
...Terkadang waktu yang singkat membuat kenangan yang begitu melekat....
•
•
•
•
Seperti yang sudah dibilang pagi tadi, sore ini Zafira mengantarkan ibunya untuk berobat entah mengapa hatinya selalu berdebar jika menyangkut ibunya.
''bisa nggak Ra, kalau nggak biar mas yang anter'' tanya mas puji
''biar dianter mas puji saja Ra, kamu dirumah'' ucap Bu Nisa
''iyaudah Bu, hati-hati''
Setelah Bu Nisa dan mas puji sudah tak terlihat Zafira masuk dan melihat ponsel yang sudah ia cueki dari kemarin, tentunya banyak pesan dan spam dari teman-temannya
Zafira membalas chat yang menanyakan Mengapa ia tidak pergi mengaji kemarin dan lainnya, sebenarnya ia sudah bertekad untuk tidak meninggalkan ibunya kala beliau sakit meski hanya beberapa jam saja.
Ia mengingat betul bagaimana ibunya merawatnya ketika ia sedang sakit, bahkan rasa- rasanya ibunya tidak meninggalkannya jika bukanlah hal mendesak.
Selagi masih ada maka akan Zafira jaga agar ia tidak menyesal di kemudian hari karena melalaikan tugasnya untuk berbakti kepada orang tua khususnya seorang ibu.
.
.
.
Sudah beberapa kali berobat Bu Nisa belum kembali fit beliau masih sering mengeluh pusing dan lain sebagainya, beberapa hari lalu bulek binti berkunjung setelah dikabari oleh mas puji.
Yang pastinya Sekarang setiap malam mas puji tidur di rumah Zafira, hari ini Bu Nisa sudah mendingan dari hari sebelumnya karena sudah hampir 10 hari beliau sakit.
__ADS_1
Pagi tadi Bu Nisa juga disambangi oleh Bu Retno dan bude Sri, sempat ditawari minta dibawakan apa oleh bude Sri jika besok beliau kesini lagi dan Bu Nisa menjawab agar dibelikan susu kedelai.
Dengan senang hati tentunya bude Sri menyambutnya karena jarang dan Bu Nisa kurang suka dengan susu kedelai.
Sore harinya Bu Nisa kembali di periksa oleh teman Zafir untuk memastikan gula dan darah beliau stabil atau tidaknya.
Tak lama sekitar setelah magrib mbak Lika pamit undur diri, setelah diperiksa Bu Nisa hanya tensi beliau yang tinggi jadi disarankan untuk tidak memikirkan hal yang berat-berat.
''buk punya kelapa tua bikin cemue mau? tinggal belikan roti sama goreng kacang'' tawar Zafira
''gak usah, ibuk nanti bikinkan Energen saja besok kalau mau bikin nggak papa''
''ya udah, mau makan kah buk''
''masih kenyang nduk''
Tak lama bude Warsi, mas Iyan, mas ridho dan suami bude Warsi sudah dirumah Zafira kan memang mereka sudah layaknya keluarga
''Udah makan mbak?'' tanya pakde Masran
''udah kang'' (kang bisa juga diartikan sebagai mas ya)
''besok libur''
''kan biasanya kamu tiada hari tanpa belajar, Ndak kaya kakanganmu maless'' sahut mas Ridho sebagai sindiran kepada mas Iyan
''halahh mas emang bawaan lahir'' gurau Zafira
Canda tawa memenuhi rumah Zafira ditambah kehadiran mas Puji jadilah lengkap candaan yang terlontar.
Mas iya memutuskan mengajak Zafira keluar membeli jajan karena ya laper katanya giliran disuruh makan nggak mau.
Setelah keluar pilihan mereka jatuh ke martabak terlur, dan jadilah mereka memesan dua bungkus mengingat banyak orang dirumah.
Karena hari semakin malam bude Warsi beserta keluarganya pamit pulang, Dalam hati sebenarnya bude Warsi ingin sekali tidur disini menemani Bu Nisa dan Zafira tapi apalah daya pakde Masran sedang batuk pilek.
Setelah pulangnya bude Warsi tadi Bu Nisa juga diminta oleh Zafira dan mas puji untuk segera tidur, sebelumnya beliau meminta dibikinkan Energen.
__ADS_1
Hari kian larut Zafira dan mas puji sama-sama belum tertidur entah mengapa Zafira merasa aneh pada dirinya.
''aku kenapa ya mas, dari kemarin-kemarin kalau mau tidur atau ninggalin ibuk gitu kayak takut, was-was gitu bawaannya padahal ya udah doa juga'' curhat Zafira, mendengar itu mas puji langsung terpikirkan hal yang sama ketika ibunya hendak pergi dua tahun lalu. Sama persis seperti yang dirasakan Zafira saat ini, tapi karena tak ingin keponakannya kepikiran ia lebih memilih untuk menghiburnya saja.
''udah nggak usah kamu fikir, paling kamu aja sering overtingking gitu, bener kan overtingking namanya''
''tapi emang perasaanku bener-bener nggak enak mas''
''shutt seng gadah rencana Allah duduk awakmu'' (yang punya rencana Allah bukan kamu)
Semalaman Zafira tak tidur begitu pula mas puji, mana mungkin ia tertidur sedangkan Zafira tak memejamkan mata sama sekali.
Pukul setengah 3 pagi Bu Nisa kembali bangun dan meminta Energen kembali, dipikiran Zafira mungkin Bu Nisa lapar karena memang dari sore hanya makan sedikit.
"bobok o ra, ibuk biar sama mas puji" pinta Bu Nisa
"mas puji juga belum tidur buk biar tidur dulu"
"gak usah ra, kamu itu lho Ndang tidur sana"
Mau tak mau Zafira tidur karena matanya memang sudah mengantuk, ia tidur disebelah ibunya namun masih berjarak. Melihat Zafira yang sudah memejamkan mata Bu Nisa ikut memejamkan mata.
Tak lama tanpa disadari mas puji beliau mengucapkan syahadat dan mas puji baru menyadari saat Bu Nisa selesai membaca syahadat tersebut dalam keadaan mata beliau yang terpejam.
Perasaan tak enak muncul seketika, dengan segera mas puji mendekat dan memegang tangan Bu Nisa, menuntun beliau melafadzkan Allah.
"Allah bulek, allah gitu" Terus saja mas puji membimbing Bu Nisa, Zafira yang mendengarkan samar-samar suara mas puji membuka mata meski nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.
"Ra panggilno pakde Marsan suruh kesini" Zafira menurut dan seperti tak manakuti apapun karena memang baru saja bangun, namun ia berjalan sedikit tergesa karena mas puji mengatakan tadi dengan suara yang bergetar.
"bude, bude war buka bude" mas Iyan yang membuka langsung saja membuka pintu disusul mas Ridho
"kenapa Ra kenapa"
"disuruh mas puji kerumah sama bude" Tanpa ba-bi-bu mas ridho langsung berlari dan mas Iyan membangunkan ibu dan bapaknya.
Pikiran Zafira masih belum konek, ia mengikut di belakang mas Ridho setelah sampai rumah dan langsung menuju kamar tak lama disusul pakde Masran yang lansung mendekat.
__ADS_1
Zafira berdiri memperhatikan semuanya didepan pintu, pakde Masran mengecek nadi Bu Nisa hingga beliau mengatakan
"mbak Nisa sudah nggak ada"