
Dewasa ini forum media online sering disalahgunakan seseorang atau suatu kelompok untuk menyebar rumor yang belum teruji keabsahannya. Satu pihak yang menjadi korban akan merasa dirugikan tersebab stigma negatif yang dilayangkan memengaruhi prestise maupun reputasi. Bukan hanya di media sosial korban dirundung habis-habisan, dihujat sana-sini, di dunia fana pun ia dikerdilkan, dipandang hina dan diperlakukan diskriminatif.
Sudah tiga hari Felix menutup restorannya. Skandal tersebut menjangkiti sebagian populasi manusia seperti wabah penyakit. Menunggu situasi mereda dengan menghentikan sumber pemasukan, berdampak terhadap kesejahteraan para karyawan yang terkadang berkeluh-kesah di belakang. Namun jika memaksa buka seperti hari-hari biasa, hasilnya tetap sama, tidak ada pengunjung yang datang, pun bila ada, mereka hanya segelintir manusia kepo yang numpang makan.
Masalah ini membuatnya berpikir keras. Seseorang yang indenpenden sepertinya tak mudah goyah hanya dengan satu amunisi. Namun ada sosok bebal yang tak gentar meneror macam debt collector. Dialah putri si investor yang memprokamirkan diri sebagai perwakilan untuk sebuah konsultasi. Menurut Felix kehadirannya tidak membawa solusi. Alih-alih menjamin kemakmuran, ucapannya lebih terdengar seperti keharusan.
“Aku punya sepupu detektif yang sekelas Sherlock Holmes. Dia bisa menyelidiki skandal yang melibatkanmu saat ini. Tapi penawaranku tetap sama. Kau harus menikah denganku.”
Lensa hazel Felix menatap sengit entitas di depannya. Sikap tenang yang terkesan mengerikan tak mampu menggoyahkan kebebalan si perempuan. Dia bukan manusia yang mengentengkan sebuah pernikahan. Sesuatu yang sakral tak bisa didustai atau dipermainkan demi memuaskan jiwa oportunis yang menggelegak. Maka dia tetap persisten pada keputusannya.
“Apa kau tahu pernikahan adalah sesuatu yang tak bisa dilakukan sembarangan? Menikah berarti kau siap dengan segala hal yang mungkin terjadi di masa depan. Menikah artinya kau terikat. Sederhananya kau tidak bisa melepaskan diri sepanjang sisa hidupmu. Apa kau tidak berpikir tentang efek jangka panjang? Apa hanya bisnis yang ada di otakmu?”
Bukan respons yang diharapkan Felix yang tampak, sebaliknya wanita tanpa riasan yang sialnya tetap cantik itu mempertontonkan raut mendamba yang sangat menjengkelkan.
“Kau terdengar lebih berpengalaman dari seseorang yang sudah pernah menikah. Barangkali aku tak perlu merasa khawatir jika kau yang menjadi suamiku. Tak masalah bagiku terikat selamanya denganmu. You're the most amazing man I've ever met.”
Felix mengumpati kebodohannya. Perempuan maniak seperti Leona Collins tidak akan mempan hanya dengan cerita horornya. Justru setan pun takut padanya. Felix seolah kehilangan akal untuk menghadapi. Pikirannya semakin semrawut mendengar tawa samar yang datang dari balik meja kasir. Dia memejam, pelipisnya terasa berdenyut.
“Nona Collins, sebaiknya kau pulang dan memikirkan semuanya dengan tenang. Kita tak bisa terburu-buru dalam mengambil keputusan.”
Perempuan itu menegakkan punggung, mengubah posisi duduk dengan kaki bersilang. Ukiran senyum membingkai parasnya. “Tuan Baker, perlu kautahu, aku tak pernah main-main dengan ucapanku. Soal menikah, aku memang serius ingin menikah denganmu. Aku datang ke sini, tulus menawarkan bantuan. Aku percaya kau bukan orang yang seperti dituduhkan.”
Alis Felix naik sebelah.
“Kau percaya padaku?” Pertanyaan retoris tersebut dibumbui keragu-raguan, kemudian berlanjut dengan mata menyipit.
“Ya.”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Tak ada alasanku untuk tak memercayaimu.”
Hening. Bahasa menjadi sesuatu yang terbatas dan tak menyisakan satu pun. Kepala Felix berputar-putar, menayangkan tuduhan keji orang-orang terhadapnya dan pandangan sinis yang senantiasa membelenggu selepas isu kontroversi perselingkuhan beredar. Pembelaannya sama sekali tidak dihiraukan, justru berakhir dipersampahkan. Penghakiman menjadi mimpi buruk yang paling menghantui. Memercayai merupakan satu-satunya obat paling mujarab. Ajaibnya, perempuan yang tak masuk asosiasi malah memercayai tanpa pertimbangan.
“Menikahlah denganku. Maka akan kubantu menguak siapa wanita yang telah memfitnahmu dan menindaklanjutinya ke jalur hukum. Skandal ini bukan hanya menghancurkanmu, tapi juga menyengsarakan orang-orang di sekitarmu. Karyawanmu butuh kejelasan, nasib mereka ada di genggamanmu. Aku harap saranku menjadi renungan untukmu agar tidak gegabah menentukan mana keputusan yang terbaik.”
Felix ingin sekali menertawai diri sendiri. Leona Collins sungguhan menyeretnya pada predikat lelaki payah yang lemah. Kemudian muncul satu pertanyaan yang meletup-letup di kepala dan ingin segera dimuntahkan, “Kenapa kau mau menikah denganku?”
“Karena aku mencintaimu.”
Keh, kekonyolan macam apa lagi ini?
Persepsi tentang stereotip masyarakat yang menempatkan pria sebagai pendahulu dalam sebuah hubungan asmara terpatahkan oleh seorang gadis berwajah klasik yang terlihat begitu polos. Felix seolah menyaksikan Leona berdiri di antara ribuan manusia yang menolak patriarki. Dia begitu merdeka, mandiri, berkuasa dan lebih layak disebut ratu feminisme.
“Let me speak my opinion,” sela Felix sebelum Leona kembali berbicara. “Aku tak melarangmu untuk mencintaiku, itu hakmu sebagai makhluk yang bernyawa. Silakan lakukan apa pun yang menurutmu baik. Tapi maaf, aku tidak bisa membalasmu, apalagi menikah denganmu. Aku masih sanggup mengatasi kekacauan ini sendiri, tanpamu atau siapapun. Jadi mengertilah. Aku sangat tidak nyaman.”
Berapa kali pun tertolak, tekad Leona tidak pernah berubah. Hatinya memang telah lama retak, namun Leona tak sekali pun berputus akal. Rasa berdenyut ini tak menyurutkan egonya untuk tetap bertahan di tempat yang sama. Felix adalah cinta seumur hidup yang takkan sanggup terganti oleh siapapun.
“Tuan Baker, ingatlah satu hal, semakin kau menolakku, maka semakin intens aku mengejarmu. Penolakanmu adalah zat adiktif yang membuatku kecanduan.” Smirk terpahat di bibirnya. “Aku akan menunggu kau datang sendiri padaku, Felix Baker.”
Angin beraroma wangi menampar wajah Felix. Emosi tunggalnya yang berjejalan di dada siap disemburkan saat itu juga.
-:-
Setelah mencak-mencak dan menyumpah serapah sekebun satwa, Felix memutuskan menepi di rooftop yang sepi. Gadis sinting yang membikin hipertensi itu melenggang pergi tanpa permisi usai memukulnya telak dengan ancaman bertubi. Detak jantungnya yang berdentum cepat dan konstan perlahan berdamai. Tenang, sejuk dan nyaman adalah representasi dari sebuah kelegaan sehabis menyeberangi neraka dunia yang hakiki.
__ADS_1
Ruang di sebelahnya yang kosong tahu-tahu terisi sesosok pemuda berperawakan gagah juga tinggi. Satu kaleng coke dingin terangsur dari tangan berbulu yang segera ia sambut dengan senang hati. Segar di tenggorokan yang menjalar ke kerongkongan hingga perut sedikit mendistraksi kemelut jiwa yang tak terperi. Satu perkara belum rampung, timbul komplikasi lain yang memantik laju darah bereskalasi.
Felix tidak pernah belajar dari pengalaman. Berhubungan dengan wanita bukan hanya menimbulkan kehancuran diri, namun juga menyisakan sebongkah emosi yang sulit ia pahami. Perihal rumor yang beredar, dia tidak nol sama sekali. Ada beberapa praduga yang berenang-renang di kepala. Tapi Felix tidak bisa menuduh asal tanpa bukti. Untuk sementara, dia akan diam dan mengikuti permainan si namimah sambil menyusun strategi.
Masih dengan sisa tawa yang membekas di wajah, makhluk di sebelahnya bersuara, “Beruntung sekali ya Anda, dicintai segila-gilanya gadis seluarbiasa Leona Collins.”
Felix berdecak. “She's not special at all. She's just a stranger with a mental disorder,” ungkapnya, membuang atensi ke jalan raya yang hampa lalu-lalang.
Si pria bermata abu-abu memandang Felix dengan takjub. “What a stupid fellow you are, dude! Yakin sekali heh menolak seorang Leona Collins? Tidak menyesal? To me, she was gorgeous, even though she's out of my league.” Dia terkekeh, lalu menenggak coke yang masih terasa penuh.
“Dia tidak sepenting itu untuk disesali. Justru kau akan kerepotan jika berhubungan dengan gadis otoriter seperti dia.”
“Matamu itu yang terlalu buta untuk melihatnya secara nyata. Jika aku jadi kau, aku tidak akan berpikir dua kali. Dia sempurna dalam segala aspek. Siapa sih yang tidak kenal dia, sosok cantik yang cerdas, ramah, humble, supel, dan satu lagi,” ujarnya menggebu, mengacungkan jari telunjuk. “dia seorang multitalent yang pandai berpose di depan layar dan merancang busana sekaligus. Bahkan dia dijuluki tokoh publik yang paling tahu cara beretika. Jangan lupakan kecantikannya yang selevel dewi Aphrodite,” terangnya, mengimajinasikan gadis dalam topik tersenyum, indah bak permata.
“You're too much. Jangan bertingkah seperti pria yang tak punya harga diri, Timothy Hemsworth,” tekan Felix dongkol. “Leona Collins cuma gadis pemaksa yang bermuka dua. Dia psikopat. Perempuan sakit jiwa yang punya obsesi gila.”
Tawa sepihak mencemari udara lembab musim panas kota Manhattan. Lucu sekali Felix Baker ini, bilang anti terhadap Leona Collins, tapi membencinya sampai kerak bumi. Harusnya abaikan sajalah andai tak suka, mengapa pula dia berkobar-kobar seperti terbakar api cemburu. Sejatinya, hipokrit adalah penyakit kronis manusia yang mendustakan hati dan mendewakan gengsi.
Dahulu sekali Felix tak begitu peduli ada atau tidaknya si gadis Collins di sekitar. Leona yang dikenalnya sebelum menjadi model dan perancang busana adalah sosok gadis berponi tebal dengan kacamata dan berkawat gigi. Sangat menduplikasi Betty La Fea yang pada zamannya sering eksis di layar TV. Leona juga merupakan teman seangkatan saat elementary hingga senior high school.
Felix sama sekali tak terganggu akan eksistensinya. Leona yang berpenampilan norak bukan masalah berarti. Namun semenjak dia melanjutkan pendidikan di Le Cordon Bleu Paris, dia mulai terusik dengan kemunculan Leona yang selalu di mana-mana. Lalu dia tersadar bahwa selama empat tahun tinggal di negeri orang, gadis itu mengintilinya seperti anak ayam. Dengan penampakan berbeda ala wanita dewasa, Felix baru mengerti Leona berkuliah di kota yang sama namun kampus yang berbeda.
Membenci barangkali bukan frasa yang tepat untuk menggambarkan betapa dirinya muak terhadap gadis itu. Felix hanya terintimidasi oleh kelakuannya yang seperti penguntit ulung. Namun sikap si gadis yang terlampaui transparan sepertinya lebih cocok dilabeli gangster sejati. Leona tidak hanya menginvasi privasi, dia juga si pengendali yang pantang mundur merecoki hari-hari dengan berpura menjadi pelanggan restoran abadi. She crossed the line. Maka tak salah bukan, jika Felix menyebutnya si sakit jiwa bermuka dua.
“Hati-hati dengan hati, Bro. Terlalu membenci bisa menjadi jalan menuju cinta,” kelakar Tim. Ia kembali tertawa. Felix menggeram jengkel.
“Fuckk that shittt.”
__ADS_1
-tobecontinued-