatuh saat hendak memeriksa saluran pembuangan sampah yang tersumbat."


Keterangan Uncle Eddie membuatku berpikir keras. Terjatuh dari atap? Memangnya apa yang sudah kulakukan saat itu sampai aku harus kehilangan keseimbangan dan terjatuh? Ini jelas di luar kebiasaan.


Tanpa bermaksud sombong, meskipun fisikku secara kasat mata adalah seorang perempuan, kurasa aku cukup mahir untuk urusan panjat-memanjat. Keahlian itulah yang selama ini selalu membantuku dalam menjalankan tugas-tugas yang diperintahkan oleh Juragan. Terlebih, aku juga dibekali ilmu-ilmu teknik sipil yang kupelajari di bangku kuliah dan selalu kuterapkan dalam pekerjaanku. Perhitunganku tentang struktur ketahanan bangunan selama ini belum pernah salah.


Maka, agak mengherankan apabila aku sampai terjatuh dari ketinggian cuma gara-gara teledor memperhitungkan segala sesuatunya. Lagipula, seingatku terakhir kali aku berada dalam kondisi sadar, aku tidak merasa sedang berada di lokasi rumah susun tempat aku tinggal. Dan Uncle Eddie? Mengapa tiba-tiba dia muncul di hadapanku setelah menghilang selama bertahun-tahun?

__ADS_1


“Kamu sudah dewasa sekarang,” ucap Uncle Eddie sembari mengusap ubun-ubunku.


“Aku senang Uncle kembali di sini,” balasku, lirih seraya menahan tangis haru. "Uncle," ucapku lagi pada Uncle Eddie yang kini duduk di sebelah tempat tidurku.


"Iya?" Uncle meresponsku dengan nada selembut bunyi biola. Suara yang sudah sangat lama tidak pernah lagi menghampiri telingaku. Seketika, memori masa laluku menguat. Ingatanku masih sangat jelas merekam seluruh peristiwa masa remaja yang kuhabiskan bersama Uncle Eddie.


Masih segar di benakku masa-masa ketika pria bule itu, untuk kali pertama, mengunjumgi rumah susun. Kala itu Juragan mengumpulkan anak-anak didiknya di aula lantai satu. Ia lalu memperkenalkan Uncle Eddie di depan puluhan anak-anak yang memadati tempat itu. Di luar dugaan, sinar mata Uncle langsung berbinar ketika melihat aku yang turut berada di antara puluhan anak-anak itu. Dengan senyum yang memancar terang, ia mendekati dan menyapaku.


"Halo, Tampan. Mau main?" ucapnya saat itu.


Potongan rambutku yang pendek mirip anak laki-laki memang sering mengelabui banyak orang, tak terkecuali Uncle Eddie waktu itu. Akan tetapi, kalimat pertama yang diucapkannya itu secara ajaib mampu menyihir perhatianku. Sosoknya yang penuh kasih seolah-olah memancarkan pesona tersendiri. Pesona yang tak bisa kutemukan dalam diri Juragan yang mengasuhku dari kecil.


Sejak saat itu, Uncle Eddie semakin rutin mengunjungiku. Tak butuh waktu lama baginya untuk memikat perhatianku meskipun sebenarnya aku adalah tipikal anak remaja yang berkepribadian tertutup waktu itu. Kendati usianya jauh di atasku, aku merasa seperti mendapatkan teman sepermainan yang bisa memahami segala kondisi dan suasana hatiku. Kedatangan Uncle Eddie membuatku masa-masa remajaku menjadi lebih bersemangat walaupun itu tak berlangsung cukup lama.


Di hari ulang tahunku yang ke-17, pria asal Eropa itu tak lagi menampakkan batang hidungnya. Aku berharap esok harinya ia akan kembali menemuiku dan meminta maaf atas ketidakhadirannya di hari spesial itu. Namun, ternyata aku hanya bisa menanti dan berharap. Tak tanggung-tanggung, penantianku itu harus berlangsung selama bertahun-tahun. Kepergiannya yang terkesan tiba-tiba itu sempat mematahkan semangatku, menyisakan segelintir amarah, dan tanda tanya yang tak kunjung terjawab.


Saat ini, ketika aku sudah lama memutuskan untuk tak lagi mengharapkan kehadirannya, Uncle Eddie justru muncul di saat-saat yang tak semestinya. Saat ini aku telah berubah menjadi gadis yang jauh dari harapannya. Aku bukan lagi remaja polos yang betah bergelayut manja di bahunya. Entah bagaimana reaksi Uncle, seandainya ia tahu apa saja yang sudah kuperbuat bersama dengan Juragan.


"Ke mana saja selama ini?" tanyaku, gusar. Sejujurnya setelah sewindu lebih aku masih belum mampu mengusir amarahku akibat kepergiannya.


"Maaf, Diandra. Waktu itu situasinya sangat rumit. Saya tidak punya banyak waktu untuk berpamitan denganmu."


"Diandra, kalau ada hal yang bisa saya lakukan untuk menebus kesalahan, saya akan melakukannya."


"Delapan tahun," ujarku lagi. Kelopak mataku rupanya tak sanggup lagi membendung genangan. "Tidak ada telepon atau surat. Bahkan aku hampir tidak mengenali Uncle lagi."


Perlahan, telapak tangan Uncle Eddie menyentuh pipiku yang basah. Disekanya air mata yang meleleh di wajahku. "Kamu sudah cukup kuat menerima ujian ini."


"Aku kesepian, Uncle."


"Iya, saya tahu," timpalnya, sembari menggamit selembar tissue untuk membasuh permukaan wajahku yang mulai sembab. "Untuk itu, saya datang ke mari. Saya ingin menebus semuanya."


Ucapan Uncle Eddie itu cukup menyita perhatianku. Seketika itu pula aku menggenggam pergelangannya untuk menghentikan tangannya yang sibuk mengelap air mataku. Dengan muka penuh penasaran, aku mencoba menerawang bola matanya dalam-dalam. Uncle pun membalas tatapanku dengan raut muka serius.


"Apa maksud Anda, Uncle?"


Kami berdua diam. Pelan-pelan, Uncle menarik tangannya yang dari genggamanku. Diletakkannya tissue yang telah basah oleh air mata itu di atas meja di samping tempat tidur. Matanya kembali menatapku dengan wajah yang sangat serius.

__ADS_1


"Kamu menikmati rutinitas yang kamu lakukan di sini? Di kota ini?"


Aku tertegun sejenak. "Sejujurnya...," Aku agak ragu melanjutkan. "Sejujurnya aku sudah jengah mengurus anjing pembunuh itu, Uncle."


"Anjing?" Uncle Eddie tiba-tiba keheranan.


"Juragan yang memintaku mengurusnya. Sejujurnya aku sudah tidak tahan dengan semuanya. Aku ingin pergi jauh."


"Jerman," Uncle Eddie berujar pelan. Matanya berpaling ke arah pemandangan di luar jendela rumah sakit yang terbuka. "Kamu mau pergi ke Jerman?"


"Uncle akan mengajakku ke sana?"


Uncle mengangguk pelan. "Kurasa tempatmu bukan lagi di sini, Diandra."


"Lalu bagaimana dengan Juragan? Apa Anda yakin dia akan mengijinkanku pergi? Anda mengenalnya, bukan? Dia tidak akan setuju dengan rencana ini."


"Dia tidak punya pilihan lain, Diandra. Tugasmu di sini sudah selesai."


"Maksud Anda?"


Aku menatap wajah Uncle dengan penuh tanda tanya. Nampak jelas kegusaran yang melanda batinnya. Aku mengenal sikap diam yang sedang dipertontonkannya saat ini. Sikap diam itulah yang kujumpai sehari sebelum kepergiannya beberapa tahun yang lalu.


"Sudahlah. Nanti biar saya yang bicara dengannya. Yang jelas saya pastikan kamu akan ikut saya pulang ke Jerman."


Dengan senyum yang mulai mengembang, aku melepaskan anggukan setuju. Ada kegembiraan yang membuncah begitu melihat Uncle membalas senyumku. Sudah lama sekali aku merindukan senyum tulus itu. Selama ini, tidak ada seorang pun yang sanggup menirukan senyuman itu, kecuali...


(Rama?)


Ya, Rama. Tiba-tiba saja nama pemuda itu terlintas dalam benakku. Seandainya rencanaku dan Uncle Eddie untuk pindah ke Jerman benar-benar terlaksana, maka aku harus rela meninggalkan Rama. Tiba-tiba, aku dikuasai keragu-raguan. Apakah aku sudah siap berpisah dengan Rama?


(Apa kamu sudah siap berpisah dengan Rama?)


Saat lamunanku masih bertanya-tanya tentang Rama, mendadak aku merasakan kehangatan yang luar biasa. Sepasang lengan berjenjang menyelinap di sela-sela ketiakku. Rama? Kaukah itu?


"Diandra," Bukan, itu bukan Rama. "Kenapa melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Tidak, Uncle. Aku cuma...," Sejenak aku menjeda ucapanku "Cuma tidak pernah menyangka, Uncle akan kembali lagi."

__ADS_1


Uncle Eddie kembali tersenyum. Disentuhnya kepalaku dengan telapak tangannya yang lebar itu. Hingga akhirnya, ia mengucapkan kalimat yang sepintas tidak asing di ingatanku.


"Bagaimana? Kamu sudah siap berpetualang?"


__ADS_2