
Pukul enam sore, Felix menyeberangi 20th Street & Avenue C menuju FDR Drive. Menyamarkan visual dengan jaket tudung hitam dan topi baseball, kakinya yang terbungkus sepatu nike menghentak-hentak ringan paving abu tua. Suara bising kendaraan yang lalu-lalang di sisi kanan dan desau angin yang berasal dari sungai East bersinergi meredam celotehan Leona. Untuk sejenak dia ingin menyegarkan diri. Menyatu dengan alam barangkali mampu merelaksasi rohani dari kobaran emosi.
Terkadang kalimat-kalimat yang mengudara hilang-timbul seperti bisikan setan. Yang paling permanen adalah ungkapan yang menekankan betapa cute seekor Iguana. Dari hasil survei, 90% manusia normal—terutama gadis, akan menilai bahwa kucing lebih imut dari pada hewan melata yang ekornya saja seperti anaconda. Terkecuali Leona. Segala tentangnya selalu di luar batas dan tak mencapai nalar. Bila dihitung, rasionya satu banding seribu. Sudahlah, Felix migrain memikirkannya.
He is so cute
He is so cute
He is so cute
"Argh! S*s*hittt!"
Felix mengusap wajah kasar. Napasnya terengah saat dia memutuskan untuk berhenti. Dia menunduk dengan memegang lutut sembari menstabilkan detak jantung yang memompa keras. Memuakkan sekali. Gadis itu tetap egois bahkan dalam jarak jauh begini. Harusnya suara itu lenyap seiring tekadnya yang membara. Belum genap duapuluh empat jam bersama, tapi Felix sudah stres sekali. Kemalangan apa lagi yang akan menimpanya esok hari akibat ulah si Voldemort jadi-jadian yang merangkap istri?
Bunyi suling tiga kali dari arah Timur mendistraksi kemelut hati. Felix menoleh ke kiri, mengamati kapal Ferry putih yang hendak berlayar. Dia baru tersadar telah berdiri tepat di depan jalur dermaga di Stuyvesant Cove. Kaki jenjangnya yang berbalut celana selutut adidas bergerak impulsif mengikuti arahan sang nahkoda. Iris cokelat muda kekuningan itu tak putus memantau laju kapal yang menyongsong borough sebelah.
Pandangannya kemudian terkunci pada Brooklyn Buildings di seberang yang tampak menjulang tinggi. Raut wajahnya yang datar bukan berarti tak menyimpan badai. Ada beberapa hal yang bertentangan dan menimbulkan kemarahan, kekecewaan, kebencian, dan geram yang menusuk-nusuk. Kilasan memori itu bergentayangan di kepala, membuatnya berang dan ingin memusnahkan. Lantas ia berpaling ke jalanan panjang di depan dan berlari sekencang setan.
Semua orang punya kisah, dan Felix termasuk di dalamnya, tak peduli secuek apa pun dia. Actually, his life was ruined long ago. His soul is killed too.
-:-
Sejak terbit fajar, Leona sudah terjaga. Pertama kali membuka kelopak mata, wajah damai Felix satu-satunya yang menyapa. Tidurnya semalam cukup nyenyak hingga tak menyadari sosok pria yang sebelumnya tidur memunggungi telah berganti meringkuk seperti bayi. Bila tak ingat aura sedingin es balok Kutub Utara, Leona yang jahanam pasti tak segan mendekap tubuh kokoh itu sembari menciumi pipi. Ah, seandainya Felix tak membangun menara setinggi gedung Empire State, Leona akan mudah sekali membantai kawat berduri.
Dengan alibi membuatkan sarapan, gadis itu menghabiskan waktu tigapuluh menit di dapur. Tangannya mengobrak-abrik bahan yang tersedia dan terpesona saat menemukan segala pemenuhan gizi telah lengkap seperti pasar swalayan. Bermodal minim pengetahuan, dia mengambil dua roti bagel dan melapisinya dengan cream cheese, bacon, scrambled eggs dan irisan alpukat. Meski belum tahu selera Felix, setidaknya menu ini sudah cukup untuk mengisi perut di pagi hari. Tak lupa ia menyajikannya bersama secangkir espresso.
Dia menaruh teflon di sink ketika Felix memindai ruang dapur yang gaduh berantakan dan sandwich yang terduduk di meja makan. Pria itu menempati salah satu kursi tanpa menyuarakan kata. Pergerakannya yang menimbulkan gema, mengalihkan Leona dari fokus mencuci peralatan masak. Gadis itu tersenyum cerah, lantas segera bergabung di kursi lain tepat di hadapan pria berkemeja snow blue garis-garis.
"Good morning, Cutie Pie, how's your sleep?"
Sadly, sapaannya yang semanis gula tebu cuma dibalas tatapan malas bak ia debu. Tiada merasa malu, Leona malah geli sendiri. Betapa murahan dirinya.
"Apa kau suka ini?"
"Hm."
Pria itu menggigit besar dan mengunyah perlahan. Raut non-ekspresifnya sukar ditebak. Jika ini kompetisi memasak, maka Leona satu-satunya kompetitor yang bengong disetir waham.
"Tidak perlu melakukan ini lain kali," cetus pria itu usai menelan. Leona mengerjap kebingungan. Bibirnya yang melengkung penuh, sedikit memudar.
"Apa?"
Tatapan mereka bersiborok.
"Kau tak perlu memasak untukku. Itu bukan tugasmu."
__ADS_1
Alis bulan sabit itu mengerut. "Pardon?"
"Begini, aku tak mau berutang terlalu banyak padamu. Jadi jangan lakukan apa pun."
"What was that? I'm your wife, anyway. Why do you talk like that?" sahut Leona menyala-nyala. Apa sih Felix ini, sesama penduduk rumah tangga kenapa harus membahas utang. Tidak masuk akal.
"Yep, you're my wife. Karena kau istriku, maka taatilah suamimu, sebagaimana kau menaati Tuhan."
"Aku pasti akan menaatimu. Tapi tanggungjawabku adalah mengurusmu. Aku akan berdosa jika mengabaikan itu."
"Tidak, selama aku rela. Lagi pula kau akan lebih berdosa jika durhaka atau bahkan melawanku." Seringai tersamar di bibir sebentuk busur cupid. Tidak ada manusia yang benar-benar baik pun sebaliknya di dunia nyata. Terkadang Felix juga punya sisi muslihat.
"I don't wanna know. Aku mau jadi istrimu sungguhan. Mengurus dan melayanimu."
Keduanya sama-sama berlomba memasuki zona aman dibalik eufimis.
"You're my wife, not my maid."
Barangkali Leona belum pernah mendengar kalimat seindah calla lily teruntai. Diakui istri oleh Felix tentu berdampak terhadap jiwanya yang haus cinta kasih. Namun tak semudah itu dia terdoktrin. Tujuan awal menikahi si manusia Arctic memang ingin menguasai raga dan hati. Tak mungkin dia mau mengalah berdalih mematuhi. Seorang wanita yang telah menikah pasti berharap dicintai. Kalau terus dihindari, apa fungsinya status istri?
Dua kepala berbeda, maka lain pula isinya. Bila Leona berharap dapat mendominasi suami, Felix justru menciptakan spasi. Kendati bukan pengidap mysophobia atau haphephobia, dia lebih puas mengerjakan segala sesuatunya sendiri tanpa orang lain mencampuri. Terbiasa hidup sebatang kara benar-benar membuatnya risi. Alih-alih menggunakan hak prerogatif sebagai suami, Leona malah sulit diajak berpartisipasi.
Indeed, ucapan Felix tadi sangat beracun jika dihayati. Di balik apa pun alasannya, Leona tetap tak sanggup menipu diri. Buktinya sepasang pipi itu berangsur semerah ceri. Semunafik itu dirinya, padahal menafikan beberapa saat lalu. Telapak tangannya spontan terulur menyentuh dada, lalu dengan sok dramatis dia bilang, "Akh, jantungku!"
Felix yang kebetulan belum beranjak, mengerutkan kening. "Jantungmu kenapa?" tanyanya was-was, terlebih seraut menyedihkan terlukis.
Kecemasan Felix seketika menggelinding si bawah kaki. Perasaan gondok mengambil kendali hingga tanpa sengaja menelurkan kata-kata tak terpuji. Tubuh jangkung seukuran enam kaki tiga inch tersebut lantas bergegas menyingkir.
Leona yang masih berjengit selepas mendengar serapah, mengedip-ngedipkan mata seolah baru siuman dari koma. "Kau mengumpatiku, ya?!" tuduhnya sengak pada pria yang mencuci gelas dan piring.
"Tidak. Aku mengumpati diriku sendiri," balas Felix santai sembari meninggalkan pantry.
Tidak ingin kehilangan jejak, gadis itu membuntuti langkah suaminya menuju pintu utama. Segala tingkah laku tak terlewatkan oleh proyeksi mata, termasuk saat pria itu terduduk di lantai memasang sepatu.
"Kau mau pergi?"
"Yep."
"Ke restoran?"
"Hm."
"Boleh aku ikut denganmu?" Leona mencoba negosiasi. Lagi pun dia sedang meliburkan diri. Omong-omong ia baru menikah kemarin. Demi menghindari konklusi negatif orang-orang, dia memilih cuti beberapa hari meski tidak memadu kasih sama sekali.
"I don't have a choice, do I?"
__ADS_1
Seketika binar matanya secemerlang matahari pagi. Leona tidak perlu bersiap-siap, karena dia sudah tampil trendi dengan cami-top merah velvet yang tak sampai menutup pusar, serta dilapisi kardigan kasmir dan celana jins belel. Maka, dia hanya perlu mengikuti sang pilot ke mana pun langkah membawa.
-:-
"First, I think you're misogynistic because you hate me so much, but you're dating Jessica at the same time."
Leona melirik pria yang berjalan di sisi. Jarak dekat antara kondominium dan restoran cukup menguntungkan.
"Aku tidak membencimu."
"Tapi kau menunjukkannya terlalu jelas padaku," kilah Leona menolak dianggap salah.
Felix tak menanggapi. Dia malah kepikiran, bagaimana bisa takdir setega ini menjebaknya satu ruang napas dengan gadis yang pernah mati-matian dia kutuk agar cepat mati.
"Obviously you're sexis**m karena kau masih membenciku saat kau sudah putus dengan Jessica."
"Apa sih?"
Terlalu sabar tak menjamin seseorang itu menjadi si penyabar. Felix yang individualis telah menerapkan the culture of ignorance sejak lama, terutama demi membentengi diri dari kerusuhan makhluk yang selalu mencari celah seperti Leona Collins. Mekanisme pertahanan diri itu telah dia pelajari seiring dengan perilaku si gadis yang kian hari bermetamorfosa. She is like nyamuk bertopeng firefly a.k.a kunang-kunang.
"I'm too fabulous, you know, tapi kau tak tertarik padaku. Aku curiga kau punya fetish aneh?"
Felix ingin sekali menyumpalkan headphones di telinganya yang pengang mendengar serangan verbal bernada narsisisme. Jika tidak dihentikan, gadis ini takkan menyerah dengan ocehan non-sense yang makin melantur. "Kita tak pernah sedekat itu bahkan berteman, kenapa kau terus mengomentariku buruk?"
"Wah!" Leona membekap mulut seolah menemukan satu lagi keajaiban dunia. Matanya membola seakan terkejut. "Maksudmu kau ingin kita menjadi dekat? Sure! Bagaimana kalau memulai dari awal?" Tak memberi peluang untuk dijawab, gadis itu buru-buru berkata, "Well, namaku Leona. Mari kita berteman mulai sekarang." Garis bibirnya melengkung sampai separuh lingkaran.
Tidak mengerti lagi cara menyikapi istri pengacaunya, Felix mempercepat laju kaki setelah meneliti waktu. Akibat menggubris Leona yang ceriwis, skedulnya yang sistematis pun ikut kacau.
"Hei. Kau ini irit bicara sekali sih!" Dari belakang, gadis itu mengejar setengah berlari. Suara ankle boot yang membentur aspal terdengar berisik seperti sang pemilik.
"Felix!"
"Hm."
"Aku capek loh bicara sendiri terus sejak tadi, kenapa kau hanya menjawab seperti itu?"
"Suaraku mahal."
Leona mendengkus.
"Ya sudah, aku beli, berapa harganya?!"
"Tidak kujual."
"Hei!"
__ADS_1
-tobecontinued-