
Dalam mimpinya sekali pun, Felix tak pernah membayangkan bagaimana meriahnya pesta pernikahan. Mendapat undangan saja rasanya terlalu mustahil. Hampir di sepanjang usia yang beranjak tigapuluh, Felix cuma fokus membangun karir dan memperbaiki kualitas diri. Circle pertemanan Felix tak seluas Timothy. Jika Tim bisa bergaul dengan siapa pun, Felix lebih membatasi. Bukan dia enggan bersosialisasi, tapi mengarungi waktu dengan nongkrong haha-hihi, baginya hanya buang-buang energi.
Hubungan terlamanya selain Timothy, tidak ada. Sekalinya menjalin asmara dengan lawan jenis, dia tak seserius sampai ingin menikahi. Dia sangat menghindari hal-hal ribet yang menambah pikiran. Perselisihan atau pertengkaran dalam rumah tangga rawan terjadi. Lebih parah lagi jika naik level jadi perselingkuhan antar suami-istri. Manusia cenderung mencari kepuasan. Alasannya karena sering merasa tidak puas. Maka kalau bisa, dia ingin melajang seumur hidup. Namun apa daya, detik ini dia justru mengucap sumpah sehidup semati di hadapan Tuhan.
Kemeja putih berlapis tuxedo hitam melekat di tubuh atletisnya pagi itu. Dia sudah mencukur bulu-bulu di wajah dan menyisakan paras seganteng Logan Lerman. Menariknya, dia punya dagu belah yang meningkatkan derajat kegantengan. Leona yang dihadapkan dengan keestetikaan bak tujuh keajaiban dunia rasanya mau mimisan. Felix langsung melengos begitu ciuman di dahi terealisasikan. Tadinya Felix terpedaya akan rupa Leona yang lain dari biasanya. Namun begitu teringat catatan kriminal gadis itu yang menumpuk, refleksi Princess Aurora seketika menghangus dan berubah jadi Maleficent.
“Felix, apa ini sesuai bayanganmu?” Gadis itu berbisik dengan tubuh diserongkan dan tangan yang menggenggam jemarinya. Tinggi mereka yang timpang, membuat Leona mendongak saat menatapnya.
Jika berbicara soal ekspektasi, serius ini meleset jauh sekali. Semalam suntuk, bahkan Felix susah tidur gara-gara membayangkan pesta pernikahan berkonsep Disney yang super mewah dan mengundang pejabat negeri. Melihat bagaimana pekerjaan ayah Leona, dikhawatirkan wajah mereka akan termuat di sampul majalah pada keesokan hari. Lupakan tentang privilege jika akhirnya Leona terlalu patuh terhadap janji.
“Apa kau tidak menyesal menikah sesederhana ini?”
Leona yang mengenakan gaun satin putih polos sebatas betis tanpa renda atau mutiara, tampak bahagia berseri-seri. “Apa yang membuatku menyesal saat akhirnya aku bisa menikah dengan pria yang kucintai?”
Felix memalingkan muka ke arah lain. Mengamati orang-orang yang membentuk komunitas dan saling mengobrol. Ada Timothy, sahabat seperjuangannya yang tadi mempersembahkan lagu Coldplay-Fix You, lalu memberi ucapan selamat sekaligus mengejeknya yang menjilat ludah sendiri. Walau pada akhirnya laki-laki itu ikut berbahagia sambil memeluknya erat seperti homo.
Tuan Collins dan kakak laki-laki Leona turut bercengkerama. Namanya Matthew, dia baru tiba dari Denmark kemarin sore. Felix belum pernah bertemu diplomat muda itu selama ia mengenal Tuan Collins. Pekerjaan Matt di Embassy menuntutnya untuk menetap di negara monarki yang masih Uni Eropa.
“Meski ini berat sebelah. Tapi aku harap kau akan mengizinkanku masuk ke dalam hidupmu. Aku sangat menunggu waktu itu datang.”
Pria yang menata rambut hitamnya dengan comma hair tersebut, terdiam untuk beberapa saat. Menyakiti wanita tak pernah ada dalam rencana hidupnya. Leona memang jahat padanya, bahkan sangat jahat melebihi penjahat. Pokoknya Leona itu analogi sempurna dari sosok Medusa. Tapi untuk membalas segala keburukan gadis penyihir itu dengan kebengisan yang sama, akan dia pikirkan dua kali.
__ADS_1
“Kenapa kau harus repot-repot menunggu? Sesuatu yang fatamorgana tidak akan berubah menjadi oasis. Kau perlu waktu yang tidak tahu kapan itu terjadi. Jangan pernah menunggu untuk sesuatu yang akan mengecewakanmu.”
Felix juga tidak mengerti, akan seperti apa kehidupan pernikahan mereka ke depan jika sekarang saja ia merasa belum bisa menerima Leona.
“Aku tidak kecewa. Aku akan tetap menunggu, bahkan hingga rambut ini memutih. Rasa cintaku jauh lebih besar dari sebuah penantian.”
“Jangan mengorbankan hidupmu hanya karena kau mencintaiku.”
“Aku tidak menganggap itu sebagai pengorbanan. Aku senang bisa mendampingimu.”
“Bagaimana jika selamanya aku tak bisa mencintaimu?”
“Aku tidak akan menyerah dan tidak akan berhenti mencintaimu meski kau tak mencintaiku.”
Acara hari itu selesai sebelum matahari tepat di puncak singgasana. Tidak ada kendala apa pun. Tidak ada paparazzi yang mengambil gambar secara diam-diam, pun tidak ada manusia yang memandang rendah Felix seperti satu bulan belakangan. Berada di bawah perlindungan Pak Walikota benar-benar membuat dirinya aman.
Tapi Felix merasa ganjil akan sikap Tuan Collins yang seolah tak keberatan atas status barunya. Bila menengok beberapa waktu setelah skandal itu keluar, seharusnya Edward Collins berbalik arah tidak menyukai atau bahkan membencinya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pria berwibawa itu mengungkapkan bahagia seperti orang tua pada umumnya.
“Jika ada kehidupan kedua, aku akan tetap memilihmu sebagai menantu, kau yang terbaik di antara yang terbaik,” kata pak tua berjas Armani itu sembari menepuk bahu. Like father, like daughter. Felix baru tahu, ternyata Tuan Collins sebelas duabelas dengan Leona.
Felix kemudian menyapu pandang dan tak menemukan eksistensi Nyonya Collins. Dasarnya dia yang introvert tak pernah penasaran atau mencampuri kehidupan orang lain. Tak ubahnya Leona yang sejak tadi tak menjumpai seorang pun keluarga laki-laki yang telah menjadi suaminya. Leona yakin sekali, Felix masih punya orang tua. Beberapa waktu lalu, dia sempat melakukan investigasi rahasia dan membuktikan Felix bukanlah seorang yatim-piatu. Namun menyaksikan raut lelah pria itu, Leona urung bertanya. Jadi akhirnya mereka sama-sama diam.
__ADS_1
Mata birunya lantas melirik sang suami yang fokus mengemudi. Mereka telah meninggalkan tempat pemberkatan dan langsung menuju kondominium Felix yang berlokasi di Downtown. Untungnya kemarin Leona sudah mengemasi sebagian barangnya dan menyuruh Dean mengurusi segala remeh-temeh.
Tak sampai duapuluh menit, mereka tiba di tempat tujuan. Felix membuka bagasi dan mengeluarkan koper dan tas-tas miliknya. Laki-laki itu bahkan tak mengeluhkan apa-apa, tak pula membiarkan dirinya membawa satu barang pun. Inilah satu dari sekian alasan mengapa ia begitu jatuh cinta. Selain pria baik, Felix juga sosok yang bertanggungjawab, bahkan tak pernah kasar meski seringkali dia berbuat onar. Felix cuma diam.
“Jadi kau tinggal di sini? Lalu restoran dua lantai itu bagaimana? Kukira kau tinggal di sana.”
Leona memperhatikan ukuran ruangan yang cukup luas. Perabotnya didominasi warna monokrom. Pengharumnya juga wangi dan membikin nyaman. Sangat Felix sekali. Dia sungguhan tak tahu Felix punya unit di gedung ini. Mengapa hal sebesar itu terlewat dari pengamatannya? Apa karena Felix terlalu cerdas menyembunyikan sampai tak terendus olehnya? Ataukah, kondominium ini sengaja jadi tempat persembunyian laki-laki itu untuk menghindarinya? Tapi, masa sih begitu?
“Aku memang tinggal di sana.”
Leona membalik badan, memandangi Felix yang masih tampan meski keringat membanjiri dahi dan pelipis. Bukannya berinisiatif gotong-royong membereskan barang-barangnya, gadis itu malah bergeming menjelajahi tetes demi tetes keringat yang berjatuhan. Tangan Leona gatal sekali ingin menghapus. Tapi mengingat Felix yang belum tersentuh, membuatnya urung.
“Apa ini? Kau membawa apa ke rumahku?”
Raut tanpa ekspresi itu menatap Leona sambil menenteng keranjang biru berukuran besar. Mengerikannya lagi, Felix tak sengaja mengintip dan mendapati hewan melata berkulit hijau mendelik padanya. Felix masih bisa menolerir jika itu sejenis hewan peliharaan seperti anjing atau kucing. Hanya saja, dia ragu. Leona itu model manusia berkepribadian minus sekali yang menjurus gangguan jiwa. Jadi meski ia ingin berbaik sangka, namun....
“Oh, itu cuma Iguana.”
See?
Di posisinya yang masih memegang keranjang, Felix merasakan jantungnya mulai berdisko.
__ADS_1
“Are you fucking kidding me?”