Love Blue

Love Blue
Another architecture


__ADS_3

“Arsitektur tidak pernah diciptakan dalam suatu ruang vakum, ia selalu dipengaruhi oleh berbagai kekuatan yang membentuknya” -Achmad Tardiyana & Christian Norberg Scultz-


Sabtu pagi ini seperti biasa anya berada di depan rumah andra untuk mengajar nara main biola. Kali ini rumah andra tampak sepi tidak seperti minggu kemarin sudah beberapa kali anya mengucapkan salam dan memencet bel rumah tapi tak ada jawaban. Dia sudah mengwhatsapp nara dan andra untuk menanyakan


"apakah hari tak ada orang dirumah ? Dan nara tak bisa latihan biola?"


Tetapi tak ada jawabannya, beberapa kali dia sudah menelpon keduanya tak juga dijawab. Kemudian anya memutuskan untuk pulang saja bersamaan dengan itu pintu terbuka dan menampakkan sosok laki-laki jangkung dengan muka bantal dan rambutnya yang sedikit acak-acakan sambil menggosok matanya dan menguap melangkah ke arah anya sebelumnya melambaikan tangan seperti memberi kode "bentar saya bukain pagarnya ya"


"Maaf ya nya, si nara nggak kasih tau kamu hari ini ke bandung sama ibu dan ayah?" Kata andra sambil membukakan pagarnya


"Nggak ndra, oh yaudah saya pulang saja kalau begitu" jawab anya


"Nggak-nggak kamu sudah jauh-jauh kesini juga masuk dulu, biar nara saya marahin nanti" Kata Andra memaksa


"Serius ndra nggak apa-apa saya pulang saja" Kata Anya


"Masuk nya, kamu sudah ganggu tidur saya untuk bukain kamu pintu terus kamu mau lari dari tanggungjawab" kata Andra sambil tersenyum kecil


"Maaf ya tadi saya mau langsung pulang, cuma karena nggak ada pemberitahuan takutnya memang kalian masih tidur saja" Kata Anya


"It's okay, saya cuma bercanda, saya yang nggak enak sama kamu makanya masuk minum teh dulu lah" Kata Andra sambil tersenyum manis pagi itu


"Serius saya langsung pulang juga nggak apa-apa kamu juga bisa lanjutin tidur kamu" Kata Anya tidak enak


Andra hanya menggaruk kepalanya dan membuat rambutnya makin acak-acakan dalam hati dia berkata "haduh masalah percakapan nggak apa-apa nya cewek kok ribet amat sih" kemudian tanpa babibu saat anya ingin melangkah keluar dari taman rumahnya dia langsung menarik paksa anya untuk masuk ke dalam rumah. Anya bingung harus berbuat apa hanya ikut melangkahkan kakinya ke dalam rumah andra. Seperti anak kecil andra mendudukan anya di sofa ruang tamunya.


"Tunggu disini dulu saya buatkan teh" kata andra fokus melihat manik mata anya yang terhalang kacamata kotaknya. Setelahnya andra menuju dapur dan membuatkan teh (camomile tea) dan segera menuju kamarnya untuk berganti baju serta cuci muka dan gosok gigi.


Diruangtamu anya melihat beberapa rangkaian maket yang belum terpasang sepertinya andra sedang membuat desain rumah. Anya melihat desain rumah yang menurutnya apik. Saat sedang memperhatikan sudut-sudut dalam maket itu kemudian membayangkan bagaimana jika ruangan yang agak didepan itu dijadikan perpustakaan kecil yang menghadap taman yang dipenuhi anggrek atau mungkin taman itu akan dijadikan private taman untuk seorang istri dimana saat membaca sang suami bisa sesekali melihat istri yang sedang bercocok tanam. Tanpa terasa anya tersenyum membayangkan itu, padahal belum tentu juga rumah itu dibuat oleh pasangan suami istri bisa saja rumah itu dibuat atas permintaan kakek untuk cucunya atau banyak kemungkinan lainnya. Anya tidak sadar sudah sejak beberapa menit lalu andra berdiri sambil memperhatikannya dan ada senyum yang terukir di bibirnya.


"Kok nggak diminum nya tehnya?" Ucap andra

__ADS_1


"Eh? Iya ini saya minum" tanpa ada adegan tiup-meniup teh panas itu langsung ditenggak oleh anya


"Aduuh panas banget ini, fuuhh fuuh"kata anya sambil mengeluarkan lidahnya yang kepanasan dan mengibas-ibaskan tangannya. Andra langsung mengambilkan air putih kepada anya.


"Makanya ditiup dulu nya, kamu mau debus apa?" Kata andra sambil terkikik


"Saya pikir kan nggak sepanas itu" kata anya setelah meminum air putih yang diberikan andra


"Kamu suka arsitek ya? Dari tadi minat banget lihatin maket saya?" Kata Andra


"Siapa yang nggak suka arsitek sih ndra , itu ilmu pasti yang dicampur seni kebayangkan gimana kerennya gitu saat dua hal itu di mix?" Ujar Anya


"Di mix memang jas jus" seloroh andra


"Saya serius ilmu pasti itu bagian penting dari manusia, terus seni salah satu esensi biar kita hidup dengan cara yang apik" Kata Anya Serius


"Terus ilmu sosialnya gimana? Tadi kamu cuma sebut ilmu pasti sama seni" Timpal Andra


Andra termenung fokus memperhatikan anya bicara. Anya yang melihat andra dengan intensnya memperhatikannya, hanya bisa berkedip-kedip sambil menetralisir debar jantungnya dan untuk memutus kontak mata diantara mereka anya pura-pura membuka kacamata nya.


"Aduh mata saya tiba-tiba berair nih"kata anya sambil mengelap matanya


"Kamu mau punya rumah yang kayak gimana nya?" Tanya andra


"Saya ?Yang kayak rumah saya sekarang saja cuma ditambah perpustakaan terus ada taman kecil yang asri dimana saya bisa tanam anggrek" Jelas Anya


"Kamu suka anggrek?" Tanya Andra


"Suka banget" Jawab Anya


"Biasanya cewek suka mawar" kata andra sambil memasang maketnya

__ADS_1


"Saya suka mawar, semua perempuan juga suka mawar mungkin, tapi saya lebih suka anggrek" Jelas Anya


"Kenapa anggrek?" Tanya Anggrek


"Karena ibu saya suka anggrek" Jawab Anya


"Oh jadi karena ibu kamu anggrek, berarti dirumah banyak anggrek ya" Ucap Andra


"Iya, cuma ada beberapa pot itu juga kering-kering karena suka nggak sempat urusnya" Jelas Anya


"Kamu nggak sempat urusnya?" Tanya Andra


"Iya kamu tau sendiri aku berangkat pagi pulang pagi hehehe" Ujar Anya sambil tertawa kecil


"Sibuk banget ya kamu" Kata Andra sambil tersenyum kecil


"Iya dong, aku wanita karir, hahaha. Nggak-nggak deh bercanda Ndra" Kata Anya tertawa renyah


"Cie yang wanita karir, ibu kamu sudah cukup tua sih ya buat urus bunga banyak-banyak. Yang urus taman depan juga Nara itu Nya, hahaha, soalnya dia kan gabut dirumah, kuliah kagak kelar-kelar" Kata Andra sambil tertawa


"Ibu aku udah nggak ada Ndra waktu ngelahirin adekku, ibuku preklamsia" Jelas Anya


Andra tak dapat mengucapkan sepatah katapun dari mulutnya dia hanya terpaku tenggelam dalam mata coklat madu anya kemudian andra memajukan wajahnya, anya bisa merasakan hembusan nafas andra dan dengan pasrahnya anya menutup matanya. Sampai beberapa detik tak ada pergerakan apapun, anya membuka matanya andra masih melihat matanya, andra membalas tatapan mata anya dengan senyuman dan mengelus dagunya dengan singkat kemudian fokus kembali dengan maketnya. Anya bergeming beberapa detik di posisinya sambil menengadah kemudian anya nampak linglung dan berdiri sambil membawa gelas ke dapur. Di dapur anya hanya dapat memegang dadanya sambil merutuki dirinya sendiri dalam hati "kenapa tadi aku memejamkan mata? Apa yang kuharapkan, andra mencium bibirku? Bodoh!!! Kamu mempermalukan dirimu sendiri" sambil memukul kepalanya.


"Kok kepalanya dipukulin?" Tanya andra sambil menghalau tangan anya agar tak memukuli kepalanya lagi


"Hahh!!" Kemudian anya tampak linglung melihat kemana saja asal jangan ke kelereng hitam mata andra


"Temenin saya sarapan ketoprak di depan ya, saya mandi dulu. Tunggu sebentar ya nanti saya antar pulang sekalian" kata andra dan anya hanya mengangguk lemah.


Satu hal yang terpikir oleh anya sekarang, dia ingin pulang. Tanpa terasa matanya sudah menggenang air. Dia merasa malu, bodoh dan kesal dalam waktu yang bersamaan. Malu terhadap andra dan bodoh karena sikapnya tadi. Kesal karena bisa-bisa dia berpikir andra akan menciumnya, berpikir andra menyukainya, menyukai perempuan biasa seperti dirinya.

__ADS_1


__ADS_2