
"Pertemuan dua kepribadian seperti hubungan dua bahan kimia; jika terjadi reaksi, keduanya akan berubah" - Carl Gustav Jung-
Sabtu pagi ini seperti minggu kemarin Anya sudah berada di depan rumah minimalis yang asri, mobil antik berwarna hijau itu pun ada disana, ada mobil silver yang terpakir juga di belakangnya. Hari ini pintu putih itu terbuka dan dari luar terdengar suara lirih biola yang di gesek terlalu ditekan menimbulkan lengkingan yang sedikit memekakkan telinga tetapi anya tahu itu salah satu tahap untuk menjadi bisa, latihan. Bahkan sampai hari ini pun anya terkadang masih menimbulkan suara melengking itu karena tangannya masih kaku dan posisi memegang biola yang masih kurang nyaman. Ya, semua toh butuh waktu dan latihan, orang yang berbakat sekalipun tak akan hebat jika tidak latihan. Dia, anya selalu melafalkan kata-kata "semua hal bisa dilakukan asalkan ada kemauan dan latihan jangan lupa tentang rasa keyakinan pada diri sendiri dan berdoa".
Ting tong Ting tong
"Assalamualaikum" salam anya
Suara gesekan biola itu berhenti, kemudian menampakkan gadis cantik berambut hitam panjang yang digerai, Nara. Nara berjalan ke arah pagar rumah dan membukakannya untuk anya.
"Mba Pagi aja, baru juga jam 08.00" Kata Nara
"Iya minggu kemarin terlambat karena harus cari rumah ini, sekarang sudah nggak perlu cari-cari lagi" Ucap Anya sambil terkekeh
"Yah, padahal aku baru latihan sebentar" Kata Nara
"Jadi seminggu ini kamu nggak latihan sama sekali?" Tanya Anya
Hanya kekehan dari nara yang terdengar sebagai jawaban lain dari bahwa selama seminggu ini dia baru berlatih pagi ini sebelum latihan minggu ke-2 nya dimulai.
"Dasar kamu, Om sama tante kemana, nar?" Tanya Anya
"Ayah sedang ngajak ngobrol ikan dan ibu sedang mencari kesibukan" Kata Nara
"Hah?" Ucap Anya bingung
"Iya mba anya, ayah lagi di halaman belakang ngasih makan ikan yang terkadang diajak curhat juga, ibu lagi bersih-bersih kulkas atau kompor atau apapun itu yang terlihat kotor" Kata Nara
Anya menjawab dengan kekehan mendengar penjelasan dari nara yang menurutnya lucu, sedangkan sabtu pagi seperti ini biasanya di rumah, Bapaknya akan memasakkan nasi goreng minyak jelantah andalannya kesukaan keluarganya. Hobi ayah sejak anya dan adiknya masih kecil dan tentu masih ada harumi (Ibu Anya) di antara mereka.
"Langsung ke kamarku saja, mba. Mba anya nggak nanyain mas andra ?" Kata Nara dengan seringai dan alis mata nara yang naik turun mengingatkan anya akan adiknya yang sudah hampir 3 bulan tidak pulang kerumah.
__ADS_1
"Oh iya mas andra kemana, nar?" Timpal Anya
"Lagi main basket sama temannya, mba anya lewat lapangan basket serbaguna di pertigaan kedua sebelum kesini nggak? atau lewat warung nasi uduk bu surti ya jadi nggak lewat lapangan? Oh iya mba anya sudah sarapan ? apa mau sarapan dulu?" kata nara panjang lebar, setelah mengenalnya ternyata nara tidak sedingin pertemuan pertama mereka.
"Aku lewat lapangan basket kok, nar tetapi memang nggak terlalu perhatikan soalnya banyak yang olahraga disana. Andra disana? aku sudah sarapan dirumah kok, nar" jawab anya
"Iya main disana mba. Oh yasudah kita langsung latihan saja mba" Kata Nara sambil merangkul lengan anya menaiki tangga dan memulai latihan minggu keduanya.
****
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.00 anya menyudahi latihannya kali ini, bukan karena tidak menambah jam latihannya. Tetapi menurutnya "manusia itu punya waktu 2 jam untuk bisa sangat fokus pada apa yang sedang dilakukannya setelahnya hanya keterpaksaan diri yang jarang menghasilkan sesuatu secara maksimal lebih baik istirahat setengah jam atau 1 jam baru melanjutkan kegiatannya lagi". Mereka tak sadar sejak 1 jam yang lalu dilantai bawah rumah itu, terdapat 2 lelaki yang menikmati dengan seksama suara lirih yang dihasilkan gesekan biola itu walau terkadang masih melengking.
Saat sedang menuruni tangga, anya melihat Ayah Andra, Andra dan seorang laki-laki yang mungkin teman andra seperti penjelasan nara sebelumnya. Mereka terlihat sedang serius membahas mengenai proyek pembangunan Gedung bertingkat di salah satu kawasan bisnis di Jakarta. Yang direncanakan gedung itu akan menjadi gedung tertinggi di Asia Tenggara. Dan itu merupakan salah satu mega proyek yang dikerjakan andra sampai sabtu minggu lalu dia harus lembur. Anya dan nara sudah sampai di bawah dan kebetulan tempat duduk Ayah Andra yang menyamping memudahkan dia melihat keadaan sekitar sedangkan tempat duduk andra dan temannya membelakangi jalan di sekitar ruang tamu atau menghadap ke arah televisi.
"Sudah selesai latihannya?' tanya Ayah Andra kepada dua perempuan di seberangnya diikuti tolehan dari kedua laki-laki didepan kedua perempuan itu. Anya membelalakkan matanya yang kecil tetapi bulat itu sekilas melihat siapa yang di maksud teman andra oleh nara. Andra yang melihat reaksi itu sedikit menggelitik hatinya.
"Mau langsung pulang nya?" tanya andra
"Saya antar saja ya" kata andra
"Nggak usah, saya sendiri saja ngerepotin" Ucap Anya
"Nggak kok, nya santai saja" Kata Andra
"Nggak makan pisang goreng ala ibu sekar dulu, sudah di buatkan loh pisang goreng madu" sahut Ayah Andra
"Nggak usah om, mau langsung pulang tadi sudah janji sama bapak mau ke acara teater" Kata Anya
"Teater dimana? tentang apa?" tanya Ayah Andra
"Di taman Universitas Nusantara Om, Tentang Dewi Anjani. Bapak sudah pensiun jadi bosan kalau di rumah terus, setiap sabtu biasanya saya ajak jalan-jalan" Kata Anya
__ADS_1
"Oh bagus itu om diajak juga dong, kalau begitu" Kata Ayah Andra
"2 minggu lagi ada wayang om di gedung kesenian, om mau ikut juga ?" Tanya Anya
"Wah boleh saya mau ikut, kalau yang sekarang nggak bisa ya?" Tanya Ayah Andra
"Bisa kok Om sama andra saja nanti, acaranya sore sekitar jam 4" Kata Anya
"Lah masih jam 4 kok buru-buru sekali" Kata Ayah Andra
"Sudah di telepon bapak buat bersih-bersih rumah Om" jawab anya sambil terkekeh
"Oh begitu yasudah" Kata Ayah Andra
Anya sudah akan melangkahkan kaki dari ruang tamu keluarga Pak Pri (Ayah Andra), terdengar suara langkah kaki kecil yang sedang terburu-buru dari arah dapur.
"Anya ini pisang madunya di bawa buat bapak ya" Kata Ibu Sekar (Ibu Andra) sambil menyerahkan kotak makan plastik berwarna kuning kepada anya
"Tante repot banget sih, aku jadi nggak enak. Lagian ini kembaliinnya masih minggu depan tempat makannya, nggak usah tante" Kata Anya tidak enak
"Ih apasih di buat itu ya untuk di makan, tante sudah buat lebih nanti malah nggak kemakan, tempat makan masih banyak di lemari. Tuh abang sales nya" Kata Ibu Sekar sambil terkekeh melihat ke arah andra
"Yasudah terimakasih tante, minggu depan saya kembalikan lagi ya" Kata Anya
"Iya sudah pulang, sudah ditunggu bapak kan" Kata Ibu Sekar
Anya hanya mengangguk dengan senyuman sumringah pada keluarga Pak Pri yang begitu hangat padanya. Andra sudah mengambil kunci mobilnya yang tergantung di ruang makan dan siap mengantar anya. Sebelum akhirnya dimas menawarkan diri untuk mengantar anya karena mereka satu arah dan dimas memang ingin pulang mengingat semenjak semalam dia sudah menginap di rumah andra.
"Gue aja ndra yang antar sekalian pulang juga" Kata Dimas
Andra tidak menjawab ada deru tak beraturan dalam dadanya, bukan karena dia gugup. Kekhawatiran mengenai masa lalu anya tentang dimas. Sementara ayahnya malah mendukung dimas karena alasannya yang logis dan lebih efisien juga. Pada akhirnya andra harus merelakan anya di antar oleh dimas pulang. Dia hanya bisa menghembuskan nafas panjang setelah mobil dimas pergi meninggalkan halaman rumah bersama anya di dalamnya.
__ADS_1