
Ruangan sepuluh meter persegi dengan cat dinding warna lilac menjadi tempat Leona mengamankan diri dari riuhnya kehidupan. Sembari memeriksa email masuk dari salah satu rumah mode ternama New York, Leona duduk bersandar pada lengan sofa dengan dua lutut tertekuk. Matanya yang teliti membaca permohonan kolaborasi. Ia yang terbilang newbie dalam dunia fesyen, merasa sangat terhormat telah dipercaya dan dianugerahi kesempatan untuk mengepakkan sayap lebih lebar lagi. Suasana hatinya yang secerah awan, kontan mengurai senyum berseri.
Langkah kaki familier yang mengetuk-ngetuk lantai granit membelah kehampaan. Kemudian terdengar bunyi pintu terbuka dan menyuguhkan pria berbalut kemeja navy berpadu celana hitam panjang. Bau-bau pria milenial kental tercium tatkala sosoknya telah berdiri menghadap dinding kaca yang tepat berada di sisinya. Satu berkas dari direktur kreatif diserahkan berikut pengumumannya mengenai koleksi tas dan sepatu musim gugur yang akan resmi rilis bulan depan. Leona hanya mengangguk-angguk dan menyerahkan urusan tersebut pada asistennya.
“Anda sudah memeriksa undangan dari Greizz?”
Leona membuka lembar kedua berisi rancangan terbaru. “Ya, baru saja. Tolong atur pertemuan kami, ya. Belakangan ini aku sibuk sekali.”
“Bukankah fashion week masih September mendatang?”
“Benar.” Leona menarik tinggi sudut-sudut bibirnya, dibarengi mata biru yang memandang lelaki kebingungan di sana. “Aku punya hal yang jauh lebih penting daripada pekerjaan. Aku bahkan memperjuangkannya antara hidup dan mati.” Mendesahkan napas, Leona kembali melempar pandang pada kertas-kertas sketsa. “Dean, apa kau pernah berjuang untuk seseorang yang tak mencintaimu?”
“Tidak.”
Leona mendongak. “Apa kau tak punya seseorang yang kaucintai?”
“Hm. Itu ... ada, tapi, hm.”
Melirik gestur Dean yang tampak gelisah dan mulut megap-megap, Leona merasa ganjil. “Kau kenapa? Apa pertanyaanku menyinggung perasaanmu, Dean?”
Buru-buru pria berpotongan rambut cepak itu menggeleng kepala. “Tidak, Nona.”
“Oh. Baiklah, maaf jika kisah cintamu memang seburuk itu.” Leona mencoba tak peduli meski dia orang yang mudah penasaran. Dia takkan menjarah batas teritori bila tak diizinkan. “Aku juga mencintai dengan sangat selama bertahun-tahun, tapi dia bilang tak bisa membalas perasaanku. Kenapa dia harus sejujur itu padaku, Dean?”
Ungkapan nelangsa yang terlontar bagai partikel asing merasuki mata yang menimbulkan perih tak terkira. Leona mencintai secara utuh. Namun dia lupa sakitnya tak terbalas seperti nyawa tinggal separuh.
“Maksud Anda, Tuan Felix?”
Dalam senyum getirnya, Leona mengangguk. “Dia menolakku kemarin. Apa sejelek itu aku di matanya? Memang benar dulu aku buruk rupa. Tapi sekarang aku sudah berubah. Kulakukan semua yang kubisa untuknya agar dia berpaling padaku. Tapi apa? Dia sama sekali tak melirikku. Apa kurangku? Bukankah aku lebih cantik dari Jessica-Jessica itu, Dean?”
__ADS_1
Leona tak memiliki dunia selain Felix semenjak ia ditinggalkan seorang diri di sudut paling gelap. Saat itu Leona hanya punya satu cahaya yang setulus hati mengulurkan tangan padanya. Mungkin, Felix lupa pernah memberinya sebuah kehangatan di suatu hari ketika hujan menghapus senja menjadi gulita. Atau, pria itu sama sekali tak mengenal identitasnya sebagai Leona, si gadis cilik berkepang dua.
Kealpaan itu terbukti saat mereka berjumpa kembali di ruang kelas yang sama. Felix si murid pendiam ternyata melupakan dirinya. Jiwa detektif Leona yang masih mentah pun terbangun gara-gara Felix yang sok misterius. Maka, ke manapun si mata hazel pergi, Leona selalu mengekor, berharap laki-laki itu mengingat dirinya di suatu masa. Namun percuma. Sekalipun ia jumpalitan hingga rela duduk di bangku paling belakang demi sejajar, pun tak menyadarkan si cyborg dari lupa ingatan.
Ajaibnya, dia dan Felix punya nasib serupa; jadi murid terasing. Tak satu pun yang sudi berteman dengan Felix si anti sosial dan Leona si kurang pergaulan. Keunikan mereka yang ekuivalen mengundang teman satu kelas berbondong-bondong menjodohkan mereka lantaran tampak serasi. Leona yang entah sejak kapan mulai jatuh hati pada si pangeran kutub, merasa girang bukan kepalang. Namun sayangnya, Felix menganggap itu cuma guyonan.
Imaji kisah masa sekolahnya yang berwarna-warni bak pelangi, mengimplikasi senyum merona di pipi. Sudah lebih satu dekade, namun wajah Felix yang dingin menyejukkan hati masih tersimpan rapi. Leona melontarkan pandangan ke arah pemuda seperempat abad yang belum berpindah posisi.
“Dean.” Mata tajamnya menyorot tegas entitas di seberang. “Tolong bantu aku. Bantu aku menghancurkan Felix lebih hancur dari ini. Dia harus hancur dan terpuruk. Harus!” Seringai yang terbit menginvasi, menggoreskan hitam dan putih yang kontradiksi. “Aku akan membuatnya memohon padaku,” tandasnya sinis.
“Tapi, Nona ....” Dean gamang. Tubuhnya mengayu namun gemetar. Ingin mencegah tak berani, membiarkan pun tak cukup nyali. “Ini berbahaya. Anda bisa terjerat hukum jika ketahuan.”
Leona mengedikkan bahu. “Untuk apa memikirkan itu, aku tidak bersalah.”
Peringatan Dean tak dipedulikan. Leona manusia pragmatis yang benci berbelit-belit. Dia lebih puas dengan cara instan dan cepat terselesaikan. Maka ia enggan mundur. Sudah di tengah-tengah medan tempur dengan atribut perang, tak mungkin ia berbalik badan. Pantang baginya menyerah tanpa membawa ghanimah. Target awalnya memang demi menakhlukkan sang buronan. Sebab itu ia akan bertahan.
-:-
“Oh, Ben. Kau tidak pulang?”
Si paling muda di antara kawan-kawannya tersebut cengar-cengir tidak jelas, macam pria idiot yang tidak punya uang untuk ongkos pulang. “Chef, kau tahu kenapa aku mau bekerja denganmu?”
“Kau punya alasan untuk itu?”
Pemuda itu mengangguk. “Sulit sekali tidak mengakui kekagumanku padamu. Di antara sekian orang, kau yang terbaik. Kau bisa menjadi keluarga dan teman sekaligus. Mungkin ini terdengar cringe, tapi aku tidak berbohong.”
Felix memandang Ben dengan kerutan alis. “Kau ingin menyampaikan sesuatu padaku?”
Gelagat Ben menunjukkan hal lain. Felix yang mudah menebak hanya melalui gerak-gerik sudah menduga lebih dulu. Seminggu ini restoran memang kembali beroperasi. Meskipun hanya segelintir orang yang datang, tapi itu sudah membuatnya bersyukur daripada kosong sama sekali. Felix tidak tuli setiap kali desas-desus para pegawai berseliweran. Jiwa pesimisnya terusik dan lambat-laun menjadi anarkis. Ia paham bagaimana hari buruk menyambangi dan hampir mengoyak sana-sini. Belum kelar masalah defisit, lahir satu beban lagi yang nyaris mewujud depresi. Dan ucapan Ben yang tulus ini malah terdengar ironi.
__ADS_1
“Aku tidak nyaman mengatakan ini. Tapi aku hanyalah golongan proletar yang harus menafkahi keluargaku. Aku akan bertahan jika keadaan kembali seperti semula. Aku sungguh minta maaf, Chef.”
Pengakuan itu sudah cukup membuat Felix mengerti. Pada dasarnya dia bukan manusia egosentris yang tidak memikirkan kesejahteraan orang lain. Memberi keyakinan saja barangkali tidak efektif. Mereka, terutama Timothy selama ini sangatlah loyal terhadapnya. Tidak ada yang meninggalkan saat dia jatuh di titik paling jurang, bahkan Tim menyerahkan warisan tanah keluarga untuknya demi membayar penalti. Hukuman putus kontrak dari acara TV yang mengibarkan namanya menjadi popular tersebut sangat tidak terprediksi. Namun Felix tidak setega itu membiarkan Tim bertaruh aset untuk denda sekian persen dari royalti.
Pikiran Felix telah buntu. Dalam beberapa waktu ini, dia sampai meminum obat antidepresan agar tetap waras. Hanya saja, bayangannya justru terarah pada Leona. Instingnya mengatakan, cuma gadis itu yang mampu mengurai seluruh keruwetan yang membelenggu. Masalahnya, Felix memang tak memiliki tabungan lagi untuk melunasi segala teetek bengek yang semakin meluber. Beruntung dia punya saham yang tak sedikit. Sekiranya ia bisa menghadapi Leona dengan percaya diri dan menyertakan niatnya yang hendak menjual kekayaan terakhirnya. Maka setelah melewati semalaman tanpa tidur, di sinilah ia, duduk berseberangan dengan Leona di ruangan biru tosca.
“Apa itu?”
Gadis itu melirik sebuah map yang diletakkan Felix di atas meja.
“Berkas kontrak pembelian saham investasi.” Ucapannya terhenti. Felix mengamati sejenak air muka Leona yang selalu tenang. “Dulu, aku dan Pak Walikota yang membuatnya. Karena sekarang beliau sibuk mengurusi pemerintahan, aku mengajukan ini padamu.”
Leona mengerjab. Kendatipun dia sudah menebak kehadiran Felix jauh sebelum hari ini, namun ia harus berpura-pura tidak tahu. “Maksudnya kau ingin menjualnya lagi padaku?”
“Ya. Untuk saat ini hanya kau yang bisa kupercayai.”
Seandainya bisa, Felix lebih menyukai berhubungan langsung dengan Tuan Collins, si shareholder asli. Sayangnya, keadaan tidak mendukung. Setelah sukses pada pemilu tahun lalu, Edward Collins tidak pernah punya waktu. Yang ada di benak Felix saat ini hanyalah menyelamatkan restoran fine dining yang dikelolanya hampir dua tahun, belum lagi satu Michelin Star yang wajib dia pertahankan. Tidak mudah untuk mencapai hingga fase ini. Apa pun akan dia lakukan, walau akhirnya dia harus merelakan saham. Urusan lain, entah itu persyaratan konyol Leona, bisa dia pikirkan belakangan.
“Perihal saham memang sudah diserahkan padaku. It's not a big deal. Aku bisa segera mengurusnya. Tapi kau tahu, kan, aku tidak melakukan ini dengan cuma-cuma? Kau masih ingat, aku punya syarat pernikahan?”
Felix menghela napas panjang. Ada kalanya dia ingin sekali meninju wajah Leona yang arogan dan membikin berang. Gadis itu selalu berhasil menenggelamkan mental sang lawan sampai paling dasar lautan. Namun membuat keributan saat kondisi urgent begini hanya akan menambah beban. Jadi, ketimbang meladeni, Felix memilih mengiyakan.
“Ya. Let's get married.”
“Wow, seriously? Jadi kau sudah menyerahkan dirimu padaku?”
For God's sake. Kenapa terdengar seperti aku menjual jiwaku pada iblis?
“Oke. Secepatnya kuatur pernikahan kita begitu selesai dengan pembelian saham.” Sudut bibir Leona tertarik tinggi. “Aku senang sekali.”
__ADS_1
Felix memejam, mengambil napas dalam-dalam. To be honest, senyum Leona yang kelewat manis justru menyulut asam lambungnya naik drastis hingga ke pangkal tenggorokan dan mengakibatkan rasa ingin muntah tak tertahankan.
-tobecontinued-