Love Disease

Love Disease
Chapter 7


__ADS_3

Di atas ketinggian duaratus meter, Leona berdiri menghadap kota yang menggelar gedung-gedung raksasa, kemegahan langit serta jembatan gantung yang melintasi hamparan sungai. Keindahan yang selayaknya panorama ini bukanlah artificial. Yang berarti adalah benar-benar nyata. Nihil dari unsur dunia simulasi yang tak lagi peduli akan fakta, fiksi, realitas, semu, benar dan salah yang menyatu dalam satu kubu.


Baudrilard menyebut kesatuan tersebut sebagai simulacra. Contoh konkretnya adalah dunia yang didiami si kuning dan si merah jambu beserta kawan-kawannya. Namun, selain Bikini Bottom, manusia pun bersimulacra, seperti halnya seseorang yang membohongi publik dengan membangun image yang jauh berbeda dari karakter aslinya. Entah karena self defense, mythomania atau murni selalu ingin terlihat sempurna.


Leona dikenal masyarakat dengan attitude yang baik. Sikap ramah, rendah hati dan great talker mempermudahnya untuk diterima pun dielu-elukan. Maka lumrah saja ia memiliki jutaan penggemar di dunia daring maupun luring. Lantas spesies bumi mana yang akan percaya jika Leona si drop-dead gorgeous itu sejenis manusia tirani yang menggunakan jalan paling licik, misalnya saja kudeta, demi menggaet lelaki yang dia puja.


Kendatipun dia mengingkari, dan menekankan kebiadabannya tersebut adalah manifestasi dari sebuah afeksi. Namun, Matthew yang telah memahami Leona sejak adiknya masih sering ngompol pun tak yakin begitu saja. Lelaki yang kepintarannya setaraf Einstein itu memang paling sulit ditipu-tipu. Sebab itu Leona yang mendengar khotbahnya hanya bisa mendengkus, menggerutu, terkadang memicingkan mata sambil komat-kamit.


“Keabsenanmu selama beberapa tahun ini kukira kau sudah benar-benar sembuh, tapi apa yang kudengar beberapa waktu lalu membuatku khawatir. For the last time, I beg you, please ... lanjutkan konsultasimu.”


Matthew memohon dengan penuh harap. Sebelumnya ia sudah cukup lega usai membaca catatan psikiatrik Leona kali terakhir. Dia pikir adiknya telah kembali normal, namun di luar pengawasannya, gadis itu ternyata belum sembuh, malah semakin parah.


Leona merotasikan mata. “Kusarankan agar kau tak terlalu memercayai informasi Dean.”


“Dia orang kepercayaanku yang mustahil berdusta. Dengar, aku menunjuknya secara khusus untuk menjagamu, karena aku tahu dia orang yang sangat berdedikasi. Tolong jangan menyusahkannya, apalagi kaulibatkan dalam skenario jahatmu.”


“Kenapa semua orang berpikir aku jahat, padahal aku melakukan hal yang terbaik untuk hidupku?” sangkal Leona.


“Dengan mencurangi Felix?”


“He is my universe, my everthing. Kalian meninggalkanku, tapi dia satu-satunya orang yang ada untukku. Jangan memprediksi apa pun yang tidak kautahu,” racau gadis itu. Suaranya setengah bergetar. Tak terima mendengar pernyataan yang berlawanan dengan yang dia rasakan.


“Cobalah kunjungi dokter Hardy. Jangan menganiaya dirimu sendiri dengan cara seperti itu. Aku akan meminta Dean mengurus semuanya.”


“Aku tidak melakukan apa-apa pada diriku. Aku tidak pernah lagi melakukannya. Kenapa sulit sekali kau percaya padaku?” sergah Leona berapi-api. Guncangan itu sangat nyata tergambar di wajahnya yang mulai memerah. Gerakan mondar-mandirnya pun cukup membuktikan rasa gelisah.


Di negeri seberang, Matthew duduk bersandar sembari menikmati syahdunya langit senja. Pikirannya menerawang pada tahun-tahun pertama adiknya menderita gangguan mental. Ketidakharmonisan orang tua yang berlanjut perceraian menjadi penyebab paling mungkin adiknya melakukan self-injury. Hal itu terjadi berulang tanpa sepengetahuannya, hingga pada suatu hari ia memergoki secara langsung dan memutuskan membawa gadis itu ke psikolog. Sampai sekarang, Matt tak pernah merasa tenang.


“Kau tahu, tidak ada seorang kakak yang rela melihat adiknya menderita. Kulakukan ini agar kau terselamatkan. Demi kebaikanmu, masa depanmu dan mimpi-mimpi—”


Tut!

__ADS_1


Dengan gusar Leona menutup sambungan sepihak. Bernapas saat ini terasa menyesakkan, jantungnya pun bertalu-talu kencang. Dia tidak paham kenapa bisa semarah ini hanya karena mendengar sebuah kebenaran. “Persetan, Matt!”


Leona memejamkan mata, mencari-cari kedamaian. Jemari kirinya turut menelusuri surai panjang yang masih kombinasi pink dan pirang hingga tersorong berantakan. Sejenak, atensinya beralih pada sosok pria yang setia mengawal di belakang. Jiwanya yang berangsur tenang menghelanya kembali ke kenyataan. Dia mendelik, sebal menyaksikan raut tanpa dosa pria berkemeja abu-abu terang.


“Jangan mengadu padanya tanpa seizinku, Dean. Kau dalam bahaya jika melakukannya sekali lagi!” tunjuknya mengancam, masih dengan sisa emosi.


“Maafkan saya telah membuat Anda merasa tidak nyaman. Saya hanya melaksanakan tugas. Sebagaimana mestinya pekerjaan saya, maka saya juga menerima apa pun konsekuensinya,” ungkap pria muda itu lugas, terkendali. Namun bertatap-tatap langsung, ia tak berani.


“Heish! Kau membuatku sakit kepala,” ketus gadis berkaus putih tipis berpadu black sport legging itu masih berwajah congkak, sambil lalu menyerahkan kembali ponsel pada pemiliknya. Kemudian ia menarik kursi makan setelah mengisi segelas air mineral dari dispenser. Berdebat seusai pilates sungguh menguras cairan tubuh hingga menyebabkannya dehidrasi.


“Nona, jika saya boleh memberi saran, sebaiknya Anda jujur pada Tuan Felix dan mengakui kesalahan Anda. Saya yakin jika Anda mengatakannya lebih awal, Tuan Felix akan lebih mudah memaafkan.”


Sekonyong-konyong lelaki yang hobi cosplay jadi buntutnya itu telah berdiri di sisi. Leona membeliak, heran terhadap manusia satu itu yang acapkali bergerak seperti hantu.


“Untuk apa mengakui kesalahan yang tak kulakukan? Aku tak pernah merasa berbuat salah padanya. Justru dia yang punya banyak salah padaku. Dia bersalah telah mengabaikan perasaanku. Dia juga bersalah berkencan dengan wanita lain disaat tahu ada aku yang sangat mencintainya. Dia yang melukaiku lebih dulu. Seharusnya dia yang meminta maaf,” tekannya bersungut-sungut. Egonya yang sebesar Greenland tak pernah rela tersudutkan. Denial merupakan pertahanan diri yang paling aman. Namun playing victim bukan tindakan yang dibenarkan.


Dean menunduk. Merekam secara urut butir pembelaan yang tertuang. Sebuah getar familier mengetuk-ngetuk pintu memori di bagian paling tersembunyi. Dialah perasaan romansa yang menempati ruang di hati. Jika kisah ini dijabarkan lebih luas, maka akan terpampang jelas bangun datar geometri bersudut tiga yang menghubungkan mereka. Tapi Dean memilih menepikannya. Bukan karena tak ingin berjuang, sebaliknya dia lebih paham bagaimana itu kaidah mencinta.


“Nona, Tuan Felix adalah orang yang baik, saya yakin beliau akan memahami keputusan Anda. Katakanlah yang sejujurnya agar semua tidak terlambat untuk diperbaiki. Saya—”


Leona mencondongkan tubuh hingga wajah mereka nyaris bersentuhan. Dean refleks menarik diri ke belakang. Sementara, bola mata Leona dengan nakal memindai naik-turun sosok lelaki yang tiba-tiba membeku kedinginan. Fokusnya lalu terhenti pada satu titik akurat tepat di bawah tali pinggang. Leona mengangkat satu alis. Tinggi mereka yang hanya selisih tujuh centimeter memudahkannya untuk menatap lensa hitam yang waspada. Setenang air telaga, dia bersuara, “Kau ... gay?”


Dan itu pertanyaan paling mengerikan yang pernah Dean dengar.


-:-


Lokasi restoran Felix yang terletak di Henry Street hanya berjarak sekitar 500 meter dari One Manhattan Square, kompleks kondominium yang mereka tinggali. Paling lambat sepuluh menit untuk jarak tempuh ke sana dengan jalan kaki. Namun Dean mengubah perjalanan menjadi lebih singkat berkat Range Rover-nya. Leona yang duduk di jok belakang segera keluar begitu tiba di daerah tujuan. Sedangkan Dean menunggu hingga sang Nona masuk dan memastikan keamanan.


Pada awalnya Leona ke sini bertujuan menemui suami yang dirindukan. Perjumpaan mereka terakhir kali saat sarapan, frekuensi tatap muka pun hanya sekejapan. Felix itu ignorant, seandainya Leona tak berinisiatif merangkai obrolan, komunikasi mereka dipastikan kurang dan sangat jarang. Manusia tak luput dari kekurangan. Umumnya dideterminasi oleh unsur manusiawi. Maka jika sepasang anak Adam dipersatukan dalam pernikahan, tugas mereka adalah saling melengkapi dan mengisi.


Sambutan ramah menyapa ketika Leona menapaki jalur masuk restoran. Dia memandang sekeliling dan menyunggingkan senyum menyaksikan meja-meja yang padat pengunjung. Sayangnya, bahagia itu tak bertahan lama begitu menangkap pemandangan langka yang mustahil terjadi. Leona tak memerlukan waktu untuk memroses keganjilan yang terasa sangat salah dan mengganjal sistem respirasi. Langkahnya kemudian terhenti dua meter dari pusat atensi. Namun yang paling nyelekit adalah melihat senyum itu memudar tatkala pandangan mereka bersua.

__ADS_1


“Boleh kita berbicara di teras?”


Satu anggukan terpenuhi dan Leona segera melangkah berlawanan arah menuju serambi. Tangannya terkepal dan membuka berkali-kali. Kenyataan sang suami mencurahkan senyum untuk wanita lain sungguh membuatnya emosi. Siapa pun akan menganggap itu hal sederhana dan tidak berdosa, toh hanya senyum, bukan menyelingkuhi. Namun pokok masalahnya, dia adalah Felix. Manusia anti ekspresi yang tak pernah tersenyum terutama pada istri sendiri. Wanita asing itu jelas tidak sebanding dengan Leona yang secantik dan mengagumkan Barbara Palvin.


Dengan rakus, Leona menghirup udara, kemudian menghadap suaminya yang hening bak manekin.


“Kenapa kaulakukan itu padaku?” tanyanya sengit bercampur sedih.


“Apa yang kulakukan?”


Leona mendumal dalam hati, mengutuk suaminya yang masih dungu dan tidak peka sama sekali.


“Kau ....” Emosi yang membubul di dada coba dia tahan. “Kau tersenyum untuk perempuan lain!”


Pria itu tampak tak berminat, air mukanya biasa-biasa saja seolah tak melihat badai berkecamuk.


“Dia hanya tamu. Wajar, kan, aku menjaga sikap baik di depannya?”


Asap tipis mulai berdesakan menembus telinga. Kemarahan Leona seperti menyundul ubun-ubun. “Okay! Dia hanya tamu. Tapi kau peduli padanya!”


“Apa yang salah dengan itu?” Belum terbuka juga pikirannya, padahal wajah Leona sudah merah menyala dengan tanduk api virtual sebagaimana wujud iblis.


“Jadi menurutmu benar, melindungi perasaan orang lain lebih penting dari pada istrimu sendiri? Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kau tersenyum padaku.” Leona menjeda, menyusut kobaran api yang membakar dada. “Kurasa tidak pernah. Karena kau benci padaku! Aku bukan istri yang kauinginkan!” pekiknya. Laju darah meningkat, begitupun napas yang tersengal-sengal.


“What's the matter with you?” tuntut Felix, terheran pada Leona yang tiba-tiba datang dan mengamuk, sementara ia merasa tidak berbuat salah. Lantas dia melangkah maju, tangannya terulur hendak meraih lengan istrinya, namun dicegah lebih dulu oleh gadis itu yang bergerak mundur.


“I hate myself like this.” Leona menunduk. Sadar diri dia telah menjadi sangat emosional. Mungkinkah dampak pidato panjang Matthew tadi siang? Sikap melankolis ini tentu berbenturan dengan personality-nya yang sanguinis. “Kenapa kau tidak menghargaiku? Apa aku memang tidak seberharga itu? Apa aku tidak pernah berharga untukmu?!”


Untuk kedua kali, Felix merasa janggal. Sampai detik ini ia belum mampu memahami peralihan emosi istrinya yang eksesif. “Kau berlebihan.”


Satu kalimat itu telak mengingatkan Leona bahwa ia sama sekali tak berarti, untuk siapa pun, bahkan suaminya sendiri. Felix terlalu mengentengkan perasaannya. Ia dijauhi dan tak dipedulikan seakan noda.

__ADS_1


Tanpa membalas lagi, ia melangkah pergi, melewati suaminya yang bergeming seorang diri. Leona tak berani menoleh ke belakang. Kendatipun ekspektasi terhadap manusia selalu berujung menyakitkan, tapi sekali ini saja, dia berharap Felix mengejar dan menenangkan dirinya. Namun hingga beberapa meter ia berjalan, pria itu tak sekalipun terlihat siluetnya.


“I hate myself for loving you like crazy.”


__ADS_2