Love and Tears

Love and Tears
part delapan


__ADS_3

Ayah!!!!


Jieun terbangun dari mimpi buruknya, seketika perasaannya sangat aneh dan gelisah. jieun menjadi sangat takut akan mimpi anehnya tadi, dilihatnya jungkook yang sedang tertidur pulas disampingnya, jieun lantas berjalan mengambil segelas air diatas nakas lalu meneguknya.


"Kuharap ayah baik-baik saja, aku benar-benar tidak bisa tenang" ucapnya gelisah sembari terus mondar-mandir, jieun kemudian mencoba untuk menghubungi eunha dan juga ibunya namun tidak ada jawaban sama sekali.


"Jieun! sedang apa disana???"


"huh?, kau terbangun? Maafkan aku, aku pasti telah membangunkanmu yah" dengan tersenyum jungkook menggelengkan kepalanya.


"Ada apa?, apa terjadi sesuatu? Tanya jungkook yang kemudian menghampiri jieun


" jeon, aku bermimpi buruk tentang ayahku, aku benar-benar tidak bisa tenang, aku takut terjadi sesuatu pada ayah"


Mendengar hal itu jungkook lantas menarik jieun kedalam pelukannya dan mencoba untuk menenangkan gadis itu.


"Tenanglah! Semua akan baik baik saja, itu hanya mimpi buruk yang tidak berarti apa-apa, ayah akan baik-baik saja !" jieun sedikit lebih tenang setelah mendengar ucapan jungkook, pria ini benar-benar  membawa kenyamanan baginya


"Terima kasih karna sudah berada disisiku"


"Aku akan selalu berada disisimu" ujar jungkook kemudian memberikan satu kecupan manis di dahi jieun.


"Sekarang ayo kita tidur lagi"


"Hem" jieun kemudian mengikuti langkah jungkook menuju ranjang dan merebahkan kembali tubuh mereka dikasur, melihat wajah sang istri masih diliputi dengan kegelisahan jungkook kemudian mendekat dan memeluknya.


"Eoh!"


"Biarkan seperti ini! dan tidurlah!" ujar jungkook, tanpa berkata apa-apa lagi jieun kemudian membalas pelukan jungkook dengan erat dan menenggelamkan wajahnya dibawah ceruk leher suaminya itu.


Perlakuan jieun padanya sukses membuat jungkook berdebar-debar tidak karuan, deruhan nafas jieun yang menyentuh permukaan kulit leher jungkook membuatnya semakin tidak karuan namun sebisa mungkin dia menahannya, dengan memberikan satu kecupan manis dipuncak kepala jieun, jungkook pun mencoba untuk memejamkan matanya.


_


Waktu menunjukkan pukul 6.00 pagi, jieun yang memang tidak bisa tidur semalaman segera bangkit dari tidurnya dan tergesa-gesa menuju kamar mandi, tidak membutuhkan waktu yang lama bahkan jungkook belum juga terbangun dia sudah terlihat rapi namun aroma vanila yang memenuhi kamarnya mampu membuat jungkook terbangun.


"Nggghhh"


"Pagi, kau sudah bangun" ujar jieun pelan


" ini masih sangat pagi dan kau sudah rapi, apa segitu senangnya bisa berkuliah lagi?"


"tidak, sejujurnya aku tidak bisa tenang sebelum melihat ayah, jadi aku akan ke tempat ayah dulu sebelum pergi kuliah, hem...apa kau mengizinkanku?" tanya jieun dengan sedikit ragu


"Tidak"


"Eoh!"


"Tidak jika sendirian, tunggu sebentar aku akan bersiap-siap"


"Ta...pi bukannya kau harus pergi kekantor, aku tidak mau karna mengantarku kau jadi terlambat" jungkook tersenyum mendengar perkataan jieun kemudian berjalan mendekati gadis itu.

__ADS_1


"Kau tenang saja, aku mendapatkan liburku selama seminggu untuk membahagiakan istriku, hem tapi jika liburan itu menyenangkan maka aku bisa saja menambahkan jatah liburanku menjadi sebulan mungkin?" goda jungkook


Detik itu juga semburat merah diwajah jieun terpampang nyata, dia bukanlah gadis bodoh hingga tidak bisa mengerti maksud dari perkataan jungkook, honeymoon yahh honeymoon itulah maksud dari perkataan jungkook.


"Se...sebaiknya kau mandi saja sekarang, ak...aku akan siapkan sarapanmu" setelah mengatakan itu jieun segera keluar dari kamar membuat jungkook hanya bisa tersenyum melihatnya.


Sesampainya didapur jieun segera menyiapkan sarapan jungkook dan juga ibu mertuanya tentunya dibantu oleh asisten rumah tangga keluarga jeon.


"Tuan benar-benar beruntung memiliki istri sebaik anda"


"Ah bibi, aku lah yang beruntung bisa memiliki suami seperti dia, dia sangat baik padaku"


"Anda benar, tuan memang sangat baik"


"Woahh, sedang membicarakan jeon?"


"Ibu disini"


"Kau sudah rapi sayang, apa kau mau pergi ?"


"iya, aku akan mengunjungi ayahku dan kemudian aku akan pergi kuliah bu, tidak apa-apa bukan?"


"Kau masih berkuliah?"


"Iya dan ini sudah tahun terakhir bu, hem ibu tidak usah khawatir meskipun aku berkuliah , aku tidak akan melupakan tugasku sebagai seorang istri"


"Ibu percaya padamu sayang, kau pasti bisa mengurusi jeon dengan baik" menangkup pipi jieun


"Sama-sama sayang, ayo kita sarapan bersama"


"baiklah


"


_


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya jieun merasa sangat tidak tenang, dia benar-benar gelisah, firasatnya mengatakan telah terjadi sesuatu tapi dia tidak tahu apa itu, saat ini dia sangat mengawatirkan ayahnya dan ingin segera melihatnya.


"Hei tenanglah, apa kau masih memikirkan mimpi burukmu itu" ucap jungkook membuyarkan lamunan jieun


"Entah mengapa aku semakin tidak tenang jeon, aku mendadak takut untuk kesana"


Mendengar hal itu jungkook pun menggenggam jemari jieun dan memberikan ketenangan pada istrinya itu meyakinkannya bahwa semuanya baik - baik saja.


Setelah menempuh kurang lebih 45 menit perjalanan mereka pun sampai dikediaman ayah jieun.


"Jeon ada apa ini? Kenapa dirumahku ada banyak sekali orang" ucap jieun yang semakin gelisah


"Tenanglah sayang , ayo kita masuk dulu"


"Jieun" teriak eunha dan langsung saja memeluk jieun

__ADS_1


"Eunha-ya, mengapa menangis?ada apa?"


"Jieun~ah, a...ayah" ucapan eunha membuat jieun semakin takut


"Ayah kenapa?, ada apa??" jieun mulai panik


"Ayah...jieun-ah ayah..."


Tanpa mendengar ucapan eunha lagi jieun segera berlari masuk kedalam dan mencari keberadaan ayahnya.


"Jieun, ayahmu" lirih nyonya jung yang berada tepat disebelah ayah jieun yang sudah tak bernyawa lagi.


"A...ayah, i....ibu ayah kenapa?, dia masih tidur?" ucap jieun linglung


"A..ayah, bagunlah ini sudah pagi, dan jieun ada disini, jieun akan membuatkan sarapan kesukaan ayah" ucap jieun pelan sembali mengelus pipi kiri sang ayah.


"I..ibu , kenapa ayah tidak mau bangun"


"Jieun sadarlah! Ayahmu sudah tiada"


"tidak!!" teriak jieun dan mulai menangis sejadi jadinya sembari memeluk tubuh ayahnya.


Mendengar teriakan jieun, jungkook pun segera menyusul jieun kedalam namun terhadang karna eunha yang tiba-tiba saja memeluknya dan menangis dalam pelukannya hingga membuat jungkook sedikit terkejut namun tidak enak untuk menolaknya.


"Tenanglah (sedikit mengelus kepala eunha hingga membuat gadis itu kegirangan), sekarang ceritakan ada apa?"


"A...ayah...ayahku telah tiada"


"Apa!!"


"Itu benar, ayahku telah tiada, dia meninggalkan kami semua" ujar eunha dan semakin mengeratkan pelukannya pada jungkook.


"Jieun" gumam jungkook, dia pun segera melepaskan pelukan eunha dan berlari masuk mencari jieun.


"Setidaknya , aku telah berhasil memeluknya, dia wangi sekali , gadis bodoh itu benar benar beruntung .


" ayah!, bangun....mengapa kau pergi meninggalkanku, bangun ayah..." isak jieun


"Jieun" jungkook segera memeluk tubuh istrinya dan mencoba untuk menenangkannya meski jieun terus terusan memberontak menangisi ayahnya.


"Anak bodoh ini terlalu berlebihan, untuk apa menangisi orang yang sudah mati" batin nyonya jung


"Jeon, ay..ayah"


"Iya iya sayang......tenanglah, kau harus kuat"


"Ayah.....jeon mengapa ayah begitu cepat pergi meninggalkanku"


"Sayang....tenangkan dirimu, kau harus bisa ikhlaskan kepergian ayah, jangan seperti ini, kau tidak mau kan ayah bersedih melihatmu seperti ini" jieun hanya bisa menangisi ayahnya dipelukan jungkook, eunha yang melihatnya merasa sangat kesal dan berpikir seharusnya dialah yang pantas berada dipelukan jungkook bukannya jieun.


Setelah jieun sudah merasa  sedikit lebih tenang , jungkook pun segera menghubungi keluarganya dan mengabari mereka tentang kematian ayah jieun, setelah itu dia kembali menemani jieun dan sejak itu juga genggaman mereka tidak pernah terlepas walau sedetik pun, jungkook sangat setia berada disamping jieun.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2