
Setelah pulang dari rumahnya, jieun benar-benar merasa sangat bahagia karna bisa bertemu dengan ayahnya terlebih lagi ayahnya itu sudah memberinya restu dengan pernikahannya ini, kini dia bisa menjalani hidupnya yang baru dengan tenang.
"Tampaknya kau sedang berbahagia" ujar jungkook yang melihat jieun terus tersenyum sembari merapikan barang bawaannya tadi.
"oh, kau...sejak kapan ada disana?" tanya jieun malu
"Baru saja" jungkook kemudian duduk dipinggiran ranjangnya sembari melihat jieun yang sedang memasukkan bajunya kedalam lemari pakaian membuat jieun merasa malu dibuatnya.
"Ini sudah malam, apa tidak sebaiknya besok saja kau membereskannya"
"Tidak apa-apa, lagipula ini tinggal sedikit lagi, istirahatlah, aku akan menyusulmu begitu pekerjaanku selesai"
"Kalau begitu aku akan membantumu agar pekerjaanmu cepat selesai dan kau juga bisa beristirahat"
"Ah, jangan!(mengambil kembali pakaiannya ditangan jungkook), kau adalah suamiku, kau tidak pantas melakukan ini, biar aku saja yang melakukannya"
"Tidak apa-apa, biarkan aku membantumu"
"Jangan, tugas seorang suami melindungi istrinya bukan membantunya mengerjakan apa yang sudah seharusnya menjadi pekerjaan seorang istri"
Jungkook benar-benar dibuat terkagum-kagum pada sosok istrinya ini, dia benar benar akan sangat menyesal jika dulu menolak untuk dinikahkan dengan jieun untung saja dia menerimanya hingga dia tidak perlu merasakan penyesalan itu.
"Mengapa menatapku seperti itu? apa aku salah bicara" tanya jieun ragu, jungkook kemudian tersenyum dan perlahan-lahan mendekat kearah jieun menarik tubuh mungil itu kedalam dekapannya, sontak perlakuan jungkook itu tiba tiba saja membuat pipi jieun memanas dan membuat kerja jantungnya bekerja tak beraturan.
"Terima kasih karna sudah hadir dikehidupanku.......dan terima kasih karna sudah menerima pernikahan ini" lirih jungkook dan tanpa sadar jieun tersenyum mendengarnya hingga perlahan-lahan tangannya mulai terangkat untuk membalas pelukan jungkook.
"Terima kasih juga karna sudah menerima gadis sepertiku ini masuk kedalam kehidupanmu, aku berjanji padamu, aku tidak akan mengecewakanmu dan aku akan menjalankan kewajibanku sebagai istrimu dengan baik" sahut jieun, jungkook kemudian tersenyum mendengarnya.
"Hem kalau begitu kali ini izinkan aku membantumu yah, besok-besok aku janji akan membiarkanmu mengerjakannya sendiri" ucap jungkook seketika membuat jieun tertawa mendengarnya.
"Baiklah, kali ini saja"
Mereka pun akhirnya bersama-sama membereskan barang bawaan jieun, sesekali jieun tersenyum melirik kearah jungkook yang terlihat sangat serius membantunya begitu juga dengan jungkook yang beberapa kali mencuri-curi pandang pada istrinya itu.
"Hem....jungkook-ssi"
"Kapan kau akan berhenti memanggilku seperti itu" ucap jungkook yang lagi lagi membuat jieun tersipu malu
"a...aku....."
__ADS_1
"Kau boleh memanggilku jeon seperti ibu, kau tau tidak semua orang memanggilku jeon, hanya ibuku yang memanggilku seperti itu dan kali ini aku juga ingin kau memanggilku seperti itu karna kalian berdua wanita yang sangat berharga bagiku saat ini"
Damn!!!
Jieun sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain tersipu malu dan terus tersenyum menatap jungkook.
"Kau memerah" goda jungkook
"Ti...tidak" ujar jieun malu dan segera menutupi pipinya itu.
"Hahaha baiklah, kau ingin mengatakan apa tadi?"
"i...itu...apa besok aku boleh pergi kekampus?" tanya jieun dengan sedikit ragu
"Kau masih berkuliah??"
"i...iya dan aku sudah masuk tahun terakhir, tahun ini aku seharusnya sudah lulus, tapi aku melewatkan ujian akhirku, jadi apa besok aku bisa pergi dan mengurusnya??"
"Hei, apa yang kau pikirkan ( menangkup pipi jieun ) tentu saja kau bisa pergi, kau bahkan bisa pergi kemana saja yang kau inginkan, asal kau tidak pergi dari rumah ini dan meninggalkanku bersama ibu" goda jungkook dan lagi-lagi mampu membuat jieun memerah, sungguh dia tidak pernah menyangka jika pernikahan ini akan berbuah manis seperti ini, untuk sesaat dia bersyukur bisa memiliki suami seperti jungkook.
"Terima kasih"
"Karna sudah hadir dalam kehidupanku dan membuat hidupku menjadi jauh lebih berwarna, kalau boleh jujur awalnya aku menolak perjodohan ini, tapi sekarang aku sangat bersyukur bisa mengenalmu, kau orang yang sangat baik "
"yaaaaa.....kenapa berkata seperti itu, kau membuatku malu"
" terima kasih" jieun kemudian memeluk jungkook hingga pria itu merasa seperti baru saja terkena serangan jantung bahkan untuk sesaat jantungnya berasa berhenti berdetak sebelum akhirnya berdetak tak beraturan karna gadis yang berstatus istrinya itu.
cklek
"ah, maafkan ibu" ujar sang ibu yang tak sengaja memergoki mereka berdua sedang berpelukan, hingga membuat jieun benar benar malu, jungkook yang melihatnya hanya bisa tersenyum melihat wajah merona sang istri.
"kalau begitu silahkan dilanjutkan kegiatan kalian , ibu keluar dulu"
" ibu mau kemana?, kami sudah selesai" ucap jungkook yang sengaja membuat jieun semakin malu didepan mertuanya itu, alhasil gadis itu hanya bisa tersenyum kikuk menatap suaminya itu.
"hahahah kalian manis sekali"
"ibu, apa ibu memerlukan sesuatu?" tanya jieun
__ADS_1
"tidak..ibu tadi hanya ingin melihatmu apa kau telah selesai mengemasi barang-barangmu, dan ternyata kau sudah selesai"
"ah, iya ibu...tadi jeon membantuku" ucap jieun, mendengar nama jeon keluar dari bibir jieun membuat nyonya gyuri merasa sangat senang kemudian dia menatap jungkook dan pria itu hanya mengedipkan matanya sembari tersenyum pada ibunya.
"baiklah kalau seperti itu, kalian istirahat saja.. ibu keluar dulu " nyonya gyuri dengan segera keluar dari kamar mereka namun sebelum benar benar keluar nyonya gyuri berniat ingin menggoda anak dan juga menantunya itu terlebih dahulu.
"kalian lanjutkan saja kegiatan kalian tadi" ucapnya lagi sebelum akhirnya benar-benar menghilang dibalik pintu menyisakan dua orang yang sedang tersipu malu karna ucapan ibunya.
" tidak usah didengarkan ucapan ibu, sebaiknya kita istirahat sekarang" ucap jungkook
"hem., kalau begitu kau duluan saja, aku akan menggosok gigi sebentar" dengan gugup jieun melangkah menuju kamar mandi melewati jungkook yang terus menatapnya membuatnya semakin malu.
-
eunha dan ibunya kali ini merencanakan sesuatu yang sangat besar agar bisa memudahkannya masuk kedalam rumah jungkook bahkan mereka sanggup mengambil resiko besar hanya karna kerakusannya terhadap harta tanpa memikirkan akibatnya nanti.
" apa ibu yakin melakukan semua ini" tanya eunha dengan sedikit keraguan yang terpancarkan dari wajahnya
" tentu saja" ucap nyonya jung dengan sangat yakin dengan rencananya
"apa ibu tidak mencintai ayah?"
"cinta? untuk apa ibu mencintai pria yang sudah tidak berguna sepertinya...., ingatlah jika dia tidak ada akan dengan mudah kita melakukan misi kita"
"hahahha kau benar bu, sejujurnya aku juga sudah muak dengan pria tua itu, dia hanya menyayangi jieun, jieun dan jieun"
"justru itu sayang... setelah dia tiada restoran milik pria tak berguna itu sepenuhnya akan menjadi milik ibu dan rumah ini akan kita jadikan alasan untuk bisa tinggal disana"
"tapi bagaimana caranya bu? aku tidak mengerti"
"aduh putriku yang manis ini memang sedikit bodoh yah....kita bilang saja jika ayahnya memiliki banyak utang dari para rentenir hingga mereka mengambil paksa rumah dan juga restoran itu"
"woahh ibu.... kau memang sangat pintar"
"ibu memang pintar... dan kau tau jieun bagaimana? dia tidak akan mungkin tega melihat kita terlantar dijalanan tanpa tempat tinggal"
"hahaha ibu benar, gadis bodoh itu tidak punya siapa siapa lagi selain kita, jadi tidak mungkin dia setega itu pada kita"
" itu benar sayang....baiklah sekarang ayo kita serahkan teh ini padanya" eunha dan nyonya jung masuk kedalam kamar ayahnya dan memberikan secangkir teh padanya.
__ADS_1
bersambung.....