Love Disease

Love Disease
Chapter 6


__ADS_3

Sepanjang duapuluh sembilan tahun hidupnya, Felix pernah satu kali lepas kontrol. Ketika itu dia hanya remaja belasan yang belum pandai menguasai kendali atas dirinya. Emosi yang merantainya pun tak lagi sejinak semula. Sisi monster itu kemudian terlahir dan tumbuh gigantis hingga memakan habis rasionalitas. Implikasinya adalah kehilangan jati diri.


Itu sudah lama terjadi, dan tak layak dikenang, pun terulang. Meluapkan amarah barangkali menjadi sarana mengekspresikan perasaan, namun jika terjadi berulang tanpa tindakan, maka akan berdampak buruk terhadap diri sendiri maupun orang lain. Felix pernah mengalami perubahan karakter dari versi asli menjadi beroposisi akibat ekstremnya lonjakan emosi.


Seperti hari ini, dia mengalami banyak hal yang nyaris mencapai batas toleransi. Pemicu itu mewujud wanita. Ia datang mengonfrontasi serta memantik keributan. Mengakui dirinya haters, alih-alih pelanggan restoran. Tanpa tahu malu pula membebaskan diri dari membayar tagihan dengan alasan porsi dan harga yang tak seimbang, hingga menunjuk-nunjuk Felix yang hanya bermodal rupawan minus kelakuan.


Felix cukup lelah dengan segala problema yang tiada henti menyerang. Kalau boleh, dia ingin istirahat sejenak dan membenahi yang morat-marit berserakan. Namun seolah ia tidak diberi satu kesempatan untuk jeda dari kerusuhan yang hadir silih berganti. Di tempat yang seharusnya tenang, ia justru mendapati seonggok makhluk hijau melata, menyambut di depan pintu kala dia baru pulang.


Pergerakan kakinya terhenti. Tatapan nyalang tak luput menghunus, berikut kepala yang rasanya mau hangus. Tak peduli masih mengenakan sepatu sneakers, Felix berderap melintasi ruang tamu, menuju lorong yang gempar bergemuruh. Dia berdiri di tengah-tengah pintu yang terbuka lebar. Suara Matthew Bellamy yang menyanyikan lagu Time is Running Out membahana dengan volume keras.


Felix sempat menyebar pandangan ke penjuru ruangan tanpa bergeser kaki. Saat dia berpikir tak ada siapa pun di sana kecuali dirinya sendiri, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesuatu yang mencolek-colek bahu. Belum sampai berkata-kata, ia kembali tercengang begitu menyaksikan sosok tak asing yang mendadak jadi asing berdiri melipat kedua tangan. Jantungnya bekerja serampangan, tapi beruntungnya tidak jantungan.


"What are you doing? Kenapa tidak masuk?" Lensa biru itu mengamati Felix yang terdiam cukup lama, lalu menyadari hal lain ketika pandangan turun. "Kenapa kau tidak melepas sepatu? Kotor tahu," omelnya cemberut.


Tujuan awal yang ingin menemui istri dan memberitahu perihal reptil gadis itu yang kabur dari kandang, justru terdistraksi oleh objek lain yang tidak masuk perkiraan. Jiwa primitifnya tersulut dan mata mengembara ke belahan-belahan yang terhampar menantang. Dia bahkan berkedip beberapa kali demi mengembalikan sisa-sisa kesadaran.


"Kenapa melihatku seperti itu? Kau terpesona padaku, ya? Aku memang luar biasa."


Gadis itu melerai senyum, senang membanggakan diri sendiri. Felix melempar atensi ke arah lain, menghindari kontak mata berlama-lama. Entah ke mana perginya perasaan kesal bercampur marah tadi. Kini yang tersisa hanya dirinya yang direngkuh resah. Melihat wanita berpakaian minim mungkin sering, di layar TV maupun yang satu teritori. Namun mendapatinya langsung di depan mata, Felix rasanya hampir kejang.


"Aku memang menggoda, tanpa menggoda pun, semua lelaki sudah tergoda padaku. Jadi apa kau juga begitu?"


Gadis itu bergerak. Kulitnya yang seputih salju tampak menyala dengan balutan floral lace baby doll Victoria's Secret warna hitam. Demi kemaslahatan diri sendiri, dia harus berani maju satu langkah. Menunggu Felix beranjak, rasanya seperti jalan di tempat, tidak ada perubahan sampai kiamat.


"Tadi aku pergi ke salon, mewarnai rambutku, supaya kau suka jika aku berubah manis seperti permen kapas." Leona mengibaskan surai bergelombangnya yang kini bermimikri jadi perpaduan pirang dan merah muda. "Aku juga berbelanja baby dolls dan teddies banyak sekali. Menyenangkan diriku sendiri adalah yang utama, tapi menyenangkanmu adalah surga." Dia tersenyum selegit gula-gula. "Hm, I'm so sexy or I'm too sexy? I dare you to move," bisiknya selembut beludru.


Selama berdetik-detik, Felix terhanyut delusi. Ada bagian tubuhnya yang terasa wajar bereaksi, tapi juga tidak pada waktu yang memadai. Lagi pula, lelaki normal mana yang tidak tegang dihadapkan oleh ekshibisi semacam ini. Dia memang apatis, namum dia tetap makhluk berphallus yang akan terbius jika dihantam pesona bertubi. Felix segera merebut kendali diri, memungut kewarasan yang hampir terjun di dasar eksistensi.

__ADS_1


Dia meraup oksigen dalam-dalam. Merangkai potongan-potongan puzzle yang nyaris acak-acakkan. Lalu saat rekaman peristiwa mondar-mandir di kepala, sulur kemarahan yang layu kontan mekar kembali. Percikan apinya bergulung-gulung, berpendar di mata hazel yang tampak lebih pekat berjelaga. Tarikan napasnya bersuara, kemudian bibirnya terbuka. "Your pet," desisnya. Tatapan dingin itu berubah mengancam. Lalu dengan penuh penekanan dia berujar, "Take. Your. Pet. Out. Of. My. Condo."


Alis melengkung yang tegas seketika naik bersamaan lalu mengerut. Upaya memamerkan kemolekan diri sejenak surut. Leona mendebat. "Kita sudah berdiskusi tentang itu. Bukankah kau bilang tidak masalah aku memeliharanya?"


Felix mendengkus. Diskusi macam apa jika hanya satu pihak yang mufakat. "Yes. But not here. Kau tidak punya izin memeliharanya di sini," ungkapnya berintonasi datar namun intimidasi. "Aku sudah melarangmu, tapi tidak kaudengarkan. Sekarang ... kuberi kau kesempatan, mengeluarkannya sendiri atau aku yang melakukannya?"


Bibir Leona yang cemberut, berdecak. “Kenapa kau sekejam itu padaku? Aku berhak membawa apa pun yang menjadi bagian dari diriku,” tolaknya enggan berkompromi. Padahal kemarin dia telah mendeklarasikan diri menjadi istri yang berbakti.


“Aku sudah memperingatkanmu,” geram pria berwajah letih itu hampir naik pitam.


“Aku tidak mau. Dia akan tetap di sini. Tanpa izin darimu.”


“Don't test my limit.”


“Don't force me.”


“TAKE YOUR PET OUT RIGHT NOW!”


Tetapi Leona segera tersadar, yang menggemuruh tadi bukanlah guntur, melainkan suami gunung berapinya yang meletus-letus hingga menyemburkan lava panas. Tidak hanya ia, Felix yang tersangka pun terperangah mendengar bentakannya sendiri yang cukup lantang dan menggemparkan. Pandangannya lantas dihadapkan pada raut pasi bak zombie. Perasaan bersalah seketika mencubit-cubit. Ketahuilah, Felix hanya lelah fisik serta pikiran. Dia sama sekali tidak bermaksud melakukan kekerasan verbal atau KDRT.


“You alright?”


Ucapan maaf Felix tak sampai lidah. Leona telah mendahului dengan pertanyaan konyolnya. Mungkin Felix terlalu bodoh jika mengira istrinya akan takut bahkan menangis penuh dramatis. Seharusnya pula, ia mengingat bagaimana kejinya gadis itu sejak bertahun-tahun lalu.


Leona tampak selangkah lebih dekat. Jemari tangannya yang ramai warna berkat kuteks, menelusuri garis rahang yang menonjol, lalu merambat ke pipi mulus tak bergerigi. “I'm sorry for being rude. Tapi aku suka melihat kau marah seperti tadi. Jarang-jarang tahu kau punya ekspresi lain. Wajah stoicmu itu kadang menyebalkan, meski tidak mengurangi nilai ketampanan sih. Seringlah marah agar kau terlihat seperti manusia sungguhan.”


Gadis itu terkikik sendiri karena Felix hanya meliriknya risi. Bagi Leona, kemarahan Felix adalah fenomena. Selama mengenal pria itu dari kanak-kanak sampai setua sekarang, perubahan mimik muka cuma itu-itu saja. Felix lebih mirip manusia cyborg yang setengah robot, dari pada makhluk bernyawa. Maka menyaksikan sendiri bagaimana aura murka mengerubungi, Leona takjub dan mulai mengesahkan bahwa suaminya masih punya sifat esensial yang manusiawi.

__ADS_1


Di sisi lain Felix heran sendiri. Mengapa ada wanita yang sangat bahagia setelah dikasari suami? Harus dengan cara apa Felix menegur istrinya ini, jika tutur lembut maupun kekerasan tidak efisiensi? Terlalu banyak berpikir, ia sampai tak menyadari gadis itu telah beranjak pergi. Karena cukup penat seharian ini, ia lantas menenteng sepatu yang baru dilepasnya untuk disimpan kembali. Dia berencana hendak ke kamar mandi, sebelum digagalkan oleh suara bel yang tiba-tiba menginterupsi. Merasa janggal ada yang bertamu malam hari, dia segera berjalan menuju Intercom LCD.


“Itu Dean.”


Tepat ketika ia mengintip sosok di balik pintu, Leona sudah berdiri di belakangnya. Retinanya sontak menangkap pakaian gadis itu yang masih sama.


“Kenapa dia ke sini?”


“Suamiku mengusir anakku, jadi aku meminta tolong Dean mengasuhnya sementara,” balas gadis itu angkuh nan jutek. Dia hampir menyongsong pintu untuk membuka, namun Felix buru-buru mencegahnya.


“Kenapa sih? Kasihan Dean berdiri lama di luar,” protesnya. “Atau ... kau menyesal sudah menendang Lele dari sini?” ketusnya jengkel. Leona belum selesai dengan rasa kesalnya terhadap sang suami yang ngotot mendeportasi hewan peliharaan tersayang.


Pria itu menggeleng. Pandangannya sempat memindai sang istri. “Ganti pakaianmu.”


“Ada yang salah dengan pakaianku?” Pura-pura tidak mengerti, Leona menyeringai, tipis, hampir tak terdeteksi.


Jakun pria itu naik-turun, sebelum akhirnya berdeham. “Kau harus mengganti pakaianmu. Jangan pamer tubuh dan memalukan diri sendiri,” terangnya tanpa emosi.


Liberosis. Merupakan istilah psikologi yang Leona gambarkan untuk Felix. Bersembunyi di bawah naungan ketidakacuhan, namun kenyataannya sangat peduli hingga mengulang perintah yang serupa sebanyak dua kali. Leona berdecak. Merutuki tantangan yang harus dihadapinya demi laki-laki yang penuh teori.


“Don't you wanna me, my body, my kiss?”


Felix berpaling dan lekas menyingkir. Pada radius dua meter, pria itu berteriak, “Jangan berani-berani membuka pintu sebelum kau menutupi tubuhmu! ”


Gadis yang setia mengamati punggung suaminya itu tertawa-tawa.


“How adorable he is?”

__ADS_1


__ADS_2