Love Disease

Love Disease
Chapter 12


__ADS_3

Kelopak mata Felix mengerjap serempak. Ada bising yang menggelandangnya ke alam sadar tapi bukan lonceng. Sewarna vokal manusia yang berkesinambungan ketukan pisau di atas talenan adalah si penyebab, berikut wangi kentang panggang yang menancap indra penciuman. Kornea pedih dan kabur pun sirna bebarengan.


Felix menarik tubuh menjadi duduk tanpa merasa ngilu. Tak tanggung-tanggung pula melakukan gerak sit up demi memastikan takada cedera atau retakan. Merasa semua aman terkendali, ia menyingkap selimut yang menutup sebelah kaki. Mulanya tak curiga, namun ketika ingin beranjak, ekor mata menjumpai sprei purple yang tercemar noda menggelap.


Ujung jemarinya menyapu halus permukaan yang menyerupai darah mengering. Untuk sesaat ia termangu, mendesak serebrum mengorek ingatan yang alpa. Lalu terpegun saat adegan semalam terlintas di kepala. Bagaimana narasi itu diawali dengan saling membalur salep pada kening yang kebiruan, dan entah mengapa justru berlanjut tatap-tatapan yang berujung ciuman.


Felix memegangi kepala yang mendadak panas. Perutnya ikut kegelian seperti ribuan kupu-kupu beterbangan. Bertelanjang kaki, dia bergegas ke kamar mandi. Telapak tangannya menumpu meja wastafel dengan pandangan tegak ke cermin. Ia memeriksa dahi yang berubah ruam kemerahan. Refleksi diri yang acak-acakan seketika mengingatkan pada pergulatan yang tak terelakkan.


Fragmen-fragmen itu kemudian terjalin runtut dan menjadi keutuhan yang komprehensif.


“You're a total fuckkup.” Kau benar-benar brengsekk.


-:-


Cuma bermodal menggosok gigi dan cuci muka, Felix lekas ke ruang dapur untuk memeriksa situasi dan kondisi. Paling tidak, cara tersebut ampuh sebagai alibi agar modusnya tak terendus. Akibat tinggal seatap dengan istri yang suka main curang, Felix jadi ketularan. Biarlah, ia tak mau istri bengalnya gede rasa jikalau ia berkata jujur.


Kekhawatirannya memang tak tertampik, walau sesederhana apapun, kejahatan beerahinya telah menyakiti, sebab ia pun menyadari istrinya masih murni saat ia masuki. Namun ketika kakinya bertapak di belakang kursi, Felix tercenung mendapati Leona yang memunggungi dengan surai tergerai. Belum lagi suara tidak merdu-merdu amatnya menyenandungkan lagu.


Konyol sekali, bahkan ia tidak memiliki alasan rinci mengapa bibirnya tersenyum. Apa terjadi konslet di otak lantaran tabrakan dahi antar dahi? Sejenak, Felix menakar betapa bersinar istrinya jika dilirik dari sudut pandang yang tepat. Sekadar menyibak rambut saja terlihat selaras sayap-sayap yang mengepak. Tatkala mengoper seloyang kentang panggang dari oven pun wajah berserinya tampak seindah peri.


Sudah tidak waraskah ia? Ke mana Felix yang menghina kegilaan Leona dahulu kala?


“I was just guessing, at numbers and figures, pulling the puzzles apart ....”  Coldplay, The Scientist.


Gerak matanya mengikuti ke mana pun langkah itu mengarah.


“... question of science, science and progress, do not speak as loud as my heart, tell me you ....” Gumam bernada terjeda, berikut raut terpegun memantul di iris hazelnya. “... love me.” Gadis yang telah bergelar wanita itu mengerjap. Sesaat kemudian, senyum lebarnya terpahat. “Hubby, sejak kapan kau berdiri di situ?” Felix menggaruk rahang, atensinya berkelana ke mana saja, asalkan tidak menatap Leona. “Kau mengejutkanku, tapi aku senang melihatmu sepagi ini.”


Leona mengangkat dua piring persegi dan membawanya ke meja bar. Dia menyuruh Felix untuk duduk sementara ia melayani. Diperhatikan sedemikian, kekikukan si pria pun berangsur sirna. Felix kembali pada diri yang biasa. Tidak patuh begitu saja, ia mengambilkan segelas air mineral untuk Leona selagi wanita itu repot membuatkan espresso untuknya.


“Twice baked potato with egg?” Berkata semacam itu, atmosfer segmen penjurian MasterChef Amerika seolah berpindah ke meja bar, tempat mereka duduk kini.


“Ya. Nilainya mungkin di bawah standarmu, tapi jangan memberi komentar buruk padaku, aku tak mau mendengar.”


Seringai tipis menyingsing, Felix mengambil sendok dan menyuapkan kentang tumbuk berlumur kuning telur. Dia menyecapi rasanya. “Enak.”


Leona mengembungkan pipi, tersenyum setelahnya. “Kau tidak sedang menghiburku?”


“Tidak. Cobalah menilainya sendiri.”


“Ohh, thank you.” Satu kecupan tersalur di ujung bibir. Si empu hanya melirik, namun suara hati sesungguhnya memekik.


“Wow. Ini rasa yang sulit kujabarkan. Aku terjebak pada kelezatannya. Tak sia-sia aku menontonnya di YouTube. Leona Baker memang luar biasa, dan selalu luar biasa.” Leona bermonolog sambil mesam-mesem sendiri. Narsisisme adalah penyakit lama yang sukar disembuhkan. Tapi Leona berpaham, bahwa membanggakan diri sendiri adalah bentuk apresiasi yang tak bisa diberikan orang lain terhadapnya. “Em, Hubby, bolehkah nanti malam kau buatkan aku potato soup?”

__ADS_1


“Kau mau makan kentang lagi?” Felix bertanya heran.


Leona mengangguk-angguk. Kerling matanya menyamai puppies. “Mungkin aku kecanduan kentang?”


“Okay, akan kuusahakan pulang lebih sore.”


“Thank you so much much much, Love!”


Lengan Leona menyusup ke satu sisi tubuh suami, mendekap erat pinggang hingga keduanya ikut terguncang-guncang. Kecupan bibir adalah hal terakhir yang benar-benar menggoncang jiwa Felix sampai tumbang berguguran. Gempa bumi pun agaknya kalah bila diperbandingkan seberapa gemparnya pelukan Leona.


Iblis merah bertongkat garpu di belakang punggung menyeringai seram. Tak luput seruan kejam menggema garang. “Silakan kalian berbahagia, wahai anak Adam! Tapi ingat, persiapkan pula diri kalian, karena angin tornado sudah menanti di depan mata!” Makhluk virtual itu tertawa-tawa, kemudian lenyap tak bersisa.


-:-


Pertengahan musim gugur, aktivitas dapur super sibuk. Usai terkuaknya kasus yang membelit sang Eksekutif Chef, para manusia penghujat berpaling haluan jadi pendukung. Sebagian yang terlanjur malu, atau yang masih berprasangka buruk tentang Felix si pria bejaat, tak lagi berkoar-koar di kolom komentar social media. Dunia netizen seketika tenteram dan restoran pun ikut stabil menuju makmur.


Namun, kejayaan bukanlah penghujung sebuah kisah. Plot manusia tak selamanya mulus meski satu polemik tertanggulangi. Waktu senantiasa berjalan maju, demikian nadi yang berdenyut untuk tujuan yang sepadu. Akan selalu ada ujian setiap mengarungi pulau, entah bertemu bajak laut atau hiu. Socrates mengungkapkan, hidup yang tidak diuji tidak layak untuk dijalani.


Maka ketika seorang waiter memberitahu bahwasanya ada pengunjung yang ingin bertemu, Felix bersegera datang menyambut. Sebagaimana restoran fine dining pada umumnya yang mengusung kesan mewah, mereka pun memiliki etiket dalam pelayanan. Pandangan Felix kemudian menyorot pada sosok wanita yang tampak dari belakang. Jika dicermati saksama, figurnya tak terlalu asing untuk dikenali.


Dan voila! Tebakannya tepat sasaran begitu mata bertemu mata. Sosok itu memang familier. “Jess?”


“Hi,” sapa balik si wanita bersurai panjang hitam sembari tersenyum. “Maaf, memintamu ke sini saat kau sibuk.”


Melalui tatapan, wanita yang disapa 'Jess' memohon Felix untuk duduk.


“Kudengar kau sudah menikah?” celetuk si wanita, fokusnya tak beralih dari Felix yang senantiasa menyihir seperti selalu. Kecuali sikap ramah yang berkurang dan perhatian yang tak sepenuh dahulu.


“Ya.”


Mengangguk-angguk kecil, Jess melempar pandang ke arah lain untuk sejenak, lalu kembali pada si pria. Lengkung bibirnya terpaksa walau wajah bulatnya menyiratkan kecewa. Berbekal sehelai ketabahan, dia menyambung, “Dengan Leona? Apa benar kau menikah dengannya?”


“Benar,” balas Felix tak ragu-ragu. Masa lalu tetap teman, meski ia tak berkewajiban menjaga perasaan.


“Aku hampir tidak percaya. Dia bukan gadis yang bisa kaunikahi semudah itu.” Maksudnya, Felix memusuhi Leona sejak lama, Jess tentu merasa ini keliru. Keputusan mantan kekasihnya terlalu gila, tak masuk akal. “Kalian tidak dalam hubungan yang  baik. Kau pasti punya satu alasan yang tidak kutahu?”


“Saat aku melakukan sesuatu yang di luar batas kesanggupan, aku punya alasan. Apa harus aku mengatakan semua padamu, Jessica?”


Bagaimanapun cara ia menikah, dan hal mendasar apa yang menyertai, pernikahan tetaplah komitmen jangka panjang yang sakral, sebab dua manusia telah dipersatukan dengan sebuah janji di hadapan Tuhan. Felix patut menghormati sekalipun ia belum mencintai. Seperti halnya ia menghargai Leona, maka ia takkan mendongengkan kisah rumah tangganya pada orang lain.


“Kau tidak menyukainya, Felix. Kau tak bisa menjalani pernikahan tanpa cinta,” provokasi Jess, bersikeras membuka mata sang mantan agar kembali ke jalan yang benar.


“Menikahinya adalah keputusanku. Kendati belum ada cinta, dia tetap istriku. Apa masalahmu?” sergah Felix, mulai tak nyaman menyambung obrolan. Bibit kamarahan tumbuh di hati tanpa tahu kenapa ia marah.

__ADS_1


Jessica terlalu mencampuri yang bukan ranahnya. Felix tiba-tiba membandingkan dengan sikap Leona yang meski seantagonis Mother Gothel, ia wanita berprinsip dan berpendirian. Perempuan yang selalu berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya. Felix menyaksikan sendiri bagaimana pertumbuhan emosi Leona selama satu bulan menikah dengannya. Lantaran ia sosok berkarakter, Leona tak pernah ikut campur urusan yang di luar relasi mereka.


“Aku ... tentu saja aku tidak terima. Kita menjalin hubungan selama bertahun-tahun, tapi kau justru berakhir dengan dia,” kilah wanita itu disertai mata berkaca-kaca, menahan isak yang mendesak ingin menyeruak. “Aku tahu, kesalahanku yang mengubahmu menjadi asing, kau pasti sulit menerimaku kembali.” Ia menyusut air yang jatuh begitu saja dari pelupuk. “Ya, ini adil untuk kita.”


Serapuh Jessica memang tak bisa disetarakan dengan Leona yang tahan banting dan hobinya membanting.


Felix membuang napas. Tidak ada rasa yang tersisa walau sejumput. Dahulu, mungkin hatinya sakit menyaksikan tangis sang kekasih. Selayaknya pria idiot, ia kebingungan mencari cara untuk menenangkan dan memberi penghiburan sekaligus. Namun sekarang, bahkan untuk mengatakan maaf atau menyesal, lidahnya kelu, tak mampu. Jelas, cintanya tak lagi utuh, tercabik-cabik hingga lebur seluruh.


“Tinggalkan dia. Aku memang bukan kekasih yang baik, tapi hidup bersama wanita yang tidak kaucinta, jauh lebih buruk. Pernikahan tanpa rasa, akan berakhir tidak baik.”


Faktanya, sikap Jessica telah keluar dari definisi perempuan lembut yang penyabar.


“It's not your business, Jess.” Felix tak percaya perempuan ini adalah Jess yang dia kenal selama empat tahun. Ada apa dengan mantannya yang tampak begitu putus asa? Jika memutar ulang kejadian, mereka bahkan selesai secara baik-baik. “Apa tujuanmu kemari hanya untuk itu?”


Mata basah itu menatap Felix. Secuil harapan terlintas di iris hitam yang berkilauan. “Sesungguhnya ada hal penting yang ingin kusampaikan. Tapi tak bisa kukatakan di sini. Jadi bisakah kita pergi ke teras?”


Kekacauan Jessica meluluhkan hati Felix. “Sure.”


Seiras kepindahan mereka ke tempat yang lebih privasi, Leona memasuki restoran dengan semangat kemerdekaan, berikut aura secerah matahari yang menyilaukan. Dia buru-buru menghadang sesosok pria yang kira-kira seumuran Matthew. Dengan sebotol wine di tangan, pria itu manyapa ramah.


“Selamat datang, Mrs. Baker.”


“Aku merasa terhormat, karena kau selalu menyambutku dengan baik, Mr. Scott,” puji Leona.


Sommelier alias juru wine tersebut terkekeh. “Izinkan pelayan mengantarmu ke tempat duduk, Nyonya,” ujarnya sembari melirik pria berdasi kupu-kupu di belakang Leona.


Segera saja Leona mencegah. “Oh, tidak, tidak. Aku hanya ingin bertemu suamiku. Aku akan menunggunya di teras. Panggilkan saja dia untukku.”


“Apa Anda tidak menunggu di meja saja? Sepertinya Chef sedang ada tamu,” saran Mr. Scott, berupaya menghalangi istri Chef yang bandel itu agar tak melihat yang tak seharusnya dilihat.


“Aku lebih suka udara yang alami. Apa ada masalah?” Nol persen darah cenayang mengalir, namun kepanikan yang coba ditenggelamkan mampu tercium olehnya. Pesan-pesan tersembunyi itu sekiranya membikin curiga. “Aku akan ke sana sekarang. Semoga harimu menyenangkan, Sir.”


Tak berhasil ditahan, pria bercambang yang masih di posisi awal tersebut geleng-geleng. Menyesali keterlambatannya, namun apa daya, si Nyonya sudah terlanjur melesat ke tempat haram di seberang sana. Jeri sekali membayangkan kegemparan yang mungkin terjadi.


Pada nyatanya, misi bertandang ke beranda samping tidak seelok harapan. Keinginan Leona hanya sederhana, menanti hadirnya suami sembari merelaksasi diri di kursi ayun yang membuai-buai. Belum pula terwujud asa, kecewa menelan jiwa. Napasnya tercekat, sirkulasi darah turut bersicepat. Leona mengalami tekanan kuat yang menyebar panas di pusat dada ke seluruh tubuh hingga menarik-narik urat.


“Seperti kau, aku juga punya alasan mengapa ingin kalian berpisah.”


Suara itu mendengungkan telinga. Leona memaku di ambang pintu dengan mata melirik bergantian suami juga wanita bertitel mantan. Oksigen serasa makin menipis dan ia sangat bernaafsu mencekik leher sang penggoda. Namun urung dia lakukan tersebab tak sudi memakai cara busuk demi memusnahkan seorang suundal. Double shoot menyerang ketika si wanita siaalan mengungkap berita mengejutkan. Leona syok, terbengong-bengong, berikut otot-otot kaki yang melumpuh.


“Apa?”


“Aku hamil. A-aku hamil. Kumohon berpisahlah dengannya. Beri aku kompensasi atas cinta tulusku selama ini, Felix.”

__ADS_1


To be continued


__ADS_2