Love Disease

Love Disease
Chapter 16


__ADS_3

It's not about the goal, it's about becoming the person that can accomplish the goal. Hal mewah apa yang menjadi tujuan Leona selama napas masih berembus? Berdamai dengan Felix dan mengawasi eksistensinya sepanjang sisa hidup tanpa pria itu merasa terganggu. Walau tak seromantis Ed Sheeran dalam berlagu, namun jangan salah, mata hazel Felix yang melirik-lirik justru bikin mati kutu.


Dalam penciptaan alam semesta, Tuhan Yang Maha Kuasa memerlukan enam hari bertahap. Maka untuk merebut hati sang ultimate crush, Leona yang hanya manusia biasa, tentu membutuhkan tempo yang tidak sekejap. Sebanyak apa pun effort yang terhimpun, Leona tak sekalipun merasa penat meski harus melalui penolakan berkali lipat. Pada dasarnya, berproses adalah teknik esensial dalam mewujudkan harap.


Sejak masih berpipi tembam hingga sama-sama punya sehelai uban, ia konsisten memantaskan diri untuk bisa sepadan. Tumbuh bersama di bawah naungan pendidikan membuat mereka sering berjumpa dalam tiap kesempatan. Tidak hanya di dunia kerja, pada kelas percintaan pun diliputi persaingan. Sehingga, Leona yang menganggap diri seorang petarung, mendoktrin akal agar tetap bertahan.


Langkahnya yang ringan berderap menuju susunan rak putih di sisi ruang. Hati-hati ia mengembalikan hairdryer yang saat lalu dipinjamnya dari sang suami ke tempat semula. Bukan hal asing mengetahui Felix menyimpan benda khas wanita di kamarnya. Jauh sebelum skandal mencuat dan menghebohkan publik, Felix adalah koki tersibuk seantero kota, hingga dijuluki si manusia paling tinggi jam terbangnya. Maka hal remeh pun diperlukan untuk menyokong segala.


Sembari menyusuri buku-buku tebal yang berjajar rapi, Leona salah fokus ketika netranya bersinggungan dengan turntable hitam yang dilengkapi beberapa keping LP. Fakta baru selain Felix memiliki dan andal memainkan piano, dia juga seorang kolektor dan penikmat musik. Tidak ada yang mengira, lelaki tsundere macam Felix memendam ragam bakat diluar pekerjaannya yang berbau dapur.


Leona meneliti satu persatu LP yang jumlahnya tidak sedikit. Secara berurutan pula dia membaca nama-nama musisi terkenal dunia. Seperti; Frank Ocean, Jamie Foxx, Chet Baker, Donny Hathaway, Boyz II Men, dan Cigarettes After ***. Tidak salah, selera Felix yang berkelas memang selaras dengan auranya yang mahal dan tak tersentuh. Faktor ini jua yang jadi satu dari sekian alasan ia rela terbakar dalam kobaran asmara.


Sejenak ia menengok ke belakang, di mana sosok yang memenuhi kepala tengah duduk berselonjor di atas ranjang dengan atensi yang terpusat pada nintendo switch di genggaman. Leona lekas beranjak meninggalkan rak dan bergabung di sebelah Felix yang tampak tak peduli. Bahkan pria itu sama sekali tak terganggu meski tubuh terhimpit olehnya. Dunia dan seisinya bukan lagi apa-apa jika perhatian Felix telah terkunci pada sang primadona.


“Serius sekali. Apa Mario Kart lebih seru daripada mengobrol denganku?” sarkasnya halus sembari tangan melingkari lengan kokoh yang bergeming. Perhatian Leona terpaku pada pahat rupawan yang indah terpancar, kendati raut khidmat yang tercetak menyajikan aura kekanak-kanakan. Leona jadi bertanya-tanya, bagaimana mungkin lelaki bak bocah ini dulunya hidup tanpa kasih sayang seorang ibu? Bagaimana cara pria malang ini menghadapi pertumbuhan usia dari waktu ke waktu, sedangkan ia tak memiliki ibu yang mendampingi?


“Apa ini caramu mengasingkanku? Sampai kapan kau akan mengabaikanku? Apa kau belum puas menghukumku?”


Berbanding terbalik dengan mulutnya yang mengomel, bibirnya yang ranum justru menyeringai. Menghukum? What a stupid question that is. Menggelikan sekali. Bayang-bayang liarnya bersama Felix belasan menit lalu mendadak terapung-apung hingga tanpa sadar memanggang kedua belah pipi. Hei, ayolah, manusia macam Felix yang calm and collected, bagaimana bisa sedahsyat itu mengobrak-abrik nafsunya? Bahkan spekulasi tentang Felix yang seorang aseksual dan tidak tertarik berhubungan dengan manusia seketika musnah tak bersisa. Leona patut mengucapkan, bye bye red flag.


“Sebentar.” Suara bariton yang mengudara justru memancing pikiran nakalnya agar menerjang dan menciumi bibir sewarna persik. Leona segera menggeleng-geleng, menampik niat jahatnya yang hampir terealisasi.

__ADS_1


“How could you?”


Sekonyong-konyong Felix balik menatapnya. Datar dan dingin, laki-laki itu bergumam, “Now what?”


“Why are you so pissed off? I feel blue, you know.”


“I'm not.” Saat Felix berpaling, dia tidak bermaksud menghindari wajah cemberut istrinya yang dibuat-buat. Mengobrol akan lebih nyaman jika tidak ada hal lain yang mengganggu. Maka Felix menyimpan dahulu konsol game pada kepala ranjang yang sebentuk bufet. “Akhir-akhir ini kaulah yang sering memarahiku. Apa kau tidak sadar telah melakukan kekerasan padaku? Aku bahkan sudah menuruti apa pun maumu. Kenapa tidak sekalipun kau melihat kebaikanku?”


Leona mengedip-kedip. Terpana sesaat. Hampir tak yakin seorang Felix berkata demikian terhadapnya. “What the ...? You .. you guilt-tripped me?! Apa kau benar-benar Felix?” Refleks ia menarik rahang kanan suaminya yang kontan mengurangi spasi antara mereka. “Aku curiga kau kerasukan.”


Senyum tipis lelaki itu terbentang. Menyaksikan wajah polos yang diliputi rona merah adalah hiburan paling menyenangkan. Inilah penemuan terhebat setelah sekian minggu mengenal istrinya secara mendalam. Leona mudah sekali tergoda, dan jujur Felix gemar melakukannya—menggoda istrinya. Tidak tahu kenapa, stres yang hinggap lenyap begitu saja tatkala mendengar ocehan Leona yang melantur ke mana-mana.


“Nah, kubilang juga apa. Kau betul-betul kerasukan!”


“I'm over the moon to hear your laugh, anyway.” Telapak hangat Leona menyapa pipi si pria yang juga hangat. Atmosfer panas tiba-tiba menyusut dalam hitungan detik. Jarak mereka pun terlampaui dekat, bahkan Leona bisa mengecup bibir Felix jika mau. “Let's spill the tea.”


Reaksi paling dominan si pria ialah kerutan dahi serta dua pangkal alis tebal yang naik berasamaan. “Membongkar kebenaran yang mana?”


Leona mengubah rautnya menjadi selembut sutra. Binar matanya diselimuti ketulusan dan penuh kasih sayang. “We are on the same boat (kita ada di situasi yang sama). Aku paham apa yang kaurasakan.” Embusan napasnya menerpa dagu Felix yang telah bersih dari bintik-bintik hitam.


“How come?”

__ADS_1


Mata Leona yang secerah langit beradu dengan milik suaminya yang secoklat madu. “Aku juga tumbuh tanpa seorang Ibu. Barangkali kau muak dengan apa itu TMI, tapi kau tahu, ibuku pergi karena dia benci padaku, bukan semata-mata berkorban seperti apa yang ibumu lakukan terhadapmu.”


“Aku tidak akan menyebutmu lebih beruntung dariku. Faktanya kita sama-sama kehilangan ibu. Aku hanya tidak ingin kau merasakan duka itu sendirian. Aku akan selalu menemanimu,” tuturnya halus sembari mengelusi sebelah pipi sang suami secara konstan.


“Adakah orang tua yang membenci anaknya? Kau tidak pantas mendapatkan itu.”


“Dia benci padaku karena aku menghalangi tujuan hidupnya. Aku tidak seharusnya ada. Tapi ayahku bersikeras agar aku tetap ada. Itulah kenapa, aku tidak mirip siapapun, karena wanita yang melahirkanku pun tidak menginginkan keberadaanku. Bukankah dia jahat padaku?” ucapannya terjeda oleh kekehan sumbang. “Ah, tidak, aku jauh lebih jahat karena egois dan bertahan hingga aku lahir ke dunia, padahal jelas-jelas dia menolakku.” Tarikan napasnya begitu dalam, dia tampak terluka tapi tak sekalipun meneteskan air mata. “Orang-orang mengira aku hidup dalam kesempurnaan. Mereka hanya tidak tahu apa yang terjadi pada hidupku.”


Kini bukan hanya tangan Leona yang aktif, Felix yang sejak tadi diam turut mengusap-usap pelan pipi halus dan selicin porselen istrinya. Batin keduanya seolah menyatu, terikat oleh benang tak kasat mata. “Siapa bilang kau tidak mirip siapapun.” Ibu jarinya terus bergerak-gerak di tulang pipi lalu berpindah ke kelopak mata yang terkatup. “Lensa biru ini, lensa tercantik yang pernah kulihat, dan aku ingat, ini sangat mirip dengan milik pak Walikota. Kalau aku boleh jujur, kau sungguh mirip ayahmu.”


Leona tersenyum seraya memegangi punggung tangan Felix yang bertengger di sisi wajahnya. “Kata-katamu sangat mengerikan, kau tahu.” Mencoba untuk menekan rasa haru yang bersemayam dan menggelitik dada, namun usaha Leona gagal sia-sia begitu giginya saling bergemelutuk. Kali ini, di depan Felix, Leona tak mampu menyembunyikan perasaan yang campur aduk. “Apa aku harus senang karena akhirnya kau mau mengakui kecantikanku?”


“Jika apa yang kukatakan membuatmu bahagia, maka berbahagialah, karena aku tidak pernah berdusta saat berucap.”


“It's creepy,” komentar Leona, memandangi ketampanan Felix yang makin bersinar kala sepasang hazel di hadapannya berlabuh hanya untuk dia. “Kenapa kau begitu baik? Jangan terlalu baik, seseorang kesulitan melepasmu karena kau terlalu baik.”


“Apa—”


Kebingungan di wajah Felix, juga lovey dovey yang sempat terjalin, tahu-tahu terputus begitu rungu keduanya menangkap suara pintu terbuka, disusul rengekan anjing, lalu bola basket yang memantul-mantul lantai dan menimbulkan berisik. Tatapan mereka saling terhubung, namun belum sampai mengeluarkan kata, satu teriakan memaksa Felix untuk beranjak segera.


“Anybody's home? Knock-knock! Who's there?!”

__ADS_1


To be continued


__ADS_2