Love and Tears

Love and Tears
part satu


__ADS_3

*Ibu


Ibu, mengapa kau pergi begitu cepat meninggalkan aku dan ayah, mengapa ibu tega meninggalkan aku sendirian, ibu tau! setelah dua bulan kematian ibu hari ini ayah menikah lagi dengan bibi jung! Aku takut ibu, aku benar benar takut jika bibi jung tidak bisa menerimuku sebagai anaknya? dan bagaimana dengan saudara baru ku itu? aku takut dia tidak bisa menerimaku bu.


Terkadang aku ingin melarang ayah untuk menikah lagi, tapi aku sadar bahwa ayah juga membutuhkan sosok seorang istri agar bisa mengurusnya dengan baik meskipun aku tau , aku juga bisa mengurus ayah namun tetap saja berbeda, ayah membutuhkan figur seorang istri*.


Ibu....bagaimana jika dengan kehadiran istri dan anak barunya, justru membuat ayah melupakanku bu, aku benar benar takut dan...


Ceklek


"Jieun~~~ mengapa kau disini sayang" ujar sang ayah dengan menghampiri putri kesayangannya itu, dengan sigap jieun menghapus air matanya agar ayahnya tidak curiga jika dia telah menangis.


"Tidak ayah, aku hanya merasa rindu pada ibuku"


" ibumu? hey sayang, kau sudah punya ibu baru yang menunggumu dibawah, kau boleh memeluknya ketika kau merindukan ibumu"


"Tetap saja rasanya tidak akan senyaman saat berada dipelukan seorang ibu kandung" jieun memeluk ayahnya, tanpa mereka sadari sepasang mata telah melihat bahkan mendengar obrolan mereka dengan tatapan sinisnya.


"Apa kau pikir aku juga mau memelukmu! Tsk!! " ucapnya kemudian beranjak pergi meninggalkan kamar jieun.


"Sekarang ayo kita turun menyambut  ibu dan juga saudaramu, tidak baik jika membuat mereka menunggu terlalu lama"


"Tapi ayah...." ujar jieun ragu


"Sudah..tidak apa apa sayang, ayo!" jieun pun akhirnya menuruti permintaan ayahnya dengan turun kebawah menyambut ibu dan juga saudara tirinya yang bar.


"Ini pasti jieun" ucap nyonya jung dengan ramah dan tidak lupa untuk memeluk jieun


"Nde..annyeonghaseyo" jawab jieun yang tak kalah ramahnya.


"Baiklah sayang dia ini saudara tirimu jung eunbi" ucap nyonya jung pada jieun namun keduanya hanya terdiam saling menatap tanpa menyapa. rasanya sangat aneh mempunyai saudara baru yang sebesar ini.


"Hei, apa yang kau lakukan, sapalah dia dengan baik" bisik nyonya jung pada eunbi.


"Hai jieun, aku jung eunbi tapi kau cukup memanggilku eunha karna aku menyukai nama itu" ucap eunha singkat dan dibalas anggukkan oleh jieun.


apa kami bisa bersikap seperti layaknya saudara kandung?. jieun


-


Sejak malam itu kehidupan jieun berubah 180° , ditambah lagi ayahnya sekarang sudah sakit sakitan akibat dari kecelakaan mobil yang menimpanya tiga minggu yang lalu, hingga mengharuskannya terbaring dirumah karna lumpuh yang dideritanya, sejak saat itu juga ibu tirinya mengambil alih restoran sang ayah untuk kelangsungan hidup mereka dan segalanya berada dibawah kekuasaannya bersama eunha. dan jieun? jangan menanyakan berapa bagian yang jieun miliki karna saat ini hidup jieun bagaikan seorang pembantu dirumah tersebut.


"Ayah~~~" jieun kini memasuki kamar dimana ayahnya saat ini terbaring lemah.


"Jieun sayang kau disin !"


"Hem, aku mengantarkan sarapan untuk ayah, ayah makan yah" jieun meletakkan nampan yang dibawahnya tepat disamping ranjang sang ayah.


"Apa kau baik baik saja?"

__ADS_1


"Aku baik baik saja ayah, ibu menjagaku dengan baik, ayah tidak perlu mengawatirkanku oke" ujar jieun dengan berbohong, sungguh ia tidak ingin ayahnya memikirkan apa apa saat ini selain kesembuhannya. kesehatan ayahnya akan bertambah parah jika mengetahui keadaan jieun yang sebenarnya.


Jieun sayang kemarilah!


Jieun mendadak bergidik ngeri ketika mendengar ibu tirinya baru saja memanggilnya dengan sebutan sayang, tidak seperti biasanya, segera mungkin jieun pamit kepada ayahnya karna dia tau betul jika dirinya tidak segera menghadap ibunya itu maka dia akan segera mendapat ocehan-ocehan dari keduanya, sebelum keluar tidak lupa jieun mengingatkan ayahnya untuk menghabiskan sarapannya.


"Ada apa bu? apa kau membutuhkan sesuatu?"


"Apa yang kau lakukan dikamar ayahmu? kenapa lama sekali? Jangan bilang kau ingin mengadu padanya!"


"Ti...tidak, aku tidak mengatakan apa apa pada ayah, aku hanya menghantar sarapan untuk ayah, percayalah bu"


"Dia pasti berbohong ibu! sudah hukum saja dia! " ujar seorang gadis yang tidak lain adalah eunha saudara tirinya yang sangat menyebalkan yang selalu memutar balikkan fakta didepan ibunya.


"Tidak bu, aku tidak bohong, aku berani bersumpah!"


"Ah sudah cukup dramanya, sebaiknya kau pergi mencuci pakaian, dan ingatlah jangan menggunakan mesin cuci, kita harus menghemat listrik ! gunakan saja tanganmu itu untuk mencucinya" ucapnya memerintah, eunha tersenyum puas melihatnya.


"Tapi ibu aku harus pergi kuliah hari ini, Hari ini aku ada ujian"


Hahahaha!!


Eunha dan ibunya mentertawakan jieun.


"Sayang, dengarkan ibu baik baik! Orang-orang pergi kuliah karna ingin mendapatkan pekerjaan yang bagua, sedangkan kau sendiri sudah mendapatkan pekerjaanmu, jadi untuk apa kau repot repot pergi kuliah? itu hanya akan membuang-buang waktumu sayang , sekarang cepat selesaikan pekerjaanmu itu" ucapnya dengan merangkul pundak jieun


"Tapi bu bagaimana dengan ujianku?, aku sudah berada ditahun terakhir, sebentar lagi aku akan lulus ibu"


"Kurasa dia ingin pamer padaku karna dia berkuliah bu"  ucap eunha yang sengaja memanasi keadaan


"Benarkah itu???" selidik nyonya jung, dengan cepat jieun menggeleng kepalanya, sedikitpun dia tidak berniat untuk mengejek eunha.


"Itu tidak benar bu...aku.."


"Ah sudahlah jieun sebaiknya kau pergi mencuci sekarang!"


"Ibu..ibu tolonglah sekali ini saja, aku mohon izinkan aku pergi dan menyelesaikan ujiannya dengan baik, aku akan segera pulang begitu ujiannya selesai, aku mohon ibu..." ucapnya menunduk memohon pada nyonya jung bahkan jieun kini memeluk erat lutut ibu tirinya itu sembari menangis, eunha benar benar puas melihatnya jieun yang tidak berdaya seperti itu.


"Tidak akan! Sana pergi!" menepis tangan jieun  dan kemudian duduk didekat eunha kembali menikmati sarapannya.


jieun tak dapat menahan tangisnya , sungguh saat ini dia benar benar merindukan sosok ibunya.


"Ibu !" ujar eunha


"Ada apa sayang?"


"Aku tidak menyukai jieun, bagaimana jika kita usir saja dia dari rumah ini, aku sesak jika harus melihat wajah sok lugunya itu, aku ingin melihatnya menderita diluar sana bu"


"Hei ! hei ! sayang, bersabarlah lagipula saat ini kita tidak bisa berbuat apa apa karna ayahmu sangat menyayanginya, jadi untuk sekarang kau boleh membalasnya dengan menindasnya sepuasmu" ujar nyonya jung membuat eunha memperlihatkan smirknya. katakanlah dia sangat senang seperti baru saja menemukan mainan baru yang seru.

__ADS_1


"Tapi tetap saja aku ingin dia pergi dari rumah ini, agar rumah dan restoran ayah menjadi milikku bu ! , aku ingin mengambil semua miliknya tanpa menyisakannya sedikitpun"


"Kita harus bersabar sayang!"


"Hem bagaimana jika ibu nikahkan saja si jieun itu, jadi dia akan pergi dari rumah ini tanpa ayah curiga jika kita memang berniat mengusirnya, ide bagus bukan?" ucap eunha dan nyonya jung tampak memikirkannya.


"Kau benar sekali sayang, tapi siapa yang mau menikah dengannya? Lihat saja stylenya itu benar benar kampungan, dia benar benar tidak tau cara menggunakan uang dengan benar"


"Hahaha kau benar bu, masalah pria! Ibu carikan saja dia pria lajang diluar sana , yang penting jieun bisa keluar dari rumah ini segera mungkin, ibu jangan mencarikannya pria kaya, karna pria kaya tidak akan pernah mau dengan jieun hahahhaa" ledek eunha.


"Hahaha kau benar sayang, untuk membuatnya susah seumur hidupnya kita harus menikahkannya dengan pria miskin , dia tidak boleh hidup mewah, apalagi menyaingimu"


"Hahahah itu benar bu"


" baiklah, ibu akan mencarikannya pria yang memang pantas untuk bersanding dengannya "ujar nyonya jung dengan senyum yang sulit diartikan.


-


Malam ini seorang pria yang tampak baru saja pulang dari kantornya masih dengan setelan jasnya yang rapi menghampiri sang ibunda tercinta yang sedang menonton televisi.


"Ibu ! "


"Oh astaga jeon, kau mengagetkan ibu saja"


"Hehehe maafkan aku, Ibu sedang menonton apa"


"Ini ibu sedang menonton drama kesukaan ibu, apa kau sudah makan malam? Apa perlu ibu menyuruh bibi ahn menyiapkan makan malam untukmu"


"Ah, tidak usah ibu aku sudah makan tadi bersama teman temanku sebelum pulang"


"hem baiklah, ........... hem jeon boleh ibu mengatakan sesuatu padamu?"


"Sejak kapan ibu perlu izin untuk bertanya? tidak biasanya" goda jungkook


"Kapan kau akan menikah?, ingatlah jeon ibu sudah semakin tua dan kau belum menunjukkan tanda tanda bahwa kau akan segera menikah, kau itu sudah cukup pantas untuk menikah, menikahlah jeon, apa kau tidak ingin ibu segera menggendong bayimu"


"Menikah lagi , menikah lagi, ibu aku kan sudah bilang padamu, jika anakmu ini pasti akan menikah jika sudah waktunya menikah, ibu jangan khawatir"


"jeon apa kau yakin menyukai wanita?" selidik ibu jeon jungkook


"Kau sudah sering mengatakan itu pada ibu jeon! Dan kali ini ibu tidak bisa menerimanya"


"Hahahaha baiklah baiklah....terserah ibu saja, aku akan menuruti semua keinginan ibuku ini" ucap jungkook memeluk gemas ibunya bak anak kecil, jungkook menyerah, mungkin tidak ada salahnya mengikuti kemauan ibunya sejak lama.


"Benarkah itu? jadi kau sudah setuju untuk menikah?" tanya sang ibu yang sangat antusias mendengar jungkook akan mengikuti kemauannya.


"Hem.... lakukan apapun yang ibu ingin lakukan, asalkan ibu bahagia maka tak ada alasan untukku menolaknya"


"Kau benar-benar anak ibu jeon, Baiklah ibu akan mencarikan mempelai wanita yang sangat cantik untukmu"

__ADS_1


"Tidak harus wanita itu cantik bu, asalkan dia bisa menjaga ibuku ini dengan baik maka aku akan sangat bahagia memiliki istri seperti itu" ucap jungkook yang membuat ibunya terharu mendengarnya.


bersambung.....


__ADS_2