
Belakangan Felix sadar telah overdosis akan eksistensi istrinya. Mengapa demikian? Percayalah, wajah itu satu-satunya yang paling banyak mengisi retina. Entah di rumah, perjalanan, restoran, pun dalam mimpi seram kala dikejar setan, Leona selalu ada. Kalau dibiarkan terus-menerus, bukankah Felix bisa terkena sawan hantu perempuan?
Felix tidak bisa menduga-duga, namun logika mendesaknya berpikir keras tentang Leona yang mungkin sengaja menggunakan ilmu pelet as known as guna-guna. Sayang seribu sayang, sisi malaikat Felix justru menghasut supaya tak menuding sembarangan terhadap istrinya jika tak mau ada perang dunia.
Dia bertanya-tanya, sejak kapan perasaan takut itu terbudi daya dalam hatinya? Mengapa dia begitu takut wajah murung melintas di mata? Mengapa dia tak sanggup membiarkan bulir bening menggenang di pelupuk istrinya? Mengapa sedikit pun dia tak berani menggoreskan luka? Mengapa Felix bahkan tak rela pria lain memandang penuh puja terhadap Leona?
Pertanyaan itu terus mengalir di benak tanpa tahu ke mana akan bermuara. Kemudian Felix tersadar, barangkali dia takkan pernah menemukan jawaban bila tak mau berdamai dengan dirinya. Understanding is more powerful than knowledge. Memahami diri adalah yang utama. Secerdas dan seluas apa pun ilmunya, semua terasa percuma jika dia alpa di mana letak hatinya.
Seperti ketika dia menitahkan istrinya agar berdiam di kamar. Seakan keberadaan wanita itu bak berlian yang harus disembunyikan agar kemilaunya tak dikagumi orang selain dia. Betapa egoisnya dia terhadap Leona. Lantas terilham dari mana sikap posesif itu, sementara yang berisik di luar hanyalah Timothy beserta anjing peliharaannya.
Apakah sahabatnya semengkhawatirkan itu dan patut untuk dicurigai?
Well, maybe he whipped for Leona? (bucin)
“Kau menginap lagi di sini?”
Secepat itu pertanyaan mengudara, maka semudah itu pula denial berkuasa.
Tim mengenakan celana pendek hitam yang dipadankan sweter army. Pria itu berjongkok di dekat anjing jenis pomsky yang mondar-mandir
meminta jatah makan siang. Bebunyian saling berbenturan layaknya ASMR tatkala Tim menuangkan sereal, demikian Felix yang turut meneguk air mineral. Sunyi yang menyibukkan hanya sementara berkat Tim yang lekas membuka suara.
“Kau kemari saat hari libur?”
__ADS_1
Tim mencuci tangannya yang dipenuhi bakteri. Bau badannya pun sedikit apek lantaran belum mandi, terlebih dia habis berjemur di bawah matahari. Arah pandangnya lantas beralih pada Felix yang duduk di kursi. Iris abu-abunya memancarkan tanda tanya. Sangat tidak biasa melihat sahabatnya ada di sini sedangkan laki-laki itu tahu kemarin dia bermalam di sini.
“Travor menghubungiku, dia mengirim bulu babi dan caviar, baru datang tadi pagi,” ujar Felix menginformasikan.
Bibir Tim membulat begitu rasa ingin tahunya terpenuhi. “Kukira dia akan datang siang ini. Aku buru-buru ke petshop dan tidak tahu sama sekali Travor akan mengirimnya sepagi itu.”
Felix mengangguk. Dia memahami Timothy yang memprioritaskan si puppies dibanding hal lain. Anjing kecil itu tentu sangat berharga selayaknya anak sendiri. Tim bahkan rajin memberinya vitamin dan membawanya ke klinik. Setelah hamsternya mati bulan lalu, Tim trauma dan ingin menjaga Pepper sepenuh hati. Rasa kehilangan itu membekas, Tim tak mau kejadian nahas terulang lagi.
Alis tebal Felix berkerut dalam. Dia menengok ke sudut-sudut tertentu, terutama pada sofa abu tua yang menjadi tempat bersejarahnya bersama Leona. Jika pemikirannya persis dengan kemungkinan yang terjadi, artinya kejujuran Leona mengenai alergi bulu itu sungguh benar. Yups, wanita itu sempat bersin-bersin parah sampai hidung dan pipi memerah.
“Semalam dia tidur di sana?” dagunya menunjuk ke arah sofa yang dimaksud.
Tim yang tiba-tiba riuh sendiri membuat kopi, menoleh pada Felix yang bermuka datar tapi serius dan terdengar menuntut balas. “Dia tahu posisinya adalah tamu, makanya dia menolak saat kuajak tidur di kamarmu.” Pria itu cengengesan sembari menunggu mesin kopi melakukan tugasnya. “Selain itu ... kamarmu berbau aneh. Tapi sebagai pria dewasa aku mengerti apa yang habis kaulakukan di sana,” imbuhnya, melirik jail Felix yang tampak merotasikan mata dan mengembuskan napas jemu.
“Lebih seringlah bergaul dengan manusia. Penciumanmu jadi seperti anjing setelah kau banyak menghabiskan waktu dengannya.” Felix berkomentar pedas namun bernada malas.
Timothy tertawa. Warna suaranya yang lebih halus ketimbang Felix yang cenderung berat, tak lantas memicu radang telinga. Jika diibaratkan pasangan, mereka akan saling melengkapi dan sepadan. Sosok Tim yang jenaka dan ceria tentu mampu mengimbangi Felix yang banyak diam. Jika Tim bermulut ember, maka Felix adalah orang yang think more than he speak.
“Di mana Leona? Aku bisa mencium aroma tubuhnya di sini.” Seraya menggenggam gagang cangkir, hidung Tim bergerak-gerak, mengendus parfum Leona yang tercium oleh ketajaman indranya. Namun saat kakinya hendak bergeser menuju pintu, Felix buru-buru mencegat dengan menarik tudung sweternya.
“Berhenti atau kupenggal kepalamu!”
Kepanikan Felix yang kentara justru menyulut gelombang tawa. Tim mengangkat satu tangannya yang terbebas. Dia segera menghadap ke belakang begitu cekalan Felix terlepas. “Chill, Dude!” Tim mencoba menenangkan Felix yang mendelik tajam padanya. “Well, cukup aku tahu Leona di sana. Aku tidak akan menemuinya. Okay? Mari kita berdamai.”
__ADS_1
Sesungguhnya Felix tidak bermaksud menjadi manusia sensi. Tapi membayangkan pria lain memandangi Leona yang hanya terbungkus kemeja tanpa embel-embel bra dan panty, seketika menimbulkan kontradiksi. “Habiskan kopimu, lalu pergi.” Setelahnya dia melenggang ke kamar mandi. Membasuh wajah berulang kali, berharap dengan itu mampu mengurangi gejolak di hati.
Felix lantas mengemudikan kakinya ke kamar setelah membaca pesan singkat istrinya. Dia tak lagi mempedulikan laki-laki berperawakan gagah nan berdagu belah mirip Nick DiGiovanni, chef jebolan MasterChef Amerika yang famous di YouTube dan sosial media. Timothy sangat mirip dengannya, seperti kembar beda rahim dan orang tua. Sementara kloningan Nick mengelus-elus kepala anaknya, Felix menutup pintu cokelat tua.
Bukannya merasa damai menemukan presensi Leona, Felix malah semakin teraniaya begitu mendengar kalimat pertama istrinya setelah dia tinggalkan bermenit-menit lamanya. Nama Dean yang terlantun merdu dari bibir semerah delima, tak pelak menyulut kepalan kuat tangannya. Emosi ini terasa tidak wajar, tapi Felix betulan merasakannya. Tekanan bertubi itu tak ayal memperkuat irama jantungnya. Apakah ini yang sering orang-orang sebut cemburu buta?
“Felix? Jadi bolehkah aku meminta Dean ke sini? Aku tidak mungkin pergi dalam keadaan seperti ini, bukan? Biar kuminta dia mengantar pakaianku. Aku akan menelepon De—”
“LEONA! Aku suamimu, haruskah kau meminta tolong pada laki-laki lain sementara ada aku di sini?”
Sambutan Felix yang demikian keras dan tegas seketika mampu membuat Leona terperangah pun melongo tak percaya.
What's wrong with him?
.
.
.
To be continued.
__ADS_1
FYI, He is Felix as we've known.