
Tugas utama manusia adalah beribadah kepada Tuhan-nya. Urusan duniawi baiknya diletakkan di nomor sekian begitu bab religius terlaksana. Tak ubahnya Dean yang menempatkan Leona di urutan kedua sebelum dirinya. Maka ketika ia menerima telepon singkat dari sang Nona, ia bergegas meluncur ke pusat kota.
Terkejut dan panik menjadi reaksi perdana sesaat setelah ia menyongsong unit penthouse. Betapa tidak? Kondisi living-room yang semula terstruktur rapi, kini porak-poranda. Teramat mengerikan seolah habis kerampokan. Serpihan beling tampak berhamburan. Anyelir putih yang sedianya mempermanis pun tergelepar tragis.
Punggungnya membungkuk memunguti buku-buku yang bercecer. Namun jejak-jejak merah yang menodai lantai abu tua meningkatkan rasa waspada. Dean memperluas pandang dan menemukan sang Nona berdiri di balik dinding kaca di ruang paling ujung. Lelaki itu kontan bangkit, membaringkan tumpukan buku di meja kayu.
“Dean ....”
Sosok yang didesiskan namanya, menatap sedu dan cemas pada perempuan berpakain mamba style yang ketara sekali sedang kacau. “Sebaiknya Anda duduk. Izinkan saya membersihkan luka Anda.”
Tak mengindahkan permintaan sang asisten, Leona menelusupkan jemari ke helaian rambut, meremass kepala yang terasa berdenyut-denyut. Dia bergerak-gerak gelisah. “Aku takut, Dean. Aku takut sekali. Aku takut dia pergi, aku takut kehilangan. Ssshh.”
“Anda tidak akan kehilangan. Mari saya bantu duduk.”
Dean merangkul bahu sempit berlapis jaket kulit. Membimbing wanita yang dikasihinya tersebut ke sofa krem dengan hati-hati. Setelah menyelimutkan jas navy pada paha yang separuh terbuka, dia buru-buru ke dapur, menyambar wadah apa saja yang bisa digunakan untuk menampung air bersih. Tak ketinggalan handuk kecil dia bawa sebagai pelengkap.
“Kau tahu, Dean, bagaimana susah payahnya aku memisahkan mereka dengan membongkar kebohongan. Aku bersabar menunggu sampai bom waktu itu meledak. Tapi lihatlah, perempuan kurang ajar itu tanpa tahu malu tetap menggoda Felixku. Apa yang harus kulakukan, Dean? Bagaimana jika Felix meninggalkanku? Aku tidak mau ditinggalkan lagi, aku tidak mau, aku tidak mau Dean. Ssshh.” Kembali, Leona menjambaki surai bergelombangnya yang telah kusut masai. “Tidak, tidak bisa seperti ini! Aku sudah berjuang terlalu banyak, Dean.”
Mega badai itu melumaat serakah rasionalitas. Tiada sisa kewarasan yang tampak. Selaku orang yang telah lama mengenal kejiwaan sang Nona, Dean menganggapnya biasa, kendatipun hati diliputi iba. Lembut dan telaten dia mensterilkan kaki berlumur darah yang tertusuk pecahan kaca. Dia harus segera menghubungi dokter demi meminimalisir timbulnya infeksi, juga akankah dilakukan prosedur operasi kecil atau tidak.
“Nona, dengarkan saya bicara.” Selaput pelangi selegam arang menyorot wajah pucat bak tanpa darah. Sembari mengeringkan telapak kaki yang berpangku, Dean berujar, “Tuan Felix tak mungkin kembali pada orang yang telah berdusta dan menutupi kebenaran, terlebih mereka tak satu keyakinan. Anda lebih paham bagaimana karakter Tuan Felix, bukan?”
“Tapi mereka ....” Leona menekan bibir, tak rela melukai lidahnya melafalkan kata yang terlarang. “Felix pernah jatuh cinta padanya. Mereka saling jatuh cinta, Dean. Lalu aku ... aku apa? Aku bukan apa-apa baginya. Apa yang bisa membuatnya bertahan denganku jika tidak ada aku di hatinya?” Sepasang tangan menangkup wajah. “He is my painkiller. Bagaimana aku bisa hidup tanpa dia?”
Begini kiranya bila trauma yang membelenggu kambuh. Leona berubah lain, asing sama sekali. Seolah bertukar jiwa dengan perempuan cengeng yang kriris optimis. Seorang penderita mental seperti Leona semestinya mendapat penanganan khusus dari sang ahli. Namun, setiap kali Dean membujuk agar mengikuti rangkaian konseling, ia memprotes keras bahwa dirinya bukanlah pesakitan.
“Saya tidak pernah melihat Anda sefrustrasi ini. Apa sebaiknya saya memanggil dokter Hardy?”
“Apa katamu?”
Taktik mujarab dikala sempit peluang ialah mencetuskan nama sang pemicu bencana. Tak mubazir Dean mengurai kalimat tanya berselubung ancaman, sebab kini sang Nona telah kembali ke rupa aslinya. Terbukti dengan pelototan sengit yang memberangus sukma.
“Berani melapor, kau!” Leona menggertak, berikut memeragakan aksi menebas leher.
__ADS_1
Terkekeh hambar, Dean mengusap tengkuk yang meremang. Tenggorokan turut kerontang. Kendati demikian, tidak ada kata ampun bagi Dean untuk tetap setia mengawal dan menjaga. Terkadang pun Matthew menjulukinya sang penghamba. Jika benar gangguan psikologis stockholm syndrome adalah nyata, maka kepatuhan Dean yang super megah ini dapat dianalisa.
“Apa Anda membutuhkan sesuatu?” alihnya.
Rongga dada mengembang ketika Leona menarik napas panjang. “Hm. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Carikan cara agar aku bisa bertemu dengannya. Aku harus melindungi Felixku dari rubah betina.”
Pada akhirnya, Leona tetaplah dirinya, sang ratu iblis yang kejam macam penyihir Jadis yang tidak pandang bulu terhadap siapa ia berkonfrontasi. Jika dia beranggapan mampu mengendalikan dunia dengan kuasanya, maka membasmi Jessica hanya butuh satu peluru dan tekad membara.
“Dean ....”
“Ya, Nona?”
“Terima kasih.”
-:-
Tak termaktub dalam surat perjanjian mana pun yang menyatakan Felix wajib menghibahkan kompensasi pada sang mantan. Tidak pernah ia meminta dicintai setulus apa yang terungkap. Berjumpa Jessica pada waktu itu sudah menjadi puncak rasa syukur. Wanita yang diklaimnya santun dan tak neko-neko tersebut laksana berkah dari Tuhan, sebab hanya seseorang seperti Jessica yang dia butuhkan untuk menghijaukan gersang dunianya.
“Aku tak merasa bertanggungjawab atas dirimu. Apa maksudnya menikahi?”
Bersimbah air mata, Jessica mengiba. “Kasihanilah aku, Felix. Aku takut pada ayahku.” Terisak pilu, berharap mantan kekasihnya sudi menyelamatkan.
“Tidak, Jess. Aku tidak bisa.”
“Kenapa? Ini hanya pertolongan kecil, Felix. Aku butuh status,” berondong Jessica.
Ibarat peribahasa 'tidak makan nangka, tapi kena getahnya'. Felix bahkan tak berani menjamah Jessica ketika mereka masih berkencan. Sekadar bibir bertemu bibir pun terasa sangat berdosa, apalagi setelah tahu keyakinan yang dianut sang mantan. Sejatinya dia non-muslim, namun dia memahami betapa mulia adab agama Islam. Bersentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan pasangan halal pun hukumnya haram.
“Dengan alasan apa pun, kau dan aku tak mungkin bersama. Jika kau ingin aku membantumu, akan kulakukan, tapi bukan menikah,” ungkap Felix. “Lagi pula, kenapa bukan pada ayahnya kau meminta pertanggungjawaban?” tandasnya on point.
Jessica menunduk, bola matanya bergerak resah memandangi jemari yang menari-nari. Pada akhirnya, kenyataan paling getir yang harus dia katakan. “A-aku tidak tahu siapa ayahnya. Aku hangover saat itu.”
Tergugu, Jessica menyesali perbuatan yang melanggar norma, dan kini membuahkan petaka yang kian mendera pun tak sanggup dia sangga. Tumbuh besar di lingkup minoritas menghantarkannya pada lingkar pergaulan bebas yang tak terarah, hingga berimbas pada diri yang semakin jauh dan melenceng dari syariat Islam.
__ADS_1
“Aku putus asa, Felix. Aku mencintaimu, tapi ayahku tak pernah merestui,” adunya penuh lara dan air mata.
Terbentang pula ingatan pada hari ketika ajakan setan berhasil menjerumuskan. Disadarinya, inilah teguran untuknya yang selama ini dzholim terhadap Tuhan. Sesungguhnya pun agama tidak kompatibel jika digunakan sebagai parameter untuk mengukur tindak-tanduk seseorang. Segalanya tergantung pada pemahaman aqidah yang tertanam.
Felix tak berkata-kata. Ada kalanya dia bersikap tak acuh, namun pengakuan itu bak tanaman lumut yang mengikis bebatuan.
“Kau masih menyayangiku bukan?” Kukuh demi memberi makan oportunisme, Jessica bertopang pada kebesaran hati sang mantan.
Bukan lagi perbedaan iman yang menjadi pokok masalah, akan tetapi status Felix yang tak lagi sama sejak satu bulan belakangan. Dia telah terikat perkawinan, maka tak semudah pula mempermainkan. Tanpa diberatkan oleh kebimbangan, Felix melontarkan balasan.
“Aku sudah menikah. Tidak pantas aku punya perasaan terhadap perempuan lain sementara ada istri di sisiku.”
“Apa kau mencintainya, Felix?”
-:-
Tak terasa satu jam ia mengalokasikan waktu untuk berbincang dengan Jessica. Berlekas saja ia ke dapur lantaran sudah terlampau lama ia meninggalkan team bekerja tanpa dia. Kredibilitasnya sebagai pemimpin perlu dipertanyakan jika sering mangkir saat bertugas. Namun antusiasmenya yang tinggi mendadak lungsur begitu dicegat sang juru wine dan menginformasikan kedatangan Leona.
“Beliau tiba bertepatan ketika Anda pergi ke patio.”
Refleks hazelnya menjelajahi meja-meja tamu yang ramai pengunjung, tetapi tak menemukan sosok yang mengunci pikiran.
“Nyonya Baker pulang tak lama setelah menyusul Anda ke sana,” beber pria tujuh tahun lebih tua dari Felix tersebut merasa tak enak. “Beliau pergi dalam kondisi kurang baik. Saya rasa beliau melihat Anda bersama Nona Jessica.”
Apa arti rasa gelisah yang menggagahinya kini? Betapa tak sadar ia telah tercebur dalam luapan ambivalen yang menghanyutkan. Felix kelabakan mengelola afeksi yang tumpang-tindih dan saling bertentangan. Sebetulnya ia masih bertanya-tanya, di manakah tepatnya nama sang istri tertambat? Barangkali Felix butuh jeda yang panjang untuk sekadar menggenggam jawaban. Karena sejatinya cinta takkan terdeteksi hanya dalam satu kejapan.
Tak luput konsentrasinya tercecer. Semenjak ia kembali ke dapur hingga menginjakkan kaki di rumah, fokusnya tertuju pada satu orang. Perkembangbiakkan semalam boleh jadi sebuah titik balik kisah mereka. Maka, terduduk di kursi bar, Felix merogoh saku celana, mengambil ponsel untuk menghubungi. Namun baru akan mengetuk layar, Felix lupa belum menyimpan nomor sang istri. Berdecak, ia bahkan tidak tahu segala hal yang berkaitan dengan Leona, entah itu email atau SNS.
Ck, payah!
Tanpa dia sadari, di tempat lain, Leona sedang mengeksekusi seseorang.
To be continued
__ADS_1