Lentera Rasa

Lentera Rasa
Duapuluhtiga


__ADS_3


...Boleh merasa kehilangan tapi janganlah berlarut-larut hingga engkau melupakan ibadahmu kepada rabb-mu....






Malam pertama tidur tanpa Alfan membuat ibuk kagok dan meminta Zafira untuk menemaninya, tadi sempat setelah Alfan pergi Zafir menelfon Zafira dan Bu Nisa pun sudah menceritakan semuanya.


Berat? oh tentu bayangkan 5 setengah tahun bersama dan sekarang mereka dipisahkan oleh jara yang membentang diantara mereka.


Bu Nisa meminta untuk 1-2 Minggu ke depan Zafira tidur bersamanya, lumayan lama tapi bagi Zafira tak apa karena ia juga ingin sekali tidur bersama ibunya.


Semalaman Zafira tak bisa memejamkan mata, ia terus saja mengingat memorinya bersama Alfan, bisakah waktu tak berjalan begitu cepat hingga Zafira bisa memiliki waktu yang lama untuk bersama dengan Alfan.

__ADS_1


Sekitar pukul 3 pagi Zafira pindah ke kamarnya untuk sholat, tak lupa ia mengambil handphonenya diatas nakas milik ibunya.


Buanyak sekali pesan dan panggilan yang belum terbaca, perasaan Zafira terakhir dilihat pukul 9 malam tapi kenapa sudah sebanyak ini, belum lagi notifikasi dari Instagram dan trwiter yang memenuhi bar notifikasi handphonenya.


Ia buka WhatsApp dan menanggapi pesan-pesan yang dikirim oleh teman-temannya ataupun nomor-nomor tak dikenal.


Tak ingin berlama-lama ia segera bangkit dan mengambil air wudhu tak lupa juga kebiasaannya untuk absen ke kamar mandi.


.


.


.


.


Yang pastinya nanti Zafira hanya menunggu diluar karena dia tidak kedapuk apa-apa kalau kata orang Jawa, sebelum berangkat Zafira terlebih dahulu menyiapkan beberapa surat motor dan helm kali ini ia memakai motor N-max milik kakaknya.


Ketika semua sudah berkumpul hanya kurang satu yaitu bude Zafira dan ternyata yang ditunggu sudah jalan duluan tanpa mengabari terlebih dahulu.

__ADS_1


Mas Alif yang kebetulan masih ada hubungan darah dengan Zafira dan tentunya saat ini tengah mengantar ibunya ikut kesal sendiri. Bagaimana tidak, mereka menunggu hampir setengah jam dan hasilnya nihil.


Tak ingin mengulur waktu lagi mereka segera berangkat dan paklek Dito sebagai penunjuk jalannya. bulek Zafira menunggu di gang akan masuk karena tak mungkin beliau datang ke desa Zafira terlebih dahulu.


Alunan musik yang terdengar kesar membuat jantung berdegup kencang karena jujur saja Zafira tak suka dengan suara keras yang sampai menggunakan sound sistem.


Seketika canggung karena disana yang menunggu diluar hanya Zafira, mas Alif, mbak Sari dan mas Budi yang mengantarkan bulek binti. Sedangkan yang lainya boncengan dengan suami atau kerabat yang bisa mengendarai motor.


Cukup lama menunggu sampai akhirnya Zafira bosan karena sedari tadi duduk diatas motor dan bermain hp, tiba-tiba ia terbayang lezatnya bakso dan martabak telur.


Jadilah ia berniat mengajak ibunya membeli makanan tersebut, ya memang dasarnya kalau anak hobi jajan apapun keadaannya makanan terus memenuhi pikirannya.


Kemarin sempat ia diberi uang jajan oleh mamanya Alfan saat beliau memberikan gaji pada Bu Nisa, nah kan bercerita tentang Alfan mengingatkan Zafira pada adiknya tersebut.


Tapi mungkin tak lama lagi ia akan menerima ponakan baru dari adik mas puji, lebih tepatnya adik ipar. Iya mas puji memiliki adik laki-laki yang saat ini menetap di Madiun atau dirumah istrinya.


Rencana mungkin setelah lahiran istrinya mas Danu akan memboyong istrinya dan tinggal bersama mas puji.


Usai menunggu 10 menit akhirnya yang ditunggu keluar, setelah ini mereka tidak langsung pulang em mereka itu Zafira dan Bu Nisa ya karena akan membeli keinginan Zafira itu.

__ADS_1


Mereka memutus jalan dari yang lain ketika sudah sampai di alun-alun, disana pastinya banyak sekali jajanan yang membuat mata Zafira kalap memandangi dagangan dari pedagang kaki lima disana.


__ADS_2