
Dalam lagunya berjudul New York, New York, Frank Sinatra melafalkan I want to wake up in the city that never sleeps pada bait ketiga. Namun kiranya tidak hanya popular lewat senandung, kota yang dijuluki The Big Apple itu memang terkenal pula dengan sebutan the city that never sleeps. Meski begitu, penduduknya pun tak perlu turut serta begadang sepanjang malam. Seperti halnya pria nokturnal yang telungkup di sana.
“Sok hebat sih mau main sendiri, begini 'kan akibatnya.” Leona menggerutu, menyilangkan kedua tangan seraya melirik judes pria yang masih terlelap bak mayat.
Hatinya meradang mengingat peristiwa kemarin saat ia memergoki suaminya hard-on tapi menolak dibantu. Alhasil pria itu menghabiskan waktu yang entah berapa lama di kamar mandi. Leona bahkan sampai ketiduran dan tidak tahu kapan Felix selesai dengan urusannya. Tahu-tahu pria songong itu sudah meringkuk di sisinya. Kendati tak mampu melayani lantaran terhalang menstruasi, Leona sanggup melakukannya dengan alternatif lain.
Di negara Republik Konstitusional Federal, khususnya New York yang memiliki citra sebagai kota metropolis yang hiruk-pikuk, Leona akui sering diledek si pencundang yang puritan sebab masih virgin di usia yang hampir kepala tiga. Padahal bukan hal terlarang menjalin hubungan bebas dengan lawan jenis. Rata-rata orang dewasa membangun rumah tangga di luar pernikahan. Sseks tanpa status resmi lumrah terjadi.
Namun bagi Leona yang merasa dirinya terpelajar, kehormatan adalah aset krusial yang wajib dijaga. Selain menghindari STD atau penyakit menular seksual, Leona mati suri jika melakukannya dengan lelaki yang tidak dia cinta dan percaya. Nahasnya, saat kesempatan itu di depan mata, Felix malah bersikap sesumbar seolah tak butuh ia. Harga diri selaku istri pun terluka. Betapa pun tidak berpengalaman, namun jangan sepelekan wawasannya yang segudang.
Gadis berkaus hitam itu lantas menyongsong pria yang tak juga bangun setelah dia goyang-goyangkan dan teriaki berangasan. Ponsel di nakas yang bergetar urakan sejak dini hari tak pula membangkitkannya dari tidur yang seperti orang mati. Menaiki tubuh si pria dan menduduki punggungnya adalah trik pamungkas yang diharapkan sakti. Jemarinya pun berkontribusi menjepit hidung bangir itu hingga si pemilik raga kesusahan berespirasi.
Leona menyeringai begitu menyaksikan kelopak indah yang mengerjap-erjap demikian sklera mata yang tampak memerah. “Bangun, pemalas,” gerundelnya gemas melihat palpebra yang kembali mengatup. Berujung kesal, Leona mengapit lagi hidung si pria dengan sangat barbar, sampai kemudian tangan yang semula lemas, menepuk-nepuk keras permukaan kasur seolah tercerabut kebinasaan, baru setelah itu Leona melepas siksaan. “Ini balasan setimpal untukmu yang berani meremehkanku.”
“Kau berniat membunuhku?” tuduh Felix terengah-engah seperti habis lari marathon.
“Aku memang pendendam, tapi mana bisa aku melakukan itu padamu suamiku sayang? Aku hanya menguji. Sebelum kau mendapat karma, kuberi ganjaran lebih dulu supaya kau terbiasa,” dalih Leona sewenang-wenang, tidak ada sesal sama sekali.
Felix membuang napas. “You're not God, kau tidak bisa berbuat semaumu.”
“Aku bisa mengendalikan seluruh dunia meskipun aku manusia biasa,” sanggah gadis itu, takabur. “Kau terlalu merendahkan kemampuanku. Lihatlah, kau bahkan kesulitan menguasai gairaahmu sendiri.”
“Perlukah kau membesar-besarkan hal yang tidak penting?” sahut Felix tak habis pikir.
“Aha!” Lampu pijar di kepala seketika menyala terang. Perdebatan Felix memancing ingatan Leona pada suatu hal yang genting. Gadis itu menjentikkan jari. “Benar! Ada yang lebih penting dari itu.” Bokongnya kontan bergeser ke sisi ranjang tepat di sebelah sang suami. Memberi peluang pria tercintanya bernapas lega sehabis memikul beban seberat 128 pounds di punggung.
__ADS_1
“Hey, come on you lazy wake up! Wake up wake up wake up, hey hey hey, wake up lazy you fuc—”
“Berisik,” tebas pria yang masih tengkurap itu sekaligus memblokade pendengar dengan bantal.
Leona tak patah arang, dia buru-buru menangkap lengan atas suaminya sembari mengguncang-guncang tidak sabaran. “Bangun sekarang juga atau kau akan melewatkan berita penting pagi ini, hm?”
Perkataan si gadis menstimulus Felix menggulingkan tubuh hingga telentang. Matanya yang mengantuk dan lengket terpaksa membuka. “Apa sih?”
Tangan tangkas itu lekas memungut ponsel yang tergolek di nakas persis di samping Felix. Selepas menemukan artikel di salah satu SNS, Leona membalikkan layar menghadap sang suami yang belum melek sempurna. “Orang yang memfitnahmu sudah menyerahkan diri.”
Mata Felix yang mengeryip, terasa perih saat face to face dengan cahaya silau si benda elektronik. Lamat-lamat ia melihat foto seorang pria berpakaian hitam selaras ketika dia tampil di acara TV. Walaupun wajah tersamarkan, tetapi sudah jelas pria itu adalah dia beberapa bulan lalu. Caption yang cukup panjang membuat Felix malas membaca. Beruntung Leona memaparkan secara singkat isi berita.
“Dia di NYDP sejak semalam. Bukankah kita harus ke sana dan menemui wanita itu, menyiksanya jika perlu?”
“Hm.”
“Felix, hey!”
Leona sungguhan tidak mengerti akan sikap acuh tak acuh suaminya di saat situasi gawat seperti sekarang. Haruskah Felix disiram air panas dulu supaya otaknya tidak membeku?
-:-
Usai debat kusir yang tak ada ujung-pangkalnya, Felix dan Leona akhirnya menginjakkan kaki di 1 Police Plaza. Mereka memutuskan menaiki taksi kuning untuk sampai ke tempat tujuan yang hanya memakan waktu lima menit demi menghindari marabahaya, seperti misalnya Leona yang menyetir ugal-ugalan atau Felix yang kondisinya belum prima.
Pada waktu menjelang siang, mereka duduk berdampingan sembari bertatap muka dengan si tahanan di sebuah ruangan bersekat meja kayu. Masing-masing sisi dijaga oleh polisi pria dan wanita berseragam hitam yang sama-sama bertubuh gempal. Bodohnya, Leona malah mencuri pandang pada dada kiri mereka yang tertempel lencana.
__ADS_1
Sedangkan wanita bersurai pirang yang sepasang tangannya terborgol, menunduk sejak perjumpaan awal. Hingga kini, pandangannya tetap ke bawah, tak cukup bernyali menatap Felix yang berwajah horor dan Leona yang tak kalah seram bak meneror. Bahkan wanita itu berjingkat hanya mendengar Leona yang berdeham.
“Motivasi apa yang mendorongmu nekad melakukan kejahatan amoral? Tidak tahukah, tindakanmu itu telah merugikan banyak pihak? Terutama suamiku yang kauhinakan dengan keji.” Tampaknya semangat Leona lebih membara dari pada Felix yang bersangkutan. “Kami butuh penjelasan.”
Gemetar menguasai tubuh si wanita. Kulitnya memucat dan napasnya tersendat-sendat. Terang dia ketakutan. Begitu pun untuk menjawab pertanyaan, mungkin terasa seberat mengangkat berton-ton muatan. Mudah bagi Leona menyaksikan semua kekacauan itu dari mata sebiru miliknya.
“Kenapa tidak kaujawab? Seharusnya lebih gampang merespons pertanyaanku ketimbang merekayasa penghinaan terhadap suamiku, bukan? Kau butuh waktu yang tidak hanya satu detik untuk merancang skema, tapi mengakuinya cukup detik ini tanpa repot berpikir. Benar?”
Si wanita yang telah ditetapkan sebagai tersangka atas bukti-bukti eksplisit tersebut membuka dan menutup mulut lebih satu kali. Kegelisahannya benar-benar tak bisa dinegosiasi. “Sa-saya m-minta maaf,” gugupnya, sekilas melirik pria bungkam yang menatap tajam. Lalu kembali menghindar seakan cemas terbaca. “Saya m-menyukai Chef se-sejak lama.”
“Sejak kapan?!” potong Leona secepat cahaya. Jiwa bucinnya terusik oleh penyataan wanita lain yang lebih gila dari pada ia dalam hal mencinta. Aliran darahnya pun tersulut hingga mendidihkan kepala.
Bola mata itu bergerak-gerak liar. Kebingungan melingkupi air muka dan terhampar melalui gesturnya. Wanita itu tak jera mencuri pandang ke arah Felix yang menatap dengan raut tak terprediksi, tapi dalam sekejap melepaskan atensi karena dilematis yang membanjiri. “Sejak se-sering melihatnya di TV. Chef sa-sangat memukau, sa-saya jatuh cinta, tapi sadar tak bisa me-memiliki.”
Leona meremas kuat tangannya sendiri demi tak meluapkan kebengisan dengan menggebrak meja. “Lalu kaupikir menggunakan cara picik bisa membuatmu memilikinya?!” tukas Leona setengah membentak. Kesabarannya rengkah menyisakan puing-puing tajam. Namun gejolak api dalam diri perlahan meredup tatkala cekalan di lengan dia rasakan. Telapak Felix yang besar nan hangat ternyata satu-satunya yang sanggup mengatasi naik-turun emosinya.
Pada hakikatnya jika Leona sudi bercermin, boleh jadi dia substitusi dari si pelaku kejahatan. Bukankah dia juga sesinting itu atas nama cinta? Apa saja yang sudah dia halalkan untuk mendapatkan Felix? Jawabannya lebih dari seribu cara. Munafik adalah identitasnya. Buruknya, dia mendikte diri sebaik-baik manusia lantaran tidak menempuh jalan kotor dalih menggenggam bahagia.
Felix is a given name that stems from Latin felix [ˈfeːliːks] (genitive felicis [feːˈliːkɪs]) and means "happy" or "lucky". (Wikipedia)
“Screw you.” Leona bergumam memaki si wanita yang menggeleng-geleng. “Pertanggungjawabkan perbuatan busukmu! Aku bersumpah menuntutmu dipidana mati jika kau tidak segera mengadakan konferensi pers! Bersihkan nama baik suamiku!” Terbongkar juga belangnya, tata krama yang selama ini diagungkan musnah sekejap berkat kemurkaan yang mengangkasa.
Di lain sisi, Felix yang diam bukan berarti tak peduli. Nyatanya dia sanggup menerka apa yang sesungguhnya terjadi. Melebihi profiler yang andal membaca gerak-gerik seorang kriminal, Felix yang cenderung introvert justru memahami maksud pancaran risau si terpidana. Seseorang yang ketakutan tersebab terlibat tindak kejahatan, tidak akan bergelagat segusar demikian, kecuali dia diancam. Orang mencuri, sadar dia telah mencuri, artinya dia juga paham akan hukum negara.
Maka untuk kasus ini, Felix dapat mengkaji sebuah presumsi. Wanita ini cuma alat pengecoh yang bertujuan menurunkan level kewaspadaan serta melengahkan. Mungkinkah game yang sesungguhnya telah dimulai? Dada Felix bertabuh kencang begitu menyadari statusnya kini telah naik bukan sekadar siaga, tetapi sudah pada tingkatan awas. Peringatan ini menunjukkan ancaman bahaya, besar kemungkinan bukan dia yang menjadi fokus utama. Melainkan ....
__ADS_1
Felix menoleh waswas, lensa hazelnya bergetar kalut memandang tepi wajah istrinya. Samar-samar dia menggeleng.
Tidak mungkin dia ....