
Satu container dan tiga styrofoam box memenuhi dapur yang masih sepi manusia. Felix menghampiri Timothy yang baru mengeluarkan hake fish setelah rampung urusan dengan pihak supplier. Dia mengambil alih ikan tanpa kepala seukuran paha orang dewasa tersebut dan membaringkannya di meja pantry. Sementara ia bersiap menguliti, Timothy membuka box lain yang tergeletak di lantai. Pria dengan piercing di telinga itu segera memindahkan kerang pisau cukur ke baskom kotak stainless steel yang telah tersedia. Kemudian memisahkan dagingnya dari cangkang.
Mereka tiba dua jam lebih awal dari para pegawai. Bagai satu tim yang kompak, keduanya sepakat mengkreasikan menu baru. Berada di bawah tuntutan standar yang sangat ketat, mereka terus berupaya memaksimalkan kinerja demi mempertahankan satu penghargaan bergengsi agar tak keluar peringkat. Michelin Guide seperti kitab suci di bidang kuliner. Penilainnya sangat memengaruhi bisnis dan profitabilitas restoran. Tak mungkin Felix melepas pencapaian begitu saja.
Dia membungkuk dengan fokus tertuju pada irisan-irisan daging ensis yang menyerupai daun moringa. Menatanya sedemikian teliti di atas piring menggunakan pinset hingga terbentuk seni luar biasa. Sebagai sentuhan akhir, dia menyemprot gas torch untuk menghasilkan warna daging yang cokelat keemasan, lalu dua sendok makan kaldu bawang panggang dan birch putih disiramkan sebagai penyempurna. Timothy yang berdiri di sisinya memberi dua jempol dengan senyum bangga. Lantas mereka menyicipinya, menganalisis rasa setelah menyentuh lidah, dan mengangguk-angguk begitu menemukan jawaban.
“Perfecto! Menu ini akan segera fenomenal. Kupastikan itu!” ungkap Timothy dengan gaya bicaranya yang khas. Bibirnya bahkan seperti mau robek saking lebarnya ia tersenyum. Kebalikan dari Felix yang hanya merespons seadanya.
“Bagaimana menikahi Leona, apa rasanya senikmat ini?” sambung pria metroseksual itu menaik-turunkan alis. Lirikan jail tak luput menyorot Felix yang nyaris selalu tak berekspresi. Menu baru seolah menjembatani Timothy untuk mengusili sahabat kutubnya satu ini. “Jadi, apa rasanya senikmat daging kerang pisau cukur ini, hm?” ulangnya menggebu, tak sabaran.
Felix tak acuh, dengan ketus dia bilang, “Pahit!” Kemudian bayang-bayang peristiwa kemarin berotasi di kepala. Berawal dari Leona yang memuja-muja si hewan melata, memperkenalkan dia sebagai ayah tiri, hingga tak mengindahkan perintahnya agar membawa keluar makhluk hijau itu dari unitnya. Gadis itu justru menyerang balik hingga membuatnya darah tinggi.
“Kupikir dia perempuan yang manis dan selembut puree?” sanggah pria berseragam putih berlapis apron hitam itu merasa heran. Pasalnya Timothy sangat mengidolakan Leona melebihi fanboy girlgroup Korea.
Gelengan kepala adalah bantahan Felix. Pria yang berpenampilan serupa itu sangsi terhadap impresi sahabatnya. Puree yang memiliki konsistensi sehalus pasta, tentu menjadi perumpaan paling bagus untuk Leona yang kasar dan setajam duri.
Kekehan kemudian memecah suasana yang tiba-tiba sesunyi kuburan. Timothy bergeser mendekat. Tangannya lantas menepuk bahu Felix yang lebih tinggi. “Kukira akan ada peristiwa berdarah di malam hari, ternyata tidak, ya?” ledek si pria bermuka nakal. Kurang paham apa lagi ia terhadap sahabatnya ini yang over statis jika menyangkut perempuan? “Padahal aku sudah menyiapkan telinga untuk mendengarmu berbagi pengalaman bercinta di malam pertama,” selorohnya, terkekeh.
Tak ada raut berarti di wajah itu. Felix tak menanggapi serius ujaran Timothy. Dia yang telah kembali sibuk mengolah langoustine, hanya terkonsentrasi pada hidangan setengah jadi itu.
“Aku belum tahu bagaimana menghadapi pernikahan ini sebagaimana mestinya,” celetuknya setelah dilanda badai hening. Dia menarik napas panjang. “Yang kupikirkan hanya memanfaatkan kesempatan selagi ada.”
Timothy yang di seberang segera menoleh. Tak menyela, ia menunggu Felix melanjutkan bicara.
“Saham sudah aman di tangannya. Aku bisa mengambil alih dengan mudah. Terlebih yang kutahu dia tak sedikit pun punya niat mengakuisisi. Kuakui dia memang cukup naif, karena itu dia tak terlalu membutuhkan restoran ini.”
Perhatian Timothy seluruhnya terpusat pada Felix.
“Kata-katamu seolah kau menekankan bahwa pernikahan hanya seputar investasi bisnis?”
“Aku tidak mengatakan itu. Ini hanya soal peluang. Aku tak bisa menyia-nyiakannya, kan?” tampik sang Eksekutif Chef percaya diri. “Lagi pula, kami sama-sama diuntungkan,” lanjutnya tak acuh. Bicara tentang untung-rugi, sebenarnya gadis itu yang untung lebih banyak daripada Felix. Bayangkan jika Felix laki-laki kasar yang temperamen, Leona pasti sudah habis dicincang karena kelakuannya yang melebihi batas wajar.
__ADS_1
“Selain itu, status pernikahan kami juga mempermudah jalanku mengungkap pelaku. Aku bisa menggunakan gadis itu untuk memancingnya keluar,” jelas Felix separuh tidak yakin. Meski tekadnya telah bulat, namun hatinya digelitiki ragu.
Timothy yang tak putus menyimak, lantas berderap ke arah Felix yang tampak tepekur. Sebagai lelaki yang ngaku-ngaku fans berat Leona Collins, tentunya ia merasa tak terima. Enak saja idola tersayangnya dijadikan santapan predator.
“Ingatkah kau beberapa waktu sebelum pernikahanmu digelar?” Nada berapi-apinya tak sampai ujung lidah. Inilah bagian tersulit seorang Timothy, menggertak Felix si manusia batu tak berhati. “Kau tidak lupa, kan, bagaimana orang gila yang mengklaim dirinya sebagai mantanmu itu menyebar foto asusilamu dengan Jessica yang jelas-jelas palsu. Bahkan sebelum itu, dia menuduhmu abusive, peselingkuh, rapist. Tak tanggung-tanggung pula dia meretas ponselmu sampai ke akar-akarnya. Apa kau lupa saat itu istrimu satu-satunya orang yang percaya dan membelamu gila-gilaan di media, sementara orang lain merendahkanmu seperti hina?”
Felix membasahi bibir. Sejujurnya dia paling tidak suka berlindung di belakang punggung wanita. Namun pengakuan Leona hari itu memang tak bisa dia lupakan. Gadis itu tidak hanya mendeskripsikan perjalanan hidupnya dari tujuh tahun hingga usia duapuluhan saat mereka sama-sama di Prancis, tapi juga melampirkan beberapa potret yang menunjukkan betapa bersih gaya hidupnya.
Kalau saja bukan untuk tujuan baik demi meluruskan permasalahan, barangkali Felix akan mencerca gadis itu yang telah mencuri eksistensinya secara diam-diam. Satu hal yang dia sadari, dibalik keanomalian gadis itu, ternyata ada sisi baik yang sanggup menolongnya. Di luar kepemimpinan Walikota, Leona pun lebih berpotensi didengar karena pengaruhnya yang cukup besar di dunia entertainment.
Namun Felix tidak serta merta memercayai. Berita buruknya, dia punya krisis kepercayaan, terutama terhadap makhluk yang berjenis perempuan.
“Lalu kau bilang apa tadi? Ingin menjadikannya umpan? Apa aku tak salah dengar? Memang kau tak tahu seberapa berbahayanya itu? Mengumpankan dia berarti kau menargetkannya pada para penjahat di luar sana. Kau sungguh ingin mencelakai istrimu sendiri?” Omelan Timothy yang menggebu seketika menyadarkan Felix dari lamunan.
Felix memang sahabat dari kepompong, dan Tim akan selalu menjadi garda terdepan melindunginya dari makhluk yang entah itu nyata atau astral. Seperti halnya satu manusia yang cuma berani bergembar-gembor di media tanpa mau menghadap Felix seorang diri atau memakinya langsung tanpa melibatkan orang lain.
Namun berbeda cerita jika Felix sampai nekad menumbalkan Leona demi kepentingan sendiri. Maka Tim yang punya solidaritas tinggi, berupaya mencegah. “Leona mencintaimu seperti manusia terobsesi itu benar, tapi dia tak pernah berbuat jauh sampai melecehkanmu.”
-:-
Menjelang jam makan siang, Leona berkunjung ke restoran. Dia terlalu bingung harus melakukan apa di kondominium Felix yang sudah rapi dan bersih. Menjadi pengangguran sungguh membikin uring-uringan. Kegiatannya selalu berpusar pada modeling dan bisnis. Berlibur tanpa kesibukan menjadi ide terburuk.
Seharusnya dia tahu risiko menikahi homo sapiens semacam Felix. Mana peduli pria itu terhadap dirinya yang jelas-jelas dibenci. Keputusan nekadnya tak pernah dia sesali. Hanya saja, dia tak mengira Felix lebih mengutamakan bekerja di hari kedua menikah daripada berusaha mendekatkan diri dengannya.
Setelah menghabiskan set menu makan siang, Leona meminta sommelier memanggilkan Felix untuknya. Butuh sepuluh menit sampai akhirnya pria itu keluar dari dapur. Penampakannya tidak buruk sama sekali, sebaliknya Felix terlihat menawan dengan pakaian khusus Chef yang serba putih. Pria itu lantas berdiri di sisi kursi, tepat menghadapnya.
“Apa kau menikmati hidangannya?”
Leona menarik seulas senyum. Sapaan pertama laki-laki itu tipikal sekali seolah dia tamu sungguhan. “Still delectable as always, you cook with strong spice of love.”
Pengakuan manisnya yang jujur ternyata tidak mempan. Felix tampak biasa-biasa saja tanpa reaksi apa pun. Leona tak tersinggung karena telah sering diperlakukan seformal ini layaknya tamu agung.
__ADS_1
“Okay, enjoy your time. Aku akan kembali ke dapur.” Menghindari basa-basi, Felix berlalu dari sana. Mencegah Leona agar tidak mencegat langkahnya, namun celakanya gadis itu malah mengekor di belakang.
“Felix, aku butuh waktumu sebentar.”
Pria itu berhenti, menghela napas, kemudian berbalik badan. “Ada apa?”
“Aku tidak punya kesibukan di rumah dan ... sendirian.”
Leona pikir senjatanya ampuh, tapi yang terjadi kebalikannya. Felix tak peduli.
“Lalu?”
“Aku sangat-sangat kesepian.”
Tak menyerah, Leona menunjukkan puppy eyes untuk menggoyahkan, sayangnya hal itu masih belum berfungsi.
“Apa hubungannya denganku?”
Mulai timbul percikan geram. Gadis itu merengut, menipiskan bibir. “Tidak ada! Aku tidak tahu saja rasanya semembosankan ini jadi pengangguran!” sentaknya. Berlagak merajuk seperti anak kecil. Dalam benak, Felix mencibir istrinya yang terlalu kekanakan.
“You wasted my time.”
Tanpa menghiraukan gadis itu yang melototinya, Felix kembali melengos. Pekerjaan di dapur lebih penting ketimbang bercakap-cakap tidak jelas dengan gadis tukang cari perhatian.
“Apa sih dia, aku ini istrinya loh, apa dia lupa kemarin menikah denganku. Sikapnya memang tidak pernah berubah,” gumam gadis itu, memuntahkan semua rasa yang menggerundel di dada. “Lihat saja, akan kubuat kau bertekuk-lutut!”
Masih berbicara sendiri, Leona mengambil tas di kursi. Berjalan menuju kasir dan membayar tagihan. Setelah itu dia benar-benar keluar dari restoran, meninggalkan suaminya yang kerja sekeras kuda sampai abai akan eksistensinya.
“Aku harus mengatur strategi baru.”
Sebuah smirk terbentang di wajah. Leona tak perlu risau tersebab rencananya gagal kali ini. Alphabet A sampai Z, artinya kesempatan untuk merobohkan ego si pria masih sebanyak yang dia mau.
__ADS_1