Lentera Rasa

Lentera Rasa
Duapuluhenam


__ADS_3


...Ajari hatimu agar bisa menerima kenyataan karena banyak hal yang hanya bisa diterima tapi tidak bisa diubah...






"mbak Nisa sudah nggak ada"


Seketika itu dunia Zafira runtuh, lidahnya kelu, lututnya terasa lemas seakan tak mampu menopang lagi tubuhnya, ini mimpi ya ini adalah mimpi tadi Zafira masih tidur bukan jadi ini adalah bunga tidur, batin Zafira.


Air mata mulai menetes dari mata indah itu yang kemudian membanjiri pipi seorang gadis cantik itu, untung saja langsung ditangkap bude Warsi ketika Zafira akan jatuh.


Dipeluknya dengan lembut tubuh Zafira dan ia sandarkan pada bahu bude Warsi,

__ADS_1


''Zafira sayang ibuk kan? nek sayang gak boleh nangis kasihan ibuk, ikhlasin ya nduk ya ibuk pun gak sakit sekarang tugas Zafira doain ibuk yuk sama bude ganti baju dulu terus wudhu kita yasinin ibuknya''


Tapi perkataan itu tak bisa didengar oleh Zafira, dunianya benar-benar runtuh seruntuh-runtuhnya, hingga akhirnya bude Warsi menuntun Zafira dan mendudukkannya disebelah ibunya.


''lihat ibuk udah nggak sakit, ibuk udah tenang'' tangisan Zafira sangat memilukan hati pendengarnya, dengan memeluk ibunya ia menumpahkan segala rasa yang ia rasakan saat ini.


Disana mas Iyan mengabadikan momen tersebut, barangkali bisa obat rindu untuk Zafira nanti.


Diwaktu sepertiga malam itu lebih tepatnya pukul 03.45 menit, dihari Minggu weton pon ibu Khoirunnisa telah menghembuskan nafas terakhirnya, ia diwafatkan seperti kebiasaannya dalam sholat malam.


Ia memenuhi panggilan Rabb-nya di waktu Rabb-nya turun ke langit dunia, beliau diwafatkan dalam keadaan tersenyum dan sangat cantik meski wajahnya pucat.


Diseberang pulau sana setelah mendapat kabar bahwa ibunya telah tiada Zafir langsung menangis tersedu-sedu dengan Rangga yang kebingungan dengan tingkah Zafir.


''loe kenapa, cerita sama gue Fir ada apa?''


''i-ibuk gue ibuk gue ninggalin gue sama Zafira''


''maksud loe''

__ADS_1


''Allah panggil ibuk gue, secepet ini''


''innalillahi wa innailaihi rojiun, sabar maaf gue nggak tahu inget loe yang pernah nasehatin gue buat selalu sabar jadi ayok bangkit kita sholat kirim doa buat ibuk loe''


Sementara dirumah Zafira sudah ramai seusai disiarkan di masjid tadi, Desta dan Saniya yang mendengar begitu terkejut dan langsung datang dan menenangkan Zafira.


Mereka harus melihat sosok yang biasanya ceria kini teramat rapuh, bahkan sangat sangat rapuh dengan pandangan mata yang kosong menatap lurus kedepan.


''Zafira, kamu nggak boleh gini hapus yuk air matanya ikhlasin. Bu nisa'' nasehat Desta


''ibuk pergi ninggalin gue, sekarang gue cuma punya mas Zafir aja''


''enggak, kita semua ada buat kamu sekarang hapus air matanya kamu mau ikut mandiin ibuk kamu nggak?''


''mau ayok kita kesana'' meski seperti itu mata Zafira tak bohong disana terdapat guratan kesedihan yang teramat.


Disetiap momen yang memungkinkan selalu diabadiakn oleh mas Iyan, karena ia sayang kepada Bu Nisa dan pasti ia juga akan selalu merindukan sosok itu ada lagi.


Zafir tak bisa pulang mengingat ia terikat dengan kontrak, ia serahkan semua kepada mas puji dan bude Warsi yang pastinya bisa mengatur keuangan yang dikeluarkan nantinya.

__ADS_1


Pak Yudi dimana? ia tak terlihat dari tadi padahal pastinya sudah mendengar kabar meninggalnya Bu Nisa namun justru ia tak ada disini hanya untuk menenangkan Zafira, jahat satu kata yang ada dalam pikiran Zafira tentang bapaknya.


__ADS_2