Lingkaran Kebencian

Lingkaran Kebencian
17


__ADS_3

Kantor bryan


Pagi hari


Selena pergi ke kantor bryan untuk menanyakan keadaan adiknya karena beberapa kali ia menghubunginya tidak bisa.


Ia pergi dengan menggunakan syal untuk menutupi lehernya agar tak banyak orang yang memperhatikan memar yang ada di lehernya akibat cengkraman lyora.


Saat ia masuk ke ruangan bryan ia melihat ada seorang wanita berada di ruangan bryan, namun ia tak mengenalinya karena sebelumnya ia tidak pernah melihatnya.


Selena dan wanita itu saling beradu pandang karena sama- sama baru pertama kali saling bertemu.


Selena memberi kode mata kepada bryan menanyakan wanita tersebut.


"Ah.. dia sekertaris baru ku Alexa. Oh ya alexa perkenalkan ini selena sepupuku dan selena ini alexa." Bryan memperkenalkan satu sama lain.


Selena dan Alexa pun saling berjabat tangan dan saling memberi senyuman.


"Oh ya alexa kau bisa kembali ke meja mu dulu." Ujar leo


"Baik pak." Jawab alexa dan segera keluar dari ruangan bryan.


Bryan mengajak selena duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"Apa kau tahu keadaan erino, aku beberapa kali menghubunginya tapi tidak bisa." Tanya selena khawatir.


Belum sempat bryan menjawab pertanyaan selena ia sudah salah fokus dengan syal yang ada di leher selena.


"Kenapa kau memakai syal?" Tanya bryan


keheranan dan mengulurkan tangan untuk melepas syal selena.


Selena reflek menjauh dan melindungi syal- nya.


"Tidak aku hanya merasa kedinginan." Jawab selena spontan.


Bryan merasa heran dengan tingkah selena ia sempat berpikir jangan- jangan yang selena tutupi adalah bekas ciuman leo. Sehingga selena begitu menutupinya.


"Di cuaca sepanas ini kau merasa kedinginan?? Memangnya kau sedang sakit?" Bryan membuka paksa syal selena dan terkejut melihat memar di leher selena seperti bekas cekikan.


"Kenapa dengan lehermu? Apa yang terjadi? Mengapa ada memar disana?" Cecar bryan.


"Tidak apa- apa." Jawab selena sembari menutup dengan tangannya.


"Cepat katakan siapa yang melakukannya? Apa leo?"


"Bukan- bukan, bukan leo yang melakukannya tapi lyora, dia mencekikku kemarin malam setelah pulang dari sini, tapi tidak apa- apa ini sudah hampir sembuh aku sudah mengompresnya dengan air dingin." Selena segera membenarkan kembali syalnya.

__ADS_1


"Sini ku lihat." Ujar bryan sambil menarik selena agar mendekat, ia melihat leher selena lekat- lekat dan perlahan menyentuhnya "apa terasa sakit?" Tanya bryan


"Se- sedikit." Jawab selena gugup karena merasa canggung bryan melihatnya begitu dekat.


"Tunggu sebentar aku ingat sepertinya aku memiliki salep yang dapat meredakan nyeri dan memudarkan bekas luka, tunggu sebentar aku akan mengambilnya." Bryan segera berjalan ke mejanya untuk mengambil salep yang ada di lacinya.


"Mendekatlah ku bantu mengoleskannya." Ujar bryan.


"Ti- tidak usah aku bisa mengoleskannya sendiri." Tolak selena sambil mengambil salep yang ada di tangan bryan.


"Diam dan menurutlah." Bryan mengambil kembali salep yang ada di tangan selena.


Ia perlahan mengoleskannya ke leher selena.


"Mengapa kau tak menghubungiku?"


"Waktu itu ponsel ku mati dan.... aku juga takut membuatmu khawatir dan... sejujurnya aku takut dimarahi karena tak menurut saat kau ingin mengantarku pulang." Selena menunduk karena merasa bersalah tak memberitahu bryan.


"Tentu saja aku akan marah dan khawatir karena aku...("menyukaimu dan takut kehilanganmu" tak berani menyuarakannya)  peduli padamu bagaimanapun kau sudah seperti adikku sendiri yang harus ku jaga dan lindungi.


Kelak jangan seperti ini lagi aku tidak suka (sambil memeluk selena) bagaimana jika terjadi sesuatu padamu tapi aku tidak tahu apa- apa, dimana lagi aku akan mencarimu?." Bryan semakin erat memeluk selena dengan matanya yang sudah berkaca- kaca.


Di satu sisi


Terlihat alexa yang sedang berdiri di depan pintu ruangan bryan, karena ingin memintanya menandatangani beberapa berkas.


Namun seketika langkahnya terhenti dan tak jadi mengetuk pintu karena melihat bryan yang sedang berpelukan dengan selena.


Entah mengapa selena sedikit kecewa saat bryan mengatakan dirinya sebagai adik.


"Baiklah aku minta maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Ujar selena sambil mengajak bryan untuk menyatukan jari kelingking mereka.


"Oh iya tadi kau menanyakan erino kan?, kau tak perlu khawatir dia baik- baik saja di sana.


tadi aku sudah menghubungi kenalan ku yang ada disana dan menanyakan bagaimana keadaanya. aku juga sempat berbicara dengan erino menggunakan ponselnya.


Aku juga sudah menyuruh erino segera membeli nomor baru dan menghubungimu." Ujar bryan


"Syukurlah jika dia baik- baik saja aku jadi merasa tenang." Ucap selena.


"Oh iya.. kapan kau mulai memiliki sekertaris baru?" Tanya selena penasaran karena terus bertanya- tanya siapa wanita itu sebenarnya apa jangan- jangan itu adalah wanitanya.


"Entahlah baru beberapa hari ini. aku menemukannya sedang dipukuli oleh pria paruh baya ku pikir itu adalah ayahnya. Karena kasihan jadi aku membantunya." Jelas bryan.


~ kilas balik ~


Malam itu

__ADS_1


Bryan baru saja keluar dari toko roti ia melihat jam tangannya menunjukkan pukul 20.30


Ia melihat ke sebrang jalan ada seorang wanita sedang dipukuli oleh seorang pria paruh baya di tempat yang sepi.


Sebernarnya ia ingin mengabaikannya saja seolah- olah tak melihatnya namun hati kecilnya tergetar untuk menolongnya.


Akhirnya ia berlari ke arah wanita tersebut.


Duakhhh... bryan menendang pria yang sedang memukuli wanita tersebut, sehingga pria itu terjatuh.


Seketika wanita tersebut segera lari bersembunyi di belakang bryan.


"Siapa yang menyuruhmu ikut campur?" Bentak pria paruh baya itu


"Pergi atau ku telpon polisi?" Ancam bryan sambil mengetikkan nomor darurat di ponselnya.


Pria paruh baya itu pun terus mengoceh dan mengumpat wanita yang bersembunyi di belakangnya.


"Dasar anak sialan, tidak berguna, awas saja kau." Umpat pria paruh baya itu sambil berjalan pergi.


Sedangkan wanita yang berdiri di belakang tubuh bryan terlihat sangat gemetar ketakutan.


"Sudah.. sudah.. dia sudah pergi." ucap bryan kepada wanita tersebut sambil berbalik badan ke arah wanita yang ada di belakangnya.


Bryan yang melihatnya tak tega meninggalkanya sendirian takutnya nanti pria tadi kembali lagi.


Ia mengajaknya duduk di depan bangku swalayan dan memberikannya air mineral dan roti yang tadi ia beli.


"Makannlah." Ucap bryan sambil menyodorkan makanan.


Dengan ragu- ragu wanita tersebut perlahan mengambil roti yang bryan berikan dan memakannya.


"Terima kasih tuan." Ucap wanita itu


Wanita itu benar-benar terlihat lusuh dan kacau.


rambutnya sangat berantakan dengan dress pendek yang sudah banyak bercak kotor.


"Siapa namamu? " tanya bryan


"A-lexa.." jawab wanita itu sembari mengunyah roti.


"Apa tadi itu ayahmu?"


Alexa mengangguk mengiyakan pertanyaan bryan.


"Jika kau tidak keberatan kenapa dia memukulmu?" Tanya bryan ragu.

__ADS_1


"Dia selalu saja menyuruhku untuk mendekati pria- pria kaya untuk memeras uangnya, namun beberapa kali aku menolaknya dan aku selalu dipukuli setelahnya."


Bryan yang mendengarnya menjadi sedikit tersentuh dan merasa kasihan padanya.


__ADS_2