
...1% kuat 99% hasbunallah wa ni'mal wakil....
•
•
•
•
Yuhuu hari Sabtu datang kembali, malam Minggu sudah didepan mata. Seperti yang sudah diagendakan sebelumnya malam ini Zafira and circlenya akan barbequean dihalaman rumah Lutfi tak lupa mereka juga akan karaokean.
Bukan apa mereka memilih rumah Lutfi, selain karena halamannya luas juga rada jauh dari rumah tetangganya dan tidak terlalu ramai pastinya jadi mereka bisa bebas tanpa rasa segan kepada warga sekitar.
Rencana mereka akan membuat barbeque slay yang lagi viral dan juga bakso bakar, Zafira bertugas membawa slada dan untuk bahan lainnya seperti sosis dan bakso mereka patungan.
Untuk arang Zafira juga membawa mengingat ada lebihan dari hari raya kemarin jadi daripada tidak berguna ia manfaatkan saja.
''nyanyi dong Ra selagi nunggu ini mateng'' usul Saniya
''yoklah gas Ra lagi usai itu''
''ayok aja, kita videoin prosesnya nanti di edit'' ucap Zafira menanggapi
Mungkin inilah waktunya
Mungkin inilah saatnya
Aku mengerti rasa sesal
Saat ada yang pergi menghilang
Kau datang mengukir luka
Yang sayang 'tuk dilupakan
Kau pergi tanpa mengajarkan
Cara 'tuk merelakanmu
Usai sudah semua cerita
Yang t'lah kita ukir berdua
Meninggalkan dirimu adalah
Hal terberat yang harus kujalani
Aku memang kehilangan
__ADS_1
Kamu yang sangat kucintai
Namun, kau telah kehilangan
Aku yang sangat mencintaimu
uh-oh
Ku akan terus belajar 'tuk melupakan kamu
Yang begitu mudah melupakanku
Ho-oh
Usai sudah semua cerita
Yang t'lah kita ukir berdua
Meninggalkan dirimu adalah
Hal terberat yang harus kujalani
Aku memang kehilangan
Kamu yang sangat kucintai
Namun, kau telah kehilangan
Aku yang sangat mencintaimu
(Yang t'lah kita ukir berdua) uh-oh-uh-oh
Meninggalkan dirimu adalah
Hal terberat yang harus kujalani
Aku memang kehilangan
Kamu yang sangat kucintai
Namun, kau telah kehilangan
Aku yang sangat mencintaimu, hu-oh
Aku yang sangat mencintaimu
''pas banget, lagunya selesai ininya udah Mateng''
''iya dongg''
Sembari makan mereka juga bercerita, ya walaupun cerita ngalor ngidul tapi pasti ada saja yang membuat mereka tertawa. Juga bagi Zafira ia melepas semua yang ada dihatinya dengan tertawa bersama para teman-temannya.
__ADS_1
Sudah terlalu larut mereka memutuskan untuk membereskan semuanya dan lanjut pulang karena jam juga harus berputar. Zafira dan Saniya berpisah dari kawannya karena mereka lewat jalan tembus yang nanti judulnya sampai sebelah rumah Saniya.
Takut? jelas tidak karena mereka melewati orang-orang yang masih mengopi diteras rumah pak mur.
Setelah melambaikan tangan ke arah Saniya dengan segera Zafira pulang lewat pintu samping rumahnya karena ia yakin pasti pintu depan sudah dikunci dan lagi ibunya sudah tidur kadang jam segitu.
Jadi daripada harus mengganggu istirahat ibunya ia lebih memilih lewat jalan samping yang pastinya kuncinya dapat dibuka dengan mudah.
Dirumah Saniya dia tak jadi tidur lantaran adiknya Reza sakit dan harus diperiksakan, ia memilih ikut lantaran jika dirumah ia akan sendirian.
Tak perlu risau mencari kendaraan karena ayah Saniya memiliki mobil, ya walaupun bukan mobil pribadi tapi bagus dan bersih karena terawat. Setelah menempuh perjalanan sekitar 25 menit mereka sampai ditempat praktek suatu bidan, untung saja masih mau tapi ya karena spesialis anak jadi lebih memudahkan.
Setelah di cek ternyata Reza sakit batuk pilek dan diare, mungkin karena jajan sembarangan semasa sekolah. Memang TK dan paud itu tidak diliburkan pandemi ini namun masuknya pun terjadwal, ya bisa dibayangkan bukan jika anak usia dini seperti ini tidak mendapat pembelajaran tatap muka dari pengajar.
Diperjalanan pulang tak henti-hentinya Bu Retno menasehati putranya, sedangkan Saniya sudah menutup mata sejak naik mobil menuju tempat bidan.
''denger kan kata Bu bidan tadi, nggak boleh jajan sembarangan nggak boleh kebanyakan minum es, nek dibilangin ibuk nggak diperhatikan ya gitu besok diulangi lagi biar ibuk anterin ke dokter terus disuntik mau?''
''nggak mau to bukk'' rengek Reza
......................
Pagi datang, sebelum matahari terbit Bu Nisa menyapu halaman dan Zafira ia perintahkan untuk memasak beras. Kata Bu guru ayis kalau masak nasi itu jadinya bubur hehe'
Mendengar tukang sayur datang Bu Nisa memilih menyetop dulu tukang sayur tersebut karena ia ingin membeli ikan pindang, dan dimasak pepes.
''Pindang e ada pak?''
''ada bunis, mau beli yang mana tadi masih seger-seger saya bawa dari pasar''
''satu keranjang gini berapa pak?'' tanya Bu Nisa dengan menenteng keranjang berisi dua biji ikan pindang berukuran besar.
''6000 bunis, dari tempatnya udah mahal katanya'' jawab tukang sayur tersebut dan kemudian beberapa ibu-ibu mulai mendekat karena mumpung masih pagi masih lengkap
''beli dua 11.000 boleh ta pak?''
''jangan to buk, wes 12 tak kasih daun bawang sama seledri''
''nggeh, tak ambil uang dulu''
Ya Bu Nisa tadi belum membawa uang, karena bisa dipastikan jika dia mengambil uang dulu dan tidak ada yang menyetop tukang sayur itu tidak akan berhenti.
''Mah masak apa buk?''
''pepes aja ya nanti, adekmu kemarin marah makan pake sayur sengaja emang biar nggak makan telur terus''
''nggeh''
''buat bumbunya ya Ra ibuk tak nyapu sama nyabuti rumput didepan nanti kalau adekmu bangun suruh mandi''
''nggeh buk''
__ADS_1
Ditinggal ibunya kedepan Zafira mengambil beberapa bumbu dan mengupasnya. Sedikit-sedikit ia tahu tentang bumbu masakan.