Love Disease

Love Disease
Chapter 18


__ADS_3

Semenjak menikahi Felix, akhir pekan selalu menjadi rutinitas wajib bagi Leona untuk mengarungi waktu bersama suami tercinta. Jika dahulu Felix kerap menolaknya mentah-mentah, kini bahkan pria itu rela meluangkan menit berharga demi menuruti keinginannya. Banyak hal yang berubah seiring langkah mengembara. Termasuk tempramen Felix yang kian menampakkan hilalnya.


Masih terngiang di kepala, betapa bentakan pria itu sukses mengkerdilkan segala ego yang tersisa. Felix yang dikenalnya, tak sepemarah itu walau sering terpancing olehnya. Felix lebih rajin mengalah daripada meladeni. Maka Leona mempertanyakan gerangan pria itu yang tiba-tiba menjelma ibu tiri. Bukankah Felix tahu benar, Dean adalah asistennya?


Terkadang Leona berprasangka. Ketika Felix sangat baik terhadapnya, pria itu sungguhan seperti anak baik yang paling suci dan tak punya dosa. Kalaupun ada noda, barangkali sebatas tattoo di jari tengah. Felix manusia perfeksionis yang mendekati sempurna. Kendati perilakunya kerap disalahpahami dan dianggap sosiopat oleh orang-orang, Felix tak pernah menggubris atau bahkan membalas.


Kebaikan hati pria itu tak terhingga. Sempat Leona berpikir kemungkinan Felix tengah merencanakan hal buruk kepadanya dengan berlagak sebaik tokoh protagonis dalam drama. Kecurigaannya tentu beralasan, sebagaimana prakarsa pria itu yang hendak membunuhnya jika terbukti dia jahat. Leona overthinking dan menduga laki-laki itu sudah tahu perbuatannya, namun memilih diam agar bisa menghancurkannya di kala dia terlena.


Apakah benar Felix semanipulatif itu?


Namun Leona memahami sebuah makna; there is a price for a pay. Maka ia pun cukup tahu diri, berapa harga yang harus dibayar untuk kejahatannya yang tak terampuni.


Alih-alih ketakutan, Leona justru memekik kesakitan saat tiba-tiba lengannya tersiram kopi panas. Sensasi terbakarnya perih luar biasa, begitupun kulitnya yang seakan ikut mengelupas. Sampai kemudian dia tersadar ada sosok wanita yang berdiri di hadapan dan berkali-kali memohon maaf. Namun kedatangan para kru yang beramai-ramai hendak memberi pertolongan, mengalihkan seluruh perhatian. Leona tak lagi fokus, rasa sakit di tangan terasa lebih dominan.


“Nona, mohon maafkan saya, seharusnya saya menjaga Anda lebih baik.” Adalah Dean yang menyerobot masuk dengan segala kepanikan dan penyesalan.


-:-


Felix berlarian di sepanjang selasar. Pandangannya mengedar ke setiap titik yang terlewat dengan tangan menggenggam erat handphone yang terus bergetar. Seseorang baru saja menghubunginya dan memberitahu perihal kondisi Leona yang mengalami luka bakar. Firasat buruknya menjadi nyata dan kini berujung petaka. Felix bahkan sudah memprediksi kemalangan seperti ini akan segera tiba. Namun dia tidak menyangka Leona betulan menjadi targetnya.


Begitu kaki berpijak di depan pintu IGD, Felix mengatur napas yang tak beraturan sembari memburu pandang. Tepat ketika kepalanya berpaling ke kanan, dia menemukan Leona yang berbaring di ranjang. Pada waktu bersamaan, percikan api berkobar di irisnya yang secokelat batu karang. Keberadaan lelaki lain di sisi Leona tak ayal memantik bara kemarahan. Posisi keduanya yang seolah berpelukan pun serta merta menyulut Felix lekas berderap dengan mata menyalang.


“Leona, bagaimana keadaanmu?”


Dua orang yang sesaat lalu belum menyadari hadirnya, sontak menoleh tatkala suara berat menyapa. Dean tampak menyunggingkan senyum ramah seperti biasa. Sayang, tak bertahan lama begitu memahami ke mana sorot tajam mengarah. Sejatinya Dean hanya berniat membantu duduk dan sama sekali tidak bermaksud lain sebagaimana tatap sengit tersirat. Demi tak mau memperpanjang kesalahpahaman, Dean pun lantas melerai rangkulan.

__ADS_1


“Felix!” Rona bahagia merebak di pipi. Leona berbinar kendati kaca-kaca melapisi. “Aku ... aku terluka, tapi aku baik-baik saja.” Tidak ada dalam sejarah Leona menangis darah hanya karena luka, tetapi anehnya, melihat Felix datang dengan penampilan berantakan dan nada suara yang terdengar mencemaskan, seketika meluruhkan seluruh pertahanan.


“Kau terluka, mana bisa disebut baik-baik saja. Katakan jika memang sakit, kau tidak perlu sok kuat dan menutupinya dariku,” timpal Felix, berlagak memarahi meski dirinya sendiri tahu bahwa inilah bentuk dari rasa peduli.


“Kau mencemaskanku?”


Tatapan sendu itu tak lantas melemahkan kalbu. Felix yang enggan terlihat rapuh, dengan tegas berkata, “Tentu saja. Kau tidak lihat aku berlari hanya untuk menemuimu?”


Mata mereka saling merefleksi bayang-bayang diri. Felix merasa betah menatap iris biru yang menyerupai kupu-kupu. Dia sukar menampik keindahan itu. Keindahan yang hanya satu di dunia, hingga takada hal lain yang mampu membuatnya terpaku.


“Jika kau tahu aku langsung meninggalkan pekerjaanku setelah mendengarmu kecelakaan, kau tidak akan bertanya seperti itu padaku,” sambungnya, melepaskan seluruh emosi lewat ucapan jujurnya. Felix tidak menampik betapa kekacauan menyerangnya membabi buta, terlebih pikiran-pikiran negatif turut singgah di kepala.


“Maafkan aku.”


Leona menyesal telah membiarkan orang lain menumpahkan cairan panas (yang nyaris mendidih) ke tubuhnya dan membuat Felix begitu murka padanya. Tapi apa kau tahu? Dia sedikit pun tidak tersinggung saat laki-laki itu mengomelinya dengan aksen panik yang kentara. Jika dia pernah menuduh Felix melakukan guilt trip untuk menyudutkannya agar merasa bersalah, kini Leona betulan mengalaminya.


“Tuan Baker, maafkan saya, sungguh ini kesalahan saya. Seandainya saya tidak lengah dan membuat Nona celaka, Nona sekarang pasti baik-baik saja. Saya minta maaf dan berjanji setelah ini saya akan menjaga Nona lebih baik.”


Penuturan tiba-tiba itu tak ayal menyadarkan Felix bahwa masih ada orang lain di tengah-tengah mereka. Secepat kilat, atensinya beralih pada sosok yang berdiri di seberang. Bukan merasa tersanjung, Felix justru gerah dan ingin marah. “Apa maksudmu berkata seperti itu? Kau menyindirku? Aku memang tidak bersama Leona, tapi bukan berarti aku tidak bisa menjaganya.”


Pernyataan Felix yang demikian berbisa, refleks memunculkan tanda tanya. Leona mengerjap bingung seraya menatap dua pria itu bergantian. Serius, sikap seperti ini bukan Felix sekali. Tentu saja ini sangat di luar karakternya yang kalem dan tidak suka berkelahi. Apakah Leona telah melewatkan satu bab inti? Lantas ketika pandangannya berbenturan dengan Dean, Leona segera mengisyaratkan supaya lelaki itu mundur dan lekas meninggalkan. Tidak baik jika dua lelaki ini dipersatukan.


“Felix, kau tidak apa-apa? Apa kau bertemu sesuatu di jalan sampai membuatmu seperti ini?” tegur Leona, baru kali ini dia merasa takut akan perilaku Felix yang terlampaui ajaib.


Puas melihat kepergian si lelaki pengganggu, Felix memusatkan kembali pandangannya pada Leona yang tampak menunggu.

__ADS_1


“Justru aku yang bertanya, bagaimana bisa sampai seperti ini? Apa yang sesungguhnya terjadi?” Sebab Felix telah mengizinkan Leona pergi untuk keperluan photoshoot dan pekerjaan, bukan menjadi korban atas tindakan sembrono orang tak dikenal.


Menghela napas, Leona menunduk meratapi lengan kanannya yang dibebat perban. Lukanya cukup serius dan harus melalui beberapa prosedur penanganan. Jika dia melihat sendiri separah apa kulit melepuhnya, Leona yakin tidak akan nafsu makan.


“Seseorang tidak sengaja menumpahkan kopi panas. Aku juga salah karena tidak memperhatikan sekitar. Tapi dia sudah minta maaf padaku, dan aku sudah memaafkannya.”


Samar-samar, suara berdecak terdengar. “Kenapa semudah itu kau memaafkan orang yang telah membuatmu celaka?”


Lagi pula, sejak kapan sih Leona jadi sebaik malaikat? Bukankah sebaiknya dia tetap sejahat valak?


“Wajahnya membuatku kasihan, Felix. Aku juga sadar aku jarang berbuat baik pada orang lain. Mungkin dengan aku yang mudah memaafkan, suatu hari aku juga mudah dimaafkan.”


Dalam hal ini, Leona berdoa dengan kesungguhan hati. Dia berharap Tuhan akan membantunya membujuk Felix agar di saat kejahatannya terbongkar, laki-laki itu tak meninggalkan dan memberinya pengampunan.


Namun kegalauannya yang seluas semesta sirna sekejap berkat Felix yang tiba-tiba merengkuh tubuhnya dan melabuhkan pelukan hangat yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya. Leona merasa tak percaya ini nyata, matanya pun melebar saking tak menyangka. Sejak kapan suaminya menjadi selembut ini? Terlebih lagi pria itu membisikinya dengan kalimat yang cukup asing di telinga. Dusta bila Leona tak tersihir olehnya.


“Jangan terluka lagi, kau tidak boleh terluka. Kumohon jangan pernah terluka.”


Siapapun, katakan pada Leona bahwa ini bukanlah sandiwara belaka!


.


.


.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2