Lentera Rasa

Lentera Rasa
Duapuluhdua


__ADS_3


...Tidak semua kehilangan berupa kematian yang memisahkan namun juga tentang dua insan yang dipisahkan oleh jarak...






Fokus menumbuk bumbu di cobek Zafira dikejutkan dengan keberadaan Alfan yang tiba-tiba disampingnya.


''kebiasaan, kata ibuk suruh mandi sana cepet''


''buatin susu ya mbak''


''ya''


Melihat Alfan yang sudah masuk ke kamar mandi Zafira segera memanaskan air dan meracik susu di gelas berukuran 200ml.


Setelah bumbunya siap dan pastinya sudah halus Zafira memetik kemangi disamping rumahnya, dilanjutkan dengan memotong daun bawang dan cabai.


Tak lama setelah itu Alfan keluar dengan handuk yang ia lilitkan dari bawah lengan sampai mata kaki, dan jangan lupakan Alfan bila disuruh mandi sendiri pasti tidak mengeringkan rambut didalam kamar mandi dalam arti keluar dengan rambut yang masih basah bahkan airnya sampai membuat receh.


''mbak baju ganti e manaa'' teriaknya


''carien to dek, jangan di amburadul kan habis dilipet ibuk kemarin lho nanti dimarahin''

__ADS_1


''nggak Nemu mbak'' teriak Alfan lagi, ingin rasanya Zafira cubit sampai menangis tapi tak pernah ia lakukan itu, ia sadar sampai batas mana ia harus memperlakukan adiknya karena itu bukan miliknya melainkan milik orang lain yang harus ia jaga.


Zafira berjalan dengan menggerutu, melihat mbaknya bersiap marah Alfan malah cengengesan dan duduk ditukar depan televisi.


''kalo cari dilihat dulu, nah kok'' ucap Zafira sambil melempar baju Alfan yang sudah ia ambil.


''akak jangan marah marah jeee'' ucapnya menirukan cara bicara salah satu kartun botak.


''hihhhh''


Tak ingin menghiraukan adiknya Zafira segera ke dapur guna mencuci ikan pindang yang dibeli ibunya tadi, tak lama Bu Nisa datang membawa beberapa lembar daun pisang dari kebun samping.


Karena Bu Nisa sudah ke dapur, acara memasak pun dilanjutkan oleh Bu Nisa dan Zafira masuk menemui Alfan dengan membawa segelas susu.


Dilihatnya sang adik tengah duduk dengan mulut menganga menatap layar televisi dan bedak yang tidak merata. Melihat itu Zafira geleng geleng kepala, ada saja tingkah adiknya ini di setiap harinya.


Bahkan bisa menjadi penghibur dikala ekspektasinya tak sesuai dengan realita.


''iyo ye'' jawab Zafira menggunakan bahasa Jawa


''nah diminum susunya, awas kalau nggak habis'' setelah mengatakan itu Zafira masuk kamar untuk menyetrika baju.


Minggu sore nanti Alfan akan dikunjungi oleh mamanya, anak berusia 6,5 tahun itu akhir-akhir ini berbeda bila sudah bersama mama dan ayahnya atau pak Heri dan Bu Ida akan susah ikut dengan Bu Nisa dan Zafira.


Ada rasa tak rela yang kembali muncul di benak Zafira, ia sungguh tak ingin lepas dari adiknya, dia adiknya hanya adiknya bolehkah ia egois jika waktu itu datang.


.


.

__ADS_1


.


.


Malam hari lebih tepatnya habis magrib Bu Ida dan pak Heri datang membawa mobil karena kondisi sedang hujan dan Zafira pun tak mengaji kali ini, bukan karena kedatangan Bu Ida tapi karena hujan.


''Buk kalau misalkan Alfan saya ajak ikut sama saya gimana'' tanya Bu Ida


''kemana mbak?''


''maksudnya Alfan sudah ikut bersama saya, dia sudah dewasa makasih sudah mau merawat Alfan tanpa sampean beda-bedakan dengan Zafir Zafira pokoknya makasih saja mungkin tidak cukup untuk membayar semua lelah sampean, saya selaku mamanya Alfan minta maaf yang sebesar-besarnya kalau selama Alfan sama sampean banyak nyusahin dan lain-lain'' ucap Bu Ida terpotong, berat rasanya mengambil Alfan dari Bu Nisa, sama saja ia memisahkan kedua orang itu.


Mungkin masih bisa bertemu esok ataupun waktu yang akan datang tapi, tetap saja ada rasa tak tega dalam hatinya. Bu Nisa sedang berusaha menahan air matanya agar tidak luruh, ia akan dipisahkan dengan anak asuhnya ini benar? Ia mimpi kan tapi kenapa rasanya begitu nyata.


Wajah polos Alfan yang sudah mengerti ucapan sang mama pun turut berkaca-kaca, ia tahu jika ia akan berjauhan dengan ibuk dan mbak Ira nya. Ia tidak mau itu.


''nggeh mbak, saya juga berterimakasih sudah diberi kesempatan merawat Alfan, semoga tumbuh sehat ya Lee jangan lupain ibuk sama mbak Ira kapan-kapan main kesini ya tapi harus sering biar ibuk nggak kangen sama Alfan'' Bu Nisa tak ingin berucap begitu panjang karena lidahnya terasa kelu hatinya sakit ia belum siap ini terjadi.


Sedangkan didalam kamar mata Zafira sudah sembab, air matanya terus mengalir. Apa ini ya Allah engkau mengambilnya saat aku belum siap ia jauh dariku, hatinya dekat namun raganya menjauh batin Zafira.


Lama sekali ngobrol hingga Bu Nisa memanggil Zafira keluar, Alfan akan ikut Bu Ida malam ini dan barang-barangnya akan diambil esok malam dan mainan Alfan akan diambil bertahap.


Melihat wajah adiknya Zafira kembali menangis, sakit itu pasti baru tadi pagi ia bercanda dan bertengkar kecil dengan adiknya malam ini ia berpisah dengan sang adik.


Tanpa kata Zafira menarik Alfan dalam pelukannya, Alfan pun turut menangis.


''jangan lupain mbak ya, sering-sering main kesini mbak Ira nggak punya temen nanti kalau alpan nggak ada, pokoknya harus rajin belajar biar pintar ya'' masih saja mengalir air mata Zafira


''Ayo dek, mbak Ira mau belajar juga dada sama mbak dan ibuk'' perintah Bu Ida

__ADS_1


''dada mbak Ira dada ibuk'' ucap Alfan dengan sisa sesenggukannya


''dada dek, see you Alfan''


__ADS_2