Love Disease

Love Disease
Chapter 14


__ADS_3

Berjuang itu menyebalkan. Tapi berjuang adalah komponen penting dari kehidupan. Struggles build strength. Seperti yang diungkapkan Arnold Schwarzenegger, kekuatan tidak berasal dari kemenangan, perjuangan Anda-lah yang melahirkan kekuatan, ketika Anda menghadapi kesulitan dan tak menyerah, itulah kekuatan.


Leona memahami kutipan tersebut sebagaimana ia mewujudkannya. Siapa pahlawan dalam hidup? Ialah diri sendiri. Oleh karena itu, tidak seyogyanya dipertanyakan mengapa ia di sini, bertatap muka dengan wanita yang saat lalu memohon diperistri sang suami. Terang, menjaga pasangan adalah keharusan, hal fundamental bagi keutuhan rumah tangga pun masa depan.


Walau belum memperolah izin dari dokter lantaran luka-lukanya masih perlu pemulihan, Leona ngotot ingin menuntut perhitungan. Masalah akan semakin merembet bila tak segera dituntaskan. Alih-alih menerima bantuan Dean, ia menghadap seorang diri ke tempat pertemuan. Langkahnya tegap nan mantap bak perwira yang hendak terjun ke medan perang.


“Aku menyesal tidak mengundangmu ke tempat yang lebih layak.” Ia menoleh ke samping kanan. Meresapi keindahan jingga yang pecah di cakrawala. Biasnya bertabur di sungai Hudson yang terbentang seluas samudra. “Aku hanya butuh bicara sebentar denganmu.”


Angin sepoi menggoyangkan anak-anak rambut. Perempuan yang berseberangan sekitar satu meter dengannya tampak tak melukiskan raut apa pun. Keruh dan linglung mengekang ekspresi.


“Apa yang ingin kaubicarakan?”


Sedingin udara senja musim gugur. Getarnya teredam oleh gemerisik pohon-pohon oak yang terhantam bayu. Dedaunan yang telah menguning turut jatuh di dekat sepatu.


“I hope you can forgive me, untuk kelancanganku yang menghancurkan hubunganmu dengan Felix.” Mengakui setitik rasa bersalah atas perbuatan ilegal yang merusak, tak mengurangi karisma. Terhadap Jessica, Leona akan berlemah-lembut meski mengecapnya rival seumur hidup.


“Aku yakin memang kau orangnya,” sahut Jessica, mengembangkan senyum tanpa makna. Namun di mata birunya, Leona menyaksikan cemooh yang kentara. Seperti mana kalimat konotatif yang tertuang dalam sastra.


Tiada manusia sepemberani Leona yang sukarela mengirimkan potret-potret akrab nan mesra antara ia dan mantan kepada sang ayah. Tak kaget sama sekali, Jessica bahkan bersaksi betapa obsesif Leona terhadap Felix, terlebih saat mereka masih terikat pertalian. Meski tak pernah komplain atas sikap frontal Leona, Jessica tak menafikan muak yang menyesak di tiap embus napasnya.


“Yah, aku hanya punya satu pilihan. Tindakanku mungkin telah mempersulit hidupmu. I understand that this is my fault, and I apologize for what happened,” aku Leona tulus walau terbalut angkuh.


Seringai tipis terpatri. “Apa lagi yang perlu disesali, semua sudah terjadi. Aku hancur sekarang,” desah perempuan berwajah layu, mengklarifikasi ucapan lewat pendarnya yang pilu. “Ini bukan salahmu, salahku sendiri yang berpikiran dangkal dan tak bisa menjaga diri.”


Ujaran sang bekas pacar suami memang bukan sindiran, namun pendengarnya menafsirkan demikian. Jika orang lain menilainya sosok yang biaadab, maka tak perlu ia berpura berhati malaikat. Tak usah pula mengimbuhkan kata tak tega demi mengaktualkan predikat jahat.


“Kalau begitu bisakah aku meminta padamu agar tidak mengganggu suamiku? Dia bukan lagi kekasihmu. Hubungan kalian takkan berhasil kalaupun tetap bersama. Kumohon, relakan dia untukku. Apa kau bisa?” tekan Leona terkesan memaksa.


“I need him for my—”


“I need him like air. Dia suamiku, tolong hentikan balas dendam. Karena aku bisa membalasmu lebih kejam dari ini. Apa pun bisa kulakukan, apa pun,” potongnya tak terbantah. Matanya tajam memancar.


“Aku hanya mau milikku kembali. Please, don't be like this. Kau sempurna, kau punya segalanya, masa depanmu bagus. I have nothing, my life is ruined. Hanya Felix yang bisa menerimaku dengan tulus, hanya dia yang bisa menyelamatkanku,” rengek si perempuan patah arang, menodong Leona dengan segurat sendu menyedihkan.


Kelopak mata Leona menyipit. Seraya mengatur deru napas, dia menukas, “You're pregnant, aren't you? Janin itu bukan milik suamiku. Dan kau ingin mengorbankan orang tak bersalah demi bayimu? Kau ingin menghancurkan hidup orang lain demi menyelamatkan hidupmu? Seriously? You're not sane (kau tidak waras).”


Vokal sengaknya mengundang polusi. Kesejukan udara berubah memanas serentak netra yang berapi-api. Sejak dahulu, Leona berpedoman pada satu paradigma, bahwa ketika diri mencintai, maka buatlah seseorang yang kaucintai bahagia dan berarti, bukan kaubebani dengan masalah yang tiada henti.


Perhatiannya yang masih tertaut pada wajah merana di depannya, lekas bergerak maju. Atensinya merendah, menatap Jessica yang hanya setinggi hidung. “Aku memperingatkanmu. Berhentilah sekarang, karena aku ... bisa bertindak lebih gila. Don't come to my husband anymore. Aku punya batas yang tak bisa kauseberangi.”


Di hadapannya, Jessica tertunduk, berikut peluh-peluh kristal yang runtuh. Tersentak oleh untaian kata yang seluruhnya fakta. Tersadar pula, kenekadannya telah masuk tindak eksploitasi. Semata-mata melindungi diri sendiri, dia justru memperalat Felix sebagai perisai.


Seharusnya dia merenungi, mengapa Tuhan memisahkannya dari Felix? Mengapa Tuhan memberi teguran keras itu padanya? Mengapa? Karena Tuhan sedang merindukannya, Tuhan menunggunya untuk bertaubat pun menjaganya dari perbuatan murtad. Betapa Tuhan Maha Pemaaf lagi Penyayang.


-:-

__ADS_1


Perih di telapak kaki baru terasa setelah berjam-jam mengembara tak tentu arah. Leona berjalan tertatih usai keluar dari Tesla milik suami. Tak disangka-sangka, terkena serpihan beling akan sesakit ini. Seandainya ia mendengar nasihat dokter yang mewanti-wantinya agar tak banyak bergerak, barangkali ia tak semenderita ini. Kebadungannya memang perlu dipreteli.


Untuk sampai pintu unit yang tidak mencapai satu kilometer, dia perlu sepuluh menit jarak tempuh. Rencananya dia akan langsung mandi lalu rebahan di kasur. Masih luang dua jam untuk mempersiapkan diri menyambut sang suami. Dikiranya pukul duapuluh lewat lima menit, Felix belum rampung mencumbui dapur restoran seperti biasa. Tahu-tahu orangnya sudah di depan mata dan nyaris membuatnya terjungkal.


Mujurnya dia masih berdiri dan tak bergeser sejengkal pun. Hanya debar jantungnya yang setia memantul-mantul. “Hai.” // “Hai.”


Leona membungkam bibir yang hampir menyembur tawa. Bagaimana mungkin mereka menyapa di waktu bersamaan?


“Whatcha doin here?” // “Where were you?”


Tabir tipis seketika terkikis habis. Keduanya berpadu dalam gelak tawa yang harmonis. Di sisa-sisa gelitik yang anarkis, Leona terpaku memandangi sosok bersuara merdu. Kehangatan serta-merta mengalir deras hingga melegakan paru-paru. Terharu-biru, ia memohon pada semesta agar menghentikan putaran waktu.


“Apa kau tahu apa yang ingin kukatakan saat ini?”


Dua pasang netra saling berselancar menyelami. Ada detik ketika Felix tak menyadari senyumnya memancar semanis gulali. “Apa?”


“You so fuckin' precious when you smile.” Telapak halusnya mengelusi pipi berbintik yang terasa kasar dan bergerigi. Leona menggilai Felix dalam wujud seperti ini. He is so damn hot and spicy (LMAO).


Lekung bibir itu surut perlahan seiring Leona yang melepas sentuhan. Ruang di hatinya yang penuh mendadak kosong dan kehilangan. Tanpa sebab pasti, Felix merasa ketergantungan.


“Kau mau ke mana?” tanya Leona begitu melihat penampakan rapi sang suami dengan jaket dan sepatu hitam yang matching untuk nongki. Tuan Baker ini mau meet up siapa, anyway? Tidak mungkin Jessica, bukan? Mana berani, dia sudah memberantas bahkan mengancam. Namun jika dugaannya benar ... oh, it can't go on!


Belum mendapat jawaban atas kekalutan, pria itu menggenggam lengannya penuh kelembutan. “Masuk dulu.” Tak menghiraukan rautnya yang bertanya-tanya dan diserang curiga, Felix justru menginterogasi balik dirinya, “Dari mana saja?” Selaras pintu yang tertutup, cekalan tangan ikut terputus.


“Bertemu teman,” sambut Leona, lantas matanya memicing. “Kau sendiri mau ke mana? Kenapa tampan begitu? Mau menggoda perempuan lain?” cecarnya kebut-kebutan.


“Em ... teman. Dia perempuan.” Leona bersedekap dada. Berakting kesal padahal dia resah. Nada itu mengerikan sekali. Menyimpan bangkai memang bikin gelisah, terlebih lagi Leona khawatir Felix akan marah jika tahu dia melabrak Jessica.


Entah disadari atau tidak, gelagat mereka jelas sama-sama mengindikasi sesuatu bernama posesif.


“Oh,” bergumam, Felix mengusap-usap janggut jejak sapuan istri.


“Kenapa pakaianmu sekasual itu? Kau ingin bertemu siapa? Kau tidak berniat selingkuh, kan?”


Bukan fokus pada pertanyaan Leona yang menuntut balas, Felix janggal oleh gerak kaki istrinya yang diseret-seret. “What's wrong with your feet?”


Sekonyong-konyong Leona tersengat mendengar suara berat nan tajam. Pada mulanya dia tak berharap pria itu tahu tentang cedera yang dia alami. Tetapi nyerinya memang natural. Sehebat apa pun disembunyikan, lama-lama juga ketahuan, mana pula dibebat perban. “Oh, hanya luka kecil. Tidak sengaja menginjak pecahan kaca,” tuturnya enteng. Leona berlagak tenang agar tak mencurigakan. Memalukan andai boroknya terbongkar.


Mengernyit, Felix terheran, mengapa luka serius seolah dianggap konyol. “Kau baik-baik saja? Kenapa itu bisa terjadi?”


Di balik tubuh yang memunggungi, Leona mengangguk. “Em. Don't worry, I'm literally fine.” Sembari menenteng sepatu boots bertali, ia menyunggingkan senyum pada Felix. “Aku pergi mandi dulu, bye.” Menyedekahkan satu flying kiss sebelum pergi. Dengan genit pula mengerling satu mata. “Oh, tadi kau belum menjawabku. Jadi kau mau ke mana memakai pakaian seperti itu?”


Felix merutuki istrinya yang masih menyinggung konteks yang telah berlalu.


-:-

__ADS_1


Sekian menit sudah Leona merampungkan ritual bebenah diri. Dia menghampiri meja makan setelah Felix memberitahu hidangan telah tersaji. Mata hazel di arah jam 12 senantiasa melirik bak menguliti. Meski bertingkah biasa saja, Leona peka ke mana sorot itu terarah. Ke mana lagi kalau bukan pada kaki-kaki yang serupa mumi.


“Hm. Ini wangi.” Hidungnya kembang-kempis mencium aroma parmesan yang pekat.


Decitan menggema saat kursi ditarik. Felix memutuskan duduk di hadapan istri. “Aku belum sempat memasak sup kentang. Tidak apa-apa, kan, malam ini kita makan spageti?”


Tidak ada wajah keberatan. Leona tampak tak peduli atas gagasannya tadi pagi. “Oh, tidak masalah. Aku suka spageti.”


Tangan kanannya mengambil garpu. Tak sabaran ia mengeruk helaian pasta, menggulungnya jadi bulatan menggugah. Pada konsepnya, makanan adalah pemikat, maka kebenarannya pun teruji dengan produksi air liur yang meningkat.


“Ini bukan daging. Tapi aku merasa tidak asing.” Leona mengendus irisan serupa smoked beef namun berwarna lebih cerah. “This isn't meat, is it?” Tak hanya membaui, ia juga menyicipi dengan lidah. Cita rasanya yang sedap dan khas kontan menghidupkan lentera di kepala. “White truffle?”


Sebuah rekognisi dianugerahkan pada Leona berupa satu jempol dan senyum tipis. “Kau suka?”


“Aku lebih suka kau.” Leona terkekeh. “I love you three thousand, my iron Chef,” sambungnya dengan jemari yang koherensi membentuk tanda cinta.


Perlu penelitian ekstra untuk gejala-gejala aneh yang Felix rasakan, seperti halnya gelenyar di dada yang menggelitik tiba-tiba.


“Why do you love me?”


“Hmm ....” Bergumam panjang, Leona mengerutkan bibir sembari telunjuk menyentuh dagu. “I have no reason. Aku hanya tahu, aku akan mati tanpamu.”


Felix tidak seutuhnya fakir cinta. Emosi tak berwujud itu sesungguhnya ada, tertimbun oleh entitas lain yang kuat nan pekat. Ia hanya sebentuk tunas yang rapuh, masih amat prematur bila diimplementasi. Potensi lenyap lebih besar jikalau tak dipelihara sepenuh hati.


Di tengah gemericik air ledeng, sepasang tangan menyelinap di bawah ketiak, merengkuh hangat sekeliling perut dan hatinya. Tubuh itu lalu bersandar di punggung, dengan wangi lembut feromon yang menguar, Felix terlena. Cuddle sejatinya posisi ternyaman yang menambah keintiman bagi pasangan.


“Beri aku izin untuk memelukmu sebentar saja.”


Felix meneleng tapi tak mampu melihat wajah istrinya. Suara sendu itu beresonansi dan membikin gundah. “Kau kenapa?”


“Aku sedang bahagia dan memikirkan cara jitu untuk mencairkan hatimu.”


Selang beberapa saat, keheningan menerpa. Leona tak bicara lagi setelah tertawa. Peluang ini memberi Felix waktu untuk bicara dan menjelaskan peristiwa yang mungkin menimbulkan salah sangka.


“Ada yang ingin kusampaikan padamu. Tadi siang—”


“Jangan katakan apa pun.” Leona menyela sembari mengeratkan pelukan. “Aku tahu, kau tak perlu mengatakannya.”


“Kau tahu?” Felix mengerutkan dahi.


“Semuanya,” tegas Leona, tak menyisakan celah untuk sang suami menyebut nama lain.


“Felix.”


“Hm?”

__ADS_1


“Apa kau akan meninggalkanku jika aku berbohong seperti dia?”


Tobecontinued


__ADS_2