Lentera Rasa

Lentera Rasa
Duapuluhtujuh


__ADS_3


...Dan apa yang telah kau tanam akan menjadi peninggalan jika datang ketiadaan....






Bulek binti tak bisa menemani Zafira karena ia juga repot mengurus makanan yang akan dikirim untuk orang yang menggali kubur dan lain-lain.


Sedangkan bulek Titin, istri paklek ten juga sibuk mengurus tamu-tamu yang ingin melayat.


Saat ini jenazah Bu Nisa sudah dikafankan sebelumnya tadi Zafira diberikan kesempatan jika ingin kembali mencium ibunya dengan syarat tidak ada air mata yang jatuh.


Mati-matian Zafira menahan agar tak jatuh air mata itu, dan berhasil setelah ia mencium ibunya barulah air mata itu jatuh kembali, tak bisa dipungkiri ia masih sangat belum rela ibunya pergi secepat ini di usianya yang masih membutuhkan sosok yang bisa ia jadikan sandaran ternyaman. Kini sudah pergi, bukan pergi namun berpulang.

__ADS_1


Setelah hari beranjak siang, kurang lebih pukul delapan Bu Nisa akan dikebumikan dan saat ini tengah berada didepan rumah beliau untuk didoakan.


Zafir hanya bisa menyaksikan dengan sambungan video call yang disambungkan oleh mas Ridho, sungguh inilah hari yang tak pernah Zafir tunggu bahkan ia enggan untuk membayangkan namun terjadi begitu saja.


Sedangkan Zafira dirangkul oleh bude Warsi, tidak bisa berhenti air matanya bahkan sekedar mengingat mendiang ibunya saja air matanya langsung luruh.


Kini tiba saatnya jenazah diberangkatkan untuk dikebumikan, banyak yang ikut mengantarkan dengan rintik hujan yang menemani. Langit pun menangisi kepergian seorang ibu yang meninggalkan anaknya untuk memenuhi panggilan Tuhannya.


''udah ya nduk, kasihan ibuk kalau Zafira nangis terus'' bujuk bude Warsi agar Zafira berhenti menangis.


Sampai di pemakaman mas Puji, mas ridho, paklek ten turun ke Liang lahat untuk membantu menurunkan jenazah, dan selanjutnya mas puji yang mengazankan Bu Nisa.


Seusai tanah memenuhi liang dan nisan yang dipasangkan serta taburan bunga diatasnya kini almarhumah Bu Nisa sedang di talkin.


.


.


.

__ADS_1


.


Pulang dari makan bulek binti menyuruh agar Zafira segera mandi dan ikut beliau ke depan untuk menemui para tamu.


Melewati kamar ibunya sesak di dada Zafira kembali muncul, mengingat kejadian tadi pagi yang tak kan ia lupakan sampai kapanpun.


Merasa tak kuat dengan segera Zafira masuk ke kamar mandi, disana lagi-lagi tangisannya pecah bahkan ia tak peduli dengan matanya yang sudah bengkak.


Seharian full banyak pelayat yang berdatangan entah itu kerabat ataupun teman-teman dari almarhumah Bu Nisa.


Malam ini banyak keluarga yang menginap dan karena rumah Zafira luas jadi bisa menampung saudara-saudara yang menginap. Besok pagi mungkin sudah ada acara tiga hari wafatnya Bu Nisa dan malam-malam berikutnya diisi dengan mengaji hingga khatam sebelum malam ke-7 hari.


Diantara saudara mereka Zafira hanya lumayan dekat dengan bulek binti yang notabenya saudara kandung Bu Nisa sedangkan bersama bulek Titin ia masih canggung kadang kala saat bertemu.


Semakin malam rumah semakin sepi, karena semuanya berkumpul tidur dilantai lebih tepatnya didepan tv.


Lambat laun sepasang mata mulai terpejam kecuali Zafira, badannya memang lelah, matanya minta dipejamkan namun hatinya belum terlalu rela untuk ditinggalkan ibunya dan bahkan bapaknya tidak hadir.


Luka kepergian Alfan untuk mengikuti mamanya saja belum hilang kini sudah Allah tetapkan lagi garis takdir yang tak mudah untuk ia jalani.

__ADS_1


Tadi ia juga sempat bertemu dengan Alfan yang datang bersama Bu Ida dan pak Heri, sampai sore bahkan.


__ADS_2