Legiun

Legiun
Topan


__ADS_3

26 Oktober 2018


Pukul 20.48


PADA iklim politik tertentu, seorang pemangku kepentingan pasti pernah menghadapi risiko yang muncul sebagai efek dari kebijakannya sendiri. Sepanjang sejarah yang pernah terjadi di negara ini, setiap risiko yang muncul akibat pola kebijakan yang keliru akan menimbulkan dampak yang sangat luas di kalangan masyarakat. Tidak hanya si pemangku kebijakan yang dirugikan, tetapi mereka yang berada di bawahnya pun bisa mengalami nasib serupa, atau bahkan lebih buruk.


Sebagai orang yang paling berwenang dalam merancang dan menugaskan misi, Juragan selama ini dikenal sebagai seorang pemimpin yang sangat gemilang. Secara umum, aku tak pernah meragukan kepiawaiannya dalam menyusun rencana dan strategi. Akan tetapi, akhir-akhir ini mendadak keyakinanku terhadap Juragan seperti diuji. Beberapa bulan belakangan, aku sering menerima tugas-tugas yang tidak wajar. Dan, tentu saja sederet tugas itu bukan tanpa risiko.


Contoh yang paling nyata adalah apa yang terjadi kemarin lusa. Gara-gara ditugaskan bersama dengan Teja untuk melakukan misi penyelamatan terhadap Rama, aku harus mengalami cidera di bagian pergelangan kaki. Misi penyelamatan dan pelarian memang bukan spesialisasiku. Aku tidak selincah dan selihai Teja yang masih sangat muda. Jelas aku kerepotan mengikuti pergerakannya yang secepat angina itu.


Cidera yang kuderita ini memang bukan cidera yang parah, cuma terpelintir, tapi tetap saja ini mengganggu. Dan, yang paling membuatku gusar, Juragan kembali mengutusku untuk menjalankan satu misi lagi malam ini ketika aku masih dalm kondisi seperti ini. Aku mulai berpikir dia sudah kelewatan. Aku memang tidak bisa mengesampingkan jasa-jasanya selama ini yang sudah mengurus dan merawatku sejak kecil, tetapi aku juga tidak bisa berpikiran naif. Selama ini, aku dan anak-anak didiknya yang lain cuma dijadikan sapi perah untuk kepentingan Juragan dan kawannya si Jendral oportunis itu.


Sepertinya garis nasibku memang tidak jauh-jauh dari pekerjaan seorang buruh proletar. Sudah diperah habis-habisan dari pagi sampai sore oleh cukong-cukong pabrik yang kapitalis itu, malam harinya aku masih harus berdarah-darah menuruti perintah Juragan untuk menjalankan tugas yang penuh marabahaya. Yang risikonya pun harus kutanggung sendiri pula. Kalau aku benar-benar ingin mengubah masa depanku, mulai saat ini aku harus berani menentukan masa depanku sendiri. Aku memang sudah mulai berpikir untuk pergi dari tempat ini. Lagipula, itu juga bukan keinginanku semata. Rana juga ingin kami punya masa depan lain yang lebih menjanjikan.


Sore ini, sembari menunggu jam tugas, aku susah payah meluruskan kaki kananku di posisi tengkurap. Rasa nyeri langsung menghantam bagian engkelku yang masih terbalut perban. Aku khawatir, dengan kondisi kebugaranku yang belum prima, aku tidak akan bisa menuntaskan misi terakhirku malam ini. Untungnya, aku masih bisa berharap banyak pada Rana untuk mem-backup-ku. Lagipula, aku sudah berjanji padanya bahwa malam ini adalah malam terakhir kami melakukan pekerjaan ini. Setelah ini, kami berdua akan pergi sejauh mungkin dari tempat ini untuk memulai kehidupan baru.


"Gimana kakimu?"


Aku menoleh ke arah Rana yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangku. Sambil membalikkan badanku ke posisi telentang, aku mengumbar senyum padanya. "Sudah mendingan. Bukan masalah besar kok. Kamu sendiri gimana? Sudah siap?"


"Kalau masih sakit, kamu nggak perlu memaksakan diri," ujarnya, sambil meletakkan segelas teh hangat untukku di atas meja.


"Nggak apa-apa kok. Lagipula, aku nggak bisa membiarkan kamu bekerja sendirian? Untuk yang terakhir kalinya, mari kita selesaikan pekerjaan ini bersama-sama."


"Pekerjaan? Maksudmu?" Rana balik bertanya.


"Kalau aku nggak ikut, memangnya kamu mau bekerja sama siapa?"


"Aku?" Tiba-tiba, Rana mendengus sinis. Oh, tidak. Dia mulai lagi. "Bukannya aku sudah bilang padamu sebelumnya?"

__ADS_1


Aku mengernyitkan dahi. Aku tidak mengerti maksud ucapan Rana. "Soal apa?"


"Kamu selalu begitu. Nggak pernah peduli dengan ucapanku."


"Maaf, Sayang. Tapi aku benar-benar nggak paham."


"Memangnya kamu pernah berusaha untuk memahamiku?"


"Sayang, kamu nggak sadar. Aku justru selalu berusaha untuk melakukan itu."


"Demi siapa? Demi dirimu sendiri, kan?"


Perlahan darahku mulai mendidih. "Cukup, Rana! Aku nggak mau bertengkar. Aku benar-benar nggak mengerti maksudmu!"


Rana menatapku dengan wajah nanar. Seketika aku menangkap pancaran aura yang lain dari dirinya. Matanya yang biasanya tajam menelisik kini menjadi lemah. Bulir-bulir air mengalir perlahan membasahi pipinya.


"Maaf. Aku nggak bermaksud untuk..." Mendadak lidahku kelu.


"Kamu membentak aku, Pan?"


"Rana?" Aku mencoba memaksakan lidahku untuk berbicara, "Apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan kita akhir-akhir ini? Dulu kita selalu bisa menyelesaikan setiap masalah dengan berkomunikasi. Kenapa sekarang situasinya jadi lain?"


"Semuanya butuh perubahan, Pan. Kamu sendiri yang bilang, kan? Bahwa kehidupan itu dinamis. Sama seperti situasi politik yang selalu berubah-ubah."


Aku tertegun mendengar ucapan Rana yang cukup menyakitkan itu. Lambat laun, aku mulai memahami maksud dari kalimat terakhirnya itu. "Aku mengerti sekarang."


Bola mata Rana kembali merapatkan pandangan ke arahku. Wajahnya yang mulai sembab itu tampak kehilangan pesona. Tak ada lagi gincu maupun poles riasan wajah lainnya di permukaan kulitnya. Namun, selama ini aku tidak pernah kesulitan menjaga kesempurnaan perasaanku terhadapnya. Justru, kali ini aku meragukan kemampuannya dalam menjaga perasaannya terhadapku.


"Topan, sudah lama aku ingin mengatakan hal ini," ucap Rana dengan suara yang berat.

__ADS_1


"Siapa laki-laki itu, Rana?"


"Aku tidak bisa bilang, Pan."


"Aku berhak tahu."


"Aku juga berhak untuk tidak memberitahumu. Lagipula dia tidak bersalah. Mungkin dia malah tidak pernah tahu soal perasaanku."


Aku mulai menyerah. Meskipun dadaku seakan hendak meletup, aku tetap berusaha menguasai diri. Pikiran sehatku tampaknya masih sanggup bekerja dengan menggunakan rasio. Aku sadar betul amarah sesaat tidak akan menyelesaikan masalah. Lagipula, kami masih punya tanggung jawab tugas yang harus diselesaikan malam ini. Aku tidak mau semuanya berantakan gara-gara keributan yang baru saja terjadi.


Sementara itu, jam dinding utama yang terpasang di lantai dasar rumah susun berdenting nyaring, membuat perhatianku teralih meski pandanganku tetap tak mau beranjak dari paras Rana yang malam ini menampakkan aura yang berbeda. Waktu telah menunjukkan pukul 9 malam. Kami harus segera menuntaskan misi terakhir kami. Setelah itu, aku akan mulai berbicara dengan Rana, dari hati ke hati.


Sambil beranjak dari tempat tidur, aku segera mempersiapkan diri. Pelan-pelan, aku menurunkan kaki kananku yang belum pulih sepenuhnya.


"Kita lanjutkan lagi pembicaraan ini nanti sepulang bertugas."


"Aku tidak bisa ikut." Rana berujar, singkat dan membuatku tertegun selama beberapa detik.


"Apa katamu?"


"Aku sudah pernah bilang padamu. Suatu saat nanti aku ingin berhenti melakukan ini. Aku ingin menjadi manusia yang normal. Aku tidak mau lagi dengar alasanmu. Kau selalu bilang ‘ini misi yang terakhir’ berkali-kali, tapi nyatanya kita masih tetap melakukannya sampai sekarang."


“Kamu tidak percaya lagi sama aku?” tanyaku. "Apa jangan-jangan kamu lebih percaya pada gebetan barumu?"


"Sudah kubilang. Aku pernah mengatakan hal ini ke kamu, bukan? Tapi kamu selalu cuma berjanji, dan ujung-ujungnya omong kosong. Kamu juga pernah berjanji suatu saat akan mengajakku meninggalkan tempat ini untuk membuka lembaran baru. Ini sudah bertahun-tahun. Aku sudah tidak punya selera lagi untuk menagih janjimu."


Tatapanku pada Rana semakin emosional. Gigiku saling beradu, gemas. Sejujurnya, ini adalah kali pertama aku hampir kehilangan kesabaran menghadapi Rana.


"Baiklah. Lakukan saja semaumu."

__ADS_1


__ADS_2