Lentera Rasa

Lentera Rasa
Duapuluhdelapan


__ADS_3

...Berhentilah mengukur kebahagiaan mu dengan orang lain, karena setiap insan punya takarannya masih-masing....


Tak terasa malam ini sudah malam ke tujuh setelah kepergian Bu Nisa, dan nanti setelah isya akan ada tahlil dan dzikir fida' yang dipimpin oleh pak kyai.


Mungkin saat ini Zafira belum terlalu merasakan kesedihan kembali karena rumah masih dipenuhi oleh saudara.


Rencana hari Rabu Zafira akan sekolah diundur karena ada duka ini, ia juga sudah izin kepada Bu Ningrum yang juga menjadi wali kelasnya di kelas 8.


Serangkaian acara tahlil dan juga dzikir fida' telah dilakukan, huh setelah ini Zafira akan merasa jika dirinya benar-benar sendiri tanpa siapapun.


.


.


.

__ADS_1


.


Tak terasa dua Minggu sudah kepergian Bu Nisa dan sekarang Zafira sendiri, rasa takut bila terjadi apa-apa pun ia peluk sendiri. Meskipun bisa dibilang ia bisa saja sewaktu-waktu menginap di tempat mas puji tapi ia tak melakukan itu, ia ingin tetap dirumahnya meski ditemani oleh air mata setiap malam.


Sudah dari satu minggu lalu Zafira mulai sekolah meski masih disesi, ia mulai belajar membagi waktunya antara melaksanakan tugas sekolah dan tugas rumahnya.


Zafir pun sering menghubungi adiknya lantaran ia kerap khawatir dengan keadaan adiknya, jarak memisahkan mereka membuat komunikasi adalah hubungan yang paling dibutuhkan.


Jika diminta untuk ikhlas Zafira bingung dengan dirinya, mungkin otaknya lah yang kebingungan harus memulai ikhlas darimana. Kebahagian bersama orang terdekatnya Allah ambil sudah hingga menyisakan saudara sedarahnya saja yaitu Zafir.


Seakan senyum aslinya turut terkubur bersama jasad ibunya dan dibawa lari jauh oleh adiknya, Alfan.


"Ra besok nebeng ya motor aku lagi diservis" begitulah kiranya notifikasi pesan yang masuk dan sudah dibaca oleh Zafira


"iya" balas Zafira

__ADS_1


"besok aku tungguin di depan rumah ya sekalian berangkat"


"iya nanti kalau mau berangkat aku chat kamu deh"


Sudah menunjukan pukul 9 dan Zafira belum tidur, ia baru saja menyelesaikan tugas-tugasnya ya meskipun bukan pr tapi ia lebih senang saja mengerjakan dirumah.


Usai memberesi bukunya Zafira bangkit dan mengambil sayuran beserta bumbunya di kulkas, ia berencana untuk memotong nya sekarang agar besok tidak terburu-buru.


Zafira berbelanja seminggu sekali dipasar, kenapa ia tidak belanja di kang sayur keliling jawabannya simple menurutnya disana mahal, lebih baik ia ke pasar dan menabung uang yang seharusnya menjadi lebihan jika digunakan untuk belanja di kang sayur.


Padahal tabungannya banyak kaleng tai kenapa perhitungan sekali? bukan perhitungan say bukan juga pelit, kita tidak tahu bagaimana kita dikemudian hari bagaimana jika Zafir akan menikah di waktu dekat, tentu saja pengelupasan Zafir bertambah dan Zafira hanya berjaga-jaga jika ada keperluan mendadak dan ia malas keluar mengambil uang.


Melihat lihat akhirnya Zafira memutuskan mengambil buncis dan tahu bakso, nanti ia juga membuat bumbu ayam suwir untuk sewaktu-waktu ia ingin membawa bekal.


''Aihh hampir aja lupa, besok paketku dateng yahh besok aja pagi-pagi kerumah mas puji titip uang, besok besok pakek shopee pay aja ah biar nggak gini'' gumam Zafira

__ADS_1


Pikirnya jika nanti pakar shopee pay meskipun rumah ia kunci masih bisa dititipkan ke mas puji, atau kan dia sekolah satu hari masuk satu hari tidak.


__ADS_2