Love and Tears

Love and Tears
part sembilan


__ADS_3

Sudah seminggu sejak kepergian ayahnya namun duka mendalam masih dirasakan jieun. dia terus terusan menangis dan menyendiri membuat jungkook ikut merasakan sedih yang dialami sang istri, meskipun belum lama mengenal ayah jieun namun jungkook sudah menganggapnya sebagai ayahnya sendiri.


Baik jungkook maupun ibunya telah berusaha membuat jieun agar lebih tegar dan sabar menghadapi semua ini biar bagaimanapun juga hidup masih terus berlanjut dan jieun mempunyai keluarganya yang baru, cepat atau lambat kematian memang akan datang menghampiri.


Saat ini jieun sedang menatap bintang bintang dibalkon kamarnya lagi-lagi air matanya terus mengalir mengingat sang ayah dan ibunya yang telah pergi meninggalkannya.


"ibu...ayah..apa kalian bahagia disana?? Aku sangat merindukan kalian berdua"


"dan aku merindukanmu" ujar jungkook yang tiba-tiba saja datang menghampiri jieun dengan memeluknya dari belakang menenggelamkan wajahnya di ceruk leher jieun membuat gadis itu terkejut.


"kau tau..sudah seminggu ini kau tidak memperhatikanku" lirih jungkook, suaranya terdengar sangat menyedihkan ditelinga jieun


"jeon" jieun membalik tubuhnya menghadap jungkook menatap wajah suaminya dengan perasaan bersalah karna dia telah lalai menjadi seorang istri yang baik seperti nasehat ayahnya sewaktu masih hidup.


"kau menangis lagi hem..." jungkook mengusap lembut air mata jieun yang mengalir dipipinya.


"a..aku"


"kau tau...ayah akan bersedih disana jika melihatmu seperti ini, kau sudah terlihat seperti mayat hidup yang kehilangan arah hidupmu, bahkan kau tidak memperdulikan suamimu ini" ujar jungkook membuat jieun tertunduk merasa sangat bersalah pada suaminya.


"maafkan aku jeon, aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu"


"kau adalah istri yang sempurna untukku" jungkook menarik tubuh mungil itu kedalam dekapannya menciumi puncak kepala sang istri seraya menepuk pelan pundak jieun  memberikankannya ketenangan.


"kumohon jangan bersedih lagi.....ayah dan ibu diatas sana pasti akan sedih jika  melihatmu seperti ini, kau tidak ingin melihat mereka bersedih bukan? Lagipula kau masih mempunyai aku..., aku ini suamimu, bergantunglah padaku, berbagilah semua kelu kesahmu bersamaku karna aku bukan orang asing dihidupmu, kita ini suami istri jangan merasakan kesedihanmu sendirian, berbagilah bersamaku, bisa? !" jieun hanya menganggukkan kepalanya dan mempererat pelukannya, dia benar-benar sangat beruntung memiliki suami seperti jeon jungkook yang begitu baik kepadanya.


"jeon..."


"hem"


"boleh kukatakan sesuatu padamu?"


"kau ingin mengatakan apa?"


"aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu, kau begitu baik padaku, kau tau kurasa aku akan sangat menyesal jika waktu itu aku menolak lamaran ini"


"jangan berkata seperti itu, dalam hal ini kita berdualah yang beruntung karna telah dipertemukan oleh tuhan dan telah mengizinkan aku untuk menjadi suamimu"


"jeon...( mendongakkan kepalanya menatap jungkook) kurasa aku telah jatuh hati padamu"


Jungkook tak dapat menyembunyikan betapa bahagianya dia mendengar ucapan jieun barusan, kata itu membuatnya merasakan ribuan kupu-kupu baru saja menggelitik hatinya apakah itu pertanda jika dia juga telah jatuh cinta pada istrinya itu?, entah setan apa yang merasukinya tiba tiba saja jungkook mengikis jarak diantara mereka sedangkan pandangan mereka tidak terlepas satu sama lain, masih setia dengan posisinya, hingga sesuatu yang lembut menyapu permukaan ranum jieun membuatnya tersadar dan mengedipkan matanya beberapa kali biar bagaimanapun juga ini adalah ciuman pertama kalinya bagi jieun, hingga hal ini sukses membuat jantungnya berdegub dua kali lebih cepat dari biasanya bahkan tanpa sadar dia meremas erat piyama sang suami, jungkook menyadari kegugupan istrinya dia lantas melepas ciumannya dan menatap jieun dengan tersenyum.


"ke..kenapa menatapku seperti itu?" ucapnya gugup

__ADS_1


"aku senang karna ini pertama kalinya bagimu, dan aku sangat senang karna orang yang beruntung itu adalah aku" jieun terkejut dengan penuturan jungkook, seingatnya dia tidak pernah sekalipun memberitahukan masalah ini pada orang lain apalagi pada jungkook.


Jungkook kembali menempelkan bibirnya ke ranum jieun dan kali ini jungkook memberikan lumatan-lumatan lembut diciuman mereka, jieun yang belum terbiasa membuatnya merasa sangat aneh apalagi disaat lidah jungkook memasuki mulutnya namun dia berusaha untuk mengimbangi jungkook hingga rasa aneh yang sempat dirasakannya tadi telah berubah menjadi candu baginya. hangat dan lembut itulah yang dirasakan jieun.


Tok tok tok!!!


Suara ketukan yang berasal dari luar pintu kamarnya membuat pangutan mereka terlepas dan saling menatap bingung.


"aku akan membuka pintu" jieun kemudian beranjak dari balkon membuka pintu kamarnya


"yaishhh, siapa sih yang mengetuk pintu dijam segini?? mengganggu saja!!!" ujar jungkook mendengus kesal.


"maaf mengganggu istirahat anda...tetapi ibu dan saudara anda berada dibawah"


"apa...?"


"ada apa sayang?" tanya jungkook menghampiri jieun


"ibu dan eunha ada dibawah jeon"


"benarkah?, kalau begitu ayo kita temui mereka"


Jungkook dan jieun pun turun kebawah menemui ibu dan saudara tiri jieun, tidak lama ketika melihat jieun, sang ibu dan eunha langsung menghambur ke pelukan jieun dan menangis membuat jieun melihat kearah jungkook dengan kebingungan.


"ada apa...kenapa kalian menangis seperti ini?"


"ada apa...katakan saja padaku..?" tanya jieun khawatir


"iya apa sebenarnya yang telah terjadi?" sahut jungkook


"nyonya kira-kira mau apa mereka berdua kesini malam malam ?" bisik bibi ahn kepada nyonya gyuri


"tidak tau...kita dengarkan saja apa yang akan dia katakan"


"jieun..., aku dan ibu..." eunha sengaja menjeda kalimatnya dan berpura pura menangis


"ada apa? Tolong katakan sebenarnya..." panik jieun


"aku dan ibu diusir dari rumah kita"


"apa? " ucap jieun dan jungkook bersamaan


"bagaimana bisa?" tanya jieun

__ADS_1


"ternyata..ayah memiliki banyak hutang...dan sudah beberapa hari ini rentenir itu terus datang kerumah kita jika kita tidak membayarnya maka rumah dan restoran kita jadi milik mereka"


Jieun benar-benar terkejut mendengar penjelasan eunha, bahkan dia sulit untuk mempercayai ini semua, dia tau betul bagaimana ayahnya dan kondisi keuangannya, meskipun tidak cukup untuk  dibilang keluarga bangsawan namun sangat cukup untuk menghidupi mereka.


"ta..tapi bagaimana mungkin ini terjadi...ayah tidak pernah melakukan itu semua"


"itulah kenyataannya jieun-ah, bahkan kami berdua pun sangat terkejut mendengar ini semua, dan sekarang kita sudah tidak punya apa apa lagi..."


"ayah, apakah semua itu benar" batin jieun, merasakan kesedihan sang istri jungkook segera merangkulnya berusaha menguatkannya, eunha yang melihat dibuat kesal dengan pemandangan dihadapannya itu, sementara nyonya gyuri tersenyum melihat perkembangan hubungan jungkook dan jieun yang sepertinya semakin dekat.


"nikmatilah momenmu bersamanya jieun, karna sebentar lagi..aku yang akan berada diposisi itu" ucap eunha dalam hati.


"sebaiknya nyonya jung dan eunha tinggal disini saja, setidaknya jieun tidak akan merasakan kesepian" ucapan nyonya gyuri barusan membuat eunha dan ibunya merasa sangat senang, bahkan mereka saling bertukar pandang dengan maksud tertentu.


"anda baik sekali, saya tidak tahu harus membalas kebaikan kalian seperti apa" ucap nyonya jung


"tidak usah dipikirkan, kita ini keluarga sudah seharusnya saling tolong menolong bukan?"


"bibi..." eunha kini melakukan actingnya sebaik mungkin dengan memeluk nyonya gyuri sebagai tanda terima kasihnya, melihat hal itu sudut bibir nyonya jung sedikit tertarik, dia benar-benar bangga memiliki anak sepintar eunha.


"ibu..., aku tidak tau harus mengatakan apa lagi, ibu sangat baik kepadaku dan juga  pada keluargaku, terima kasih banyak ibu.." ucap jieun


"sayang kau tidak perlu berterima kasih pada ibu, kita ini keluarga, jadi sudah seharusnya ibu melakukan ini"


"baiklah bibi ahn...tolong antarkan mereka ke kamar tamu" perintah nyonya gyuri, dan akhirnya eunha dan ibunya pun mengikuti bibi ahn menuju kamarnya.


"sebaiknya kalian berdua juga istirahat..ini sudah malam"


"baik ibu.." jawab jungkook dan jieun bersamaan lalu melangkahkan tungkainya menuju kamar mereka.


"jeon"


"hem?"


"terima kasih (memeluk jungkook), aku tidak tau harus mengatakan apa selain mengucapkan terima kasih padamu dan juga pada ibu, kalian berdua sudah sangat baik padaku dan keluargaku"


"kau masih bisa mengucapkan kata yang lainnya"


"hm?"


"seperti mengucapkan aku mencintaimu jeon jungkook suamiku" semburat merah terlihat jelas dipipi jieun saat suaminya itu menggodanya dan jieun hanya bisa tersenyum menanggapinya.


"ayo katakanlah?" pinta jungkook

__ADS_1


"a..aku me..cin..taimu suamiku jeon jungkook" setelah mengatakan itu dengan cepat jieun menyembunyikan wajahnya kedada bidang jungkook, dia benar benar tidak mempunyai muka saat ini hingga membuat jungkook gemas, dengan tersenyum jungkook mengecup puncak kepala jieun.


bersambung.....


__ADS_2