Love Disease

Love Disease
Chapter 10


__ADS_3

Leona tidak bercanda ketika dia bilang akan memerkarakan kasus pencemaran nama baik sampai pidana mati. Secara de jure, wanita yang mengaku penggemar Felix memang tidak membunuh hingga menghilangkan nyawa, namun jika ditelaah secara de facto, pengakuan palsunya masuk dalam kategori pembunuhan karakter. Akibat tindakannya yang manipulatif, karir dan reputasi Felix terancam hancur.


Keduanya kini telah keluar dari bangunan sewarna cokelat walnut, berjalan beriringan menyusuri pelataran gedung yang dipadati mobil-mobil putih bergaris biru dengan lambang NYPD. Berkat kerjasama pihak kepolisian, tidak ada satu pun reporter yang berjubel untuk meliput. Felix masih butuh ketenangan pun keamanan, kendati skandal yang membelit sudah clear dan mencapai tahap penahanan.


"Kau yakin tidak perlu ke rumah sakit?" Leona memiringkan kepala seraya menengadah menatap sang suami. Rasa cemas mengepung sanubari tatkala melihat sendiri betapa tersiksanya Felix di ruang investigasi.


"I'm alright. Everything is alright. Don't worry," balas pria itu kalem. Sama sekali tak menyiratkan keragu-raguan pun ketidaknyamanan.


"But I'm worried about you."


Insiden terjatuhnya Felix dari kursi akibat panic attack, merewind di kepala. Leona seperti melihat dirinya adalah Bloom yang ketakutan, murka, dan histeris ketika Sky tewas oleh kekuatan electrokinesis Beatrix. Meski pada kenyataannya, Sky kembali hidup usai diselamatkan Grey lewat CPR blood witch-nya. Namun tak dapat dimungkiri betapa kemarahan Bloom telah menyeberangi limit hingga membangkitkan kemegahan sayap api yang bergelora. 


“I'm like Bloom. She never cared about killing everyone with her fire power, as long as she could protect Sky, everything looks good. Dia punya cinta yang besar, tapi mengerikan dalam satu waktu.” Leona mengangkat pandangan, menemukan Felix yang juga bergeming dan menatap biru lautnya. “Sewaktu-waktu aku bisa menjadi Bloom yang seperti monster. Aku tidak akan pernah mengampuni siapa pun yang melukaimu. Trust me.” Pancaran neraka itu merangsek pada sosok di hadapannya. “I feel so bad for no reason. What's wrong with me?”


Felix bergerak dua langkah. Naluri menginstruksi sebelah tangannya naik perlahan, terulur merambati puncak kepala, lalu mengusap-usap lembut surai yang telah kembali cokelat keemasan. Tak disadarinya, sesimpul senyum tercurahkan. “Don't feel guilty, don't feel like you're doing something wrong.” Sejenak terlupa undang-undang yang mengikrarkannya pada tapal batas sentuhan. Asas legalitas sebagai pasangan sah akhirnya menjadi tumbal atas jalan menuju kebebasan.


Pupil Leona membesar menangkap bayangan yang bukan sekadar khayal. Setetes sejuk menyentuh kalbu hingga merebakkan semburat merah jambu. Sebagian lagi tersedekahkan pada mata yang berpendar terharu. “Kau ... tersenyum?” tembaknya takut-takut, skeptis jika pemandangan tadi hanya semu. “Apa kau baru saja tersenyum padaku?” ulang Leona setengah ragu, namun suara yang menggebu menegaskan bahwa proyeksi matanya tidaklah menipu.


Kepala Felix tertoleh ke sembarang arah. Tangannya yang bertengger nyaman di ubun-ubun, segera dijatuhkan. Gelagatnya canggung seperti suami yang tertangkap basah affair di belakang. “Aku pikir tadi kau bilang lapar. Bagaimana kalau kita ke sana sekarang?” sahut Felix menunjuk jalan di seberang dengan gerakan dagu. Madison bagel & grill berdiri di depan sana, menyajikan menu fast food khusus untuk breakfast, lunch dan dinner. “Ayo,” ajak pria itu melajukan kaki.  Kepalan jemarinya terbenam dalam saku mantel garit-garit, mencegah tangan-tangan saling merakit.


Setiap aksi berkonsekuensi memunculkan reaksi. Maka lumrah Leona menafsirkan praduga yang bercokol di benak. Sayangnya, Felix menegasikan kesadarannya untuk perubahan. William James pernah menyampaikan pendapatnya, bahwa satu-satunya arti pemikiran adalah menghasilkan keyakinan. Sedangkan keyakinan merupakan kaidah nyata untuk bertindak. Namun pada praktiknya, Felix menafikan benih-benih keyakinan yang tersemai, hingga berujunglah pada sebuah penyangkalan.


Satu meter di belakangnya, Leona mengejar. Senyum gadis itu terpatri memandangi sang suami yang memasang kacamata hitamnya kembali. Dia memutar balik tubuh guna berjalan mundur. Sebaik mungkin mengimbangi langkah Felix yang berkaki jenjang.


“Hey, kau tersenyum padaku, kan? Benar, tadi kau tersenyum padaku. Iya, kan? Ayo mengakulah.”


Gadis itu mengacungkan dan menggoyang-goyangkan dua telunjuknya ke arah Felix yang sejak tadi menghindar bersitatap. Tak mendapat respons, Leona menyejajarkan diri dan memeluk lengan sang suami. Dia tak menyurutkan lengkung bibir. Jemarinya yang ramping merayap turun menuju telapak hangat si pria, merangkumnya menjadi kesatuan yang utuh. Pertautan itu diperkuat Leona dengan genggam posesif.


“Tolong tersenyumlah setiap hari padaku. Your smile is precious for me,” ujarnya tulus, menarik kaitan mereka dan mengangkatnya sejajar bibir. Leona mengecup punggung tangan itu berkali-kali. “It wasn't a pick-up line, you know (itu bukan gombalan, tahu), tapi kejujuran dari hatiku yang paling dalam.” Kecupan kembali berlabuh di tempat yang sama, namun butuh durasi yang cukup panjang alih-alih penutup drama.


“Well ....” Felix membasahi bibir. Biarpun tingkah Leona terlampau weird, selama ia tak mengamuk kesurupan tak mengapa. “I believe you then.”


Hal paling melemahkan bagi Leona adalah ketika mata mereka beradu. Namun ungkapan Felix yang tanpa dusta lebih dahsyat dari itu. Iseng, dia bergeser mengitar, menghadang jalan dengan berdiri di depan si pria lalu meremas bahu. “If you believe me, smile then,” desak gadis itu meniru. “Tidak mau? Aku akan memaksamu!”


Sikap tak terbantahnya selalu mengunggul. Maka ketika pandangan Felix hendak berlalu, Leona buru-buru menusuk ujung-ujung bibir pria itu dengan telunjuk, lalu menekannya ke atas sehingga terbentuk senyum paksa yang mengocok perut. Gadis itu terkikik-kikik geli melihat Felix yang mirip quokka, si hewan mamalia berwajah senyum dan berkantung seperti kanguru.


“What a cute baby! Oh, my Hubby, you're cuter than baby panda. Oh my gosh!” Gelombang tawa mengalun rendah, Leona mencubit kedua pipi empuk itu tanpa merasa bersalah.


Pada posisinya, Felix ibarat boneka marionette yang cuma bergerak atas kendali. Kendatipun Leona cenderung mamasungnya bak narapidana, namun Felix tak menampik sisi lain istrinya yang terhitung jarang mengatur-atur hidupnya. Bagian yang tidak baik hanya ketika gadis itu mengaktifkan jurus kage bunshin dan menguntitnya ke sudut bumi mana saja, hingga ke lubang semut sekalipun ditapakinya.


“Apa kau setuju jika kukatakan kita mirip Mr. and Mrs. Smith dengan pakaian hitam seperti ini?”


“Ha?” Felix berpaling ke samping, pada Leona yang merengkuh ketat lengannya sehabis tergerus euphoria.


Merasa kalimatnya kurang tepat, Leona lantas menyerobot, “No, no, no. I mean, Mr. and Mrs. Baker. **S**ounds cool, doesn't it?” koreksinya, membidik balik wajah cengo sang suami yang dilengkapi senyum merekah. Namun sekejap kemudian ekspresinya berubah. “Oh wait! Tapi kita takkan berusaha saling membunuh seperti mereka, kan?” Leona membolakan mata demikian jemari yang menyentuh bibir, tiba-tiba merasa panik oleh perkataannya sendiri.

__ADS_1


Jantung Felix menyentak samar. Dia melirik sekilas sebelum pandangannya lurus ke depan. “We are not assassins,” tuturnya. “Tapi mana tahu kau akan membunuhku suatu hari nanti, atau aku yang membunuhmu? Who knows?” Bahunya yang lebar nan kokoh mengedik.


Leona memicing. “What kind of bad jokes is that? Mana mungkin aku sejahat itu? Lagian kau takkan melakukan itu padaku, kan?”


“Tidak, jika kau bersikap baik,” terang pria itu.


“Jadi kalau aku jahat kau akan membunuhku?”


“Yep.”


Delikan mata terhujam. Leona menganga tak percaya. “Tega sekali! Kenapa tidak kaubunuh saja wanita tadi? Dia sudah melukai harga dirimu, tahu!” sungutnya gondok.


“Aku tidak mau masuk penjara.”


Untuk kesekian kali, jawaban Felix yang tidak masuk akal, merangsang panas di dada. Tidak adil, mengapa Felix enggan membunuh orang yang jelas-jelas mendorongnya dalam kubang derita, sedangkan dirinya yang seorang istri justru terancam binasa? Bukankah ia dan wanita itu tak bisa diperbandingkan?


“Tapi kenapa kau mau membunuhku?”


Felix terdiam, berikut obrolan mereka terjeda begitu tiba di depan pintu kaca. Dari sini mereka bisa melihat aktivitas di dalam. Leona masuk lebih dulu, kemudian Felix menyusul setelah melepas gagang pintu. Seorang penjaga kasir tersenyum ramah menyambut. Ada sebagian pengunjung yang duduk menikmati menu. Sisanya berdiri di dekat etalase berisi roti bagel yang tersusun. Aroma keju  menguarkan rasa gurih dan membuat ngiler di satu waktu. Sementara Leona memilah menu, Felix mengintip dari punggung yang seakan-akan mengungkung.


“Do you still hate me?” Gadis itu menatap intens suaminya. Mereka telah duduk berhadapan. Leona berusaha melanjutkan percakapan yang tertangguhkan.


“Actually not.”


“Actually not? What do you mean 'actually not'?” Kedua lengan Leona menumpuk di atas meja berplitur. Gesturnya menyerupai orang menginterogasi, demikian pundak yang terlihat lebih tinggi dan sorot matanya yang setajam belati.


“It's not funny,” gerutu gadis itu, tapi ujung-ujungnya mengikuti jejak sang suami yang melahap santapan bergizi. Hanya melihat etika makan sosok di hadapannya, perut yang berdendang kontan terangsang.


“Apa kau serius akan membunuhku ... seumpama aku melakukan kesalahan?” selidiknya, masih teguh demi memuaskan penasaran yang mencengkeram.


“Apa kau telah melakukan kesalahan?”


Tanggapan Felix justru membungkam dirinya. Ia kebingungan yang tak beralasan. Pepatah 'senjata makan tuan' ternyata berfungsi untuk situasinya. Debaran yang melonjak-lonjak, mencacah segala akal sehat hingga ia tergemap oleh opininya. Felix bukan manusia berpikiran dangkal, seandainya ia seperti kebanyakan lelaki yang meleleh-leleh oleh pesonanya, maka Leona tak securiga ini jikalau pria itu berhasil menemukan kotak pandora. Seukuran manusia berkualitas Felix freaking Baker, Leona khawatir akan dilihat secara telaanjang.


“No,” jawabnya lemah.


“Okay then.”


Leona berdeham alih-alih menghindari kolam berjelaga suaminya. “Omong-omong, apa kau sungguhan tidak mengenali wanita tadi?”


“Sama sekali tidak.”


“Apa benar dia penggemarmu?”


“Aku tidak bisa memastikan itu.”

__ADS_1


Kalimat balasan Leona tersangkut di tenggorokan ketika dering ponsel menjerit-jerit meminta dibebaskan. Lantas ia membuka clutch hitam yang terbaring di sebelah tangan dan merogoh benda menyala itu segera.


“Dean,” beritahunya pada sang suami, bermaksud meminta izin. Lalu saat pria itu memberi gestur mempersilakan, Leona mengangkatnya detik itu juga.


“Hello, Dean.”


“Anda di mana? Saya di depan kondominium Anda.”


“Aku sedang di luar. Ada apa?”


Berikutnya Dean menjelaskan tentang agenda mereka siang ini. Leona bahkan terlupa perihal rapat penting dengan pihak fashion house yang menggandengnya kolaborasi. Separuh hari bersama Felix seolah mengeliminasi seluruh populasi manusia di bumi.


“Five Madison street,” tandasnya sesaat setelah Dean bertanya mengenai alamat. Laki-laki muda yang tanggap itu kemudian berjanji akan menjemputnya. Begitu sambungan telepon selesai, Leona mengalihkan atensi pada sang suami dan membeberkan seluruh informasi yang disampaikan Dean tanpa kecuali. Felix merespons itu dengan anggukan kepala.


Dalam kurun waktu lima menit, mereka merampungkan sarapan yang digabung makan siang. Secara bersamaan pula mereka keluar dari kafe. Namun sesuatu tak terduga menimpa. Leona diserang syok begitu menjumpai penampakan laki-laki familier yang tersenyum manis, berdiri di beranda. Hampir saja jantung meloncat dari rusuk saking kagetnya ia melihat Dean di sana.


“Don't staring at my husband like that. Aku menandaimu, Dean!” desis Leona berbisik tepat di telinga si laki-laki yang 'masih' dilabelinya menyimpang alias gay. Refleks senyum itu memudar. Mendengar kalimat mengecam serta death glare yang menikam sedikit banyak membuat Dean sulit menelan.


Felix menjungkitkan sebelah alis menyaksikan interaksi keduanya. Yang paling tidak dimengertinya adalah entitas tak berwujud yang menyudut-nyudut jantungnya. Dia tidak tahu pasti dari mana perasaan asing itu berasal. Tetapi satu hal yang dia pahami, dia sangat ingin menyeret dan menjauhkan Leona dari jangkauan si lelaki muda. Sayangnya rencana matang itu cuma terelisasi dalam imajinasi.


“Kau sungguh tidak mau ikut bersama kami, Honey?” Leona kembali mendekat dan bertanya.


“Tidak, aku ada urusan lain,” tolak Felix segera.


Bibir Leona mengerucut. Tidak rela berpisah, tapi menyadari, ia dan Felix memang punya kesibukan berbeda. “Okay. See you tonight. Jangan lupa kencan kita nanti malam, hm?” singgung gadis itu tentang janji mereka. Tanpa menunggu jawaban dari suami, ciuman gemas menyerbu pipi, berikut kerlingan mata sebagai tanda mengakhiri perjumpaan siang ini.


Sampai gadis itu lenyap dari pandang, Felix masih terpaku. Trance memandunya pada arah yang berlawanan. Seharusnya dia tidak segundah ini, namun bayang-bayang si lelaki muda membukakan pintu mobil diiringi kehangatan senyum sungguh mengganggu pikiran hingga membekukan sel-sel tubuh dan motoriknya. Bahkan ketika langkah kaki telah membawanya pada ruang dapur, dia belum jua bangun dari wahamnya. Afeksi yang memenuhinya terasa tidak benar.


“Ini salah.” Gumam lirih terlontar. Tatapan hampa serta wajah yang tak mengindikasikan ekspresi memicu heran berjamaah penghuni dapur, termasuk pria gugup yang berdiri menghadapnya.


“Sa-salah?” Terang saja koki muda itu ketar-ketir. “Ha-haruskah saya membuatnya lagi?” Satu detik ... dua detik ... tiga detik, hingga sepuluh detik berlalu, Felix tak jua menyahut. “Chef? Chef?” Tangan si koki pun turut mengibas-ibas di depan wajah, namun tetap nihil reaksi.


Tentu saja, keganjilan Felix membuahkan tanya penduduk dapur, termasuk Timothy yang tak putus mengamati tingkah laku sahabatnya. Sejak datang, Felix hanya diam dan berdiri dengan telapak tangan bertumpu pada meja passe, seolah ia tengah mengawasi kinerja para koki, padahal nol kehidupan di mata hazel itu jika ditelisik lebih detail.


“Hey, Buddy! Wake up!” Barulah si pria melamun itu mengedip-edip begitu tepukan bahu dilayangkan. Kebingungan tampak jelas mewarnai pendar kecokelatannya.


“Apa skandal itu membebanimu? Pelakunya sudah tertangkap, kau tak perlu merisaukannya lagi, bukankah begitu?” tanya Tim bernada prihatin.


Felix menggeleng dan lalu menghela napas. “Tidak. Bukan apa-apa. Maaf.”


Tak butuh waktu lama hingga dia benar-benar pulih. Tangannya lantas bertepuk satu kali, menginstruksi semua orang untuk fokus kembali. “Ayo, bekerja! Semangat!”


“Ya, Chef!”


To be continued

__ADS_1



__ADS_2