
Empatpuluh empat hari mengarungi bahtera rumah tangga, baru kali ini Leona telat bangun padahal telah lewat pukul lima. Hanya mengenakan celana pendek hitam dan rambut yang setengah basah, Felix menyingkap tirai cokelat mocca. Pria shirtless itu kemudian menengok pada istrinya yang bahkan tak terganggu meski paras terhantam cahaya. Gara-gara mabar Call of Duty sampai larut, wanita itu jadi lupa jam tidur yang seharusnya.
Tak menurut pun, Leona akan tetap menjalankan romusha atau parahnya bersandiwara seakan si paling menderita. Lalu Felix mengingat-ingat kapan tepatnya Leona menjadi sejinak cihuahua. Barangkali dua pekan lalu ketika dugaannya benar mengenai luka kaki yang disengaja. Alasannya sungguh tak terduga. Manalagi sepanjang ia mengobati dan menggantikan perban, istrinya pundung tak berkata-kata.
Kaki berbulunya yang berembun lantas melangkah ke arah ranjang, di mana istrinya masih lelap tanpa selimut dengan posisi tangan dan kaki yang membentang. Untungnya Felix sudah minggat duluan sebelum tubuhnya jadi sasaran. Pelan-pelan dia duduk di dekat pinggang, mengusap-usap lengan atas Leona yang diberkahi kilau terang. Wanita itu bergumam sumbang. Mengigau ingin dibuatkan croissant. Felix sukar mengendalikan gelitik yang merajam.
“Hey, Pemalas, bangun!” Selain berbagi ruangan, makanan, kendaraan dan -hm- badan, seringkali mereka juga seragam dalam ucapan.
Urung membuka mata, Leona justru mendekap rapat tangannya. “I don't wanna wake up, Daddy,” keluh wanita itu mendayu-dayu. Hidung bangirnya turut menghidu aroma maskulin yang semerbak merayap. “Kau wangi sekali. Ayo tidur lagi denganku. Aku janji, akan memeluk dan menciummu. Hm?” Diarahkannya telapak besar itu pada pipi yang lembut dan sekenyal kue mochi. “Aku tak keberatan menepuk bokongmu.” Mata birunya mengintip, berikut alis yang bergerak naik. “Yang depan juga boleh kok. Sini,” racaunya seraya terkikik-kikik.
Seandainya dalam situasi Felix masih memerangi Leona, sudah pasti ia jijik dan ingin muntah mendengar kalimat binaal terucap. Namun keadaan telah bergulir sekian derajat. Takada lagi Felix yang bermuka sepat atau kata-kata mengumpat. Satu persatu pencapaian Leona demi meluluhkan hati sang pujaan kini didapat, kendatipun pergerakan Felix sedikit lambat. It's okay, lagi pula mereka tak sedang berkompetisi cerdas cermat.
“Bangun atau kulempar ke bathtub?”
Leona mendelik cemberut. “Pengancam!”
“Pilih saja!”
Lebih baik akur macam tom and jerry daripada cosplay sakit gigi. Sebetulnya Leona tak begitu saja menelan bulat-bulat ultimatum Felix yang sekadar gurauan, namun bibirnya yang monyong sungguh menganalogikan donal bebek betulan. “Galak!”
“Pagi yang cerah bagus untuk berjemur. Aku ingin mengajakmu bertanding lari. Jika kau berhasil mengalahkanku, akan kukabulkan apa pun permintaanmu.” Felix bukan pakarnya bernegosiasi. Namun tak pula wawasannya cetek tentang ilmu persuasi. Beberapa commercial film dia bintangi, bersama Timothy yang bergelar content creator pun dia meraih segudang trophy.
Dalam otaknya yang seukuran kembang kol, Leona menyusun proposal-proposal gila yang berkemungkinan menguntungkan dirinya. Jangan sia-siakan kesempatan selagi ada. Untuk mencapai posisi sekarang, Leona bahkan melewati asam garam perjuangan. Seperti saat kau hendak meraih asa, maka perlu adanya kerja keras tanpa jalan pintas. Sesuatu yang bertahan lama tidak akan datang dengan mudah, pun sebaliknya.
Sejurus kemudian dia bangkit, menatap mata hazel yang kadang kala berubah cokelat terang. “Okay, aku setuju! Tapi satu hal yang harus kau ingat, kau tak-boleh-ingkar. Jadi untuk menjamin itu kau harus berjanji padaku,” cetusnya sekaligus mengacungkan jari kelingking di depan wajah. “Pinky promise.”
Busur cupid si pria terangkat samar. “Pinky promise.” Dua sebangun yang tak kongruen itu pun berakhir saling mengait. Kendati pengalaman pertama, Felix tak merasa awkward bertingkah seperti kanak-kanak.
Leona enggan melepas ikatan. “Tunggu! Aku punya—”
“Syarat?” tebak Felix telak dan tepat sasaran.
Terkesima oleh prediksi sang suami, Leona terpelongo takjub. “Bagaimana kau tahu?”
“Kau buku terbuka, mudah menebakmu.”
Sayangnya Felix hanya mampu melihat apa yang tampak. Ada satu halaman yang belum sanggup terbaca. Sejenis pesan rahasia yang terkenkripsi dan ia kepayahan mengurai kata sandi.
“Whoa!” Tak berkedip sama sekali, mata biru itu menyelidik makhluk memesona yang tiada tandingannya. “Jadi selama ini kau sering memerhatikanku?”
“Kau di depan mataku, bagaimana aku tidak memerhatikanmu?” balas Felix apa adanya, karena Leona memang selalu di sekitarnya, kalau tidak di depan, ya di belakang. Atau gandeng-gandengan seperti truk gandeng.
“It's not the worst pickup line.” Cengar-cengir laksana manusia paling bahagia di bumi, Leona kini mematenkan Felix adalah endorfin yang kasat mata dan asli.
__ADS_1
“Apa kau menilaiku serendah itu? Bahkan kata-kataku lebih bagus dari rayuan.”
“Whoa ....” Leona membungkam bibir. “For real? Oh, Ya Tuhan, kau membuatku keracunan di pagi hari.” Air mata hampir keluar saking geli dan gembira. Pipinya pun merona tanpa perona. Apa mungkin Felix sempat melakoni semedi di gunung myoboku dan dibimbing langsung oleh Jiraiya si pervy sage sampai ia jadi semanis itu. Sungguh gila. She can't even imagine it.
Meski dipikirkan sampai kepala botak perihal inovasi apa yang menimbulkan kadar gula sang suami meningkat, Leona percaya pada satu hal bahwa progress is impossible without change. Hubungan mereka telah mengalami kemajuan, maka sudah sewajarnya lahir sebuah perubahan. Apa lagi yang perlu diragukan? Bukankah melelehnya es balok adalah impian?
-:-
Mengibarkan bendera putih tidak selalu game over. Pakta perdamaian juga bukan penyebab Felix menjadi seramah sekarang. Demi mempelajari rumus yang tingkat kerumitannya mengalahi persamaan helmholtz, dia rela mencopot gelar ignorant. Untuk menunjang penelitian, tak tanggung dia menyertakan tabung reaksi guna melakukan uji kualitatif. Akankah dia mampu mengidentifikasi kandungan senyawa yang terdapat pada istrinya atau tidak? We will see.
Dulu sekali dia bahkan menyumpahi suara tawa Leona yang semengerikan burung gagak. Berbanding terbalik dengan kini yang justru menyukai senyum wanita itu yang seindah burung merak. Leona yang overacting pun kerap dia hujat, namun setelah mengeksplorasi malam panjang menggelora, rutenya berbelok ke manapun arah mata angin mengarak. Pertanyaannya, dapatkah sepasang manusia pathetic bersatu menyeberangi babak demi babak?
“Kau harus mengalah! Itu syaratnya.”
Felix berpaling ke samping. Istrinya telah berganti pakaian jogging sewarna miliknya. Mereka bersiap dengan Leona yang memasang kuda-kuda. Energi positif itu merambat begitu saja padanya. “No, no. I disagree. Ini adalah pertandingan dan kita harus bermain adil. Aku takkan mengalah. Jika ingin juara, maka kau perlu berusaha.”
Leona memicingkan mata macam orang miopia. Aturan mainnya memang seperti ini. Bila pasangan lain kompak dalam menggapai misi bersama, sebaliknya mereka saling berlomba, membuktikan siapa yang paling tangguh dan berkuasa. Leona yang punya ambisi hebat serta jiwa tak terkalahkan pun merasa tertantang. “Okay! Aku pasti mengalahkanmu, dengar itu.”
“Okay.”
Hitungan tiga mundur, mereka bersiaga. Pada detik keempat, kaki-kaki jenjang yang berselisih ukuran terayun-ayun mengejar rute panjang di depan. Keduanya menggalakkan semangat juang dengan salip-salipan. Jarak sekitar 1,5 kilometer dari bawah Manhattan Bridge ke Williamsburg terasa lebih pendek dari biasanya. Ketika hampir mencapai garis finish, Felix tiba-tiba memelankan laju kaki dan lambat-laun terhenti. Diamatinya surai yang menari-nari sepadan dengan sang empu yang berlari.
Afirmasi waktu lalu mengenai betapa Leona mencintai ia, kiranya mendukung mata hati yang terkunci terbuka perlahan tanpa paksaan. Inilah yang Felix angankan, segalanya berjalan alamiah pun sederhana. Dengan langkah bertabur senyum, Felix bergerak semakin dekat mencapai Leona yang tampak tersengal-sengal namun bahagia. Wanita itu kemudian berkacak pinggang sambil melempar ejekan padanya. Seringai culas dan jemawa tak luput menyemarakkan rasa bangga.
Seraya menyimpan jemari ke saku tracktop, Felix menyahut, “Tentu. Katakan saja apa yang harus kulakukan untukmu.”
Kemenangan yang bertahta mengaktifkan pribadi otoriter yang saat lalu hibernasi. Telapak kanan Leona mengambang dan bergerak meliuk-liuk, mengisyaratkan Felix agar menyongsong ke arahnya. “Sini, kuberitahu.” Sedikit demi sedikit langkah itu membunuh jarak. “Lebih dekat,” instruksi Leona kala melirik suaminya yang bercelah empat puluh centi darinya.
Tak mau membuang waktu, Felix lekas mengangkat tungkai, lalu berdiri satu jengkal di hadapan istri tengilnya. Dia sangka Leona akan berbisik dan mengerjai seperti biasa. Namun di luar ekspektasi, wanita itu justru menyeleweng dan melabuhkan kecupan panjang di sisi wajahnya. Gesekan benda kenyal itu tak ayal memacu desir hangat di dada.
“Hey, you. Yeah, you, the apple of my eye (seseorang yang berharga untukku). Tak ada yang kuinginkan di dunia ini selain kau. Hanya kau. Yeah, hanya kau.”
Dan rasa hangat itu perlahan merangkak naik menjadi panas yang meledakkan jiwa.
-:-
Di lantai dua restorannya, Felix mengungsikan Leona. Suara riuh berasal dari dapur yang diisi mereka. Cuaca lumayan dingin mendekati peralihan musim tiba. Namun tubuh yang berpeluh mengakomodir AC tetap menyala. Mencampakkan adonan roti, Felix memenjara punggung istrinya sambil mengajari memotong tomat merah. Sebaliknya, pengamatan Leona terfokus pada genggaman kokoh yang melingkupi jari-jarinya. Setiap kali Felix menggerakkan tangan mereka untuk mengiris, Leona sukar berkedip.
Sesekali dia berpaling ke samping untuk menyimak segurat rupawan yang bernapas di pundak. Lalu ada satu momen ketika pandangan mereka saling menabrak. “Kenapa kau melihatku begitu?”
“Apa tadi aku melihatmu?” tanya balik pria itu, menghentikan aksi tatap-menatap seraya kembali pada irisan tomat.
“Lalu apa yang kaulihat kalau bukan aku?”
__ADS_1
Manusia berpikiran kritis seperti Leona takkan puas dengan satu jawaban. Sebagaimana kebanyakan orang yang dianugerahi rasa ingin tahu tinggi, dia pun memiliki tendensi mengorek tuntas keterangan.
“Your eyes. Your blue eyes are beautiful.” Seiring ucapan jujurnya, Felix segera memutus kontak dan beralih menguleni adonan yang mangkrak.
Terbiasa menerima reward berupa pujian dari penggemar dan orang-orang yang dia kenal, Leona merasa kebal. Namun apa jadinya jika mendengarnya langsung dari mulut seseorang berlabel suami? Bukan lagi fenomena, namun ini mukjizat terhebat yang tak pernah terbayang bahkan dalam mimpi. Tak pelak, hatinya merekah demikian bunga-bunga sakura yang turut bersemi.
“Wow!” Dan timbullah Leona si pengacau yang senang sekali mengganggu konsentrasi makhluk estetik berpostur tinggi. “Is that true?” Di sela meratakan adonan di atas loyang persegi, pria itu berdeham lirih. “I am truly magnificent, and I know it.” Senyumnya menyingsing bak matahari.
“Mata biru dan wajahku ini limited. Kau tahu, tidak ada yang bisa menyerupai, bahkan ayah dan ibuku sekalipun,” ujarnya memulai dongeng. “Daddy selalu bilang aku mirip Matthew, tapi satu persen saja. Sisanya aku tidak mirip siapa pun.” Sambil mengangkat jari telunjuk, dia masih betah memerhatikan Felix yang menaburi campuran pesto dan rempah lain di permukaan dough yang mengembang. “Bukankah itu luar biasa?”
Arah pandang Leona mengikuti Felix yang baru saja melewati ia. Pria itu belum jua rampung mengurusi focaccia mentah yang telah digiring ke dalam oven dan tinggal dipanggang.
“Kau pasti mirip ibumu,” tukasnya yang lalu dijawab sendiri. “Sebagian besar anak laki-laki mirip ibunya. Apa kau setuju?”
Tak patah arang, Leona mengekori Felix yang tengah mencuci mangkuk kotor dan teman-temannya di bawah pancuran air.
“Jadi katakan, apa kau mirip ibumu?” Tanpa menunggu konfirmasi, Leona kembali bicara, “Ceritakan padaku seperti apa ibumu? Kau belum pernah memperkenalkannya padaku.”
Hazel Felix tampak melirik sekilas. Dia membasahi bibir, sebelum akhirnya berkata, “She has gone.”
“Pardon?” Secara harfiah Leona mengerti apa itu pergi, namun dia tidak memahami makna tersembunyi di balik kata pergi.
“I don't have a mom. She was dead.”
Motorik Leona macet tiba-tiba. Berlaku pula untuk lidahnya yang kaku. Momen yang selalu diangankannya hadir adalah kejujuran dan keterbukaan Felix tentang keluarga. Tapi jika kabar duka yang didapat, ia merasa serba buruk dan dilema. “Maaf, maafkan aku, maafkan aku yang tidak tahu. Aku tak bermaksud membuatmu sedih. Aku minta maaf,” sesalnya dengan intonasi menurun.
Sedangkan Felix sama sekali tak memvisualkan raut murung. Pria itu cenderung menanggapi biasa bahkan tersenyum. “Ibuku sudah lama pergi. Jauh sebelum aku bisa melihatnya. Demi melahirkanku, dia mempertaruhkan nyawa,” hiburnya, enggan berlarut dalam nestapa yang telah lama dilupa.
Terbentuknya pribadi Felix, berikut prinsip hidupnya yang pantang menyakiti wanita, termasuk Leona yang semestinya dia musnahkan tanpa sisa, adalah satu-satunya penghargaan bagi sang ibu yang telah berkorban napas untuknya.
Langkah kecil lamat-lamat membawa Leona pada tubuh sang suami. Tak berselang lama terjalin sebuah kedekatan yang tiada spasi. Bukan pula dekapan posesif yang membekukan sendi-sendi. Hanyalah ungkapan belasungkawa yang sudah cukup lambat untuk sekadar diimplementasi.
“Pasti sangat sulit besar tanpa seorang ibu,” bisiknya sedih, menopang kepala pada dada keras yang berdebaran. Gerak hidungnya yang mengusak-usak, tanpa sadar menghidupkan sesuatu lain yang kelojotan.
Tenggorokan mendadak kering, berulangkali jakun naik-turun demi meminimalisir rasa dahaga. Ketar-ketir, Felix berujar, “Itu bukan masalah. Aku sudah terbiasa.”
Detak jantung semakin liar begitu helai rambut merayapi leher sampai dagu. Felix merasa berat mengontrol gemuruh yang mengganggu. Matanya terpejam, mencoba menghapus bayang-bayang erotiss yang membelenggu. Namun kegagalan menyedot seiring tangan yang melepas belitan tanpa ragu. Tatapannya mengurung dengan pancaran kelabu. Leona linglung pada awalnya, namun segera paham ke mana arah mengembara tatkala perut bawahnya terganjal sesuatu.
Hukum termodinamika pada AC tak lagi berlaku. Mereka justru gerah kala pertarungan bibir yang menggebu lama-lama menjadi candu. Felix mencekal istrinya. Jemari lain menelusup ke dalam helaian rambut dan menangkup telinga. Rasa membakar kian intens merajalela. Energi kalor seolah berporos pada mereka. Pergeseran mundur keduanya tahu-tahu mencapai batas hingga membentur meja. Sepasang tangan Felix turun ke pinggul lalu mengangkat tubuh istrinya. Cumbuuan tak terlepas serempak kaki-kaki Leona yang membelit pinggang suaminya.
Bak koala, Leona memeluk bahu kokoh favoritnya selaras langkah Felix yang menyongsong sofa abu tua. Punggungnya dibaringkan dengan lembut tanpa tergesa-gesa. Kelima panca indra yang terjamah berhasil menjungkitkan gaiirah hingga titik didih maksimal. Puncak rasa sabar pun terkikis tatkala gerak tangan berpacu melerai sisa-sisa yang melekat badan. Perhiasan murni seketika melimpah ruah membanjiri mata. Tak kalah dari Felix yang menjelajah lebih dulu, jemari lentik Leona meraba-raba perut hingga dada berbulu.
Terdesak oleh gelora yang membara, Felix lekas menyibak kaki-kaki istrinya, tanpa ragu menenggelamkan diri dalam kehangatan yang mencengkeram jiwa. Hanya suara-suara dan gurat muka yang membahasakan betapa nikmat surga dunia.
__ADS_1
To be continued