Lentera Rasa

Lentera Rasa
Tujuh


__ADS_3


...Bermimpilah semaumu karena Allah tidak akan mengecewakan seorang hamba yang begitu taat kepada-nya....






Rintik hujan sore menambah hawa dingin kota Magetan, hujan yang disertai angin membuat jiwa mereka bahkan mungkin setiap orang dilanda was-was.


Hari ini Alfan sedang bermain dengan mamanya, dan belum pulang hingga sore ini mungkin karena masih hujan.


Disisi bumi yang lain, diluar pulau Jawa terdapat laki-laki yang sedang fokus bekerja, belum terpikirkan dibenaknya untuk memiliki pendamping.


Walaupun, teman sebayanya sudah menikah tapi menurutnya ia harus membahagiakan ibu dan adiknya dulu. Dialah atharazka zafir ghaziullah putra pertama Bu Nisa yang saat ini tengah merantau di irian jaya.


Usianya terpaut 9 tahun dengan sang adik Zafira, bila dihitung usianya saat ini yaitu 22 tahun, masih tergolong muda bila harus menahkodai bahtera rumah tangga.


"Zafir" panggil Rangga temannya


"ya, ada apa?"


"sibuk nggak?"


"nggak, ada apa?" setuju Zafir


"em mau cerita, dengerin yak"


"iya"


"bapak gue meninggal kemarin sore" lirihnya


"hahh, jangan bercanda deh ngga"


"gue serius, pengen pulang tapi baru aja 7 bulan lalu kita pulang kalau gue maksa mau pulang harus gunain yang gue sendiri" air mata lelaki itu luruh seketika


"sabar, walau loe ngga bisa pulang doain aja jangan pernah putus, bapak loe udah nggak mau apa-apa lagi beliau cuma butuh doa loe dan kakak adik loe, bukan berarti kalau koe pulang bapak loe hidup lagi enggak bakal loe pulang atau nggak bapak loe udah nggak ada jadi lebih baik kamu doain dari sini aja kalau saranku, uang yang kamu gunain untuk naik pesawat bisa kamu tf ke mereka untuk menambah uang slametan"

__ADS_1


"gitu aja deh, makasih saran loe gue beruntung banget bisa ketemu sama loe bisa jadi sahabat loe" peluk Rangga


"dah sana gue mau mandi"


"sekali lagi makasih Fir" mendengar itu Zafir hanya mengacungkan jempol saja


Ditempatnya Rangga menatap haru kepergian sahabat, kemana beban zafir? pertanyaan yang selalu muncul dibenaknya karena tak pernah sekalipun ia mendengar Zafir mengeluh.


Kembali ke Zafira, saat ini ia dan Bu Nisa juga Alfan sedang menyantap makan malam.


"eh buk lupa, besok ambil raport jam 7.30"


"ya, nanti kamu anterin terus adek biar diluar sama kamu"


"nggak mau, mau ibuk aja"


"sama mbak nanti dibelikan jajan" mendengar itu Alfan langsung bersorak ria


Makan malam telah usai kini mereka bersiap untuk tidur, malam ini Zafira tidur di kamarnya sendiri yang berada disamping kamar ibunya.


Sebelum tidur ia merenungi hari ini, mungkinkah ia bersalah kepada orang lain?.


"ya Allah, Terimakasih hari ini untuk diriku ya Allah sampaikan kepada hamba dan makhlukmu yang lain jika aku memiliki salah aku meminta maaf dan ya Allah jika salahku kepadamu maka maafkan hamba ini ya Allah Al-fatihah"


.


.


.


.


Sinar matahari pagi menemani remaja cantik yang tengah menjemur pakaiannya di Samping rumah, sedangkan sang ibu tengah memasak karena kebetulan adiknya masih terlelap.


"pagi pagi udah njemur mbak Fira" sapa bude Sri


"enggeh bude, mau kemana bude?"


"beli jamu nduk"


"mampir bude"

__ADS_1


"iya, besok-besok saja"


Zafira lanjut menjemur pakaian yang tinggal sedikit, tepat jam 7 mereka sudah sarapan dan bersiap mengambil raport Zafira setelah itu pergi ke pasar.


"mau beli apa to buk?"


"sayur, udah habis semua kalau beli di keliling lumayan mahal jadi mending beli di pasar aja"


"yaudah ayo buk"


Singkatnya mereka sudah sampai disekolah, belum terlalu ramai jadi Bu Nisa segera masuk dan sudah ada Bu Ningrum wali kelas Zafira.


"MasyaaAllah buk, Zafira nilainya tinggi sekali dan Alhamdulillah mendapat rangking pertama semoga dipertahankan ya buk dan mohon kerja samanya untuk memantau sang anak"


"iya Bu terimakasih, dan ini mau bayar modul semester 2 bu" ucap Bu Nisa menyerahkan uang 200.000


"baik Bu, saya terima lunah ya ini kwitansi nya"


"yasudah saya permisi Bu, assalamualaikum"


"waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"


Berjalan menyusuri lorong menuju parkiran depan, senyum bangga Bu Nisa tak luntur dari wajahnya putra putrinya selalu membuatnya bangga dan dia mengakui hal itu.


Usai mengambil raport mereka menuju pasar, karena tadi sudah membawa helm jadi tak perlu balik lagi ke rumah.


Sampai di pasar langsung saja mereka menuju kebagian ayam, dengan Zafira dan Alfan mengikuti dibelakang ibunya.


"Bu ayamnya 2 kg ya"


"nggeh bu, dada nopo paha"


"dada aja"


"berapa bu harganya?"


"ayam murah niki Bu 25.000 per kilo, ini juga ada ranjau sekilo 15.000"


"ayam aja"


"Niki Bu, 50.000 ya"

__ADS_1


Setelah membeli ayam mereka lanjut membeli sayur dan bumbu dapur. Bukan apa Bu Nisa membeli banyak Ayam karena nanti akan ia bumbui dan masukan kulkas sewaktu waktu Zafira dan Alfan meminta ayam.


__ADS_2