
Sewaktu kecil, hal paling mengerikan bagi Felix adalah terkurung berjam-jam di sebuah ruang tanpa cahaya dengan kadar oksigen rendah. Seandainya nenek tidak datang tepat waktu, mungkin malaikat maut telah menjemputnya kala itu. Pikirnya, peristiwa traumatis yang dialaminya hari itu takkan terulang kembali. Namun siapa sangka, berpijak di atas ice rink nyatanya jauh lebih menyeramkan dari yang pernah dia bayangkan.
Berdiri kaku sambil berpegangan pada pagar pembatas, Felix memerhatikan Leona yang berseluncur lepas, berbaur dengan petualang lain yang mayoritas anak-anak dan remaja pubertas. Adapun para orang tua, duduk santai di spot tersedia sebagai pengawas. Felix semakin rikuh, ditambah kakinya yang mulai kebas. Sepatu bermata pisau di bagian sol membuatnya harus menjaga balans.
“Honey, apa kau akan tetap di situ? Come on with me!” Leona yang tadi masih bermain di tengah-tengah gelanggang es, meluncur ke arah Felix dan mengimbau pria titisan patung itu agar bergerak.
“No, I can't,” tolak Felix tegas.
Gadis itu mendekat, memandang si pria nervous lekat. Manusia salju macam Felix, akankah lupa pada habitat sendiri?
“Kau sungguhan tidak bisa?” ragunya.
“Hm.”
Seandainya tidak dalam pantauan publik, Leona pasti tertawa menyaksikan raut ketakutan Felix yang hampir mirip balita akan dicabut giginya. Namun ketimbang memanjakan nafsu sesaat yang berdampak mempermalukan suami sendiri, Leona memberi penawaran.
“Kita akan mencobanya pelan-pelan. My Hubby won't be afraid of anything. Apa kau siap bersenang-senang denganku?”
Mulanya Felix tidak yakin menuruti rasa ingin tahunya yang tinggi perihal sensasi bermain ice skating--yang jujur belum pernah dia lakukan seumur hidup, namun salahnya juga yang sejak awal menyetujui ide kekanakan istrinya. Meski dibumbui kata terpaksa, dia menyambut uluran tangan itu dengan sukarela.
Rencana kencan mereka yang disepakati senin lalu, faktanya terlaksana pada weekend ini. Bukan dia yang mengingkari, melainkan Leona sendiri yang melanggar janji. Tertelan kesibukan fashion week dan proyek kolaborasi yang hampir berbenturan, sedikitnya mampu menekan keinginan hati dan mengulurnya sampai sejauh ini.
Topi baseball yang senada memayungi keduanya dari cahaya jingga yang membanjiri. Tak pelak tangan mereka saling menggenggam, mencari-cari area lengang manusia agar leluasa. Kali ini, Felix tak membuka celah untuk melepas diri. Sejatinya dia bukan karakter pria sempurna setype Gary Stu yang hebat dan dipuja-puja. He's just ordinary man yang tak luput dari kecacatan.
Celakanya, seorang pemuda berkelebihan berat badan tak sengaja menyenggol punggung Felix begitu mereka hendak melipir ke tepi. Tautan tangan pun kontan terlerai, berikut Felix yang tak mampu menyeimbangkan diri hingga oleng dan terjengkang, disusul suara berdebum yang keras saat secara tak elegan bokongnya menumbuk lantai.
Si laki-laki umur belasan terkejut dan meminta maaf berkali-kali. Leona tampak akan memarahi, namun Felix segera mencegah dengan mengangkat tangan kanan, mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja. Sesaat setelah lelaki seusia adolescent itu hengkang, Leona menjulurkan lengan sembari menatap Felix dipenuhi kecemasan.
“You okay?”
Sedikit kesusahan, Felix berdiri pelan-pelan dengan tangan Leona sebagai pegangan. Meskipun pantatnya nyeri bukan kepalang, namun Felix tak sekalipun menunjukkan.
“Apa itu sakit?”
Seorang gentleman tidak sudi mengakui kekalahan, maka Felix memilih jalur white lie demi tak dipandang lemah. Baginya cukup ia kepayahan dengan these damn skates, sakit karena terjatuh tak seberapa parah untuk dikhawatirkan.
“I'll be fine.”
The unexpected thing kemudian terjadi sekilat hiraishin no jutsu Minato ketika tarikan Leona justru berakhir di pelukan. Tanpa musabab jelas, jantung Felix berdegub tak keruan. Jedag-jedugnya terasa tembus sampai punggung. Namun lagi-lagi pria berIQ 150 itu menolak berprasangka. Tidak relevan jika kerja jantung dikaitkan dengan romansa. Felix yang berpikiran logis, meyakini bahwa yang dirasakannya saat ini, sebatas kaget usai terserempet manusia.
-:-
Semilir angin menggelitik lapisan epidermis. Suami-istri yang berpenampilan lebih segar itu beristirahat di cafe terbuka yang masih satu lokasi dengan ice rink, persisnya di Bryant Park yang berada di 5th Avenue. Setelah sepanjang sore berkeliling, dari Lower Manhattan menuju Central Park, lalu berbalik arah melewati St. Patrick's Cathedral--sebuah gereja Katolik bersejarah yang menjadi tempat pernikahan mereka digelar--Leona meminta singgah sebentar di Sephora, hingga berbuntut kencan ala remaja di taman kota.
Felix menyadari sekarang, perempuan sejenis Leona memang paling ribet dan sulit dipahami. Kadang-kadang ia mengamini ungkapan Timothy yang akurat kala menasihatinya senja itu. Tidak hanya kemarin atau beberapa saat tadi, isi kepala si gadis yang kompleks, juga berlaku detik ini. Misalnya saja ketika gadis itu mengumumkan ingin merawat bentuk tubuh dengan sedikit kalori, realitasnya Leona memesan beraneka menu sampai menyesaki meja bulat berelemen marmer yang berukuran sekitar 40 inchi.
“Oh, tunggu, tunggu, tunggu!” Si gadis merentangkan satu tangannya, memeragakan tanda berhenti kepada Felix yang bahkan sama sekali belum menyentuh sepiring chocolate cake yang terhidang.
Gerak cekatan Leona menggeser piring keramik putih begitu cepat. Tahu-tahu satu scoop es krim vanilla berpindah ke piring miliknya. Sementara ia menukar itu dengan sepotong kue cokelat yang masih menjadi pasangannya. Felix hanya memandang datar, seolah pemandangan ini bukan lagi hal mengejutkan.
“You better eat these chocolate cakes. Pahit dan manisnya yang menyatu akan membuatmu merasa bahagia dan kau akan tersenyum karenanya. Jangan pernah kau berpikir makan es krim. Aku tidak mengizinkan itu. Selain untuk mencegah level dinginmu yang meningkat padaku, it's not good for your health,” papar gadis itu tersenyum indah, lalu mengangsurkan piring berisi dua potong kue cokelat tanpa es krim ke hadapan Felix.
Merasa jadi korban penipuan, pria bermata tajam itu melirik bergantian pada si piring bundar dan Leona yang mengedip-kedip. “Kau sedang mengerjaiku?”
__ADS_1
“No. Aku justru menyamar jadi ahli gizi hari ini. Don't you trust me anymore?”
“You grinning,” sanggah Felix tak henti mengamati istrinya yang cengar-cengir sejak tadi. Menyangkal sekalipun, ia lebih tahu gadis itu tengah berupaya ngeprank dirinya. Lagi pula Felix tak memesan menu ini meski dia mau.
Tak segera menjawab, Leona menyendok es krim dan menyumpalkan ke dalam mulutnya hingga penuh. Bibirnya turut melengkung sampai cekung. Setelah tertelan seluruh, dia mengajukan eksepsi.
“My mouth is full of ice cream. Aku tidak bisa mengatasi bibirku yang tersenyum, cause this ice cream is so tasty and sweet.”
Jemarinya terulur mengambil satu keping salsa chips, menyelupkannya ke saus guacamole, lalu mencolekkan pula pada es krim vanila. Tanpa ragu melahapnya hingga berbunyi kriuk-kriuk. Dia bahkan sangat bahagia hanya dengan itu. Melihatnya, Felix habis akal, setahunya Leona sudah makan sebanyak dua porsi ikan goreng tepung dan shrimp tacos. Apa belum kenyang?
“Kau juga harus makan kue cokelat itu. Hm?”
“I don't like chocolate cakes,” sahut Felix tak bernada ketus pun lembut, namun jenis suaranya yang berat dan deep membikin Leona kecanduan untuk mendengarnya lagi dan lagi. Gadis itu terkikik.
“You don't like me either, but you married me.”
Felix membasahi bibir. Gayanya yang sangat khas tersebut memancing rasa gemas. Pria itu lantas menelengkan kepala sembari meratapi dua slices kue cokelat yang tidak sanggup dia telan. Sekejap kemudian, dia teringat bahwa seorang pria yang dipegang adalah kata-katanya. Dia sudah mengiyakan permintaan istrinya pekan lalu demi sebuah maaf. Maka apa pun rintangan dan risikonya harus dia hadapi untuk menjaga nama baiknya sebagai pria sejati.
-:-
Tak puas memperdayainya dengan ice rink dan chocolate cakes, Leona masih berupaya mengusili. Tubuhnya yang diseret ke sebuah wahana bermain komidi putar membuktikan kecurigaan. Semangat gadis itu yang membara menghasut jiwanya pantang mundur, kendatipun berulang kali Felix menolak menunggangi kuda-kudaan. Riwayat masa kecilnya tidak pernah seexcited itu untuk dijadikan pengalaman. He traded his childhood for something painful.
“Aku tidak pernah berpikir untuk menaiki itu.”
“Tolonglah, aku ingin ke sana. Sudah lama sejak Matt kuliah, aku tidak pernah lagi bermain-main seperti ini. I'm just a little girl.”
Bukan raut memelas Leona yang melemahkan, sebaliknya paksaan maut gadis itu yang menggulingkan keteguhan. Felix tidak yakin bisa selamat setelah turun dari sana. Feelingnya terlalu kuat untuk menduga-duga apa yang terjadi selanjutnya.
“Kau bukan gadis kecil.”
Jalan ninja Leona adalah mendesak korban sampai tertekan. Wajah pasrah Felix jelas menggambarkan ketundukan. Perlawanan apa pun akan senantiasa dibalas peperangan. Mengalah selalu menjadi opsi terakhir meski hatinya berang. Tak mengapa asalkan diupahi ketenangan sesudahnya. Felix akan menjadi anak baik yang penurut, sekali ini saja.
Sejujurnya Felix lebih suka menunggangi kuda sungguhan bersama Timothy di Nashville pada liburan musim panas tahun lalu, daripada kuda bohongan yang berpotensi melalap mental sampai ambang kesadaran. Kasus parahnya, asam lambung yang tenang akan bergolak naik ke pangkal tenggorokan.
Ketika tombak kemalangan itu benar-benar menggempur ulu hati, Felix terhuyung-huyung menuruni komidi putar dengan bibir terbungkam jemari. Kepalanya pusing tak teratasi. Gerbang putus asa melambai-lambai di ujung, dan dia telah siap meledakkan mesiu yang mengguncang ventrikulus alias lambung.
“Felix! Felix, kau kenapa?” Leona panik sendiri. Kalang kabut ia berlari menjemput sang suami.
Paham situasi yang terjadi, gadis itu memungut serampangan Turkey burger dari kantung kertas. Segesit pula dia menyerahkan paper bag tersebut pada Felix yang membutuhkan. Jauh dari lalu-lalang, Leona mengusap-usap punggung Felix dengan satu tangan. Pria itu membungkuk dan langsung memuntahkan semua gundah di perutnya. What a pity he is.
“Itu cuma merry go round, kenapa kau sampai seperti ini?” resah si gadis, keningnya berkerut-kerut. “I am so sorry.”
Berkenan kah Felix memaafkan setelah dihajar penyiksaan?
-:-
Tenang saja, Felix bukan suami pendendam meskipun dianiaya habis-habisan. He stay alive, itu poin utamanya. Apakah Anda tahu, beberapa jam lalu ia hampir mati melotot gara-gara kemudi yang diinvasi istri? Beralasan ingin menggantikan ia yang tepar, Leona menyetir seperti diuber penjajah. Sesungguhnya Felix lebih mencintai nyawa kendati raga lemah tak bertenaga. Maka sebisa mungkin ia membujuk Leona agar mau bertukar posisi.
Dan di sinilah mereka kini, duduk diam di basement yang sunyi. Ralat, hanya Felix yang termenung sendiri, lantaran sang istri tengah pulas meringkuk seolah melupakan aksi yang nyaris bunuh diri. Felix tidak mengkambinghitamkan petaka hari ini sebagai hari terburuk sepanjang hidup. Tragedi yang mengulung-gulung tadi sangat melebihi ekspektasi. Segala yang bersinggungan dengan Leona memang selalu anomali.
Dorongan kalbu membentuk senyum tipis, Felix tergelitik oleh satu fakta yang menjilat-jilat diri untuk mengakui betapa ia menikmati hari ini dengan bahagia dan merasa luar biasa. Aneh, seharusnya untuk seseorang yang dia tolak hadirnya, Felix tidak perlu seomong-kosong ini. Tetapi, jika dia berkenan mempertimbangkan dan melihat dari sisi berbeda, barangkali takkan ada tangan bertepuk sebelah.
“Felix, apa kita sudah sampai?” Suara gumaman di samping tubuhnya membuyarkan kontemplasi.
__ADS_1
Tidak ragu Felix menjawab, “Hm. Turunlah, sebaiknya tidur di dalam.”
“Kenapa kau tidak menggendongku saja?”
Felix menunda membuka pintu.
“Aku sering membaca di novel. Jika seorang wanita tertidur, pasangannya akan menggendong sampai ke kamar,” lirih gadis itu serak, masih terkatup-katup karena kantuk yang belum redup.
“Kau sudah bangun, punya sepasang kaki dan bisa berjalan sendiri,” bantah Felix apa adanya. Manusia selurus dirinya lebih cenderung menilai dari perspektif realitas. “Ayo bergegaslah, sudah cukup larut.”
Tanpa membantu melepaskan seatbelt seperti yang diilustrasikan Leona, Felix keluar dari mobil begitu saja. Gadis itu berdecak, mendengkus dan mendadak jadi senewen sekali. Malas ia menginjak lantai ruang parkir, meninggalkan Porsche hitam yang menjadi saksi bisu acara kencan, lalu mengekori sang suami yang berjalan memimpin.
“Apa kau keberatan jika aku meminjam bahumu?” tanya si gadis begitu pintu kembar elevator tertutup.
“Tidak.”
Dalih memanfaatkan persetujuan, Leona menyandar nyaman di pundak yang sekeras kemauan. “Aku tidak pernah sangat bahagia seperti saat denganmu. Apa kau juga sama?”
Leona menemui biji mata sang suami yang hanya terpaku ke depan. Sekali waktu dia bertanya dalam hati, apa yang sebenarnya Felix rasakan saat bersamanya? Menyesal kah? Muak kah? Jangankan tersenyum, menatap dirinya pun ogah-ogahan. Perih sekali bila mengingat Felix pernah mengencani gadis lain di suatu waktu. Betapa gamang ia menyaksikan prianya yang begitu baik melakoni peran.
“Dengan siapa kau lebih bahagia?”
Felix menoleh sekilas. “Apa?”
“Aku atau Jessica?”
Alis hitam yang tebal nan tegas itu hampir tak berjarak. “Maksudmu apa?”
“Antara kami, siapa yang lebih membuatmu bahagia?”
Jeda percakapan memberi Felix waktu untuk mencerna sekaligus mengolah kalimat balasan yang tepat dan terkalkulasi. “Tidak siapapun, aku bahagia karena diriku sendiri,” ungkapnya terus terang.
Berlarut-larut Leona menyelami sudut rahang yang menyiku tegas, kemudian berlari naik ke bulu mata lebat yang bergetar saat mengerjap. “Kalau begitu aku bahagia karenamu.” Dia tersenyum, namun pancaran matanya berubah kosong. Kisah lampau yang mengendap di memori, mengapung seketika.
“Kau tahu, Ayahku itu seorang workaholic, dia tak pernah punya waktu untuk keluarga. Ibuku juga memprioritaskan dunianya. Mereka seringkali berdebat sampai membanting-banting barang. Mereka selalu bertengkar setiap waktu, menyakiti satu sama lain, entah dengan kata-kata maupun luka nyata. Aku melihatnya sendiri, terang-terangan di depan mataku.”
Felix terperangah, spontan ia menengok ke samping. Tetapi tak ada air mata di sana, hanya hidung memerah dan lengkung bibir yang merangkai banyak makna.
“Suatu hari mereka memutuskan bercerai, aku bersyukur dan sangat lega, tapi hatiku terluka tanpa tahu sebabnya. Aku merasa ditelantarkan, hidupku sendirian. Tapi beruntung ada anak laki-laki baik hati yang dikirim Tuhan untukku di kesunyian hujan, dia menyelimutiku dengan jaket miliknya, juga sebuah payung yang melindungiku. Saat itu aku berpikir, dia adalah malaikatku, sekaligus bahagiaku di masa depan.”
Mata mereka saling mengebor lawan masing-masing. Rekaman usang tertayang di kepala dalam hitam-putih yang buram. Keduanya meresapi momen retro dengan versi berbeda. Jika Leona berasumsi Felix menghapus segala kenangan, dia salah besar, karena Felix tak pernah melupakannya walaupun samar.
“Apa keluargamu lebih bahagia? Apa orangtuamu lebih baik dari orangtuaku?”
Reaksi Felix menjadi tak terduga. Pria itu langsung berpaling muka. Serta merta udara kering berduyun-duyun mengerubungi. Kediaman Felix yang berkabut justru membobol gembok misteri yang tak terpecahkan. Sayangnya, kecurigaan yang melambung, terdistraksi oleh pintu elevator yang terbuka. Antipati Felix semakin parah.
Leona tak memiliki persiapan untuk mengejar Felix yang langkahnya menyerupai kaki seribu. Dalam persepsinya, Felix hanya substitusi cewek ngambek yang mencoba kabur dari pacar. Sadis, pria itu bahkan tega membanting pintu utama sementara ia masih berjibaku dengan ayunan kaki di lorong. Kejadian tersebut mengeksitasi otaknya yang saat lalu anjlok ke dengkul. Maka, mampu tidak mampu ia harus mengurai teka-teki.
Namun musibah datang mendahului ketika Leona bertekad menggapai suami, tahu-tahu ia malah tersandung tali sepatunya sendiri. Kontan saja, ia memekik, “Felix! Oh no!”
Selayaknya adegan slow motion, Felix tampak menoleh ke sumber suara berikut raut datarnya yang tidak membantu. Bola mata Leona melebar beserta bibir yang setengah terbuka. Kedua tangannya merentang ke depan seolah memperingatkan Felix agar menyingkir. Karena timingnya kurang tepat, Felix tak sempat menghindar.
Pada akhirnya, pria itu tersungkur ke lantai untuk kedua kali, parahnya tubuh Leona turut ambruk menimpa. Felix terpejam merasai remuknya tulang punggung, demikian ciuman dahi antar dahi yang takutnya membikin gegar otak. Suara mengaduh pun silih berganti mengudara. Namun di sela perih yang menjalar, Leona merasakan denyut aneh yang mengundang geli.
__ADS_1
“Felix ...,” lirihnya berdesis. “Apa itu tanganmu yang memijat-mijat bokongku?”